Day ‘1

day 1

Day ‘1 | by Apreelkwon
Wendy – Chanyeol | Romance  | G| OneShot

Summary : Persyaratannya semua harus berjalan seperti biasanya, tapi jelas sudah mereka tidak bisa seperti biasanya lagi.

Noted : Inspired from RV’s new song ‘ Day 1 ‘


Semua masih berjalan normal seperti biasanya. Wendy masih bisa bangun tepat waktu di pagi hari, masih sempat menghabiskan sarapan paginya bersama keluarga kemudian berangkat sekolah seperti hari – hari sebelumnya dengan tumpangan menyenangkan dari Ayahnya. Pulang sekolahpun masih sama seperti kemarin. Pukul 3 sore Wendy membuka pintu, menyapa ibunya yang tengah menyaksikan drama korea kemudian menjatuhkan satu ciuman sayang untuknya, beranjak ke kamar Wendy segera berganti pakaian, turun untuk makan siang yang dia gabungkan dengan makan malam. Kemudian pukul 3.45 dengan gitar dalam gendongannya duduk di halte bus menunggu bus yang akan membawanya ke tempat les gitar.

Di tempat les gitar Wendy akan menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam. Di awali dengan Mr. Jung yang akan mengulang tes hari sebelumnya, kemudian mengajarkan teknik baru, istirahat, lalu tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Jika beruntung pulang les dia akan mampir di restoran cepat saji bersama salah satu senior yang beberapa bulan ini baru dia kenal, kemudian tanpa merasa terbebani seniornya itu akan mengantar dia pulang yang membuat perjalanan 10 menit menjadi sangat menyenangkan karena kebetulan seniornya ini tipikal orang yang sangat humoris. Kurang lebih pukul 9, Wendy sudah ada di kamarnya, bergelut dengan beberapa tugas sekolah kemudian setelah selesai dia akan menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur biru hangat yang selalu menjadi sahabatnya di penghujung hari.

Seperti itu hari Wendy berjalan, tapi tidak dengan hari ini. Ada ritme yang rusak, ada susunan yang janggal dan ada rasa yang tidak basa.

Pagi ini Wendy bangun terlambat, karena semalam dia tidur sangat larut atau bisa dibilang dia hampir tidak tidur. Kenapa? Bukan karena tugas sekolah ataupun tugas les gitar tapi karena sesuatu. Keterlambatan itu berimbas pada semua aktivitasnya di pagi hari. Mau tidak mau dia harus naik kendaraan umum, karena Ayahnya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Karena harus naik kendaraan umum, otomatis Wendy tidak bisa menikmati sarapan paginya dengan tenang. Pagi harinya berjalan dengan kacau, belum lagi perasaan dia yang tidak karuan.

Berharap semua berakhir ketika pagi beranjak, ternyata tidak.

Seharian Wendy berusaha menjauhi ponselnya berujung benda itu tetap diam di dalam tas, dia bahkan melewatkan moment berfoto dengan salah satu Idol yang berkunjung ke sekolahnya, meski kemudian ada rasa sesal karena dia tidak bisa memamerkan foto itu di akun SNS miliknya. Lebih dari semua rasa sesal, Wendy tengah memulihkan perasaannya. Akan sesuatu, akan ritme yang tidak sesuai atau ritme dari lagu yang baru?

Ditengah jam pelajaran tidak terhitung berapa kali Wendy terus melirik jam yang melingkar ditangannya. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, biasanya Wendy mungkin akan senang, hari ini juga sebenarnya. Tapi, di banding rasa senang ada rasa takut atau lebih tepatnya tegang yang menyelimuti hatinya. Perasaan seakan dia belum siap menghadapai hari ini akan berlalu.

Jika ditanya seperti apa perasaan itu, maka Wendy menjelaskannya seperti ketika pertama kali dia tiba di Korea setelah hampir 8 tahun dia habiskan di Kanada, kemudian Ayahnya mendaftarkan Wendy ke salah satu sekolah penyetaraan kelas internasional, hari itu dengan seragam barunya Wendy berdiri di depan kelas. Dengan aksen yang mungkin terdengar aneh, dia tersenyum memperkenalkan dirinya pada teman baru yang membawanya pada lingkungan baru. Seperti itu perasaannya sekarang, terlalu senang karena bisa kembali ke kampung halamannya, tapi juga tegang karena harus menaklukan lingkungan baru.

