Reason

Reason

REASON | by Apreelkwon
Irene | Phsycology | PG | One Shoot

Summary : Irene perempuan baik – baik saja, selalu ada alasan mengapa dia melakukan sesuatu.


Entah perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan ketika dua petugas sipir mendorongku paksa memasuki salah satu ruang tahanan. Haruskah aku malu, sedih atau sebenarnya lega? Aku pun bingung, hanya satu hembusan nafas panjanglah yang bisa aku ungkapkan ketika barisan jeruji besi itu kembali tertutup dan satu kalimat petuah dari salah satu petugas sampai di telingaku,

“Jangan banyak berulah! Putusan sidangmu belum keluar, bisa saja hukuman mati sungguh mereka berikan untuk balasan apa yang kau lakukan,”

Mendengar kalimatnya, aku hanya mengangguk pelan dan berjanji dalam hati aku sungguh tidak akan berbuat buruk seperti dalam fikiran mereka.

Malangnya, kalimat petugas itu terdengar oleh penghuni sel lainnya. Maka ketika aku berbalik, 6 pasang mata di dalam ruangan menatapku dengan iba. Bahkan salah satu yang bertubuh gempal, rambut hitam ikal dan salah satu tangannya bertato mengekspresikannya lewat kalimat,

“Kau cantik, masih muda, sepertinya kau juga perempuan berpendidikan tapi apa yang kau lakukan sampai masuk ruangan ini? Dan apa kata mereka tadi? Hukuman mati?”

Aku belum sempat menjawab pertanyaannya, perempuan lainnya yang lebih berumur dan berwajah lebih bersahabat datang mendekatiku. Dia tersenyum, memapahku bergabung dengan mereka.

“Namaku, Haeryung. Kim Haeryung, aku mungkin seumuran dengan ibumu. Kau bisa memanggilku Nona Hae seperti yang lain.” Ucapnya ketika aku dan dia sudah duduk bersila bergabung dalam lingkaran ruangan itu. “Aku sudah menghuni ruangan ini 8 bulan kurang lebih, karena kasus penipuan. Sekarang katakan apa yang terjadi padamu anak manis,”

Nada bicaranya lembut, tapi aku tidak yakin dia kepribadian yang lembut. Sorot matanya mengatakan hal berbeda.

“Namaku, JooHyeon. Bae JooHyeon. Umurku baru 26, tahun ini-”

“Ya tuhan! Lihat, kau masih muda! Apa yang telah kau lakukan,” ucap perempuan lainnya.

Mendengar kalimatnya, aku kembali tersenyum. Perbuatanku bukan hal yang merugikan orang lain. Aku tidak menipu seperti perempuan rubah di sampingku ini. Aku bukan berandal yang selalu menagih uang pajak pada penjual di pinggir jalan. Aku juga bukan manusia bodoh yang rela menghancurkan hidup dengan narkoba. Bukan, aku wanita baik.

“Aku lulusan Manajemen Bisnis, di Seoul University. 3 Tahun yang lalu aku baru lulus, dengan nilai sempurna dan mendapatkan tawaran untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri,” aku memulai ceritaku dari latar belakang yang bisa membedakanku dengan mereka.

“Hah! Apa kau korupsi? Menggelapkan uang kantor?” tanya Nona Hae si perempuan rubah dengan nada dan sorot mata tidak senang.

Aku menggeleng pelan. “Aku tidak bekerja. Lulus kuliah aku tidak mengambil tawaran ke luar negeri. Karena aku bertemu seorang lelaki yang mampu memutar haluan mimpku dan memutuskan hidup dengannya,”

Hahahahahhaaa….. percuma sekolah tinggi jika akhirnya masih tertipu kalimat lelaki,” sambung perempuan lain. “Kau ini pintar, tapi mengapa masih tertipu lelaki,”

Aku familiar dengan kalimat ini. Bukan hanya perempuan itu saja yang pernah memakiku dengan kalimat seperti itu. Pendidikan dan jalan hidup yang aku pilih memang tidak selaras. Harusnya aku mengambil kuliah di luar negeri, lalu bekerja baru menikah dengan pria mapan. Bukan memilih menikah dengan lelaki yang bahkan belum bekerja, yang waktu itu hanya janji darinya yang ku pegang.

