Things & Time

SeSe

Things & Time | by Apreelkwon
Seulgi – Sehun | Romance  | PG | OneShot

Summary : Bukannya Seulgi tidak bahagia, dia hanya merasa ada yang tidak beres.


Seulgi menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk merah marun kebanggaan ruang tamu mereka, yang kebetulan baru mereka beli setelah sepuluh bulan suaminya menabung. Sofa ini barang kesayangan Seulgi, dia bahkan sering melarang anak – anaknya untuk bermain di ruangan ini dengan alibi “ini adalah robekan tiap lembar uang gaji ayah kalian selama 10 bulan, mengerti?” meski kedua anaknya –yang masih berumur 5 dan 3 tahun, saat itu mengangguk mengerti tapi tidak jarang Seulgi mendapati mereka melompat – lompat tanpa dosa disana.

Hah, dan hari ini Seulgi pun melakukan dosa yang sama. Tanpa ampun dia menjatuhkan tubuhnya itu tepat keatas sofa, dia tidak lagi memikirkan bahwa karet – karet atau pegas – pegas di bawah sofa akan kendor karena berat badannya. Dan demi apapun tolong jangan katakan bahwa Seulgi sungguh berat untuk bisa menghancurkan sofa itu. Menyadari semuanya bisa berubah buruk, dengan segera Seulgi bangkit beranjak menuju ruang keluarga dan merebahkan tubuhnya di sofa yang memang sudah lumayan lusuh. Satu yang dia lakukan ketika tubuhnya terbaring di sana, memejamkan mata sambil beberapa kali menghembuskan nafas berat. Tidak lupa dia melirik jam yang menempel di dinding peach kesayangannya, masih jam 3 sore. Suaminya baru pulang kerja dua jam lagi, belum dia harus menjemput dua anaknya. Seulgi masih memiliki banyak waktu untuk menyambut mereka.

Seulgi baru saja melewatkan hari yang mengejutkan.

Semua berawal dari undangan untuk reuni alumni di kampusnya. Awalnya Seulgi berfikir ini akan sangat menyenangkan, bertemu dengan teman – teman seperjuangan dan untuk sejenak dia keluar dari rumah menanggalkan statusnya sebagai Ibu rumah tangga. Bukan berarti menjadi ibu rumah tangga sebuah beban baginya, hanya saja mendapatkan ajakan berkumpul dengan mereka bisa jadi menjadi sedikit penyegaran. Dan suaminya pun setuju ketika Seulgi meminta ijin.

“Tentu saja kau bisa pergi, itu bisa menjadi hari yang baik untuk berkumpul, sayangnya aku tidak bisa menamanimu, pekerjaanku sedang banyak sekali. Dan untuk anak – anak, kau bisa menitipkannya di rumah Ibu, dia tidak keberatan dua kelinci itu sedikit menyibukan harinya,” Oh Sehun suami sekaligus Ayah dari anak – anak kebanggan Seulgi malam ini memberikannya izin. Maka tidak ada jawaban lebih manis selain kecupan di pipi putih suaminya ini.

“Bersenang – senanglah, biar nanti anak – anak aku yang menjemput dari rumah Ibu,” dan sekali lagi Seulgi menghadiahinya ciuman hangat.

“Kau tahu? Aku sangat mencintaimu dan aku beruntung memiliki suami sepertimu,”

“Aku tahu persis itu,” jawab Sehun kali ini dia yang ambil tindakan dengan memeluk istrinya ini.

Maka hari itu pagi – pagi Seulgi bangun, merapihkan rumah, membuat sarapan yang hanya berupa roti panggang – telur mata sapi – susu hangat, memandikan dua buah hatinya, sarapan bersama dan setelah Sehun berangkat kerja lengkap dengan anak – anak yang melambai antusias dari kursi penumpang dengan segera Seulgi berlari kekamarnya. Membuka semua pintu lemari pakaiannya, memilih yang paling pantas, merias wajahnya, menata rambutnya dan dua jam kemudian dia sudah melesat bersama mini cooper kesayangannya ke tempat pertemuan.

Semua terbayangkan begitu manis dan memang manis bertemu dengan mereka teman lama. Sayangnya, Seulgi merasa bagaikan dari dunia lain ketika berbaur dengan mereka. Meski mereka berada di garis umur yang sama, ternyata sudah banyak yang berbeda. Pembicaraan mereka, kesukaan mereka, liburan mereka, jalan – jalan mereka, semua sudah asing bagi Seulgi. Menyisakan hari itu di berbagai kesempatan Seulgi terus saja memperhatikan mereka yang kemudian dia bandingkan dengan dirinya.