Jika hari biasanya ketika pulang sekolah dia akan santai pulang bersama teman – temannya, maka tidak dengan hari ini. Dengan cepat Wendy merapihkan alat tulisnya kemudian berlari setelah mengucapkan selamat tinggal pada temannya.

“Hari ini aku di kejar waktu, jadi aku duluan okey bye!

Hari ini, pukul 2 lebih 50 Wendy dengan berlari membuka pintu rumahnya, menyapa Ibunya kemudian dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya, dia bahkan lupa memberi ciuman ‘aku pulang’ pada Ibunya.

“Ada apa dengan adikmu?” tanya sang Ibu pada putrinya yang lain ketika mereka tengah menikati tayangan drama korea –seperti biasanya.

Irene –Kakak Wendy menggedigkan bahunya tanda tidak mengerti dia sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari layar kaca, sedangkan jemarinya sibuk bermain dengan warna – warni polesan kuku.

“Tadi pagi dia terlambat bangun, tidak berangkat dengan Ayahmu, dia bahkan tidak menghabiskan sarapannya. Sekarang, lihat, tidak biasanya bukan?” tanya sang Ibu menyelidik sembari memaparkan semua kejanggalan yang terjadi pada putri bungsunya.

“Ibu merasa aneh hanya karena tadi dia tidak mencium pipi Ibu sambil berkata ‘Bagaimana harimu Bu?’ iya kan? Mungkin Wendy sedang buru – buru dengan les gitarnya, lalu semalam dia bergadang menyelesaikan tugas sampai terlambat,”

“Masuk akal,” jawabnya sambil mengangguk kemudian kembali fokus pada layar kaca. Meski begitu, terlihat beberapa kali Ibunya melihat ke arah pintu kamar Wendy, merasa Wendy tidak juga turun untuk makan siang. “Wen, jangan lupa makan siangmu. Sudah jam 3 lebih, Ibu tidak mau kau melewatkan makan siangmu setelah tadi pagi kau tidak sarapan dengan benar,”

sst- Mom, Klikmaks mulai terasa,” sergah Irene yang merujuk pada Drama yang tengah mereka saksikan.

Sedangkan Wendy di kamarnya setelah menutup pintu kamar hal pertama yang dia lakukan adalah mengecek ponsel. Terduduk di kasur biru, mata terpejam, kedua tangan memegang ponsel.

“Oke, semoga tidak ada pesan atau panggilan,” ucapnya masih sambil memejamkan mata.

Menarik nafas, membuka kedua mata kemudian dengan cepat jemarinya menyapukan kode di layar ponsel, ada beberapa notifikasi: 2 panggilan tidak terjawab dari kakak dan Ayahnya, kemudian 1 pesan dari operator, 1 dari chatting grup kelasnya dan beberapa dari akun SNS. Wendy menghembuskan nafas lega, tapi sejurus kemudian dia menekuk wajahnya. Lega dan kecewa bersamaan.

“Oh, hentikan Wendy. Kau hanya membuat harimu berantakan. Lakukan seperti biasa saja, tidak akan ada yang berubah,”

Setelah berdebat dengan perasaannya, Wendy menghabiskan 5 menit waktunya yang diburu untuk mandi kilat, mungkin sedikit air bisa menyegarkan fikirannya. Membuka lemari dengan cepat, kedua bola mata menyisir setiap pakaian yang tergantung disana. Biasanya untuk pergi les dia tidak pernah pusing – pusing memikirkan apa yang akan dia kenakan, jeans, kaus atau kemeja yang di padukan dengan koleksi jaket miliknya sudah cantik untuk penampilan kasual. Anehnya semua tidak memuaskan baginya siang ini.

Ketika kedua tangannya sudah menentukan pilihan terdengar panggilan dari Ibunya, makan siang. Jarang – jarang ibunya memanggil secara khusus –fikir Wendy.

Yes Mom! Wait a minute!

