Fiksi 2

Bertemu Teman

Fiksi 2

FIKSI | BERTEMU TEMAN

“Keadaannya bukan untuk sebuah tontonan, dan aku juga bukan untuk menontonnya. Aku ingin bertemu teman”


Ibu menyiapkan sarapan pagi dengan telaten. Dari mulai menata nasi goreng, telur mata sapi, segelas susu, bahkan sempat menawarkan padaku apa mau di buatkan roti isi, yang ku jawab dengan gelengan pelan.

Selama makan, Ibu berusaha membuat percakapan singkat entah itu tentang gosip yang baru dia dapat, tentang menu makan yang akan dia masak nanti, sampai pada pertanyaan bagaimana dengan sekolahku, apa baik – baik saja, apa aku punya teman, apa guru memperlakukanku dengan baik.

Sambil tersenyum aku mengangguk pelan, satu jawaban ini cukup untuk membuatnya tenang, menghembuskan nafas lega lalu tersenyum bahagia.

Selain mendengarkan celotehan Ibu, aktivitas sarapanku ditemani dengan kembali membaca selembaran yang aku temukan kemarin di pinggir jalan. Selembaran iklan dari tempat wisata aquarium raksasa di kota, mereka mengabari ada penambahan koleksi baru. Paus bernama Blue Whale 52 atau Whalie, yang akhir – akhir ini menjadi pembicaraan hangat warga juga jadi pusat perhatian para pecinta binatang. Pasalnya, paus ini berbeda dengan yang lain. Dia memiliki frekuensi gelombang suara lebih rendah di bandingkan paus lainnya sehingga dia tidak bisa berkomunikasi. Suaranya tidak bisa terdengar oleh kawanannya. Kondisinya membuat dia menjadi Paus yang selalu sendiri. Menjadi terasing, penyendiri, itu yang membuat mereka khawatir paus ini tidak bisa bertahan.

Meski menyedihkan, setidaknya masih banyak yang peduli padanya.

Karena sekarang hari minggu, dan aku tidak memiliki rencana apapun, jadi aku memutuskan untuk bertemu Whalie. Kemarin malam sudah aku bicarakan dengan Ibu dan beliau memberikan ijin, tentu saja dengan beberapa lembar uang, yang paling penting.

Jarak rumah dan aquarium itu lumayan jauh, pagi sekali setelah menghabiskan sarapan aku segera berangkat. Perjalanan dengan bis selama 2 jam berakhir ketika aku mengeluarkan 1 lembaran berwarna merah untuk membayar tiket masuk dan juga cap di punggung tanganku.

Tidak sulit untuk bertemu Whalie, karena dia sedang menjadi Primadona, di pintu masuk tergambar peta minimalis menuju tempatnya. Aku memang tidak pernah bisa membaca peta, tapi jika hanya balok – balok denah seperti ini sepertinya aku juga bisa.

Setelah beberapa belokan, jalan lurus gelap, jajaran aquarium ikan kecil, ku dapat dia. Tempat dengan kotak kaca berukuran raksasa yang bahkan tingginya sampai langit – langit yang sengaja di desain terbuka. Tentu saja, mereka bahkan harus memberikan tempat lebih besar lagi untuk paus raksasa ini. Seperti dugaanku, Whalie adalah primadona. Begitu banyak orang berjejal ingin melihatnya. Aku penasaran apa alasan mereka ingin melihat paus malang ini. Apa karena penasaran? Ikut tren? Peduli? Atau hanya iseng mampir. Lalu aku juga penasaran bagaimana perasaan paus itu mendapati puluhan manusia yang sekarang sedang memandanginya.

Rasanya aku ingin mendekat, tapi entahlah ada yang menahan langkah kakiku. Tujuanku bertemu Whalie karena aku merasa bahwa kami ini adalah teman, dan aku tidak ingin membuat temanku terluka dengan ikut bergabung bersama mereka yang hanya menatapi untuk menonton.

Aku tidak untuk menontonya. Apa yang dia derita bukan untuk tontonan. Ucapku dalam hati.

Baru sekitar dua jam kemudian, barisan di depan kaca raksasa itu berkurang. Tinggal 1 – 2 yang hanya melihat tanpa minat kemudian berlalu. Ini kesempatanku. Tanpa menunggu lama, aku mendekat sedekat mungkin sampai aku bisa meletakan telapak tanganku tepat pada kaca dingin itu.

