Challengefic [Crossover] – Excelsior Lady

cross

EXCELSIOR LADY | by Apreelkwon
BaekHyun – Morrighan | Romance | PG-17 | Ficlet

Prompt : “Tapi saya tidak ingin menjawab ini sendirian. Saya ingin mencarinya bersama-sama. Anda setuju? (Semangkuk Acar dan Cinta Untuk Tuhan)

A/n : Ini PG-17! hahahha,

Challengefic from Zul!


Berbicara tentang pengalaman cinta, Baekhyun punya banyak cerita. Dari mulai gadis manis si cinta pertama yang baru dua tahun lalu sungguh meninggalkan Baekhyun karena menikah dengan lelaki lain. Lalu ada playgirl yang sebenarnya mereka berhubungan karena Baekhyun butuh pelampiasan. Terakhir, seorang perempuan yang 4 tahun lebih tua darinya yang waktu itu membuat Baekhyun tak ayalnya seperti hewan perliharaan.

Setelah itu, Baekhyun sulit untuk menemukan jawaban cinta dari dalam hatinya. Cih! Apa pentingnya jatuh cinta jika apartemen, mobil dan pekerjaan mapan sudah dalam genggamannya. Arti cinta bagi Baekhyun sekarang adalah membuat Ibunya tersenyum. Hanya itu cinta sejatinya –mungkin dari sejak dia turun ke bumi memang seperti itu.

Termasuk ketika Baekhyun bertemu dengan perempuan berambut hitam kelam seperti langit malam, mata bulat berwarna hijau seperti zamrud, tubuh mempesona lebih dari jajaran model Victoria Secret. Berasal dari Amerika, berdarah Irlandia – Spanyol bernama Morrighan Monk dan sekarang perempuan itu ada dalam pelukannya. Baekhyun akan mendeskripsikannya sebagai apa? Teman? Bestfriend? Mega Bestfriend? Partner Kerja? Atau cinta?

“Kapan terakhir kamu berpacaran?”

Malam itu Baekhyun tengah duduk di atas kursi pantry dapur Morrighan. Selama menetap di Seoul, perusahaan mereka memberikan dengan cuma – cuma sebuah flat di kawasan Nam-gyeong-joo untuk tempat tinggal perempuan yang sedang menjadi buah bibir Don-sei corp. Morighan memang gadis Amerika, mudah bergaul seperti kebanyakan perempuan barat lainnya, tapi untuk urusan memasuki tempat tinggalnya tidak sembarang orang bisa melakukannya. Dan jackpot itu jatuh ke tangan Baekhyun. Entah aura apa yang Morrighan dapatkan dari lelaki sipit bermarga Byun ini, karena dengan mudah Baekhyun bisa menjadi bagian terdekatnya. Sekarang, dia bahkan sedang duduk sambil menikmati anggur red berries racikan Morrighan sambil menunggu perempuan itu selesai memasak.

“Ehm, coba aku ingat lagi, mungkin ketika kuliah. Kalau tidak salah… di tahun kedua, berarti sudah hampir 6 tahun yang lalu.” jawab Morighan dari arah dapur. “Nama lelaki itu Gabriel, mahasiswa sejarah. Tampan, pintar, romantis, terkenal, membuatku sedikit berbangga hati bisa menjadi kekasihnya,”

“Kamu terdengar sangat bahagia bisa menjadi kekasihnya. Lalu masalah apa yang membuat kalian berpisah? Dia gay?” tanya Baekhyun sambil sedikit menahan tawa disela mengisikan kembali cairan merah menyegarkan kedalam gelasnya yang sudah kosong.

“Ya Tuhan! Tentu saja dia bukan gay tapi –”

“Berarti dia lelaki berengsek!” sela Baekhyun.