Kemudian pilihannya jatuh pada rok putih motif bunga, sebagai pasangannya dia mengambil kemeja biru tosca. Sempurna! Dan khusus hari ini rambut yang biasa dia gerai, di kepangnya dengan rapih.

Melihat pantulannya di cermin tengah serius merapihkan rambutnya, sontak membuat Wendy tertawa geli. “Kau menjijikan, Wendy Shon,” selorohnya masih sambil tertawa dan tangannya sibuk memilin.

Oow.. Sore ini kau pergi les bukan?”

Satu pertanyaan menginterupsi sistem kerja otak Wendy yang sedang bekerja sama dengan jemarinya untuk membuat kepangan tulang ikan yang rapih. Kakak perempuannya Irene yang entah kapan datangnya sudah berdiri didalam kamarnya dengan tatapan heran.

“Uhum,” jawab Wendy sambil mengangguk. “Ini aku sedang siap – siap,”

“Kau pergi les dengan berdandan manis seperti ini?”

Jemari Wendy berhenti, dia beralih menatap kakaknya yang tengah tersenyum jahil. “Memang ada yang salah?”

“Tidak, hanya saja… aku fikir kau mau pergi kencan? Baiklah, aku tidak mau mengganggu hanya menjalankan tugas dari Mom yang khawatir kau tidak turun – turun, dan sepertinya kau akan terlambat jika tidak cepat – cepat….”

Irene masih sambil tersenyum ketika mengucapkan itu. Wendy ingin mengatakan sesuatu, sebuah kalimat pembelaan tapi entah kenapa dia merasa lidahnya tidak sanggup untuk mengucapkan satu kata pun.

“Ah, dan satu lagi. Good Luck!” sambung Irene ketika dia kembali lagi kedalam kamar Wendy.

OMG! Apa ini terlalu berlebihan? Sampai Irene berkata seperti itu,”

Melupakan juntaian anak rambut yang belum selesai dia kepang, Wendy mematut dirinya didepan kaca. Terlalu berlebihan kah? Oh, tidak ini terlalu kentara.

Dengan segera Wendy berlari ke kamar mandi. Mengganti bajunya dengan gaya yang biasa dia gunakan: Jeans, kemeja merah pola chekered, yang dipadukan dengan Varsity merah – hitam. Tatanan rambut yang tadi belum selesai, dia urai kembali kemudian dia biarkan terurai rapi dengan menyisirnya, membiarkan poninya tertata manis.

Wendy membuang nafas tegang, kemudian kembali mematut bayangannya di cermin. “Sempurna! Ini seperti Wendy biasanya, seperti biasanya dan tolong bersikap seperti biasa saja Wendy!” ucapnya sambil menunjuk bayangannya di cermin.

Wendy ingin harinya tetap berjalan seperti biasanya? Itu keinginannya yang sayang tidak di dukung oleh otak bahkan hatinya. Jelas – jelas ada yang mengganggunya. Gangguan yang datang dari seseorang tadi malam. Siapa? Senior yang selama ini dekat dengannya, yang selama ini selalu mengajarkannya teknik bermain gitar, selalu menemaninya makan malam di restoran cepat saji kemudian mengantarnya pulang, tadi malam dengan manis mengutarakan cinta padanya.

“Semua orang sudah bisa menebaknya dan aku lelah terus berpura – pura, sebenarnya selama ini aku menyukaimu Nona Shon. Kalau kau bersedia aku ingin kita tidak hanya menjadi teman,”

Kalimatnya saja malam itu sudah mampu membuat Wendy membeku, ketika kemudian senior itu memberikannya satu senyuman manis –sangat manis. Beku nampaknya akan abadi, Wendy bahkan bisa mendengar lagu let it go bertalu di otaknya.

“Kalau begitu aku menunggu jawabanmu besok, kita berangkat bersama oke?”

Bayangan semalam terus bermain dalam otak Wendy. Di tambah penegasan dari Irene tadi yang mengatakan dia seperti akan pergi kencan. Oh, hentikan, Wendy ingin semua berjalan seperti biasanya.