Whalie sedang berenang tinggi diatas sana, aku hanya memandanginya mencoba bersabar menunggu dia turun dan kami bisa dalam jarak paling dekat. Ketika dia berenang lebih rendah dengan gerakan yang pelan dan lembut itu, satu senyumanku mengembang. Ku ketuk beberapa kali kaca aquarium, berharap getarannya bisa terasa oleh Whalie dan dia bisa semakin mendekat.

Turunlah teman,

Terus aku ketuk pelan kaca itu, tapi tidak ada tanda Whalie bersedia turun dan mendekat ke arahku. Ah, apa dia juga tidak mempedulikanku.

“Dia masih harus beradaptasi dengan tempat barunya, jadi belum mau terlalu dekat dengan pengunjung,”

Satu suara dari belakang sontak membuatku menghentikan aksi mengetuk kaca juga menarik tanganku dari sana, segera aku berbalik dan mendapati sosok lelaki dewasa yang jika dilihat dari baju yang dia kenakan, sepertinya petugas aquarium ini.

Untuk merespon kalimatnya, kulemparkan senyuman paling ramah untuknya.

Petugas itu mendekat, “Whalie itu bisa dibilang bisu, tapi dia tidak tuli,”

Aku mengangguk. Aku tahu itu, aku pernah membaca artikelnya dan di ibaratkan dia memang bisu.

“Dia tidak bisa berbicara dengan teman – temannya, tapi bisa mendengar apa yang temannya katakan,”

Aku mengangguk, sambil kembali meletakan tanganku pada lapisan kaca itu.

“Aku kasihan jika mendengar fakta ini. Bayangkan gadis manis, kau di lautan luas yang dalam dan gelap, tanpa seorangpun yang bisa kau ajak bicara. Pasti Whalie merasa hampa disana,”

Lautan luas dan gelap, tanpa seorangpun bisa diajak bicara? Aku merinding membayangkannya dan tanpa bisa ditahan air mata mulai menetes dari salah satu mataku.

“Dunianya ramai, tapi dia sendiri,”

Aku kembali mengangguk.

“Maka dari itu beberapa orang mencoba membawanya kesini, meski awalnya menjadi bahan perdebatan, apa layak semua ini jadi bahan tontonan,”

Kali ini aku menggeleng.

“Kau setuju bukan ini tidak layak untuk menjadi tontonan? Aku rasa akan ada baiknya Whalie di tempat asalnya, hidup sendiri seperti bagaimana dia beradaptasi dan nyaman tanpa banyak tatapan manusia yang penasaran,”

Aku kembali mengangguk.

Petugas itu menghentikan ceritanya, tangannya bergerak pada saku rompi bajunya lalu mengeluarkan benda kecil seperti remote control mainan kendali. Benda itu memiliki ujung seperti busa, yang dia tempelkan pada kaca lalu ditekannya beberapa tombol. Aku tidak tahu apa itu dan apa yang dia lakukan, tapi ajaibnya Whalie turun segera setelah petugas itu selesai menekan beberapa tombol.

Aku membulatkan mata terkesima, tidak bisa ku percaya, aku bertatapan langsung dengan Whalie, sontak pemandangan ini membuatku menangis. Kali ini bahkan lengkap dengan isakan.

Petugas itu sedikit kaget melihat reaksiku. “Kenapa… kau menangis?”

Aku tidak merespon apa – apa, terus terdiam menatap Whalie di depanku sampai hewan raksasa itu kembali berenang ke atas untuk menghirup oksigen di atap terbuka.

Ku hapus sisa – sisa air mata lalu tersenyum menatap petugas yang masih menatapku heran. Dengan segera kedua tanganku sibuk mengeluarkan benda dari dalam tasku. Sebuah notes kecil berwarna kuning.

‘Aku sama seperti Whalie, tidak bisa berkomunikasi. Terimakasih Pak, membantuku bertemu dengan dia,’

Petugas itu tersenyum lalu menepuk bahuku pelan beberapa kali. “Kau bisa sering datang ke sini, Whalie bisa menjadi temanmu sepertinya.”

Aku kembali mengangguk setuju.

.

.

-Titik.

a/n : Oke, ini korban Sing For You MV, hahahhaa

7 thoughts on “Bertemu Teman

  1. Addduhhhh ini bner” kerennn, aku bingung knp whalie sma dgn si gdis, trnyata si gadis bisu tpi bisa denger kyk whalie, kkkkkk~ pas aku bca ini jga jdi byangin sing for you

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s