Apa bedanya?

Fiksi 3

FIKSI | APA BEDANYA?

“Semua orang bisa jatuh cinta, tidak ada yang special. Yang membuat dia berbeda, apakah di ungkapkan atau tidak.”


Dia menyesap pelan teh hangat dari cangkir keramik, sambil memandangi lalu lalang manusia diluar. Tak jarang bibirnya mengukirkan senyuman setiap kali dia meneguk air berwarna merah tua bening itu. Entahlah, apa yang membuatnya sebegitu bahagianya. Dan lagi, setahuku dia bukan seorang peminum teh.

“Sejak kapan jadi peminum teh?” tanyaku penasaran.

Dia meletakan cangkir keramiknya, kemudian menebar senyum kearahku. Menjijikan.

“Sejak… mungkin 2 minggu yang lalu,” jawabnya bijak.

“Udah ga ngopi lagi berarti?”

“Masih Bung! Tapi, lagi pengen teh akhir – akhir ini. Lagi merasakan sesuatu,”

“Apa?”

“Cinta,” jawabnya yang sekali lagi sambil melemparkan senyum yang amat sangat keju, jika kalian mengerti maksudku. Berterimakasihlah mulutku memiliki sistem pertahanan yang baik, karena jika tidak, pasti kopi hitam yang baru masuk mulutku muncrat seketika. “Ga segitunya juga kali ekspresimu!” belanya.

Aku meneguk paksa sisa kopi, memandangnya takjub sebelum kemudian menggeleng beberapa kali. “Jadi karena lagi jatuh cinta kamu suka minum teh?”

“Dia peminum teh, ga enak tiap kali dia pesen teh aku pesen kopi. Dia bilang kopi ga baik buat lambung,”

“Terus kamu nurut? Ampe sekarang ganjen minum teh di cangkir keramik gitu?”

Dia tidak langsung menjawab, hanya melipat tangan di dada lalu menggeleng sambil tertawa pelan. “Orang jatuh cinta itu bisa melakukan apa saja, salah satunya ini,”

“Itu namanya ga punya pendirian, kalo aku sih tetep aja jadi diriku sendiri,”

Dia menggeleng, “Engga kalo buat aku. Aku bakal mencoba jadi seseorang yang dia nyaman, agar bisa bersama dia,”

“Dia nyaman tapi kamu ga nyaman dong!”

“Yang penting dia seneng, aku ga masalah,”

“Ya ampun bos! Kenapa kamu jadi menjijikan begini,”

“Cinta itu butuh pengorbanan, untuk mendapat yang kau inginkan tentu harus berkorban,”

Aku berusaha menahan tawa ketika mendengar temanku mengatakan kalimat melankolis seperti ini. Sejak kapan pemuda begajul macam dia mengerti tentang arti pengorbanan dalam cinta. Dia hanya mengerti teori dan belum mempraktekannya.

“Buat hidup aja harus berjuang dan berkorban, ngapain harus berkorban juga buat cinta yang sia – sia,”

“Makanya biar ga sia – sia, di perjuangin,” bantahnya keukeuh.

Akupun keukeuh pada prinsipku ikut membantah dengan gelengan. “Kamu salah Bro! Perjuangan seperti yang kamu lakukan itu percuma. Percuma jadi orang lain buat bikin dia seneng, percuma kehilangan jati diri biar dia seneng, percuma ga bisa tidur mikirin dia, percuma buang – buang waktu buat pedekate-in dia, percuma…. Semua orang yang jatuh cinta juga kaya gitu. Mereka bilangnya pengorbanan, merasa paling berbeda padahal 1000 orang yang jatuh cinta kaya gitu semua. Kamu ga ada bedanya,”

Dia mengerutkan dahi, sambil menatapku bingung.

“Semua orang bisa jatuh cinta. Jatuh cinta itu ga special, kecuali kamu berani sedikit menundukan ego, mengesampingkan malu, membulatkan tekad dan mengumpulkan sedikit keberanian buat bilang, Hey Udah lama aku suka sama kamu, baru cintamu berbeda dengan 1000 orang lainnya yang jatuh cinta,”

Dia masih tetap terdiam, tapi garis kerutan di dahinya sudah turun satu – satu.

“Ngerti ga? Jadi ga usah So So’an jadi pujangga bilang pengorbanan ini itu, cinta itu Cuma butuh itu!”

Dia tersenyum, kemudian bertepuk tangan. “Bener apa yang kamu bilang, aku setuju 100%, tapi… apa kamu udah terapin di kehidupan nyata? Buktinya ampe sekarang kamu masih jadi penggemar rahasia yang hobinya stalk status jejaring sosial dia, hahahha…

SKAKMAT! Kalo boleh jujur, akupun tidak ada bedanya dengan 1000 orang yang jatuh cinta diluar sana. Hanya jatuh cinta, tanpa ada yang spesial.

“Sayangnya aku belum berhasil mengumpulkan cukup keberanian dan menundukan sedikit ego, hahahah sialnya aku sama saja dengan yang lain,”

“Sayang sekali,” sambung temanku lalu kami larut tertawa bersama tidak peduli lagi apa dia tengah minum teh atau aku yang tengah sakit hati karena kenyataan jatuh cintaku yang tidak ada bedanya.

.

.

-Titik.

12 thoughts on “Apa bedanya?

  1. Jatuh cinta itu gaada bedanya sampe kamu bilang kamu suka dia……………ugh, kalo udah bilang tiap hari tapi dianya ga peka gimana kak? /plak

    Uwuuuuuu jadi ini cowok x cowok toh, kirain aku x temenku nya cowok x cewek /pehlis tif ga penting/yawn/

    Yaudah kak pokoknya lucu and I love that ending, kirain masih tetep bakal adu mulut, e ternyata engga, yha namanya manusia meskipun udah dibilangin tetep ngeyel tapi sebagai temen yang baik akan selalu menerima kembali ia dalam keadaan apapun kan? :”)) /mendadak baper/pundung

    • Setidaknya kamu jadi korban ‘gantung’ itu jelas membedakan status jatuh cintanya tif,
      hahahhaa
      /pengen nangis ketawanya/

      iya, itu sesama cowo ceritanya lagi nongkrong,
      hahaha

      ah, sudahlah dek
      jangan jadi baper…

  2. yaa bener banget teori lebih mudah drpda prakteknya… jomblo skalipun lebih pintar berteori padahal belum pernah terjun langsung =o= hahaaa… jdi begini pola pikir para pria ? hmmm..

    • HAHAHHAAAA…..
      Mi, beneran deh, JOMBLO itu paling pinter ngasih nasehat,
      pengalaman pribadi, serius… pas temen2 curhat masalah pasangan ma aku, padahal waktu itu aku jomblo, tapi mereka make nasehat itu,
      ini ironi sekaliiiiii😄

      • jangankn kmu aku sering ngalamin loh ToT … serius nasihatku malah ngalahin mario teguh =o=
        bahkan ada anak SMP yg curhat ke aku ttg pacarnya dan aku sok bijak padahal aku aja blom pernah pacaran T^T … kadang disitulah kesedihanku ..😄😄

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s