Tapi bagaimana bisa semua berjalan normal ketika dia dan senior bernama Park Chanyeol itu bukan lagi sebatas teman, bukan lagi sebatas senior – junior, melainkan sepasang kekasih. Chanyeol memang meminta Wendy menjawabnya hari ini, tapi sialnya Wendy ingin meredakan gemuruh hatinya tadi malam dengan seketika membuat keputusan. Sambil berbaring ditempat tidurnya, masih belum bisa memejamkan matanya, dia meraih ponsel kemudian mengetikan satu pesan singkat untuk Chanyeol.


Me :

Oppa, kau membuat malamku berjalan tidak karuan

Chanyeol :

Maaf, tapi kau harus membayar malam – malamku selama ini yang sungguh kacau balau karenamu.

Me :

Oh hentikan!

Chanyeol :

Sungguh Wen. Apa yang aku katakan tadi padamu tidak bohong, aku menyukaimu. Sejak pertama kau masuk kelas, sejak pertama kau memainkan gitarmu kemudian kau meminta bantuan padaku.

Me :

Hentikan Oppa…

Chanyeol :

Jangan – jangan, benar kata Baekhyun. Selama ini kau juga menyadari aku menyukaimu,

Me :

Kau fikir aku buta! Aku ini perempuan,

Chanyeol :

Oh, berarti kau sungguh berniat membuatku merana selama ini,

Me :

Sungguh Oppa, kali ini aku serius,

Chanyeol :

Baiklah, katakan aku juga serius,

Me :

Kau sungguh – sungguh?

Chanyeol :

Yups!

Me :

Bisa kau jamin kita tidak akan berubah? Maksudku, bisakah kita seperti biasa saja meski status kita berbeda,

Chanyeol :

Kau bukan sekedar status Nona. Dan aku berjanji, semua tidak akan berubah

Me :

Baiklah kalau begitu!

Chanyeol:

Apa?

Baikalh apanya?

Hei.. Nona Shon..!

Wen, kau tidak bersungguh membuatku tidak bisa tidur malam ini bukan?

Me :

G’night!


Dan malam itu bukan cuma Chanyeol yang merana tidak bisa tidur, tapi Wendy juga. Oh, ini kemudian terjadi juga. Setelah sekian lama Wendy di buat mati gaya dengan semua cara pendekatan Chanyeol.

Lalu? Hari ini adalah hari pertama mereka dengan status sepasang kekasih.

“Kemudian Park Chanyeol dan Wendy Shon bertemu dalam satu cerita, hahahaa…” Wendy tertawa geli didepan cermin ketika mengingat kembali apa yang terjadi selama ini.

Beranjak ke sudut kamar dekat meja belajarnya, Wendy meraih tas gitarnya kemudian dengan cepat dia keluar. Sepertinya dia akan melewatkan makan siangnya, meski ibunya berkali – kali mengingatkan. Tenanglah, Wendy bertaruh dia akan mendapatkan makan malam yang bahkan bisa mengganti porsi yang terlewatkan hari ini.

.

.

Chanyeol tahu pasti, Wendy baru akan duduk di halte bus ini pukul 4 kurang 15 menit tapi untuk antisipasi dari setengah 3 dia sudah tiba disana menanti perempuan yang semalaman membuatnya tidak bisa tidur. Chanyeol tidak pernah menyangka bahwa malam itu, setelah dia mengungkapkan perasaannya, Wendy akan mengirimkan pesan singkat. Dan yang tidak Chanyeol kira juga, Wendy memperjelas hubungan mereka. Sungguh, perjuangan Chanyeol beberapa bulan terakhir berakhir tadi malam, dan hari ini adalah hari pertama mereka sebagai sepasang kekasih.

“Sungguh, energi dari mana ini padahal semalam tidur hanya sebentar, sarapan berantakan makan siangpun tidak, tapi kenapa masih banyak energi menggebu seperti ini,” ucap Chanyeol sambil tersenyum geli.

Wendy semalam meminta, bahwa meski mereka sekarang sepasang kekasih tapi dia menginginkan semua tetap seperti biasanya. Oh, tentu saja Chanyeol akan menjamin itu. Semua tidak akan berubah, dalam artian berubah buruk. Meski ada yang berbeda mungkin pada sisi lebih romantis. Misal, ketika mereka makan malam bersama di restoran cepat saji dan meski itu hanya makan goreng ayam dengan satu kepal nasi Chanyeol akan membuatnya lebih romantis percayalah meski hanya saling tatap lalu tersenyum malu itu sudah cukup romantis. Lalu ketika Chanyeol mengantar Wendy pulang, mungkin mereka sudah bisa saling berpegangan tangan atau bila malam berubah dingin Chanyeol bisa mendekap tubuh gadinya itu kedalam pelukannya.

