[FF berantai] Flechazo : GAME OVER

FLECHAZO : GAME OVER | Apreelkwon

Chanyeol and others | Romance, Friendship, School life  | G | Chaptered

Prev: Prolog || Clueless || Drama || Puzzled || The Other Side || Ups || Heart Attack || Suddenly || Crazy Plan || Comeback || Unofficial || Tell You || The Answer || Complicated

Summary : Apalah taruhan itu, Chanyeol sudah tidak memikirkannya lagi. Sekarang bagaimana nasib cintanya?


Sepuluh menit sudah Chanyeol hanya duduk diam di salah satu sudut lapangan utama sekolah. Memperhatikan sekumpulan murid yang tengah berebut bola adalah pekerjaan sampingan yang Chanyeol lakukan selain memperhatikan ponsel dalam genggamannya. Biasanya dia tidak hanya diam seperti ini, Chanyeol akan bergabung dengan mereka dan menjadi bintang lapangan saling berebut perhatian murid perempuan yang tidak sengaja lewat. Tapi hari ini dia tidak ada semangat sama sekali. Tidak semangat bermain basket, tidak bersemangat pergi ke kantin, tidak bersemangat ke ruang musik, dia bahkan sempat terkena masalah karena tidak konsentrasi dikelas pertamanya. Dan yang sangat bahaya adalah, Chanyeol sangat malas bertemu teman – temannya. Terlebih Baekhyun, Jongdae dan Sehun. Meski demikian Chanyeol juga malas untuk bertemu Kyungsoo dan Jongin.

Jelas sekali mereka merasa bersalah. Pagi sekali Baekhyun sudah membuat telfon di ruang tamu berdering tidak henti. Ketika Chanyeol tanya ada apa, Baekhyun tanpa dosa berkata, “Mau aku jemput hari ini?” dan jawaban “Tidak terimakasih,” adalah yang paling tepat.

Sampai di gerbang sekolah Jongin, Sehun dan Jongdae sudah menunggu. Seperti biasanya Jongdae melambaikan tangan. Mereka bertiga dengan kompak menghampiri Chanyeol, memberi sapaan selamat pagi, merangkul pundak Chanyeol, semua mereka lakukan seakan mencoba menghapus dosa demi dosa yang telah tertoreh. Sampai kemudian kalimat pengakuan terlontar dari Jongdae, “Jadi? Apa kau sudah bicara dengan Sumin? Jelaskan saja, aku fikir dia akan mengerti. Kita bisa bawa Baekhyun sebagai salah satu tertuduh masalah ini. Atau meminta bantuan Kyungsoo untuk menjelaskan secara logis, bagaimana? Biar nanti aku, Jongin dan Sehun yang mengatur waktunya,”

Melepaskan tangan mereka dari pundaknya adalah yang pertama Chanyeol lakukan, kemudian jawaban singkat, “Tidak terimakasih,” sekali lagi sebelum akhirnya Chanyeol meninggalkan mereka.

Dari ulah merasa bersalah mereka, Chanyeol fikir hanya Kyungsoo yang tidak membuatnya makin kesa. Kyungsoo sudah berdiri di depan pintu kelas ketika Chanyeol datang, tidak ada sikap berlebihan ataupun kalimat basa – basi, Kyungsoo hanya menepuk bahu Chanyeol kemudian berkata, “Cepat atau lambat semua ini pasti akan terjadi kau tidak bisa menyalahkan kami meski memang kami bersalah. Kau pasti bisa menyelesaikan semua ini tanpa ide – ide gila kami, tapi jika kau butuh bantuan tentu kami adalah prajurit siap mati,”

Mungkin hanya Kyungsoo satu – satunya yang Chanyeol berikan jawaban sambil tersenyum dan “Terimakasih,”

Mereka yang ditengah lapangan berteriak kegirangan ketika salah satu dari tim lawan memasukan bola kedalam ring. Tidak terlalu menarik baginya. Fokus utama otak Chanyeol hari ini adalah misteri yang tersimpan didalam ponselnya, misteri yang baru terjadi tadi malam berimbas menjadi mimpi buruk tak berujung bagi Chanyeol.

Seharusnya ponsel ini sudah kembali pada Chanyeol di pagi hari, di halte bus, dari tangan Sumin karena kemarin malam Sumin sendiri yang meyanggupinya. Tapi, karena insiden maut ulah temannya –walau Chanyeol sendiri aktor utama dalam insiden itu, ponsel ini datang bukan dari Sumin tapi dari Soojung dan Chanyeol sudah memprediksi kejadian ini dalam daftar hal terburuk hari ini.

“Sumin menitipkan ini padaku, dia bilang ingin memberikannya langsung pada Seonbae tadi pagi tapi dia berangkat dari rumah saudaranya. Dan sekarang Sumin sedang sibuk dengan wali kelas, karena ini barang penting jadi dia meminta bantuanku untuk memberikannya padamu segera,”

(1) Berangkat dari rumah saudara, (2) sedang sibuk bersama wali kelas, jelas sekali dua alasan yang Soojung ucapkan merujuk betapa tidak sudinya Sumin bertemu dengan Chanyeol meski hanya untuk mengembalikan ponselnya. Masuk akal tadi pagi Chanyeol menunggu di halte bus selama 30 menit Sumin tidak kunjung datang.

“Terimakasih,” kedua kalinya Chanyeol ucapkan.

Kemudian menjauh dari teman – temannya adalah yang Chanyeol lakukan sekarang.

Dia tahu semua ini bukan murni kesalahan mereka, Chanyeol pun salah dan kakaknya lebih salah lagi. Masalahnya sekarang Chanyeol sedang butuh seseorang untuk disalahkan. Semalaman dia mencoba menyalahkan dirinya sendiri, tapi ego berkata tidak 100% semua karena dirinya. Maka dari itu teman – temannya juga Yoora adalah target lain Chanyeol.

“Aku sudah memesan gaun merah jambu yang semalam kau lihat, kau sudah tidak sabar bukan? Adiku yang tampan?” masih sangat pagi dan sungguh suasana hati Chanyeol sedang dalam phase terburuk. Sangat tidak enak telinga Chanyeol ketika mendengar Yoora mengatakan kalimat itu tepat di meja makan.

“Terserah kau saja, Noona. Suka – suka dirimu mau memesan gaun yang mana?” malas Chanyeol menjawab disela menikmati sarapan pagi yang sebenarnya tidak selera di lidah meski perut meronta.

“Ada acara apa sampai memesan gaun baru?” Mama Park ikut bergabung di meja makan dengan sepiring telur orak – arik ketika mendegar kalimat Yoora.

“Sebuah perayaan Ma, untuk adiku yang tampan! Besok hari terakhir sayangku. Apa ada harapan kau lolos?”

Chanyeol sudah sangat malas, biasa memang Yoora mencari masalah tapi dia tidak bisa menerimanya pagi ini. Chanyeol meletakan paksa sendoknya sampai menciptakan bunyi gelenting membuat dua pasang mata lainnya terperanjat, “Noona, lakukan saja apa maumu! Yang pasti aku sudah malas melanjutkan taruhan konyolmu itu. Terserah kau mau menganggapku pasangan Gay dengan siapapun. Aku tidak mau menyakiti hati perempuan hanya karena permainanmu itu. Jadi aku berhenti, terserah kau mau apakan aku besok atau hari inipun aku terima. Intinya, tidak ada lagi taruhan konyol antara aku dan dirimu kedepannya,”

Sarapan di piringnya masih tersisa banyak, susu di gelasnya bahkan masih penuh, tidak mempedulikan semua itu Chanyeol bangkit meraih ransel kemudian melangkah pergi. Dia bahkan tidak sempat melihat betapa kaget dan takutnya wajah Yoora mendapat respon mengejutkan seperti itu dari adiknya dipagi hari. Mama Park juga sempat melempar tatapan tajam pada putri satu – satunya dan beranjak menyusul Chanyeol.

Noona dan yang lainnya masalah belakangan, mereka tidak akan masalah mendapat amarahku untuk beberapa saat. Tapi bagaimana cara membuat Sumin memaafkanku,”

Sekali lagi Chanyeol perhatikan ponselnya. Dia belum tahu apa yang Baekhyun dan Sehun bicarakan semalam di grup chat sinting mereka dan tanpa sengaja Sumin membacanya. Tadi malam Jongin hanya memberitahu bahwa Baekhyun, Sehun dan Jongdae lah yang memulai perbincangan.