Morrighan tidak langsung menjawab, menelengkan kepalanya ke arah kiri kemudian berdecak pelan sambil tersenyum nakal ke arah Baekhyun. “Tuan, semua lelaki di dunia ini tidak ada yang beres. Hanya ada dua jenis lelaki di dunia ini –”

Gay dan Berengsek,” Baekhyun tersenyum puas –sebuah senyuman dengan hanya satu sudut bibir tertarik yang kalau boleh di akui, Morrighan mabuk akan senyum itu. “Berarti aku berengsek? Karena aku tidak gay sama sekali,” lanjut Baekhyun masih sambil tersenyum kearah Morrighan.

Meninggalkan dapur dengan kompor yang sudah dimatikan, Morrighan menghampiri Baekhyun di kursi pantry. Ikut duduk di sampingya, bertopang dagu pada tangan kirinya membuatnya bisa dengan bebas menatap lelaki yang baru dua hari ini rambutnya di semir warna perak gelap. Ketika pertama kali Baekhyun muncul di kantor dengan warna rambut itu, Morrighan sempat kaget dan berfikir Baekhyun sedang tertekan lalu melampiaskan dengan warna rambut. Sekarang dia menyadari betapa warna itu terlihat sexy untuk kulitnya yang putih pucat.

“Kamu,” telunjuk Morrighan bergerak bebas, berhenti di ujung garis senyum Baekhyun, berusaha menahan agar senyum kesukaannya bertahan sedikit lebih lama. “Kamu memang berengsek, terutama jika senyum seperti ini. Siapa yang mengijinkan?”

Baekhyun meraih jari Morrighan kemudian mendaratkan kecupan di ujung jarinya. “Ketahuilah, apa yang kita lakukan barusan bisa dikategorikan sebagai pasangan yang sedang mabuk cinta,”

Morrighan menarik jarinya, tertawa pelan kemudian menarik kursinya lebih dekat dengan Baekhyun. “Mau ku tunjukan seperti apa tanda orang di mabuk cinta di Negaraku?” tanyanya. Tapi belum sempat satu jawaban terlontar dari mulut Baekhyun, aroma citrus sudah membungkam mulutnya, sesak tapi Baekhyun tersenyum puas beberapa detik sesudahnya. “Seperti itu tanda orang di mabuk cinta,” tandas Morrighan.

“Jadi apa ini juga tanda kamu jatuh cinta padaku??”

“Tidak,” jawab Morrighan sambil menarik diri sedikit lebih jauh dari tempat duduk Baekhyun. “Sudah 6 tahun berlalu sejak aku tidak merasakan lagi jatuh cinta. Lalu, kamu? Apa kamu jatuh cinta padaku?”

Apa dia jatuh cinta pada perempuan ini? Entahlah, Baekhyun juga tidak tahu. Kata itu terdengar asing di telinga. “Entahlah,” jawabnya sambil menggerakan bahu. “Tapi, mendengar kenyataan kamu tidak jatuh cinta padaku, sedikit terasa pahit,”

“Kamu berharap aku menjawab, aku mencintaimu?” tanya Morrighan dengan nada kaget.

“Tidak juga,” jawab Baekhyun cepat sambil tertawa pelan. “Sebenarnya, aku tidak membutuhkan cinta,”

“kamu gay,” potong Morrighan sambil tertawa pelan.

“Bukan, aku berengsek, hahaha. Aku tiga kali jatuh cinta dan semua berakhir tragis, bahkan yang paling menyedihkan aku pernah ditinggal menikah-”

Baekhyun belum selesai dengan ceritnaya, tapi Morrighan sudah menggerak – gerakan tangannya di depan wajah Baekhyun. “Aku tidak mau mendengar kisah cinta melankolis dari bibir seorang laki – laki. Kamu di mataku sudah sempurna sebagai lelaki independent yang hanya bersama perempuan disaat kamu butuh, jangan rusak imajinasiku,” ucap Morrighan cepat.

“Lihat! Aku bahkan sudah menjadi seorang berensek dalam imajinasimu,”

“Itu lebih baik, dibandingkan dirimu yang melankolis seperti tadi. Hentikan!”

