Stranger

stranger

Stranger | by Apreelkwon
Kai | Slice of Life| G | Ficlet

Summary : Jongin hanya berharap mereka bisa menjadi teman


Kedua tangannya terkepal kuat, kepalanya tertunduk dan untuk beberapa menit perempuan berambut coklat ikal itu tetap diam di tempatnya, sebelum kemudian kedua kakinya melangkah. Entah apa yang sedang merasuki perempuan itu, apa barusan dia bertemu mantan kekasihnya? Atau dia bertemu lelaki yang dia sukai tengah bercumbu dengan sahabatnya? Atau imajinasi terburuk perempuan itu ingin mengakhiri hidupnya? Ini konyol, ketika dia melangkahkan kakinya membelah jalan dimana dia sama sekali tidak memperhatikan kiri – kanan. Padahal jelas sekali ada dua atau tiga sepeda motor tengah melaju cepat. Andai Jongin tidak cepat menarik tangannya, mungkin nasib perempuan cantik ini akan menjadi tagline berita keesokan harinya.

Grep!

Hari itu Jongin menggenggam tangannya, menariknya dan untuk pertama kali memperhatikan wajah perempuan itu dengan jelas.

“Kau tidak bermaksud bunuh diri kan Nona?” ucap Jongin kemudian ketika mereka sudah berada di tepian jalan, yang Jongin pun tidak sadar kapan mereka bergerak dengan begitu singkatnya.

Pertama kali yang perempuan itu lakukan adalah mengerjapkan matanya, kemudian menarik nafas, baru setelah sadar dia melepaskan tangannya yang masih berada dalam genggaman Jongin.

“Atau kau sedang melamun?” tanya Jongin lagi.

“Anggap saja aku sedang tidak memperhatikan jalanan,” jawabanya. Kedua tangan perempuan itu dengan kikuk merapihkan anak rambutnya yang menjuntai, menatap Jongin kemudian memberikannya senyuman jangan bertanya lagi.

“Berarti benar kau sedang melamun?”

Perempuan itu tidak menjawab, dia hanya mengangguk. Tidak berminat melanjutkan percakapan, kedua matanya di alihkan fokus pada kendaraannya yang lalu lalang di badan jalan. Dia mungkin trauma, maka penyebrangan kali ini dia berusaha memperhatikan keselataman hidupnya.

“Aku juga akan menyebrang, kita bisa bersama. Aku takut kau hampir tertabrak lagi seperti tadi,”

“Oh terimakasih,”

Karena perempuan itu setuju, maka tepat ketika jalanan sepi dari kendaraan dengan gesture kecil menggunakan kepalanya Jongin menuntun perempuan itu menyebrangi jalan. Oh, dan ternyata kebersamaan mereka belum berhenti disana, ketika perempuan itu juga ikut duduk di halte bus dimana Jongin biasa menunggu bus untuknya pulang.

Fikir Jongin, tidak masalah mendapatkan teman baru dari insiden tidak biasa ini, maka dia duduk tepat disamping perempuan itu.

“Aku tadi memperhatikanmu.” Jongin membuka percakapan, dan berhasil mengalihkan atensi si perempuan.

“Memperhatikan bagaimana?”

“Sekitar 30 menit aku ada disana dan nampaknya kau juga sudah lumayan lama berdiri disana. Awalnya kau biasa – biasa saja, tapi tidak lama kemudian kau berubah,”

Perempuan itu mengerutkan dahinya, bingung dengan arah pembicaraan Jongin. “Berubah?”

Jongin mengangguk, “Kau mengepal tanganmu begitu kuat seperti ini,” niat sekali, Jongin bahkan mempraktekan seperti apa tadi perempuan itu mengepalkan tangannya, sampai – sampai urat – urat besar Jongin menonjol begitu kontras dari kulit tannya. “Ah, maaf aku berlebihan. Lalu kau juga menundukan kepalamu, klimaksnya menyebrang jalan tanpa mempedulikan sekitar dan itu sungguh tidak bagus,”

Perempuan itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum kemudian kembali memalingkan wajahnya.

“Sepertinya kau baru saja bertemu mantan kekasihmu, benarkan? Atau kau mendapati kekasihmu selingkuh, ah dunia ini memang mengesalkan bukan? Maka dari itu aku lebih suka tetap sendiri seperti ini dan memperbanyak teman,”

Jongin menunggu perempuan itu menyambutnya, tidak dengan kejujuran sebenarnya setidaknya dia menimpali dengan sebuah lelucon. Mendiamkannya seperti ini membuat Jongin kikuk dan mati gaya, buruknya lagi Jongin tidak suka seperti ini.