Dengan berani dan siap menerima apapun kenyataan terburuk dihadapannya, Chanyeol menyapu kunci layar ponsel dan membuka aplikasi chating. Hanya terdapat 7 notifikasi pesan baru dari grup mereka, jumlah yang mustahil dari grup sebising itu. Maka benar adanya jika Sumin tidak sengaja membacanya. Dengan mempersiapkan mental Chanyeol menelusuri dari perbincangan yang dia lewatkan sejak dari rumah Sumin. Ya, Chanyeol sudah siap.

Sehun :

Kalau tidak salah dua hari lagi bukan?

Jongin :

Bung…! Dua hari itu bukan waktu yang panjang. Besok belum tentu Chanyeol Hyeong bisa memastikan Sumin sekali lagi setelah penolakan kemarin.

Baekhyun :

Ada ide lain? Sejujurnya aku menginginkan misi ini berhasil, nama baikku di pertaruhkan.

Jongdae :

Sungguh ByunBaek😄

Bukankah dalam hati kau meratapi nasib yang begitu menyedihkan ini.

Baekhyun :

Alangkah, tidak lucu leluconmu itu Jongdae.

Sehun :

Benar Hyeong, ini bukan waktunya untuk bercanda. Kita harus membantu Chanyeol Hyeong. Bukan karena taruhan itu sendiri, tapi karena Chanyeol Hyeong juga menyukai Baek Sumin.

–Deg.

Mebaca kata taruhan dengan jelas tertulis disana, membuat Chanyeol mati rasa. Untuk sesaat dia berharap kebiasaan typo Sehun muncul disaat seperti ini.

Kyungsoo :

Membaca kiriman Sehun, membuatku teringat sesuatu!

Jongdae :

Memang Sehun mengirimimu apa? Bingkisan? HAHAHAHAH bahasamu😄

Baekhyun :

Jongdae! Sekali lagi kau berulah, aku keluarkan kau dari grup ini.

Jongdae :

Silahkan😄

Jongin :

Baekhyun Hyeong, kau lupa? Troll ini adalah sesepuh grup gila ini. Jadi dia pemegang kekuasaan,

Jongdae :

HAHAHAHAHAA…

BaekHyun :

Oh!

Sehun :

Bisa kita kembali serius, ada apa Kyungsoo Hyeong? Dan ngomong – ngomong kemana Chanyeol Hyeong? Apa dia sedang kencan bersama Sumin. Ah, betapa malangnya Sumin. Dia itu perempuan yang tertutup.

Sekarang dia sudah nyaman bersama Chanyeol Hyeong, bagaimana kalo dia tahu semua ini berawal dari taruhan Chanyeol hyeong dengan Noona nya?

Baekhyun :

Benar memang semuanya berawal dari taruhan, tapi apa kalian lupa kalau Chanyeol sudah menyukai Sumin sejak awal?

Jongin :

Baekhyun Hyeong benar. Aku masih ingat hari itu kita membombardir dia dengan foto perempuan tapi pilihannya jatuh pada Sumin yang baru dia temui sekilas.

Baekhyun :

Nah! Itu maksudku. Sumin pasti mengerti, dari awal Chanyeol sudah memilih Sumin.

Jongdae :

Tapi tetap saja, intinya Chanyeol ingin memenangkan taruhan dari kakaknya dan Sumin adalah perantaranya.

Sehun :

Itu FAKTA yang tidak bisa kita tutupi.

 

Chanyeol memejamkan matanya, kedua tangannya terkepal ketika dia membaca sebaris kalimat yang ditulis Jongdae. Chanyeol tahu, ini memang forum bebas mereka untuk berkata apapun, karena mereka sepakat apapun yang mereka tulis disini adalah rahasia. Tapi ketika membayangkan Sumin sendiri yang membaca semua ini. Oh, sungguh Chanyeol saja merasa ingin menonjok wajahnya sendiri.

Sumin mungkin akan jijik padanya. Selama beberapa hari terakhir berusaha keras medekati Sumin dari mulai insiden dengan adiknya, sepeda –yang berujung mereka pulang bersama, berangkat sekolah bersama, menjadi pasangan drama, pergi ke taman bermain, dan mungkin sekarang Sumin menganggap semua usahanya itu adalah tipu muslihat untuk sebuah taruhan?

Tapi, mau menyangkal seperti apapun memang dasar dari semua yang dia lakukan adalah untuk memenangkan taruhan kakaknya. Sialan!

Bel tanda istirahat telah selesai berbunyi masih dengan malas Chanyeol bangkit dari duduknya, dia sudah tidak berminat melanjutkan membaca jejak chating teman – temannya. Masuk kelas jug perkara sulit untuk Chanyeol sekarang. Tapi membayangkan setelah pulang sekolah dia akan latihan drama dan bertemu Sumin membuatnya berlari cepat.

.

.

Malam itu ketika Kyungsoo menuliskan Aku yakin Baek Sumin bukan orang yang senang mengupas privasi orang lainmaka Chanyeol mencoba menyakinkan hatinya, bahwa Sumin tidak akan berani membuka pesan di ponselnya. Sedikitknya Chanyeol merasa tenang, meskipun mereka mengakui telah mengirim sesuatu. Tapi ketenangan Chanyeol ternyata tidak bertahan lama, barang 10 menit.

“Aku memeriksa chatku dan kulihat sepertinya dia sudah membacanya”

Suara Jongin disebrang sana sontak membuat Chanyeol melupakan apa yang Kyungsoo katakan beberapa menit yang lalu. Sialan! Chanyeol mulai merasakan ketakutan pada hatinya. “Apa?? Pesan apa yang kau kirimkan padaku?”

“Itu…”

“Jongin kau tahu aku sekarang mulai gelisah, katakan apa yang kau tulis!”

Hyeong dengarkan dulu, aku berani jamin bukan aku yang mulai perbincangan tentang taruhan itu-

Jongin belum selesai dengan kalimatnya, tapi ketika mendengar kata taruhan sontak membuat telinga Chanyeol berdenging. Sungguh terjadi?

“Apa? Kalian membahas tentang taruhan itu dan Sumin membacanya?”

“Percayalah bukan aku, tapi Sehun, Baekhyun Hyeong dan Jongdae Hyeong yang memulai,”

“Oh, Sialan!

Dan sialnya, aku juga menuliskan fakta bahwa aku sangat mencintai Soojung, Sumin itu teman Soojung. Hampir saja aku juga menuliskan tentang insiden beberapa hari yang lalu ketika Soojung mengajaku-

Chanyeol tidak mendengarkan ocehan Jongin, dia sudah cukup tahu apa yang Jongin khawatirkan. Rahasia, tentang Jongin yang sangat jatuh cinta pada Soojung. Dan apapun yang terjadi tempo hari antara mereka berdua, Chanyeol tidak peduli. Yang menjadi sumber rasa takut Chanyeol sekarang adalah Sumin tahu tentang pasal taruhan itu. “Ceritakan nanti saja masalah Soojung mu itu,” dan tanpa ragu Chanyeol menutup sambungan telepon dengan segera.

Sumin tahu tentang taruhan itu! Bagaimana nasib Chanyeol!

“Sial!”

Dengan segera Chanyeol berlari kembali ke kamarnya, tidak menggubris lagi teriakan Yoora akan protesnya pada langkah berisik Chanyeol. Ponsel Yoora masih ada padanya, dengan segera Chanyeol membuat panggilan pada nomornya.

Satu kali. Tidak ada jawaban.

Dua kali. Masih tidak ada jawaban.

Tiga kali, belum sempat nada tut- berakhir Chanyeol bergerak cepat meraih varsity hitam yang tergantung di balik pintu, kembali berlari dari kamarnya yang otomatis melewati kamar Yoora.

“AKU BILANG BERHENTI BERLARIAN DIDALAM RUMAH CHANYEOL…!!!!” kali ini Yoora bahkan keluar dari kamarnya sehingga menciptakan volume suara yang cukup memekakan telinga.

“APA MASALAHMU!” balas Chanyeol tidak kalah keras sambil menuruni tangga.

Dia tidak peduli dengan teriakan Yoora, tidak peduli dengan teguran Mamanya dan tidak peduli sudah jam berapa sekarang. Dengan langkah panjang, Chanyeol memacu kakinya ke rumah Sumin. Menunggu bus, jam seperti ini akan memakan waktu lebih lama maka dari itu Chanyeol memutuskan untuk berlari –konyol memang.