Baekhyun mengangguk setuju, tapi tidak lama kemudian dia kembali mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya.

“Tapi setelah beberapa bulan kita bersama, aku merasa –”

“Kamu jatuh cinta padaku?”

“Belum sampai sana. Bahkan sampai detik ini aku masih mempertanyakan apa ada cinta itu untuk seorang Morrighan Monk. Atau aku hanya menganggapmu sebagai teman, teman dekat, teman sangat – sangat dekat atau hanya sekedar partner kerja, entahlah… yang jelas, aku menikmati setiap detik bersamamu. Aku jujur!”

Meletakan gelas kosongnya, Baekhyun kembali mengalihkan perhatiannya pada Morrighan dan bonus dia memberikan satu lagi senyuman andalannya. “Kalimatku tadi, tidak merusak imageku dalam imajinasimu bukan?”

Hanya sebuah gelengan pelan dari Morrighan sebelum kemudian perempuan itu kembali melangkah ke area dapur. Menyalakan kompor gas, lalu mulai mengaduk saus yang tak kunjung panas karena terpotong obrolan tadi.

“Tidak, malah sekarang kamu semakin terlihat berengsek. Seperti seorang playboy yang sedang meminta pengertian bahwa kamu tidak sedang mempermainkanku,”

“Ayolah, aku memang tidak mempermainkanmu,”

“Aku tahu,” Morrighan kembali melupakan saus kacang dan menatap Baekhyun. “Kamu sedang ragu, apakah mencintaiku atau tidak. Kamu ragu karena ada luka dari masa lalu. Mungkin aku juga,” memalingkan wajahnya dari Baekhyun, Morrighan menarik nafas panjang. “Kita temukan jawabannya bersama – sama, kau setuju?”

“Jawaban?”

“Kenyataan aku mencintaimu atau tidak, kau mencintaiku atau tidak? Aku berani jamin, keluar dari rumahku malam ini kita akan menemukan jawabannya.”

Kembali pada saus yang mulai mengental setelah di aduk dua – tiga kali, Morrighan mengambil mangkuk dari sisi pantry, mematikan kompor lalu dengan bantuan Baekhyun menata menu makan malam mereka di atas meja kecil.

“Gabriel dan aku saling mencintai,” tiba – tiba Morrighan membuka percakapan, membuat Baekhyun yang tengah asik menikmati makan malamnya ikut berhenti. “Tapi rasa cintanya hanya sampai batas bahwa aku perempuan normal seperti yang lain,”

Kali ini Baekhyun mengerutkan dahinya. Morrighan meletakan garpu juga sendoknya, bergerak mengikat rambut hitamnya yang terurai lalu memunggungi Baekhyun, memperlihatkan kulit bagian tengkuknya. Disana ada sebuah tato.

“Gabriel meninggalkanku setelah melihat tato ini,”

“Gabriel tidak menyukai perempuan bertato?” tanya Baekhyun.

Morrighan sudah menurunkan kembali rambutnya, duduknya juga sudah pada posisi semula jadi bisa dipastikan Baekhyun melihat senyum Morrighan setelah pertanyaannya terlontar. “Bukan, tapi pada makna tato ini,” jawabnya.

Baekhyun menelengkan kepalanya. Dia bukan seorang yang ahli dalam seni, sejarah ataupun filsuf. Dia hanya seorang binis analis, logo – logo yang dia tahu hanya pada perputaran roda keuangan. Dia tidak tahu apa arti dibalik tato Morrighan, sebuah lingkaran dengan garis lurus menusuk dan satu lagi garis lurus memotong. Itu tidak sesederhana yang Baekhyun bayangkan bukan? Sebuah logo untuk perempuan.

“Ini adalah sigil, Monas Hieroglyphica. Logo untuk kesatuan semesta, langit, bumi, manusia, semua bersatu dalam satu tempat,” Morrighan menggantung kalimatnya. Kemudian jari telunjuknya bergerak menunjuk pada kepalanya. “Di kepalamu, membangun sebuah istana ingatan untuk menjadi satu tingkat lebih unggul dari manusia biasa,”

“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Baekhyun tidak mengerti.