“Dua bulan lagi bayi dalam kandunganmu akan lahir,” ucapnya siang itu ketika aku tengah merebahkan tubuhku di atas kursi.

“Ya, aku sudah tidak sabar menunggu kelahirannya,” jawabku sambil tersenyum.

Jujur, aku berharap lebih pada jabang bayi ini. Aku berharap dengan kehadirannya mampu merubah suamiku menjadi lebih bertanggung jawab. Dia akan lebih giat bekerja dan mampu menahan emosinya.

“Apa yang akan kau berikan pada bayi itu kelak? Apa suamimu mampu membelikan minimalnya satu botol susu?”

“Dia pasti akan berubah jika bayi ini lahir.”

“Baiklah, aku masih mempercayai kalimatmu.”

Ya, waktu itupun aku masih percaya pada kalimatku sendiri. Bahwa, kehadiran sang jabang bayi mampu merubah roda laju keluarga ini. Suamiku, aku, anak kami, semua akan baik – baik saja.

Sayangnya…

Kata baik – baik saja itu bahkan tidak muncul sampai anakku berusia 4 tahun. Suamiku makin menggila. Sifat temperamennya semakin menjadi, dia bahkan tidak segan untuk menamparku dan meninggalkan bercak merah pada pipi yang sering dia belai dulu. Sumpah serapah, berhamburan setiap harinya menggantikan kalimat – kalimat manis yang dulu merantaiku. Semua masih bisa aku tahan, tapi tidak ketika bocah di depan mataku kembali menangis, kembali sakit.

Demi anakku, maka hari demi hari aku mengemis belas kasih pada suamiku.

“Jadi apa kabarmu hari ini?” dia bertanya padaku siang itu, ketika aku sedang membelai rambut anaku yang sedang tertidur.

Air mata yang pertama kali menjawab, lalu gelengan baru kemudian rentetan kalimat, “Buruk. Sangat buruk. Sudah tiga hari ini suamiku bahkan tidak pulang. Tapi aku masih saja mempercayainya. Aku sungguh bodoh,”

“Mustahil! Kau ini sangat pintar JooHyeon-ah. Dulu di kampus kau murid terpintar, semua masalah bisa kau tuntaskan, puluhan tawaran dari luar negri bertebaran!” lanjutnya.

“Itu dulu, sekarang aku bodoh!” jawabku sambil menahan tawa getir.

“Kepintaran tidak akan luput dimakan waktu,”

“Sudahlah, semua itu tidak ada hubungannya dengan semua masalahku sekarang!”

“Setiap masalah pasti ada jalan keluar, jalan keluar adalah jawaban atau solusi dari suatu masalah, bukankah kau dulu sangat handal untuk memecahkan sebuah masalah?”

“Ya, untuk bidang Bisnis,”

“Anggap saja rumah tanggamu ini bisnis!”

“Konyol!”

“Kau yang konyol! Apa anakmu bisa kenyang hanya dengan kau diam dan menunggu suami tidak bergunamu itu datang membawa uang? Apa sakit anakmu akan hilang hanya dengan kompresan air dingin?”

“Aku sudah pernah memikirkan itu-”

“Apa masa depan anakmu bisa terjamin dengan kehidupan dan Ayah seperti ini?”

Satu pertanyaan yang menohok! Butuh beberapa menit sampai aku sadar bahwa hidupku sekarang ini sungguh menyedihkan. Seharusnya anak ini tidak merasakan kesedihan dan kesakitan ini. Aku sungguh tidak berguna.

“Kau bisa saja amat mencintai lelaki itu, tapi apa kau tidak mencintai anakmu? Kasihanilah dia,”

“Aku akan mencoba membuatnya bahagia,” jawabku yakin.