Selama perjalan otaknya memutar kemungkinan – kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya. Chanyeol bisa membayangkan bagaimana sakit hatinya Sumin ketika tahu Chanyeol hanya mempermainkannya, meski kenyataannya Chanyeol sungguh menyukai Sumin.

Masalah selanjutnya muncul, apa yang akan Chanyeol katakan nanti ketika melihat Sumin? Menyalahkan teman – temannya? Menyalahkan kakaknya? Mengaku bersalah dan meminta maaf? Atau kemungkinan terburuk menjauhi Sumin? Chanyeol bahkan belum menyiapkan skenario apa yang akan dia lakukan nanti ketika Sumin membuka pintu rumahnya, Chanyeol belum tahu. Sekarang yang dia fikirkan hanya menemui Sumin untuk apa? Entahlah, dia hanya ingin bertemu Sumin masalah apa yang harus dia katakan mungkin akan datang dengan sendirinya.

Lalu bagaimana jika Sumin tidak mau membuka pintu rumahnya?

Dan lari Chanyeol terhenti didepan rumah Sumin ketika mendapati rumah itu sudah sepenuhnya gelap. Tidak ada satu lampu yang menyala kecuali di pekarangan. Apa Sumin sudah tidur? Chanyeol tahu ini sudah malam, tapi apa ini salah satu penolakan Sumin? Dia mungkin tahu Chanyeol akan langsung lari kesini.

Masih dengan nafas terengah dan peluh yang membasahi seluruh wajahnya, Chanyeol mengeluarkan ponsel yang dia simpan didalam saku varsitynya. Tanpa fikir panjang dia melakukan panggilan pada nomornya. Satu kali tidak ada respon, dua kali masih sama, tiga kali tetap sama. Chanyeol menjeda pada panggilan ke empat dia tengah berfikir apa ada baiknya langsung mengetuk pintu rumahnya? Kemudian konsentrasinya buyar dengan suara notifikasi dari ponselnya.

Chanyeol lupa, dia masih terhubung dengan grup dadakan bersama teman – temannya. Disana masih ada Baekhyun, Sehun, Jongdae tidak ada Jongin juga Kyungsoo. Mungkin Kyungsoo sudah menyadari apa yang terjadi dan tiga lainnya belum.

Dengan penuh amarah, Chanyeol mengetik cepat untuk membungkam suara itu.

Yoora :

HENTIKAN OCEHAN KALIAN.

 

Hanya itu yang Chanyeol tuliskan, biasa tapi tidak biasa bagi teman – temannya. Terakhir, dia keluar dari grup dan membuat ponselnya benar – benar tenang dari suara bising.

Mata Chanyeol kembali berfokus pada rumah didepannya. Tidak ada perubahan sama sekali, padahal dia berharap dengan tiga panggilan tadi salah satu jendela –berharap itu kamar Sumin, terbuka dan Sumin muncul disana. Tapi 10 menit Chanyeol menunggu, tidak ada perubahan sama sekali. Kemudian terbesit dalam benak Chanyeol, mungkin Sumin terlalu sakit hati untuk melihat ponselnya dan bisa saja ponselnya itu sudah terbenam di dasar tas Sumin. Keputusan untuk membuat panggilan lainpun Chanyeol batalkan.

Chanyeol belum rela pergi dari sana, tapi berdiam diri malam seperti ini didepan rumah orang juga bukan keputusan yang baik. Terlebih ketika ponsel kakaknya berdering dan nama Rumah tertera disana. Dengan segera Chanyeol mengangkatnya dan suara Mama Park terdengar disebrang sana.

“Kau dimana sayang?” suaranya terdengar begitu khawatir. Chanyeol baru menyadari, ibunya ini sosok permepuan yang sangat lemah lembut, pertanyaannya kenapa sifat itu tidak turun barang 1% pun pada kakaknya?

“Ada sesuatu yang aku butuhkan tadi Ma, sekarang aku pulang tenang saja.”

“Baiklah, hanya saja ini sudah malam tidak baik kau diam diluar,” sambung Mama Park yang membuat Chanyeol mengangguk, kemudian terdengar di belakang Mamanya ada suara lain ikut berbicara. “Bilang padanya Ma jangan jual ponselku, punya dia hilang aku curiga dia menjual punyaku.”

“Ma bilang juga pada anak gadismu yang tidak mirip sama sekali itu, aku bukan pencuri murahan yang akan mengambil dan menjual barang diam – diam, pasti aku kembalikan nanti,”

Oh! Hentikan, Mama tidak mau ikut campur dalam pertengkaran kalian. Intinya cepat pulang Chan,

Dan mau tidak mau Chanyeol memang harus pergi dari sana.

.

.

Jam sekolah sudah resmi dibubarkan. Kurang lebih 20 menit lagi mungkin kelas drama akan segera mulai latihan yang entah kenapa hari ini latihan drama dilakukan setelah sekolah bubar. Bisa jadi murid lain sudah berkumpul di aula menghafal naskah, memperlancar adegan bersama pasangan dan mungkin Sumin juga sudah hadir disana. Di Aula, tempat yang sangat ingin Chanyeol tuju sekarang.

Apa daya, Chanyeol masih tertahan di kelasnya. Kenapa? Tentu saja teman – temannya. Mereka ingin membicarakan insiden yang terjadi tadi malam. Satu persatu dari mereka sudah melafalkan kata maaf. Dari mulai Baekhyun yang nampak sangat menyesal dan terakhir Jongdae dengan wajah main – main tapi Chanyeol tahu temannya ini serius.

“Aku dan Sehun sedang merundingkan apa yang sebaiknya kita lakukan, andai aku tahu Sumin yang membaca Chat itu apa menurutmu aku akan tetap melakukannya?” Baekhyun masih berusaha membuat Chanyeol mengikis amarahnya. “Kau bilang tidak marah, tapi jelas tergambar di wajahmu kau jengkel sekali padaku dan Sehun benarkan?”

“Semua ini tidak kesengajaan Hyeong, kami sungguh tidak tahu percayalah.”

“Seperti kata Kyungsoo, cepat atau lambat semua ini pasti akan terjadi. Kami- ah bukan maksudku aku dan Sehun memang memegang peran atas keributan ini, tapi apa semua ini murni salahku? Ayolah Chanyeol, dengan kau marah dan diam seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada kita jadi malas untuk membantumu,” Baekhyun mulai kehabisan akalnya setelah hampir 20 menit mereka disini Chanyeol sama sekali tidak merespon niat baik mereka.

Chanyeol menghembuskan nafas panjang, “Jadi apa yang kalian bantu selama ini? Bahkan rahasia tentang taruhan itu saja kalian sendiri yang buka pada Sumin,”

Chanyeol tidak pernah berniat tidak menganggap bantuan teman – temannya. Sungguh, mereka adalah oasis di gurun pasir Chanyeol selama ini. Tapi, mendesak dia untuk berfikir jernih, ketika emosi ada pada puncaknya juga bukan sesuatu yang bagus. Chanyeol belum bisa menerima kenyataan, terkuaknya pasal taruhan itu, dia butuh seseorang untuk disalahkan dan sekarang teman – temannya datang untuk membantunya.

Sungguh bukan waktu yang tepat.

Baekhyun dan Jongdae tertawa getir. Mereka terlihat bangkit dari duduknya, wajah Baekhyun bahkan nampak merah menahan amarah, Chanyeol tahu itu.

“Ya tuhan! Aku tidak tahu lagi harus bicara apa, kalian saja yang urus orang ini. Aku menyerah,” Baekhyun meraih ranselnya kemudian melangkah keluar dari ruang kelas yang disusul oleh Jongdae juga Sehun.

Melihat semua itu Chanyeol sadar dia sudah membuat satu kesalahan lainnya. Dia menghembuskan nafas gusar kemudian menangkupkan kedua tangan di mukanya.

Masih ada Jongin dan Kyungsoo disana yang berdiri tidak jauh dari Chanyeol. “Kalian tidak pergi? Aku fikir kalimatku tadi cukup membuat kalian jengkel padaku,”

Jongin terlihat menggaruk tengkuknya, “aku sendiri bingung dengan yang terjadi. Sungguh, semua ini bukan sesuatu yang kami sengaja. Dilihat dari posisimu aku juga mengerti kau juga pasti sedang marah Hyeong, tapi kalimat tadi terlalu berlebihan dan pasti akan membekas bagi mereka,”

“Aku sudah menyarankan Baekhyun untuk tidak membicarakan ini sekarang denganmu, tapi anak itu tidak mendengarnya. Karena mau apapun yang kami ucapkan, sekarang kau pasti tidak akan mempercayainya. Amarahmu mencari apa yang dia percayai, bahwa kami yang salah.” Kyungsoo ikut mengemukakan pendapatnya.