“Oh, apa ini resiko menikah muda,” bisik Seulgi dalam hatinya.

.

.

Hanya butuh waktu 2 jam bagi Seulgi untuk mempersiapkan semuanya. Bukan apa – apa memang, hanya mandi kemudian memasak untuk makan malam mereka. Dan sekarang waktu menunjukan pukul 6 lebih 20 menit ketika Seulgi tengah duduk di ruang keluarga –menunggu kedatangan suami dan dua terkasihnya, dengan televisi menyala tapi konsentrasinya terpusat pada ponsel di genggamannya. Ternyata pertemuan tadi siang belum selesai dan mereka –teman –teman Seulgi, masih melanjutkan percakapan itu di grup chatting meski Seulgi hanya membalas mereka dengan sedikit minat.

Ketika rasa bosan Seulgi mulai memuncak, di luar terdengar suara decitan ban mobil di susul dengan lampu yang menembus ruang keluarga mereka. Melempar ponselnya, dengan segera Seulgi berlari menuju pintu depan, membuka dengan cepat dan menyambut mereka dengan senyum cerah. Seperti biasa, jika dua anak itu bersama kemanapun mereka pergi pasti selalu ramai. Terbukti sekarang, ketika Sehun tengah sibuk memarkir mobilnya Ahra –putri pertama mereka dan Minwoo –putra kedua mereka, tengah sibuk bercerita tentang yang mereka lalui hari ini. Dan ketika pintu mobil terbuka dengan segera mereka berhambur kearah Seulgi, meski Seulgi sempat khawatir dengan Minwoo yang nampak ingin ikut berlari secepat Noona nya.

“Bu, kau pasti tidak percaya! Nenek mengajak kami ke pasar ikan, lihat ah bukan maksudku coba cium kulitku, bau amis bukan? Hahah…” Ahra yang lebih dulu sampai ke pelukan Seulgi dengan semangat menceritakan harinya.

“Dan tentunya sekarang kau harus segera mandi anak manis,” jawab Seulgi sambil menjawil hidung kecilnya.

“Tentu jika Ibu juga menyuruh Inu –panggilan kesayangan Minwoo, mandi dia lebih parah dariku,”

“Benarkah?”

Dan rasa penasaran Seulgi terjawab ketika Sehun mendekati mereka dengan Minwoo dalam pelukannya. Hidung Sehun mengernyit dan dia menggeleng sambil tersenyum kecil. “Aku tidak mengerti kenapa Ibu membawa mereka ke pasar ikan, membiarkan mereka menangkap ikan, memeluk ikan dan tidak memandikan mereka ketika aku menjemput,”

Seulgi tertawa pelan, dia meraih Minwoo dari Sehun, oh benar saja Minwoo lebih parah dari Ahra. “Karena mengurus dua kelinci ini tidak mudah, percayalah. Bisa aku pastikan mereka tadi sangat excited dan Ibu tidak bisa menghentikannya, Benarkan Inu?”

“Eng!” ucapnya sambil mengangguk pasti. “Noona dan aku turun ke kolam renang yang banyak ikannya, celanaku sampai basah tapi jadinya nenek membelikanku celana pantai ini. Ikan – ikan itu menggelitik kakiku,”

“Aku baru tahu Bu, gigitan ikan sangat menggelikan aku dan Inu tidak berhenti tertawa, lucu sekali. Tapi aku menyesal tidak membuat bajuku basah,”

“Kenapa?”

“Nenek tidak membelikan Noona baju baru sepertiku,”

“Oh anak Ibu nampaknya sangat bahagia, jadi mana Ikannya?”

“Nenek dan Kakek memanggangnya dan kami menghabiskannya disana, Kakek bilang tidak usah bawah karena Ayah tidak suka Ikan. Dan aku rasa itu benar,” ucap Ahra sambil tertawa ketika melihat Sehun sebisa mungkin menangkal bau amis itu.

“Ayah memang tidak suka amis ikan, tapi jika ikannya semanis kalian Ayah tidak akan sungkan menghabiskanya dalam sekejap, hahah…

Dan obrolan singkat itu berakhir dengan Sehun mengejar Ahra seperti dia akan memakannya. Seulgi masih sambil menggendong Minwoo ikut masuk kemudian menutup pintu rumah mereka. Bersiap untuk cerita lainnya, karena Seulgi yakin Ahra belum puas. Disamping itu, Seulgi juga ingin bercerita tentang harinya, tentunya hanya pada Sehun.