“Maaf kalau aku mengganggumu, aku memang seperti ini. Jika ada istilah anti-sosial, maka aku ini sebaliknya,” Jongin kembali melontarkan kalimatnya. Tidak peduli lagi perempuan itu akan menimpalinya atau tidak, Jongin memilih menyibukan diri dengan ponsel yang dia sembunyikan di saku jeans. Ponsel satu – satunya yang tidak pernah mendiamkannya.

“Ibuku baru – baru ini menikah lagi. Ayah baruku seorang duda dua anak, satu anak laki – laki yang sudah bekerja, satu lagi gadis perempuan sama sepertiku. Laki – laki itu mencintai ibuku –amat sangat, anak – anaknya juga demikian mereka menyukai ibuku. Dia juga menerimaku dengan tangan terbuka, tapi tidak dengan dua lainnya. Anak – anaknya tidak menerimaku, terlebih si gadis yang berumuran dia amat sangat tidak menyukaiku.”

Jongin masih berkutat dengan ponselnya ketika tanpa diduga terdengar suara dari sampingnya, perempuan itu. Dan siapa sangka perempuan itu menceritakan apa masalahnya, meski Jongin tidak langsung mempercayainya 100%.

“Mengitimdasi, membohongi, iri, adalah beberapa yang melekat padanya untuku. Barusan juga adalah ulahnya, tapi aku tidak bisa membalas karena ibuku. Bagaimana menurutmu?” perempuan itu kali ini mengarahkan pandangannya pada Jongin, mata mereka bertemu.

“Wow… cukup rumit. Menurutku-”

“Ok, itu masalahku dan kau tidak perlu menjawabnya. Dan untuk selanjutnya,” perempuan itu memotong kalimat Jongin kemudian berdiri dari duduknya. “Terimakasih telah menolongku barusan dan sampai berjumpa lagi, bus yang aku tunggu sudah datang,”

Jongin mengerjap kaget, tapi dengan segera dia mendapatkan kembali kesadarannya. Ikut bangkit, Jongin menghentikan langkah perempuan itu.

“Namaku Jongin, namamu? Mungkin kita bisa bertukar kontak?” Memalukan memang, tapi dengan sungguh Jongin menyodorkan ponselnya.

Perempuan itu tersenyum, “Maaf, tapi aku lebih suka kita tetap hanya menjadi orang asing. Sehingga kau tidak perlu tahu masalahku. Dan aku, akan pura – pura tidak mendengar kau menyebutkan namamu barusan. Terimakasih,”

Dan tanpa memberi waktu, perempuan itu sudah berlalu dari pandangan Jongin. Tetap menjadi orang asing? Cukup menarik –fikir Jongin. Berbekal fitur wajah yang sudah dia ingat dengan jelas mungkin dia akan bertanya pada teman – temannya tentang perempuan barusan. Ini akan menarik.

.

.

-Kkeut.

P.S : Terkadang bertemu orang asing bukan sesuatu yang buruk! ^^b

19 thoughts on “Stranger

  1. ouuh.. apa ini?? Kim Jongin?? makhluk antah berantah yg tiba-tiba muncul di bumi dgn seringai anehnya. hahaha.. keren sekali, kak ^^

    aku seperti benar-benar membayangkan Jongin di sana. bagaimana bisa kakak menulisnya dgn sepenuh jiwa?

    *terlalu puitis komentarku ini -_-*

    tapi sumpah, daebak. ini keren.

  2. Betul betul kadang ketemu orang asing bisa jadi teman hihi. Hoahh karna cewenya aku ngga tau jadi aku gambarin krys gaha tapi sukaa! Jonginkan dingin begitu tampangnya tapi disini friendly sekali semoga ketemu lagi yaa haha

  3. Kapan aq bisa kek gini? Nyebrang jalan hampir di tabrak tukang ojek trus di tarik oleh laki laki tampan bernama byun baekhyun. Wahaha

    Baguslah jong in sekali kali berperan baik. Biasanya aq baca si jongin ini kan jahat playboy ulung dan semacamnya.

  4. Yahh kalo stranger nya kaya kai mah gak bakal aku cuekin, langsung aku bawa kerumah 😂
    Aku setuju tuh sm pendapatnya kak ilachan, biasanya kai selalu dapet peran jahat dll 😆
    Makasih yaa kak ika, kai disini jadi anak baik2 😂

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s