Chanyeol tidak merespon kalimat mereka berdua. Bangkit dari duduk dan meraih ransel adalah yang Chanyeol lakukan. Sebentar lagi kelas drama di mulai, dia harus segera berada disana. “Kita bicarakan lagi masalah ini nanti, sampaikan maafku pada mereka. Sungguh aku tidak bermaksud,”

“Sekarang kau mau kemana?” Kyungsoo menghentikan langkah Chanyeol.

“Latihan drama, ah tidak maksudku bertemu Sumin. Dia pasti ada disana,”

“Apa yang akan kau katakan?”

“Entahlah”

Kyungsoo yang tidak lagi menahan langkah Chanyeol membuatnya bebas pergi dengan cepat menuju ruangan yang tidak jauh dari sana. Latihan drama bukan lagi prioritasnya berlari kesana, tapi bertemu Sumin, berlatih dengannya dan membicarakan masalah mereka setelah selesai latihan adalah yang ingin Chanyeol lakukan.

Chanyeol sampai didepan aula. Tidak seperti biasanya, pintu aula kali ini tertutup rapat. Dari dalam terdengar gema lagu dari pengeras suara. Ada yang berbeda, perlahan Chanyeol mendorong pintu itu. Memang suasana latihan kali ini berbeda. Perangkat musik sudah dipasangkan, dan latihan sudah tidak dilakukan secara bergerombol tapi langsung tersusun berdasarkan adegan demi adegan.

Tidak tahu sudah sampai mana adegan ini berlangsung, Chanyeol dengan cepat mencari teman latihannya. Ujung matanya mendapatkan Baekhyun bersama Jongdae tengah berlatih bersama, sebelum mereka menyadari kehadiran Chanyeol secepat kilat dia mengubah arah jalan.

Seonbae, Kau dari mana saja!?” satu tangan menarik Chanyeol ketika dia tengah menyusuri tepian kursi. Jung Soojung.

“Oh, ada sesuatu tadi. Kenapa latihan kali ini berbeda?” tanya Chanyeol dengan kedua tangan sibuk bergerak mencari lembaran naskah miliknya yang masih tersimpan rapih di dalam tas.

“Para pembimbing ingin melihat progress latihan, mulai hari ini kita akan berlatih secara terurut dari scene 1 sampai selesai. Ugh! Ini akan sangat melelahkan dan lama,”

“Oh, kabar buruk,” timpal Chanyeol singkat, otaknya terlalu sibuk antara membagi fokus pada kalimat Soojung, latihan drama dan…

Mencari Sumin.

Meski naskah sudah ada dalam genggamannya, kedua mata Chanyeol tidak terfokus pada jajaran kalimat yang sedang dia hafal. Dia mencari sosok Sumin dari kumpulan anak drama disana. Biasanya Sumin selalu tepat disamping Soojung, tapi dia tidak ada hari ini. Di kursi tidak ada, dekat pintu masuk juga tidak ada, Chanyeol tidak tahu dimana tempat Sumin biasa bersembunyi, karena beberapa hari terakhir selama latihan drama Sumin selalu bersama dengannya, tepat disampingnya.

“Mencari Sumin?” Soojung berkata dari sela aktivitasnya membaca naskah.

Sontak kedua mata Chanyeol terkejut, memberikan efek yang kurang bagus untuk dilihat orang lain, “Apa!?”

Soojung menurunkan kertas naskahnya, kemudian dagunya bergerak kearah samping kiri dekat pintu menuju ruang penyimpanan aula. “Sumin tadi disana, dia terlalu tegang karena harus latihan dengan setiap mata menyaksikannya. Maka dari itu dia terus keluar masuk kamar mandi,” Soojung tersenyum jahil kearah Chanyeol, kemudian menyikutnya pelan. “cepat sana..! Seonbae ingin menemuinya bukan?”

Chanyeol menggeleng pelan, meski hatinya mengangguk beberapa kali. “Tidak, aku hanya mencari Sumin karena dia pasangan latihanku,”

Eiiiy…..” sekali lagi Soojung menyikut Chanyeol. “Baiklah, aku percaya saja,”

Kata siapa Chanyeol ingin bertemu Sumin hanya karena mereka pasangan latihan. Lebih dari semua drama dan anak – anaknya Chanyeol ingin bertemu dengan Sumin untuk menjelaskan semua yang terjadi. Baiklah, Chanyeol sudah mempersiapkan sedikitnya alasan dan pengakuan dosa atas apa yang dia lakukan. Kata maaf mungkin yang akan pertama kali dia lontarkan. Tapi, tidak mungkin semua itu dia lakukan disini. Chanyeol harus bertemu Sumin diluar semua jam aktivitas sekolah.

“Sepertinya sebentar lagi giliranku,”

“Ehm,”

“Kau bilang, Sumin disana bukan?”

Soojung tertawa pelan, “Dari tadi sudah aku bilang, kau terlalu banyak basa – basi Seonbae,

Berjalan melewati kumpulan murid yang tengah melafalkan kalimat bagian mereka, Chanyeol seharusnya juga melakukan yang sama tapi otaknya terlalu beku untuk sekedar mengucapkan bagiannya. Ketika melewati bagian tengah latihan –dimana pemeran sedang berlakon, Chanyeol bersinggungan dengan Baekhyun yang sedang menunggu gilirannya. Ini buruk, ketika Baekhyun tidak menyapanya sama sekali dan kembali fokus pada lembaran naskahnya. Benar kata Jongin, kalimat tadi mungkin akan membekas untuk mereka. Dari semua teman – temannya, Chanyeol hapal betul seperti apa sifat temannya yang satu ini.

Meninggalkan masalah dengan temannya, Chanyeol mendapati Sumin ada didepannya.

Coba ingat kembali, beberapa hari yang lalu ketika kedua matanya menangkap Sumin hatinya akan merespon berlebihan. Bibirnya akan melengkungkan garis senyum tanpa perintah. Lidahnya akan memproses kalimat terlalu berlebihan yang tidak bisa di keluarkan oleh bibirnya, imbasnya hanya kata – kata tidak jelas yang dia keluarkan. Itu respon indah yang Chanyeol rasakan beberapa hari yang lalu.

Tapi sekarang.

Dia ingin segera berada didepannya dan menyapa, tapi kakinya terlalu berat untuk melangkah. Hatinya kebat – kebit tidak karuan, tubuhnya bahkan menelurkan keringat – keringat dingin, imbasnya Chanyeol merasakan kekhawatiran yang berlebihan. Oh, apakah seperti ini orang yang akan melakukan pengakuan dosa.

Chanyeol ingin mengakui dosanya.

“Sumin-Ssi…

Oh, akhirnya bibirnya berhasil mengucapkan kalimat sapaan.

Sumin yang menyadari kehadiran Chanyeol menurunkan naskahnya dan memandang lelaki di depannya itu. Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam, kedua mata saling menatap seakan setiap kalimat dari dalam hati Chanyeol akan tersampaikan melaluinya.

“Aku-”

“Baek Sumin – Park Chanyeol,”

Chanyeol belum selesai dengan kalimatnya ketika pengeras suara melafalkan nama mereka. Getir, Chanyeol memejamkan matanya erat sambil mengepalkan tangannya kesal. Sumin seperti tidak mempermasalahkannya, dia melangkah menuju sumber suara baru ketika dia berada tepat didepan Chanyeol sapaan dia lontarkan.

“Giliran kita…. Seonbae,” ucapnya pelan.

Chanyeol mencoba menyelami dua bola matanya itu, terlalu hitam dan kelam. Dia tidak tahu apa yang Sumin fikirkan.

Tidak tahu sama sekali.

.

.

Chanyeol dibuat mati kutu selama latihan drama. Bingung harus membawa kemana perasaannya, Sumin berlaku seakan tidak pernah terjadi apa – apa antara mereka. Bukan dalam artian Sumin memaafkan Chanyeol atas insiden taruhan itu bukan, tapi lebih ke arah seakan Sumin dan Chanyeol hanya sekedar teman latihan drama. Hanya itu.

Biasanya Sumin akan tertawa malu ketika dia salah mengucapkan kalimatnya, menutup mukanya ketika melakukan gerakan yang salah, atau tertawa bersama Soojung ketika kesalahan terletak pada Chanyeol.