.

.

“Jadi bagaimana acaranya?” tanya Sehun ketika mereka sudah masuk kamar, berganti dengan piama dan siap melakukan perbincangan sebelum tidur.

Ini sudah dua jam berlalu sejak ruang makan dan ruang keluarga mereka ramai oleh cerita Ahra tentang ikan – ikannya yang di sambut oleh sang adik.

“Menyenangkan! Kau pasti tidak percaya, mereka nampak tidak berubah sedikitpun,”

“Tidak berubah? Bukan sesuatu yang baik, bukankah hidup itu harus berubah kearah yang baik?” jawab Sehun sambil melempar senyum.

Seulgi memutar bola matanya, kadang dia kesal dengan cara suaminya ini mencerna kalimat. “Kau terlalu bijak sayangku. Maksudku teman – temanku sama sekali tidak berubah. Mereka masih terlihat sama seperti ketika kuliah,”

“Ouw, itu mengerikan,” jawab Sehun. “Apa mereka berpacaran dengan peterpan sampai membeku dengan waktu seperti itu. Sebentar apa teman – temanmu sudah menikah?”

“Tuan Oh Sehun, sungguh aku sedang serius. Kebanyakan mereka masih melajang, hanya beberapa yang sudah menikah.”

“Aku juga Nona Kang Seulgi, ceritakan apa yang terjadi?”

“Sudah berapa lama kita menikah,”

“6 Tahun,” jawab Sehun cepat.

“Berarti berapa tahun aku sekarang?”

“28 Tahun, itu umur yang seksi bagi seorang perempuan menurut beberapa teman psikolog yang aku kenal,”

“Aku 28 tahun, mereka juga 28 tahun dan sungguh andai kau hadir disana, aku bagaikan mahluk dari generasi berbeda. Apa yang mereka bicarakan sama sekali tidak bisa sejalan dengan ritmeku. Atau lebih menyedihkannya, aku tidak bisa mengikuti mereka,”

“Tentu saja!” jawab Sehun cerah, “Kau seorang istri dan kau Ibu dua anak sekarang, kau Ibu muda. Sudah jelas mereka tidak bisa mengikuti ritme ceritamu, kau lebih banyak mengecap pengalaman di bandingkan mereka. Apa yang telah mereka lakukan?”

“Dan itu sama sekali tidak baik,”

Sehun mengubah posisi duduknya, kali ini dia menghadap Seulgi dan menatapnya serius, “Sepertinya ada yang mengganggu istriku, ceritakan!”

“Sebelumnya aku ingin kau mengerti, aku sama sekali tidak keberatan menikah muda, aku tidak menyesali di umur 22 tahun telah resmi menjadi istrimu kemudian 24 tahun aku memiliki Ahra, jelas hidupku sangat bahagia, kau mengerti itu sayang?”

“Tentu, lanjutkan,”

“Aku tidak menikmati pertemuan tadi. Mereka membicarakan tentang perjalanan malam hari mengunjungi beberapa tempat makan yang tengah hits, tentu aku ini tidak bisa. Mereka juga membicarakan tentang belanja setiap akhir pekan, membicarakan film hits ini, lagu hits itu, salon yang memiliki pelayanan bagus, baju model terbaru, pengalaman klubing meski yang ini aku sama sekali tidak tertarik. Tapi kau tahu, ada sebagian diriku yang merasa oh my god kasian sekali dirimu Seulgi, kau bahkan tidak mengerti yang mereka bicarakan. Ah, mereka menceritakan tentang pengalaman nail art menunjukan kuku cantik mereka, dan kau lihat tanganku,” Seulgi memberi jeda pada ceritanya dia menunjukan kedua tangannya pada Sehun.

“Ada apa dengan tanganmu, aku mencintai dua tangan yang telaten mengurus keluarga ini,” jawab Sehun sambil meraih dua telapak tangan itu kemudian mengecupnya pelan bergantian.

“Terimakasih, aku selalu suka kalimat penghiburmu tuan Oh. Dan itu ceritaku, tentang betapa aku terkucil di acara tadi. Aku sama sekali tidak bisa ikut bergabung pada pembicaraan mereka padahal umur kami sama, dan sepertinya aku tidak akan ikut acara reuni lagi kalau begini. Jadi, sayang.. bisa kau sembuhkan aku dari rasa tidak enak ini?”