“Sialan kau Park Chanyeol! Terlalu banyak yang kau harapkan,” ucapnya sambil tersenyum pelan menjawab imajinasinya yang sungguh sangat manis jika di bayangkan.

Mungkin tiap hari minggu mereka bisa pergi ke taman kemudian duet bermain gitar, Chanyeol bermain melodi lalu Wendy mengimbangi ritme miliknya.

“Manis,”

Atau Chanyeol akan mengembangkan bakatnya menulis lirik lagu, membuat lagu bersamanya karena demi apapun suara gadis ini sungguh luar biasa. Ini akan menjadi sangat menakjubkan jika di akhir tahun les gitar mereka bisa mementaskan lagu ciptaan ini. Kemudian semua orang terpukau dan iri.

“Tentu mereka akan Iri,”

Chanyeol masih terlelap dalam imajinasinya ketika dia merasakan ponsel di saku jaketnya bergetar. Pesan dari Wendy, bertanya apa mereka jadi berangkat bersama dan apa Chanyeol sudah berangkat. Chanyeol tersenyum membaca pesan itu, pesannya masih sama seperti yang Wendy tulis biasanya, hanya saja dia merasakan ada yang berbeda. Maka dengan cepat Chanyeol membalasnya.

‘Aku sudah menunggumu didepan,’

Rumah Wendy tidak jauh dari halte bus, jadi bisa di prediksikan berapa waktu yang dibutuhkan gadisnya itu sampai disana. Chanyeol kembali merapihkan bajunya, masih seperti biasa dia hanya mengenakan jeans, kaus putih lengkap dengan varsity hitam. Meski Chanyeol sebenarnya ingin berpenampilan lebih spesial, tapi dia teringat kata Wendy ‘tetap seperti biasanya,

“Kau sudah sempurna Park Chanyeol, percayalah. Sepanjang jalan banyak gadis yang terus melirikmu karena begitu tampannya,” bisik Chanyeol sambil memasukan ponsel kedalam saku jaket.

Berulang kali dia melirik kearah jalan dari arah rumah Wendy, gadis itu belum terlihat. Chanyeol tidak sabar, tidak sabar akan seperti apa hari ini mereka lalui. Oh, ini hari pertama mereka, ayolah.

Lalu hati Chanyeol terasa meledak, bergemuruh dan terasa tidak karuan ketika sudut matanya menangkap sosok Wendy tengah berjalan ke arah halte bus. Rambut coklatnya tergerai seperti biasanya, berpakaian seperti biasanya, sepertinya Wendy serius dengan permintaannya. Dia berjalan dengan tidak memperhatikan sekitarnya, meski Chanyeol yakin dari jaraknya sekarang seharunys Wendy bisa melihat keberadaan Chanyeol.

Biasanya, jika Chanyeol melihat Wendy dia segera memanggil namanya sambil melambaikan tangan. Seharusnya sekarangpun seperti itu, tapi entah kenapa dia tidak bisa. Sudah jelas, hatinya berdebar tidak karuan dan sekarang nampaknya saraf motoriknya terganggu.

“Oh, sungguh apa Wendy tidak melihatku. Tunggu, seperti biasa saja Chanyeol. Tapi kenapa aku jadi tegang seperti ini. Oh, ayolah itu Wendy, aku sudah mengenalnya beberapa bulan yang lalu,”

Tapi hari ini dia kekasihmu –bisik hati Chanyeol.

“Oh benar, hari ini berbeda,” jawabnya sambil menarik nafas panjang kemudian menggosok kedua tangannya mencoba menghilangkan rasa tegang.

Kembali diliriknya Wendy, gadis itu nampak berjalan lambat. Dia seperti kikuk, oh apa Wendy sudah menyadari keberadaan Chanyeol dan bingung harus melakukan apa. Melihat ini Chanyeol semakin tegang.