Sedangkan hari ini?

Tidak terjadi apa – apa. Sumin melakukannya seperti biasa, dia biasa saja menyapa Chanyeol, biasa saja dengan setiap adegan demi adegan yang mereka lakukan dan biasa saja dengan betapa romantis kalimat yang dia ucapkan. Rasa biasa inilah yang membuat Chanyeol merasa ngeri.

Terlebih ketika di akhir latihan, Sumin membungkuk kearahnya dan berkata, “Terimakasih atas kerjasamanya Seonbae,

Satu lagi yang belum Chanyeol tahu tentang Sumin, seperti apa gadis ini sebenarnya.

Setelah memasukan secara paksa lembaran naskah yang mulai lecek kedalam tasnya, Chanyeol berjalan gontai keluar dari aula. Awalnya dia berniat untuk membicarakan semua ini dengan Sumin, tapi melihat tingkah laku Sumin membuat nyali Chanyeol ciut. Setidaknya akan lebih baik jika Sumin berubah sinis, dingin padanya bahkan Chanyeol akan lebih tenang jika Sumin memakinya tidak diam seperti ini. Diam seakan beberapa hari yang telah mereka lalui tidak pernah terjadi.

Masalah.

Sekarang Chanyeol bingung, meski dia berhasil meminta waktu berdua dengan Sumin apa yang akan dia katakan.

“Kalian ada masalah Seonbae?” satu suara menginterupsi lamunan Chanyeol, entah sejak kapan Soojung sudah berjalan tepat disampingnya dengan lolipop didalam mulutnya. Oh ini mungkin yang membuat Jongin jatuh cinta. Soojung nampak begitu lucu.

“Apa yang kau lakukan disini?” Soojung ini kekasih Minhyuk dan incaran Jongin jika ada mata yang mendapati dia bersama Chanyeol bisa jadi masalah.

Soojung mengerutkan dahinya, mengeluarkan lolipop dari mulutnya secara paksa sampai terdengar suara pop ditelinga Chanyeol, “Aku mau pulang, apa salah jika aku berjalan disini?”

“Tapi tidak disampingku, nanti ada seseorang yang cemburu,”

“Minhyuk?”

“Mungkin,”

“Dia tahu kau buka tipeku Seonbae,” jawab Soojung tanpa dosa, seinci hati Chanyeol rasanya langsung inpeksi mendengar kalimat itu. “Jadi kalian sedang ada masalah?” tanya Soojung lagi.

“Siapa?”

“Tentu saja kau Seonbae..!?

“Aku mengerti, maksudku dengan siapa!”

“Teman – temanmu itu, biasanya kalian selalu bersama. Tapi hari ini kalian terbagi menjadi 3 kubu. Di kantin, aula, bahkan sekarang kalian pulang sendiri – sendiri. Anak lelaki juga bisa seperti itu ya,”

“Kekanak – kanakan memang. Tapi terkadang kita butuh waktu terpisah untuk menyelesaikan masalah,”

Ah..! jadi benar kalian ada masalah. Aku mengerti sekarang. Apa masalah itu tentang Baek Sumin?”

Chanyeol menghentikan langkahnya, terlalu kaget ketika Soojung melontarkan kalimat barusan. Dia pernah dengar bahwa perempuan adalah mahluk paling peka dengan keadaan. Tapi tidak seperti ini juga mungkin, ini bukan peka tapi Soojung seperti cenayang.

Soojung ikut menghentikan langkahnya, membalikan tubuhnya dan mendapati Chanyeol berdiri diam menatapnya. “Oh, tebakanku benar?”

Chanyeol menghembuskan nafas panjang kemudian mengacak rambutnya kesal. Tidak mau Soojung terlalu banyak bicara, dengan cepat Chanyeol menarik tangan Soojung kebelakang gedung sekolah. Tenang, tempat ini tidak terlalu sepi. Ini adalah tempat kawasan murid tingkat 1 jadi mereka aman dari gosip.

“Jadi apa yang terjadi antara kau dan Sumin, Seonbae,” tanya Soojung lagi ketika mereka sudah duduk di kursi semen taman, Chanyeol juga mendapati Soojung sudah tidak memegang lolipopnya mungkin sudah habis atau dia buang mengingat mereka akan membicarakan hal serius.

“Sepertinya masalahnya serius,” Soojung memasang wajah ngeri ketika Chanyeol belum menjawab dan terus menimang kalimat yang akan dia ucapkan.

“Pertama, katakan dari mana kau bisa tahu aku sedang ada masalah dengan Sumin? Apa ada yang memberitahumu?”

“Siapa? Sumin tidak pernah bercerita tentang masalahnya, dan tidak ada yang memberitahuku,”

“jadi….!?”

Soojung menggerak – gerakan jari telunjuknya pada pelipis kiri. “Aku pengamat yang handal tuan. Kemarin aku meminta bantuan Seonbae untuk memberikan buku ke rumah Sumin kemudian ponselmu tertinggal disana, berarti kalian melewatkan waktu menyenangkan bukan? Sumin sempat memberiku contekan sore harinya dan bilang itu hasil kerjamu Seonbae,

Oke, Chanyeol mendengarkan dengan seksama.

“Kemudian hari ini, ponselmu aku yang kembalikan. Sebenarnya aku sudah curiga ketika Sumin dengan banyak alasan meminta bantuanku, pagi hari berangkat dari rumah saudara, sebelum kelas dimulai dia tidak ada, istirahat pertama ada janji dengan wali kelas, istirahat kedua ada janji dengan Myungsoo, di jam latihan drama dia bilang tidak akan masuk, nyatanya? Dia datang bukan.”

“Hanya karena itu kau menyimpulkan kami ada masalah?”

Soojung menggeleng. “Tidak, hal itu memang bisa saja terjadi. Hanya saja, ketika Sumin hadir dikelas drama dia langsung mengambil jarak terpisah denganku. Kemudian Seonbae dan teman – teman muncul terpisah, dan… apa Seonbae tidak sadar tingkah Sumin padamu hari ini sangat…. Tidak biasa?”

“Bukan,” Chanyeol menggeleng. “Tapi sangat biasa, biasa saja seperti hanya teman latihan drama tidak lebih.”

“Oh Seonbae merasakannya juga. Sebenarnya aku juga tidak langsung menyimpulkan begitu saja. Aku masih ragu dan mencoba menyakinkan dengan bertanya pada Seonbae tadi, dan ekspresimu menyempurnakan hipotesaku, selesai.”

“Kau terlalu pintar Noona,

Soojung mengangguk setuju, “Jadi Seonbae mau cerita apa yang terjadi? Aku pasti bisa membantumu, teman lelaki terkadang tidak banyak membantu.”

“Aku tidak yakin kau suka mendengar ceritaku,”

Ouwh..!

Awalnya Chanyeol ragu –apa bisa dia menceritakan dosa ini pada Soojung. Tapi setelah dipikir ulang, benar apa kata Soojung. Terkadang lelaki butuh pemikiran perempuan untuk menyelesaikan masalah. Chanyeol stuck, dan dia baru saja melukai perasaan temannya, jadi apa lagi yang tersisa. Maka dari itu dengan berani Chanyeol menceritakan semuanya.

Dari A sampai Z. Dari mulai prasangka kakaknya tentang hubungan gay tidak jelas itu sampai pada insiden semalam.

Soojung mendengarkannya dengan beberapa kali berganti ekspresi. Chanyeol sudah bisa menebak itu. Dia bahkan sudah membayangkan hal terburuk jika saja Soojung akan langsung menamparnya ketika mendengar cerita ini karena teringat kalimat Sehun perasaan perempuan itu terlalu lembut.

Maka ketika cerita selesai, Chanyeol sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.

“Jika aku jadi Sumin, aku akan mendampratmu Seonbae. Menangis, memakimu, menamparmu oh.. aku terlalu berlebihan. Tapi cerita ini juga sungguh berlebihan,”

“Memang,”

“Dan masalahnya sekarang, Sumin itu tipikal perempuan yang tertutup itu akan sangat sulit,”

“Aku sudah tahu itu,”

Untuk beberapa saat mereka kembali terdiam. Untunglah, Soojung tidak langsung meninggalkannya dan masih duduk di sana mencari solusi. Chanyeol menemukan satu lagi karisma dari seorang Jung Soojung yang membuat Jongin terpikat.

Seonbae? Apa menurutmu yang kakakmu lakukan itu murni hanya untuk membuktikan bahwa kalian tidak benar – benar…. Gay?