Morrighan tersenyum, “Baiklah kita mulai dari awal. Ayahku dari Irlandia, lahir dan besar di Negara yang terkenal sebagai pembelajar Alkemis,”

Baekhyun belum mengerti arah pembicaraan, dia juga seharusnya belum boleh berkomentar tapi bibirnya terlanjur berucap. “Ahli kimia?”

Gelengan adalah jawaban dari Morrighan, “Faktanya begitu, sedangkan yang dunia tahu adalah Ilmu Sihir. Para alkemis memiliki satu impian, yang sangat agung. Mereka menginginkan seluruh informasi di dunia ini, maka dari itu mereka membangun sebuah istana ingatan dalam otak mereka,”

Baekhyun masih belum bisa merespon.

“Kau pernah dengar seseorang bisa menghafal buku setebal 500 halaman hanya dalam 1 jam?”

Baekhyun menggeleng.

“Adiku bisa melakukannya,” jawab Morrighan. “Sejak kecil Ayah mendoktrin kami dengan ambisinya untuk menjadi Yang Agung, melangkah pada level tertinggi sebagai manusia. Bukan hanya menghafal dengan mudah, kau bahkan bisa mengontrol seisi bumi jika bisa mencapai itu. Ayahku bisa mematikan lampu hanya dengan mengedipkan matanya, kau percaya?”

Baekhyun tidak menjawab, tapi bisa dipastikan dia merasakan aura berbeda sekarang. Dia bahkan sudah tidak nafsu untuk makan.

“Bukan ilmu sihir, bukan ilusi ataupun fatamorgana. Tapi lebih karena kami sudah menyatu dengan alam, maka dari itu secara kasat mata kami melakukannya dengan cepat. Logo Monas ini mengartikan itu secara global,”

Baekhyun masih belum bisa berkata – kata.

“Membangun istana ingatan, dalam artian menyekat – nyekat otakmu untuk memungkinkan menampung banyak informasi adalah level tertinggi dari alkemis. Aku tentu belum bisa melakukannya, tapi.. adiku bisa melakukan remote viewing,

Baekhyun terkesiap mendengar pernyataan yang ini. Bisa di pastikan bola matanya membulat sempurna dan Morrighan bisa melihat itu. Ini gila, fikirnya. Perempuan macam apa di depannya.

“Jika dia mau, adiku bisa menjelajahi isi otakmu dari nun jauh disana, dan membuat pendarahan di otakmu, hahahhaha, tapi tentu saja dia tidak akan melakukannya.”

Morrighan Monk, perempuan mempesona dengan rambut hitam dan bola mata hijau. Belaian halus tangannya menenangkan Baekhyun, aroma citrus dari rambutnya bagaikan candu, belum lagi senyumnya, apalagi ciumannya. AH, hentikan. Baekhyun hanya membayangkan dia adalah sosok yang sangat memikat. Tapi, malam ini mengapa bayangan itu hilang dan berganti dengan sosok freak.

“Kami tidak berniat jahat. Sungguh! Semua yang kami lakukan hanya untuk kepuasan pribadi. Tapi tidak dengan khalayak ramai. Mereka mengira kami adalah penyihir, penguasa kegelapan, pemuja setan,”

Ya, ucap Baekhyun dalam hati.

“Seperti itu Gabriel meninggalkanku. Dia seorang sejarawan, jadi tahu banyak tentang semua ini yang tentu saja bukan fakta. Jad itulah ceritaku, Morrighan Monk seorang pemburu Yang Agung,”

Jeda untuk beberapa menit. Morrighan kembali dengan makanannya dan Baekhyun masih membeku bergumul dengan apa yang baru saja dia dengar. Sungguh diluar nalarnya sebagai manusia normal.