“Hemh.. begi-”

“Ah sebentar, boleh aku menambahkan lagi? Hal yang paling menyakitkan ketika mereka menawarkanku sebuah gaun cut off, bisa kau bayangkan aku menggunakan gaun itu?”

“Tentu kau akan seksi,”

“Oh berhenti bercanda, mau aku apakan strecthmark ini. Dan aku rasa berat badanku naik dan lagi lihat, sepertinya wajahku mulai menampakan kerutan halus. Oh tidak…” Seulgi mengakhiri ceracau sakit hatinya dengan membenamkan wajahnya pada selimut putih mereka.

Sehun menghembuskan nafas panjang. Bukan sekali Seulgi mengeluh seperti ini, tapi seperti Seulgi bilang diawal ini bukan karena dia menyesali keputusannya menikah mudah, bukan. Tapi semua ini karena, bisa dibilang efek samping dari terampasnya kehidupan gadis lajang di umurnya yang baru 22 tahun waktu itu.

“Suami lain mungkin akan jengkel mendengar istrinya mengeluh seperti ini. Kau tahu? Seakan aku tidak bisa membahagiakanmu,”

“Oh, sayang kau mengerti bukan itu maksudku, hanya saja…”

“Tentu aku mengerti, jadi mari kita selesaikan benang kusutmu itu satu persatu,”

“Baiklah aku siap,”

“Sudah aku bilang hidup ini harus terus berubah kearah yang baik, jalan di tempat bukan sesuatu yang membanggakan. Waktu berjalan, perubahan terjadi.”

Seulgi mengangguk. “Aku setuju, Ahra dan Minwoo bentuk positif perjalanan waktu dan perubahan,”

Kali ini Sehun yang mengangguk. “Oke masalah pertama clear. Kedua, kau tidak bisa mengikuti alur pembicaraan mereka dan merasa tidak update dengan gaya hidup mereka? Sudah aku jawab tentu saja kalian tidak akan bisa sama lagi sekarang. Jika mereka membangkan gaya hidup ala gadis lajang, kenapa kau tidak ceritakan betapa bahagianya kehidupan rumah tangga kita. Ceritakan pengalamanmu menjadi ibu muda, betapa bahagianya dirimu memiliki seorang gadis kecil yang sangat pintar berimajinasi, betapa senangnya dirimu memiliki pemuda kecil yang kelak menjadi calon incaran perempuan. Ceritakan pengalamanmu memandikan mereka, mengajari mereka mengucapkan kata demi kata sampai Ahra dan Inu bisa cerewet seperti itu, kalau bukan karena dirimu siapa lagi. Aku benar? Dan sebagai bonus kenapa tidak kau ceritakan betapa bahagia hidupmu memiliki pendamping, teman berbagi, seseorang yang sudah menyapa selamat pagi ketika kau baru membuka mata di pagi hari, seseorang yang akan kau pasangkan dasinya setiap hari, memberinya kecupan semoga sukses setiap pagi. Bukan kah itu terdengar sangat memikat? Like a movie

Seulgi tidak lantas menjawab, dia hanya menatap Sehun dengan kedua mata berbinar, menarik nafas panjang kemudian mengangguk beberapa kali sebelum kemudian dia menghambur kedalam pelukan suaminya.

“Ya tuhan! Itu sangat mengaggumkan. Aku tidak pernah menampik kenyataan keluarga kita sangat mengesankan, tapi mendengar orang lain yang mengatakan itu sungguh.. ah, aku tidak bisa berkata – kata. Kau benar, hidupku sangat mengaggumkan,”

“Kau unggul dua langkah dari mereka sayang,”

“Sangat,”

“Oke, masalah kedua clear. Selanjutnya ada masalah apa dengan tanganmu? Aku amat sangat mencintai dan menghargai dua telapak tangan ini. Mereka lah yang 5 tahun ini membelai Ahra, 3 tahun menyayangi Inu. Menjaga kami bertiga tetap hidup, aku amat sangat mencintai mereka,” Sehun beralih pada dua telapak tangan Seulgi kemudian mengecupnya yang sontak membuat Seulgi tersenyum begitu bahagia.