“Tentu saja, dia memang konyol.”

“Kakakmu Park Yoora kan? Annaouncer berita malam chanel 2?”

Chanyeol mengangguk.

Soojung mengerutkan dahinya. “Aku ragu jika motif kakakmu hanya karena hal konyol itu Seonbae, apa kau tidak pernah memikirkannya? Ini… sedikit tidak masuk akal…”

“Tapi kau tidak tahu seperti apa kejahilan Kakaku selama ini,”

“Tetap saja…”

Chanyeol menyelami setiap kalimat yang Soojung katakan barusan. Membayangkan Kakaknya yang duduk di balik meja siaran berita mengulas berita – berita terkini dengan penjabaran fakta membuat yang simpang siur menjadi begitu jelas. Tidak ada berita abu – abu yang kakaknya sampaikan, selalu jelas dan tepat. Dan untuk pertama kalinya, Chanyeol mendapatkan bayangan Kakaknya tersenyum dengan lembut dan… begitu cantik.

Kakaknya itu pintar.

Benar kata Soojung, tidak mungkin sepele itu.

“Akan aku fikirkan solusinya Seonbae, nanti aku kabari. Aku harus pulang cepat kalau tidak orang rumah bisa kelabakan,” Soojung sudah berdiri ketika Chanyeol tersadar dari lamunan tentang kakaknya.

“Oh, baiklah. Terimakasih Soo,”

“Apa? Soo? Apa sekarang kita semacam dalam lingkaran pertemanan?” tanya Soojung geli, ketika mendengar Chanyeol memanggilnya dengan nama pendek.

“Anggap saja seperti itu,” balas Chanyeol sambil tersenyum.

“Ya tuhan aku amat tersanjung! Aku akan membantumu Seonbae, percayalah!”

“Harus!”

Soojung melambaikan tangannya, siap melangkah ketika Chanyeol kembali teringat satu hal. Ya, dia harus menanyakan sesuatu.

“Tunggu sebentar,” kalimatnya sontak membuat Soojung berhenti.

“Ada apa?”

“Boleh aku bertanya satu hal?”

Soojung mengangguk. “Ehm, katakan..”

“Apa yang kau dan Jongin bicarakan waktu itu?”

Dan Soojung nampak ragu untuk menjawabnya.

.

.

Pintu kamarnya terbuka ketika Chanyeol masih rebahan malas diatas kasurnya malam itu. Sepulang sekolah, dia tidak keluar sama sekali hanya berdiam di kamar.

“Kau belum makan sejak pulang sekolah sayang, ayo makan!” Mama Park muncul dengan suara khawatir.

Chanyeol bangkit dari tidurnya kemudian meraih cup ramen kosong dari meja samping tempat tidurnya kemudian dia tunjukan pada ibunya, “Aku sudah habis 3 cup Ma, jadi sudah sangat kenyang.”

“Kenapa terus mengurung di kamar?”

“Tidak ada, hanya sedang malas saja,”

“Sungguh?”

Chanyeol mengangguk.

“Bukan karena ulah Noona mu lagi?”

Chanyeol memutarkan bola matanya kemudian mengangguk. “Bisa jadi juga karena itu, sungguh Ma aku sedang malas berdebat dengan Noona,

“Kalian sudah besar, kapan akan berhenti ribut setiap hari,”

“Tanyakan pada Noona, dia yang selalu memulai masalah.”

“Oh sudahlah, Mama tidak mau ikut campur. Urus saja masalah kalian sendiri,”

Mama Park mungkin cukup kesal dengan kebiasaan anaknya yang setiap hari tidak lepas dengan saling ribut adu mulut. Membiarkannya dan tidak memihak salah satu adalah yang sering dilakukan. Termasuk malam ini.

Chanyeol kembali merebahkan tubuhnya tidak lupa di sampingnya satu kantong besar potato chips menemaninya ketika ponselnya memberitahu ada satu pesan baru.

Soojung :

Sumin tidak cerita apapun padaku. Kita ambil jalan lain Seonbae.

Chanyeol :

Apa idemu?

Soojung :

Mau tidak mau Soenbae harus berbicara padanya. Kalian harus berbicara berdua saja. Karena mustahil menemuinya disekolah. Aku akan mengantarmu kerumahnya besok.

Chanyeol :

Kau antar? Apa ceritnaya ini?

Soojung :

Apa Seonbae fikir Sumin mau membuka pintu ketika diluar adalah dirimu?

 

Ya, Soojung benar. Sumin mungkin tidak akan sudi membuka pintu rumahnya jika tahu itu adalah Chanyeol. Maka Chanyeol setuju dengan ide Soojung. Soojung juga menyarankan Chanyeol untuk mempersiapkan apa yang akan dia katakan pada Sumin. Usulannya adalah akui dulu kesalahannya. Karena mau tidak mau, suka tidak suka apa yang dilakukan Chanyeol memang salah. Selanjutnya baru urus masalah perasaan.

Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan baru Chanyeol, memandangi langit kamarnya dan berharap d isana terdapat deretan solusi untuk apa yang dia katakan pada Sumin besok. Chanyeol sungguh masih bingung. Tidak sulit memang mengucapkan kata Maaf, masalahnya bagaimana jika maaf itu sudah tidak ada harganya?

“Kau baik – baik saja?”

Chanyeol masih sibuk dengan fikirannya, ketika satu suara kembali menyapa dari mulut pintu kamarnya. Chanyeol mendapati kakaknya sudah berdiri di sana. Dilihat dari penampilannya sepertinya Yoora akan berangkat kerja.

“Aku tanya apa kau baik – baik saja?” ulang Yoora kali ini dengan suara jengkel berbeda dengan sebelumnya yang lumayan lembut.

Chanyeol kembali memalingkan pandangannya, menatap langit kamar lebih menarik dibandingkan Yoora, “Kalau aku baik – baik saja bagaimana, dan kalau tidak bagaimana? Memang apa pedulimu,”

Tidak ada jawaban dari Yoora, Chanyeol kembali memandang kearah kakaknya berdiri dan dia masih disana. Terdiam, hanya menatap Chanyeol dan semua itu membuat Chanyeol merasa ngeri.

“Ada apa? Katakan saja, tingkah laku Noona membuatku takut,”

Yoora masih tidak menjawab dia hanya menggeleng sambil memperhatikan Chanyeol.

“Apa Mama menyuruh kita berbaikan? Tenanglah, tanpa kau meminta aku selalu menjadi pihak yang terpaksa memaafkan.”

“Chan, apa kita tidak akan pernah bisa akur?” pertanyaan yang sungguh tiba – tiba ini membuat Chanyeol bangkit dari tidurnya menatap Yoora heran.

Chanyeol mengangguk pelan, “Ah, aku ingat! Besok adalah hari terakhir taruhan, baiklah katakan apa hukumanku. Sudah kukatakan padamu bukan, adikmu ini akan menerima apapun itu hukumannya,”

Yoora menghembuskan nafas gusar, dia juga terlihat memutar bola matanya kesal. “Oh, baiklah, kita lakukan besok. Aku juga sudah tidak sabar, sungguh tidak sabar,” berlalu pergi Yoora meninggalkan kamar Chanyeol sambil membanting pintu kamar.

Chanyeol menggeleng tidak mengerti dengan sikap kakanya. Kadang dia dingin kadang dia panas kadang A kadang B, Yoora ini mahluk tidak terdefinisi dalam otak Chanyeol. Tapi kemudian kalimat Soojung kembali melintas dalam benaknya. Apa sungguh niat kakaknya hanya sebatas itu?

Chanyeol meraih ponselnya yang tergeletak pasrah sepi bagai tak bernyawa. Dia menuliskan satu pesan singkat dan nama Kyungsoo adalah yang dia cari.

Chanyeol :

Aku mempertanyakan satu hal, apa niat kakakku melakukan taruhan ini murni hanya untuk membuktikan aku dan Baekhyun bukan gay?

.

.

“Nanti aku yang mengetuk pintu jadi sudah pasti Sumin akan membukanya. Dan ini bagian yang paling tidak aku sukai, setelah Sumin membuka pintu baru Seonbae muncul. Oh Tuhan! Sumin pasti akan sangat membenciku,”

Soojung menjelaskan idenya untuk membantu Chanyeol ketika mereka baru turun dari bus dan tengah berjalan ke arah rumah Sumin. Soojung menepati janjinya dengan membantu Chanyeol hari ini. Sepulang sekolah mereka berdua langsung meluncur ketempat tinggal Soojung. Berulang kali Soojung menyesali tingkah lakunya untuk mengelabui Sumin, tapi tidak lama kemudian dia akan dengan semangat kembali mengingatkan Chanyeol tentang ide mereka.