“Kau sudah mendapatkan jawabannya?” Tanya Morrighan, tatapan lembut zamrud itu sudah hilang. Berganti dengan hijau dingin yang meneggelamkan dan percayalah Baekhyun bergidik melihatnya.

“Lelaki lainnya setelah Gabriel juga sama sepertimu ketika aku menceritakan semuanya. Maka jawabanku sudah pasti, aku tidak pernah mencintaimu Baekhyun. Sepertinya kamu juga, tidak akan pernah mencintaiku, benarkan?”

Baekhyun mengambil gelas di sampingnya, tenggorokannya kering.

“Sepertinya kau sudah tidak nafsu makan, mau pulang sekarang? Aku bisa mengantarmu sampai depan,”

Baekhyun tidak menjawab, tidak juga menggerakan badannya barang 1 inchi.

“Sekarang, kamu semakin terlihat seperti seorang berengsek!” ucap Morrighan sambil tersenyum. Senyum yang sama dengan beberapa menit lalu, juga tatapan zamrud menenangkan itu kembali.

Mau tidak mau Baekhyun ikut tersenyum, ini gila, fikirnya. “Mungkin itu nama tengahku,”

.

.

-Kkeut.

Note : Tanggal berapa sekarang?Oke, ini tanggal terakhir deadline challenge dari Zul. Tengok blog dia masih belom ada info lanjutan, jadi mari kita posting dulu di hari terakhir ini.

Ok, jadi Crossover ini tantangan dari Zul buat bikin fanfic dari 2 fandom yang berbeda. Disini aku ambil Baekhyu dari fandom Kpop dan ada Morrighan Monk dari buku Season Of The Witch by Natasha Mostert. Aku belum pernah nulis crossover sebelumnya, jadi semoga ini bener. HAHAHHAA

Morrighan disini, karakternya bener – bener aku ambil by novel. Latar belakang keluarga, obsesi alkemisnya, bahkan anggur berries yang Baekhyun minum sekalipun. Buat yang udah pernah baca Novelnya, aku rasa ini udah masuk ke Morrighan banget. Dan buat yang belom baca….. baca gih! kece badai novelnya. Aku bahkan ga sanggup nulis review buat novel ini saking kecenya.

Hem, oke sekian blah – blah ga jelasnya.

Bye.

Thanks to, Byun berengsek Baekhyun ^^

10 thoughts on “Challengefic [Crossover] – Excelsior Lady

  1. Kak ini juga kece badai,, ak berasa bener ada didapur flatnya Monk,,, dan aku stuju banget Byun berengsek Baekhyun hahaha… Tpi Baek emg cocok. Kayanya ak jadi ganti biasnya,, jdi Baek, gr2 kak ika…tpi senyumannya baek emang maut kak.. Pokoknya sukses deh fiction yg satu ini

  2. ka ini keren, jarang2 baca ff yang perpaduan antara kpop sm cerita novelnya nyatu banget deh.
    suka deh sama karakter baekhyun disini, yg biasanya suka di jadi in cwo yg unyu2 disini malah jadi cowo brengsek hhahaha

  3. mbok, maafkan daku baru bisa nongol sekarang, adalah alasan krusial dibelakang itu.
    Baekhyun bner-bener brengsek, seorang cowok yang cemen cuma karena dengr penjelasan ceweknya, tapi. mungkin aja Baekhyun bilang dia brengsek karena meski latar belakang Morrigan dia makin cinta apa itu cewek freak. wkwkwkwkkw
    baca FFmu berasa masuk kelembar bukunya Supernova, mengingatkanku pada sosok bernama Bong yang mencari jati diri dan ketemu sama Karl si tukang tato. wutttt, ffmu kece mbok. sering-seringlah bikin kayak gini.

  4. hmmm,,,
    jd itu kurang lebih artinya the alkemist? hehehe…
    but…interesting…
    menarik bangett…..
    ceritanya bkin terus pengen baca sampe akhir…
    jadi,,akhirnya byun memang bre**sek? hehehe

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s