Are We Farewelling?

Untitled-1

Are We Farewelling | by Apreelkwon
Kai | Slice of Life, Romance | G | Ficlet

Summary : Jadi apa ini hanya sekedar perpisahan sementara atau..?


Aku masih ingat hari – hari ketika pertama kali menjalani hubungan ini bersama Soojung. Hari – hariku selalu diawali dengan satu senyuman. Bagaimana tidak, hampir setiap pagi sebelum alarm di kamarku berbunyi, satu panggilan Soojung sudah membangunkanku. Jika suara alarm yang membangunkanku maka reaksiku adalah melemparnya sampai berhenti berbunyi, jika sinar matahari dari balik gorden yang membangunkanku maka umpatan untuk adik perempuanku yang selalu usil menginterupsi pagiku. Tapi berbeda cerita jika ponselku yang berbunyi dan nama Soojung tertera disana, tanpa merasa terganggu aku akan segera bangun dan menerima panggilan itu lengkap dengan senyum bahagia.

“Selamat pagi, Sayang..! Jadi? Apa pagi ini aku tetap orang pertama yang menyapamu?”

Percayalah suara bangun tidur adalah yang paling buruk, terlebih jika setetes airpun belum mengalir di tenggorokanmu. Meski begitu, Soojung selalu suka dengan suara pagi hariku dan memberi title sebagai suara terseksi yang pernah dia dengar. Maka dengan suara seksi itu aku selalu membalas panggilan sayangnya.

“Tentu kau selalu yang pertama sayang. Pintu kamarku terkunci Ibu dan adik jahilku tidak akan pernah masuk, terlebih ibu selalu malas berurusan dengan membangunkanku. Jadi, selamat pagi untukmu,”

Pagi hariku berlalu dengan selingan perbincangan kecil dengan Soojung. Hari – hari itu adalah yang terindah. Sebisa mungkin aku selalu mencoba mengingat seperti apa perasaanku saat menerima panggilan itu, seperti apa debaran jantungku ketika mendengar Soojung menyapanya dengan lembut dan seperti apa senyumnya pagi itu. Berharap semoga waktu tidak menghapus ingatan itu dari memoriku.

Satu bulan berlalu dan semua berubah.

Tidak ada lagi panggilan darinya di pagi hari. Jangankan panggilan di pagi hari, sore hari, malam hari dan siang haripun tidak ada. Bahkan, beberapa hari ini panggilan dariku pun tidak pernah dia angkat.

Puluhan panggilan, ratusan sms, tidak pernah berbalas manis dengan sekedar satu sapaan hallo atau satu kata Hai. Hubungan ini berubah, sangat berubah jika itu dilihat dari kaca mataku.

Hubungan ini berlangsung dengan niat baik dan cerita indah. Aku tidak pernah mengingkari niat seriusku sejak memulai cerita ini bersama Soojung, terlihat dari 2 tahun lamanya kami bisa bersama. Kemudian masa tidak menyenangkan itu datang. Aku tidak berprasangka buruk dengan langsung menilai bahwa Soojung berubah, tidak. Sebisa mungkin aku menyesuaikan hati ini dan selalu berprasangka baik.

Namun hal buruk nampaknya tidak pernah bisa di sangkal hanya dengan niat baik.

Hari itu Soojung menelfonku, dia ingin kami bertemu di tempat biasa. Aku yang memang sudah rindu padanya, hari itu bergegas datang tepat waktu.

Dia duduk di depanku. Kedua tangannya memegang dua sisi cangkir berisi cairan mengepul untuk menghangatkan kedua tangannya. Dia tampak manis ketika melakukan kegiatan itu. Kenyataan aku sangat merindukannya, membuat apapun berubah menjadi sempurna.

“Kau tahu betapa aku merindukanmu?”

Dia tersenyum membalas jawabanku sambil mengangguk pelan, jelas memoriku masih mengingat ketika anakan rambutnya menari lepas karena gerakan kecil itu.

“Jadi katakan apa yang ingin kau sampaikan?”

“Jongin-”

Hatiku merespon dengan perasaan yang berbeda. Berlebihan memang, tapi bukan kebiasaan Soojung memanggil namaku dengan nada seformal itu.

“-kau tahu kita saling mencintai, aku sangat mencintaimu dan kaupun begitu. Aku ingin meminta satu hal darimu-”

Kedua matanya dengan lembut menatap tepat padaku dengan mudah dia menyelami hatiku dan menyentuhnya membuatnya mati lemas. Kami saling mencintai, itu fakta. Aku amat mencintainya itu juga fakta dan dia mencintaiku juga kenyataan yang tidak bisa disangkal. Tapi ketika mulut Soojung menguncapkan kalimat selanjutnya, sungguh hatiku sudah tidak berdaya.

“Aku fikir kita harus mencoba saling menjaga jarak untuk beberapa waktu. Bukan karena aku tidak mencintaimu lagi, tapi untuk menyakinkan kita pada tahap yang lebih serius.”

Ada jeda.

Aku belum bisa merespon, bahkan otaku belum sepenuhnya merespon artian dari rentetan kalimatnya.

Menjaga jarak? Apa maksudnya saling berpisah.