“Jadi sebenarnya kau ini mau atau tidak membantuku,” tanya Chanyeol sambil tertawa pelan ketika melihat Soojung yang masih terus saja bingung.

Soojung menarik nafas panjang, “Aku kesal karena Seonbae mempermainkan Sumin –temanku. Tapi aku juga sadar Seonbae menyukai Sumin maka dari itu aku membantu,”

“Baiklah,”

Seonbae, apakabar dengan teman – temanmu? Apa kalian sudah baikan?”

Chanyeol menggeleng. “Belum, hari ini aku bahkan tidak melihat Baekhyun sama sekali,”

“Jadi hanya Baekhyun Seonbae yang kau jauhi,”

“Sebenarnya aku tidak ada maksud untuk membuatnya menjauh. Tapi kemarin kalimatku membuatnya sakit hati sepertinya,”

“Sepertinya akan sangat serius,”

Chanyeol menggeleng sambil tersenyum kearah Soojung. “Tidak juga. Dalam waktu beberapa hari juga kami akan seperti semula lagi. Aku mengenal Baekhyun bukan sehari dua hari, dia teman terlamaku dibanding yang lain,”

“Baguslah,”

Rumah Sumin sudah terlihat tawa jahil yang sedari tadi dia keluarkan untuk Soojung seketika menghilang. Kedua lututnya terasa lemas seakan mereka lumer seperti coklat. Chanyeol juga merasakan jantungnya bertalu cepat berimbas pada kedua tangannya mulai dingin karena keringat.

Dalam hati Chanyeol terus membatin berharap dia tidak bertindak seperti pengecut nantinya.

Sebelum melangkah ke pekarangan Sumin, Soojung membalikan badannya dan sekali lagi menjelaskan idenya, juga berharap kerjasama ini berhasil minimal 98%.

“Kau harus berhasil meyakinkan Sumin Seonbae, kalau tidak bukan hubunganmu dan dia yang hancur tapi pertemananku pun akan kandas,”

Kalimat itu sontak membuat Chanyeol semakin gugup.

Soojung menjatuhkan ketukan pertama pada pintu jati itu, ketukan kedua dan pada ketukan ketiga pintu itu terbuka. Chanyeol yang berdiri jauh dari Soojung mendengar derat pintu terbuka, jika kejadiannya seperti ini Chanyeol sendiri yang datang juga tidak masalah. Pasalnya dua hari yang lalu ketika Chanyeol datang Sumin tidak langsung membuka pintu dan bertanya dulu siapa yang diluar.

Kemudian rasa heran Chanyeol terjawab ketika satu suara baritone menyambut Soojung disana.

“Mencari siapa?”

 

-Flechazo…

Baekhyun sebenarnya tidak nyaman seperti ini. Dia diliputi rasa bersalah sejak kejadian malam itu. Susah payah dia membuat kondisi kembali membaik, tapi Chanyeol sepertinya masih sangat kesal padanya. Baiklah, Baekhyun terima itu. Dia hapal betul sifat Chanyeol beberapa hari lagi mereka juga akan kembali seperti biasa.

Chanyeol bisa saja memaafkannya dan melupakan insiden kemarin, tapi Baekhyun tidak. Dia tahu Chanyeol amat menyukai Sumin. Susah payah mereka menyatukan dua orang itu dan karena ketidak sengajaan harus hancur ditengah jalan. Baekhyun tidak bisa membiarkannya.

Maka dari itu, sejak kemarin dia menyusun rencana. Mungkin dia akan berperang sendiri dan membela sahabatnya.

Seharian ini Baekhyun berlakon seperti hantu. Dia menghindari siapapun dan sebisa mungkin tidak ada orang tahu kemana dia pergi.

Termasuk sekarang, ketika jam pulang dan yang lain sudah menunggu di depan gerbang, Baekhyun memutar jalan menghindari mereka dan melesat masuk kedalam bus menuju tempat tujuannya. Semalam dia sudah menyusun rencana, dan hari ini dia akan melakukannya. Sebenarnya Baekhyun tidak suka harus melakukan acara rahasia – rahasia seperti ini terutama tempat bertemu sekarang.

Kedai es krim.

Apa tidak terlalu feminim.

Tapi apa boleh buat ini adalah tempat pilihan orang itu, agar rencana lancar mau tidak mau Baekhyun memenuhi permintaan atau bisa disebut paksaannya. Baekhyun sudah datang disana 5 menit lebih awal. Dia tidak langsung masuk dan memilih menunggu diluar, berharap orang yang dia tunggu datang tepat waktu.

Lalu 6 menit kemudian dari kejauhan kedua mata Baekhyun mendapati sosok itu.

“Ya tuhan, bantu aku!”

.

.

-To Be Continued

Dan Selesai…..

Oh akhirnya bagianku terselesaikan juga, meski sangat – sangat – sangat ngaret. Maafkan aku semuanya /deepbowing/. Kalo boleh jujur, sejak Yumi lempar punya dia, udah kebayang bakal kaya gimana bagian ini. Masalahnya, sering banget ide sama jari tuh pas nulis ga sinkron. Tapi, ya… akhirnya selesai juga ^^

Pertama, thanks buat Ila i love this project. Makasih juga buat semuanyaa….. seru juga kita nulis rembugan gini, dan thanks juga buat Yumi, jujur part dia sebelumnya bikin aku gampang buat bawa cerita ini kemana….

Oke, buat part ini jujur ga ada penyelesaian masalah sama sekali. Awalnya aku sempet mikir buat nyelesain masalah Sumin – Chanyeol di part ini, but kayanya bakal panjang dan maksa. Jadi terpaksa aku cut, silahkan next auhtor yang menyelesaikan masalah mereka. Terus, disini aku ada jabarin beberapa masalah baru, meski sebenarnya bukan masalah baru juga. Lebih ke kalo masalah di chapter ini  beres, ya beres juga fanfic ini. Masalah Chanyeol – Sumin, masalah Chanyeol – Yoora, itu point pentingnya sih.

jadi…

cuma notes aja dari part aku ini :

  1. Penyelesaian masalah Sumin – Chanyeol, gimana author selanjutnya aja deh mau dibawa kemana hubungan mereka, hahahah
  2. Di prolog yang di tulis Ila, pernah bahas motif Yoora bikin taruhan ini. Chanyeol belom tahu, tolong kasih pencerahan sama bocah – bocah cowo rempong ini. Jujur di mata aku, Yoora ga sejahat itu.
  3. Di part Echa, sempet ngungkit Jongin sama Soojung ngobrol berdua, Ima sama Yumi skip bagian itu. Aku juga ga bisa ngangkat cerita ada apa dengan mereka, jadi mungkin ini bisa dibahas nantinya😄
  4. Ga usah masalahin pasal bapak Sumin yang buka pintu pas Soojung bertamu, mungkin. 😄
  5. Baekhyun ketemu siapa….. semoga apa yang ada dalam bayangan aku sampe ke next author hahaha

Huff… sori banyak cingcong. Jadi, buat Alifially  semoga sukses ya melanjutkan chapter selanjutnya. Semangat dear ^^

Terakhir….

Terimakasih semuanya…

Terimakasih Park Chanyeol, Baek Sumin, Jung Soojung, Byun Baekhyun, Park Yoora dan yang lainnya (jabat tangan satu – satu) Makasih juga buat Mama Park, sampai bertemu di cerita yang lain..

Ppyeong…!