“Oh, tentu anakmu akan bahagia. Setiap hari di suguhi pertengkaran, ayah yang ringan tangan, Ibu yang bodoh! Haru ku akui sekarang kau memang bodoh!”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Kau pintar Joohyeon-ah, anakmu masih kecil. Dia belum mengingat apapun, biarkan dia bebas dari penderitaan ini. Biarkan dia menggapai kebahagian yang abadi,”

Aku mengerutkan dahi mendengar jawabannya. Berhenti mengelus rambut anakku, dan rasa sakit mula menyerang kepalaku. Rasanya berdenyut sangat kuat.

“Maksudmu!”

“Sudah aku bilang kau tidak bodoh, kau pasti mengerti dengan kalimatku!”

Aku kembali menyelami kalimatnya, sambil merasakan sakit yang perlahan mulai menggerayapi kepalaku.

“Mustahil! Tidak mungkin aku melakukan itu pada anaku sendiri!”

“Tuhan lebih bisa menjaganya dari pada dirimu dan suamimu itu,”

“Tidak!”

“Anakmu akan kelaparan,”

“Aku masih bisa mencari penghasilan lain,”

“Anakmu akan kesakitan,”

“Aku akan selalu menyembuhkannya,”

“Masa depan anakmu akan selalu tertahan pada dua tangan Ayahnya,”

“Aku.. aku…”

“Penderitaan adalah yang akan anakmu rasakan!”

“Sialan!” aku meninggikan suaraku yang bahkan sudah tidak peduli bahwa itu akan mengganggu tidur anaku.

“Bebaskan anakmu,”

Pertahananku jatuh, tangis mulai keluar perlahan dengan suara pelan dan semakin keras menjadi isakan. Lengkap sudha dengan denyutan di kepalaku yang semakin menjadi.

“Tapi bagaimana nanti aku menghadapi suamiku,”

“Suamimu tidak akan peduli. Jika memang dia terganggu, biarkan dia menemani anakmu. Tuhan lebih tahu cara menghukum lelaki bejad seperti dia,”

“Bagai-”

“Lakukan JooHyeon-ah! Lakukan! Lakukan!”

Suara dari kepalaku semakin terdengar jelas bersamaan sakit yang kurasakan tanpa ujung. Rasanya aku ingin membelah kepalaku dan menghilang suara – suara yang selalu bertalu di dalam sana.

“Baiklah, akan kulakukan!” ajaibnya sakit itu seketika menghilang.

Jantungku berdebar ratusan kali lebih cepat ketika ingatan hari itu kembali datang. Gara – gara para perempuan tahanan ini, aku harus kembali mengingat sakit hari itu. Haruskah aku ceritakan pada mereka? Tapi aku takut, jika aku bercerita, suara itu akan kembali datang.

Dan alasan untuk selalu mengikuti keinginannya selalu melumpuhkanku.

“Aku akan mengatakan alasan mengapa aku disini pada kalian, nanti setelah persidangan.” Jawabku sambil bangkit dan berjalan menuju pojok ruangan menjauhi mereka.

“Kau lihat perempuan rubah itu, lihat kedua matanya! Apa kau yakin dia bisa menunggu sampai sidangmu tiba untuk tahu alasan kedatanganmu!”

Suara itu kembali terdengar, sontak membuatku mengalihkan pandangan dan mendapati Nona Hae sedang menatapku.

SIAL!

.

.

-Kkeut.

16 thoughts on “Reason

  1. Jadi Irene itu berperibadian ganda? Atau gimana?
    Dan yang ngebuat dia masuk penjara bahkan bakal di hukum mati itu karena dia ngebunuh kah?
    hmm

  2. kayaknya genre psiko terus bertambah deh diblogmu ka😄 dan ini juga salah satu yg parah
    mungkin irene salah masuk… dia harusnya juga di ruang isolasi kayak baek, kyung dan chan di introduce you..😄

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s