“Lalu apa lagi? Berat badanmu? Strecthmark? Garis halus? Kau mau sekurus apa lagi Nona Kang? Kau sendiri tahu aku tidak suka perempuan kurus. Strecthmark, kita pernah membahas ini bukan? Garis – garis itu adalah bagian kisah dari Ahra dan Inu kau tega mengingkarinya? Aku bahkan tidak pernah protes dengan semua itu? Dan yang terakhir apa? Garis halus? Oh hentikan, aku sama sekali tidak melihat itu,”

Seulgi tersenyum puas mendengar penutusan Sehun, dengan segera dia menghambur kedalam pelukannya mendekap dengan erat. “Kau tahu? Aku tidak pernah berfikir menikah dengan sahabatku sendiri, tapi jika itu dirimu aku sungguh tidak keberatan. Kau suami terbaik di bumi ini, aku sangat mencintaimu.”

“Tanpa kau katakan aku tahu pasti itu,”

“Oh, baiklah malam ini aku terima kenarsisanmu,”

“Masalah selesai? Kau merasa baikan?”

“Sangat!”

“Jadi sekarang bersiap tidur?”

“Tentu, aku tidak sabar menyambut esok!”

Seulgi melepas pelukannya, kemudian menjatuhkan kecupan kilat pada suaminya sebelum mereka terlelap dalam hangat untuk menyambut cerita esok.

.

.

-Kkeut.

P.s : OMG, give me husband Like Mr. Oh T^T

37 thoughts on “Things & Time

  1. Serius suami kaya sehun yang begini aduh idaman banget kanapa pengertian banget knapa manis banget mauuuu!!! Suka kak suka banget:3 sehun pintar banget dalam berkata2 ceritanya enak banget buat dibaca hihi

  2. Joah joah sehun mengajarkan kita untuk tetap bersyukur apapun status kita, memang apa salahnya jadi ibu muda *applause*. Hmm.. Seandainya😀

  3. knp semua namja yang kakak ceritakan semanis itu?? T-T

    Baekhyun dengan Jieun, Kyungsoo dgn Ryu, Jongin dgn Soojung, CHanyeol dgn Wendy, sekarang Sehun dgn Seulgi?

    aigoo, kak, i love your story.

    *Joha joha*

  4. sehun suami idaman banget~!! ><
    sweet banget, keluarga kecil yang menyenangkan, dan juga itu sehunnya bijak
    moment sehun-seulginya pun manis banget :3
    aaa dabes deh ff ini, membuat sejenak melupakan segala realita, lalu jadi berharap😀

  5. aduh ini ka april , mau punya suami kaya oh sehun , punya anak selucu minwoo , minwoo yg aku bayangin minwoo boyfriend yg lucu ituu , keluarga bahagia banget , bisaa ya ni ka april bikin cerita bginian bikin orang betahhh baca ini terus meneruss

  6. oh ya ampuuunn… >__< bikin senyam-senyum… duuhh satu lagi couple yg aku sukaaak

    slice of life ini sukses bikin melting… banyak pelajaran yang bisa dipetik. Berharap punya masa depan kayak gitu, suami seperti itu… omg, my future husband, kuharap kau beriman..ahahhahaaa *abaikan yg ini

  7. Ka apreel maaf loh baru comment sebenernya aku udah lama baca ff ini -mungkin 2minggu kebelakang- sempet bingung mau comment apa soalnya ini ff keren banget tp kok gk sopan yah baca karya orang kalo gk muji gitu seenggaknya aku berhasil dihibur ffmu ini kak thankseeeuu. Ini keluarga sempurna kalo diliat dr segimanapun yak kak kata-kata yang dikeluarin sehun bijak banget imajinasiku bermain rasul dulu kek gini gak yah ngadepin siti aisyah yang manja -berhubung siti aisyah dinikahi diusianya yg sangat belia- ah wallahu’alamu bishowab, kak apreel peracik kata yg hebat

      • Tulisannya baguuus karyanya keren ka aku ceritain karyamu ke banyak temenku mereka malah minta dibacain mulu😀 disini banyak yg ngefans sama kak illa jadinya hihi we love you kak illa :-*

      • Kok kak illa hehe maaf kak tadi lagi baca ff kak illa soalnya maaf T^T aku pling seneng karyamu ini kak berasa aplikasi asli kisah cinta rasul siti aisyah hehe temen2ku juga bilang gitu makannya tadi malem pada dateng kesini minta bacain ffmu pdhl ponsel belum dibagiin .-. Keep writing yak kak ikka we love you kak ika❤

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s