52 thoughts on “[FF berantai] Flechazo : GAME OVER

  1. puas sama part ini meski pun belum ada penyelesaian buat masalah mereka. aku sebenernya cukup bingung loh haha ini soojung kenapa selalu ada di setiap chanyeol mau nyari sumin ya? berasa soojung tuh ibu perinya chanyeol tau😀 dia bagiannya apa ya di drama? aku lupa? bukannya pasangan jongin ya? tapi ga pernah keliatan bareng jongin. kesian bgt dah nih bocah. aku lupa sih soojung ngambil bagian apa di drama. trus2 masalah bapaknya sumin yg pedophil klo menurutku itu cuma masalah kecil sebiji upil😀 tapi cukup penting loh, jadi berharap next author bisa kasih pencerahan buat masalah bapaknya sumin jg. soalnya masih abu2 sih hub sumin sama bapaknya. jugaaaa aku baru nyadar, kemana bapaknya chanyeol? di sini ga pernah di singgung ya? mama park ini single parents atau gimana hi hi
    intinya selamaaaa bisulmu pecah hahaha lega ya klo udah dapate giliran. tapi tiap chap nya bakal ikutan greget pasti deh kkkk
    nex next next di tungguuuu fighting buat author selanjutnya🙂

    • fufuufu~ thanks ka,
      yeah, pecah bisul banget, tapi bakal lebih pecah lagi bisulnya pas FF ini bener2 selesai, perjuangan kita semua selesaii ^^b

      Oke,
      tbh, aku lupa /banget/ apa role2 mereka di drama itu, yang inget cuma Sumin – Chanyeol. Cuma di chapter siapa gitu.. role Sumin itu selalu bareng sama Soojung. #pembelaan1 hahaha

      Kalo buat masalah bapaknya Sumin, sebenernya di Part Yumi udah di buka abis2an, jadi aku skip di part ini. Mungkin author selanjutnya😄

      Next, masalah Mama Park, tolong ada yang bisa jawab😄
      i have no idea, wheres Papa Park😄

      Sekali lagi,
      thankss all :*

    • ika, aku tau kamu pasti bisa selesaikan dengan sempurna di part ini. sueeerr aku suka bangettt >____< apalagi dgn chat misterius yg dikirim mereka itu,, benar-benar sepikiran denganku, tpi kmu susunnya lebih bagus sih, jdi greget…..
      trus pake poin-poin pula, sejujurnya aku gk nyadar ada maksud lain yoora dibalik taruhan itu.
      Dan emang sih, aku skip bagian soojung yg manggil jongin, aku gk stuck di situ…😄😄.
      Baek pasti ketemu sama sumin, ini pasti reuni keluarga mereka
      gk bisa ngomong apa-apa lagi ini terlalu bagusssss…. sugoi.. emejing.. dae to the bak..
      Tapi kukira kmu mau kasih nama band mereka😀

      • Hahaaa… lupakan sj soal nama band.. itu hnya seupil topik dri masalah utama mreka yg blm selesai. sisa brp author sih ? Smoga selesainya pas…
        Aku ralat tebakanku di atas… yg ketemuan sma baek kayaknya noonanya chanyeol alias park yoora.. betul kaga ? Sotoy banget gua.. haha…

      • tiga auhtor lagi kalo ga salah…
        aku juga berharap semoga tamat >.<

        ugh, aku pengen diem tapi… yes.. dalam ide aku Baek ketemu sama yoora😄
        hahaha
        nebak dari sebelah mana mi?

      • hahaaa… benar kaaann tebakanku… >_< yeaaah… nebak dari kata feminim sama memaksa sih. feminim pasti cewek, tpi tdk mungkin sumin krna kayaknya dia tdk bisa memaksa (?) =o= haha…
        eh, tapi aku stalkerin alifially kok kayaknya blognya udah gk prnah update ya ? apa dia buka lapak baru ? ._.

  2. Mbak Kripik. Apalah dayaku yang kebagian part ending.
    Bacanya enak lah, permasalahan mereka terlalu kompleks, sampek ada poin yang aku aja gag sadar aalau di part sebelumnya ada. Lupakan drama dan konser band indi! Dua poin itu bikin kesel karena gag rpung2, dan si bapak SuMin gang Pedo, yang kuharap2kan bakal diangkat ke topik inti malah gag muncul2 (oke, itu sih nafsu pribadi kayaknya).
    Seenggaknya percintaan Chan disini lumayan rumit dan sedikit ada penyelesaian secara emosional, suka part waktu Chan teriak ke mbaknya, mungkin aja Yoora bakalan stip ngelakuin hal konyol. WKwkwkwkw
    Si Bake mungkin ketemuan ama si bapak pedo.

  3. aq pnasaran. . .sbnarx bxak prtaxaan tapi aq rgapek gk bsa jabarin mulai dari mana. .yg pasti smoga author slanjutx bsa mmbrikan pncrahan. . .fighting

  4. PICT BEKYUN DIBAWAHNYA MENGGODA IMANKUUUUU>< *salpok*

    Uwaaaaa, tak kusangka jauh sekali sudah😄
    Ini panjangan kak, jadinya kulumayan kenyang *0* ah, katakatamu itu kak, khas syekali😄
    Pokoknya part ini jadi salahsatu part kesukaan aku huehehee😁 Selamat kak, uda nyelesain part ini dengan perfect wuaaaaaa *0*
    Terus juga yang bikin aku penasaran setengah idup, itu si bekyun nemuin siapa? Suara yang nyautin ketukan sujung suara siapa?:3 Terus maksud terselubung yoora apa? Dan sumpah ya kak, adegan sujung ngajak jongin bicara dibagianku itu merusak sajaaaaa😭

    • Jadi bocorkan padaku Cha, apa yang Soojung bicarain sama Jongin,
      hahahha
      ga kebayang sama sekali mereka bicarain apa😄

      Hayoo siapa yang Baekhyun temuin, kalo yang nyautin ketukan pintu Soojung sih bapaknya Sumin, dear..

      ah, semoga FF ini bisa berakhir indah..
      thanks yaa CHa…

  5. oke ini udah hampir seminggu dan aku belom baca juga, cuma ngereblog, gatau kapan bakal baca /ditendang kaika/ soon lah ka, tegor daku jika sampai november belom baca juga /dibuang/

      • To be very honest aku mabok ka /ga

        YAK FINNALLY TIFA BISA MAMPIR DITENGAH KECAMUK /SOK/ SIBUK DENGAN PARA TUGAS DAN RAPAT DAN KEMAGERAN BACA FIC PANJANG + CERITA YANG SEMI LUPA /dibuang beneran/

        But this soooooooooooooooooooooooo waaaaw, aku bahkan gatau yoora punya motif lain haha
        Tapi terus pas adu mulut di pintu itu ko aku jadi sedih sih, abis yooranya kayak aku, alih alih ngomong baek baek malah jadi tereaktereak /eak sesi curhat dimulai/plak/

        Terus terus terus, pertanyaan terakhir di rumah sumin itu bapaknya kan yang ngomong? Dan aku mikir sisumin ga boong yang dia berangkat dari rumah sodara sama ketemu wali kelas mungkin mendiskusikan bapaknya? /kemudian ku rancu dengam konflik classmate/dibuang beneran/

        YAUDAH POKOKNYA SEMANGAT AJA YANG BELOM SEMOGA CEPET KELAR TENGS
        Baidewai lagi kangen kaka jongde huhu /ngacir/

  6. Pingback: dafun sefun

  7. halo kak apreel, salam kenal~
    ini maaf telat komennya. sebenenya nih aku puas banget sama part ini, maunya nagih itu di ending, bilang ini clue nya buat next author lengkap yah.. terus aku next taunya kak alifially lagi hiatus. aku suka ending yang gantung jadi pen nagih, sebagai reader aku nikmatin. pas tahu itu jadi bagian aku selanjutnya, aku langsung mewek..
    jadi yang ketemu yeol itu siapa aku yang nentuin ToT

    yoora yakan kak.. aku baca komen di atas yoora nih, sebelumnya aku udah nebak yoora juga kok kak (ini beneran deh)
    tolong aku jangan diapaapain kalo nect chap kurang memuaskan /loh

    aku nikmatin chap ini, cuman aku lagi ngeh soojung ternyata sedekat itu ya sama sumin, taunya dia cuma temen biasa gitu. ada bau bau kaistal nih, tapi kesininya malah jadi ngeship baek-yoora kenapaaa

    hehe, gitu aja kak :’)

    • Haii… hahaha ga masalah telat juga yang penting masih setia menikati kisah Chanyeol tiap partnya.

      Ya ampun, thanks kamu udah suka sama bagian ini.
      Terus bagian clue, sebenernya itu buat bantu biar di chapter selanjutnya sejalan sama Chapter ini, hahah
      terus pas aku baca bagian kamu, hehehe ternyata nyambung. Kan asik bacanya,
      Baek ketemuan sama Yoora, bapak Sumin yang bukain pintu, cuma masih belum ada yang jawab apa yang dibicarain Jongin – Soojung. Aku sendiri ga kepikiran apa itu,

      hehehe
      sekali lagi, thanks yaaa ^^

  8. Pingback: [FF berantai] Flechazo : GAME OVER | uncharted spot

  9. Pingback: Projek FF Berantai | uncharted spot

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s