“Kita tidak mengakhiri hubungan ini,” seakan bisa membaca fikiranku, Soojung dengan cepat melanjutkan kalimatnya. “Aku hanya ingin untuk beberapa waktu kita tidak saling bertemu dulu, aku fikir waktu saling sendiri ini bisa untuk mengukur berapa serius hubungan ini,”

“Aku sudah katakan berulang kali, aku serius denganmu Soojung-ah,

Soojung menggeleng pelan. “Bukan itu maksudku, ini semua bukan tentangmu Jongin. Tapi tentangku,”

Jawabannya sontak membuat hatiku melonjak kaget. Tentang Soojung? Apa dia tidak yakin dengan hubungan ini? Air mukaku berekspresi berlebihan menyampaikan perasaan ini membuat Soojung dengan segera memberikan satu sentuhan lembut pada kedua tanganku.

“Tentangmu? Jadi kau ragu dengan cintaku Soojung-ah?

Sekali lagi dengan masih menggenggam tanganku dia menggeleng pelan. “Tolong mengerti aku Jongin. Ini tidak seprti yang kau bayangkan. Bukan karena aku ragu dengan cintamu, bukan! Tapi, karena aku… aku,”

“Katakan sampai aku bisa mengerti alasanmu,”

“Aku ingin memastikan seberapa penting kehadiranmu pada hidupku, beri aku waktu untuk berfikir di saat aku kembali padamu maka saat itu akan sudah siap dengan keseluruhan kisah kita”

Aku menatap kedua matamu, dan saat itu aku percaya pada apa yang kau inginkan. Sejak hari itu, tidak ada lagi Soojung dalam hariku. Dan sepertinya, kehampaan ini akan berlangsung selamanya.

Hari ini sudah tepat berlalu 4 bulan. Tapi Soojung belum kunjung kembali padaku, jangankan menemuiku, panggilanku pun tidak pernah dia angkat. Ketika aku berniat menemuinya, jejaknya hilang entah berpindah pada bagian bumi yang mana.

Ketakutanku berlanjut ketika tanpa niatan mengintai, aku membuka jejaring sosial milik Soojung.

Jika aku ingat kembali, hari – hari setelah keputusan Soojung itu hidupku berjalan berantakan. Seperti satu nada yang hilang dari keseluruhan lagu, aku tidak bisa menjalani hari seperti biasanya. Tapi lihat Soojung?

Jejaring sosial miliknya bertaburan foto dirinya tengah tersenyum begitu lebar kearah kamera. Jika aku telusuri sejak kejadian itu, sepertinya Soojung tidak melewati hari sulit sedikitpun. Aku bahkan sudah lupa seperti apa cara tersenyum, tapi lihat Soojung dia dengan mudah mengukir senyum sebahagia itu.

Jadi apa Soojung baik – baik saja hidup tanpa kehadiranku di sisinya? Atau Soojung sudah menemukan hatinya? Tapi mengapa sampai hari ini aku tidak bisa menemuinya.

Jadi apa ini hanya sekedar menjaga jarak atau memang sebuah awal dari sebuah perpisahan?

Sekali lagi mari kita coba. Dengan berani aku membuat satu panggilan padanya, menunggu dari sebrang sana menyahuti dengan suara manis tapi penantian itu berbuah pahit. Tidak ada suara Soojung dari sana.

Tidak akan pernah lagi.

Sekarang aku mempertanyakan, mengapa dulu Soojung tidak dengan jelas meminta semua berakhir saja. Apa dia berniat membuatku sengsara? Aku bahkan sulit menjalani hidup ini dan dia nampak baik – baik saja, dia seperti sangat bahagia.

Menyesal dulu aku pernah berdoa untuk kebahagiannya. Sekarang lihat? Dia bahagia dan aku di sini sedang berjuang untuk terus bertahan hidup dengan ketidak jelasan ini.

How could you be so fine? How could you trample on me? see your smiling face as you completely forgot about me. As you’re being so happy

17 thoughts on “Are We Farewelling?

  1. WEEEHHH KAK APREELLL KUJADI NAMBER WAN TIDAK?:V
    YEHET KAISTAL AGAIN*0*
    KUSUKA SYEKALI KOPEL INI WUAHAHAHA😄
    Minggu pagi sarapannya kaistal😄
    Duh kak, kutaktaku harus berkomentar apa ya karena ini.. inii… jleb 😭
    Kasian jongeeennnnn 😭 kenapa sujung sejahat ituuuuu😢
    Ngena banget kak, sujung kok ngebiarin jongin hidup tanpa kejelasan gitu:3 Kalo pengen putus ya putus aja, kasian jongen huaaaaaa 😭
    Btw kak, jangan bosen kalo ketemu aku lagi di komenan lain😄

  2. soojung lu mubajir banget ngediemin jongin ,, ini knpa kaya gini ,, kim jongin ga bisa di ginnin ka april ga tega #lebay , tapi biasa nya jongin yg ngeginniin orang sekarang sebaliknya -_-

  3. kasian banget disini jongin di campakkan ._.
    mungkin kristal pengen cari yg putih dan mancung😄
    turut berduka deh jong, noona bantu gerek authornya yaaa…😄😄 #plaaak

  4. bisa dibilang aku ngerti gimana perasaannya JongIn. karena kita ada di posisi yang samaa :”D Ya Tuhan. baper sekali baca ini :’D

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s