Dasar, Manusia!

fiksi 1

FIKSI | DASAR, MANUSIA!

“Sebenarnya terlarut dalam kesedihan berkepanjanganpun adalah sebuah bentuk dosa, dasar!”


Masih belum terlalu sore aku rasa, tapi matahari seakan sudah enggan untuk bekerja. Bersiap menarik selimut awannya, terlelap untuk sekejap menunggu bulan menggantikannya baru dia akan tertidur untuk kembali bertugas esok hari. Seperti butuh sebuah ninak bobo, Matahari bahkan membuat angin bernyanyi kamudian awan menitikan air matanya. Sungguh hari yang kelabu.

Belum lagi pemandangan lainnya.

Tepat di depanku, sudah sangat lama seorang lelaki terus saja duduk dalam diam. Beberapa orang sedari tadi berusaha mengajaknya pulang, tapi tidak ada satupun yang berhasil membuatnya bergerak barang satu senti. Lama – lama, mereka lelah dan membiarkan lelaki itu disini sendirian.

Aku hanya bisa tertawa, rasanya ingin tertawa terbahak.

Kasihan sekali lelaki itu, aku yakin sebenarnya dia menginginkan lagi orang lain datang lalu membujuknya pulang, terus membujuknya sampai dia merajuk, meluapkan perasaannya lalu melangkah pulang dengan perasaan lebih tenang. Sebenarnya itu yang si lelaki inginkan, sayangnya mereka tidak peduli.

Titik – titik hujan sekarang berhasil membuat tubuh si lelaki basah kuyup. Jangan lupakan aku, aku yang masih terus memeperhatikan lelaki inipun menjadi korban sang hujan, seluruh tubuhku basah. Tapi semua itu tidak membuat kami, baik aku ataupun lelaki itu beranjak. Kami memiliki alasan tersendiri untuk bertahan dalam deras hujan.

Kemudian terdengar satu suara, suara geraman dari si lelaki. Aku sedikit terperanjat, pasalnya sejak dia datang, belum ada sepatah katapun yang terucap. Dan sekarang dia berteriak? Belum lagi kedua tangannya yang berusaha menggaruk tanah merah basah di hadapannya. Menyedihkan, tapi entah mengapa melihatnya aku ingin tertawa.

Dan tanpa aku sadari suara tawaku keluar tanpa kendali.

Si lelaki terperanjant, dia kaget dengan saura tawaku. Dengan segera dia menaikan kepalanya, mengedarkan pandangan lalu pandangan kami bertemu saling berpaku untuk beberapa detik sebelum kemudian dia kembali tertunduk, menangisi seseorang yang berada dibawah gundukan tanah merah.

“Wahai burung gagak!” ucap si Lelaki dengan suara pelan dan serak tapi masih sanggup terdengar dua lubang telingaku yang sontak membuatku terbang mendekat kearahnya.

“Kau, apa kau disini karena mengunggu dia,” lanjutnya, aku mengerti maksud kata dia, pasti pada tubuh yang terbujur kaku di bawah sana. Sebagai jawaban, aku kembali tertawa.

“Bukan?” Lelaki itu mengucapkannya sambil tertawa getir. Kali ini aku mundur beberapa langkah, menakutkan juga lelaki ini.

Dia tidak mengatakan apapun lagi, tapi lebih menakutkan lagi karena sekarang dia terlarut dalam tangis, tangis yang sungguh menyedihkan ketika sampai ke telingaku. Sudah berapa kali aku mengucapkan kata kasihan padanya.

“Wahai burung gagak! Apa kau tetap disana karena sedang menungguku menjadi bangkai disini? Aku tahu aku sangat menyedihkan, sampai burung bangkai saja rela menungguku menjadi bangkai disini,”

Oh, aku tersinggung. Dia sungguh salah paham, aku tidak pernah memakan bangkai, anak muda.

“Makanlah tubuhku ini, cabik isi perutku, muntahkan semua organ intiku. Tapi aku mohon, sisakan mata, tangan dan kakiku,” akhir kalimatnya terdengar sangat menyedihkan dengan tangis melolongnya.

Aku menelengkan kepalaku bingung.

“Sisakan mataku karena aku masih ingin bertemu dengan dia di surga sana, sisakan tanganku karena aku masih ingin memeluknya, sisakan juga kakiku karena aku masih ingin mengejarnya bila dia lari lagi dariku,” sungguh, dia mengatakannya dengan penuh rasa sakit. Dia bahkan tidak ragu membenamkan wajah tampannya ke tanah merah basah.

Aku menyalak.

“Wahai anak muda! Dia ciptaan tuhan, kaupun begitu. Sekarang dia sudah di panggil Tuhan, kita tidak pernah tahu karena apa. Karena Tuhan amat sangat menyayanginya atau sebaliknya. Kita juga tidak pernah tahu dia akan masuk Surga atau sebaliknya, lalu mengapa kau menangisi seakan kau paling menyedihkan sekarang. Dia sudah habis masanya, sedangkan kau masih ada waktu untuk memperbaiki,”

Aku menarik nafas.

“Dan lagi, sungguh memalukan! Kau ingin bertemu dengannya di Surga, menggunakan Mata, Tangan dan Kaki ciptaan Tuhan untuk mengasihinya? Tidak malukah kau pada penciptamu, apa kau tidak ingin menggunakan seluruh tubuh untuk bertemu dengan Tuhanmu? Cinta dan Sayang bukan hal terlarang, tapi terlarut dalam kesedihan seperti ini juga sama dengan dosa,”

Aku menghembuskan nafas, andai lelaki itu mengerti bahasaku, aku fikir dia sudah berdiri lalu kembali pulang kerumahnya. Tapi apalah sekarang, kami memiliki bahasa yang berbeda dan tidak ada pengaruhnya aku berbicara seperti itu. Dia masih tetap menangis sambil memeluk gundukan tanah yang mulai melumer.

“Bunuh saja aku, cabut saja juga nyawaku!” jeritnya lagi.

Baiklah aku muak, akan coba ku kabulkan keinginannya.

Dengan semua sisa tenaga di tambah seluruh bulu yang basah, aku bangkit mengepakan sayap mendekati lelaki itu. Sembari terbang rendah, coba aku gemeretakan paruh agar tidak mati rasa. Dan ketika jarak dengan lelaki itu semakin dekat, ku jatuhi dia patukan satu demi satu. Di kepalanya, di tangannya, di punggungnya.

Lelaki itu menjerit, terperanjat, kesakitan lalu bangkit dan berlari meninggalkan kuburan baru itu.

“Lihat, baru aku patuk saja kau sudah lari terbirit – birit, bukankah tadi dia memintaku memakan daging dan seluruh isi perutnya? Dasar manusia,”

.

.

-Titik.

4 thoughts on “Dasar, Manusia!

  1. dasar Manusia!

    ah, manusia memang begitu, aku juga mungkin beberapa kali pernah begitu, ah, betapa menyedihkannya mengingat hal itu, kita lebih memilih dunia daripada Yang Di Atas.🙂

    kalimat apa itu? O_O

  2. Huaaaahhhh aku suka bgttt, bner jga….knp org yg kita cinta smpe mati rsanya sedihh bgt smpe pengen mati atw apa lahhh tpi gk prnh mkirin hidup sndri ma Tuhan, dpet bgt maknanyaaa

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s