“Lakukan sesuatu ayolah, jelas – jelas Wendy juga tegang,”

Mengenyampingkan gemuruh hatinya, Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah Wendy kemudian ketika kedua mata mereka bertemu dengan segera Chanyeol memberikan satu senyuman –yang dia usahakan senormal mungkin.

Berlagak Chanyeol baru menyadari kedatangan Wendy, dia bangkit dari duduknya kemudian melambaikan tangannya.

“Cepatlah gadis Amerika, kita bisa terlambat,” teriaknya berusaha menyembunyikan suaranya yang gemetar.

“Hentikan Park Chanyeol bersikaplah seperti biasa,” bisiknya lagi.

Wendy tersenyum, dia berlari kearah Chanyeol kemudian duduk tepat disampingnya.

“Lihat jam berapa sekarang,” Chanyeol menaikan tangannya kemudian melihat jam birunya. “Kau telat 5 menit dari jadwal biasanya, dan kita bisa terlambat. Oh dan buruknya lagi hari ini aku ada tes,”

Wendy nampak mengatur nafasnya, dia meletakan tas gitarnya kemudian menyikut Chanyeol pelan sambil tersenyum. “Aku hanya terlambat 5 menit dan percayalah kita tidak akan terlambat. Tapi sebagai formalitas aku minta maaf Oppa, ada sesuatu disekolah,”

Chanyeol mengangguk kecil, “Ada masalah sekolaha tau kau terlalu nervous untuk bertemu denganku, ayo jujur, hahhaa…

“Hentikan Oppa, lagi pula kenapa aku harus tegang hanya untuk bertemu denganmu,”

“Yah, memang. Tapi hari ini aku ini kekasihmu,”

Wendy terdiam mendengar jawaban Chanyeol, sontak ini membuat Chanyeol tertawa pelan kemudian menyenggol Wendy dengan pundaknya. “Mau saling jujur,”

“Jujur tentang apa lagi,”

“Ayo kita jujur bahwa semalam kau dan aku sama – sama tidak bisa tidur, kemudian terbangun dengan hati yang tidak karuan, harimu berjalan rumit, asal kau tahu aku sudah disini sejak setengah jam yang lalu bahkan melewatkan makan siangku,”

Sontak kalimat Chanyeol barusan membuat Wendy menatapnya dan Chanyeol hanya membalas dengan satu senyuman.

“Lalu aku mematut lebih lama didepan cemin, sebenarnya hari ini aku ingin lebih rapi dengan menggunakan kemeja atau sweater atau apalah yang lebih trendi dari kaus putih ini tapi kemudian aku melihat semuanya sangat berlebihan. Hahahha.. lucu bukan, seperti katamu padahal aku hanya bertemu dengan seorang Wendy Shon yang sudah aku kenal lama. Tapi masalahnya,” Chanyeol menggantungkan kalimatnya kemudian menatap Wendy tepat pada matanya, “Hari ini aku lelakimu,”

Mereka bertatapan lumayan lama dan mungkin akan terus berlanjut andai saja mereka tidak malu dengan pandangan orang lain.

“Oke aku sudah jujur dan sekarang perasaanku sudah baikan,”

Wendy terdengar tertawa pelan, dia menghembuskan nafas panjang kemudian mengangguk pelan. “Huft… baiklah, jadi..” Wendy berhenti kemudian mengalihkan pandangannya pada Chanyeol.

“Sejujurnya aku sangat sangat sangat nevous oppa, sama sepertimu aku tidak bisa tidur, hariku berjalan rumit. Jujur saja sebisa mungkin aku menghindari semua tentangmu, bahkan selama di sekolah aku terus menyimpan ponselku di tas.”

Chanyeol tertawa nyaring mendengar kejujur Wendy, yang membuat gadis itu meninju bahunya.

“Lalu?”

“Sebenarnya aku juga ingin tampi beda tadinya. Kau tahu? Aku berencana menggunakan rok dan kemeja manis tadi, tapi Irene menatapku heran dia bahkan menertawaiku. Kemudian aku mengganti pakaianku seperti biasanya,”

“Karena kau ingin kita seperti biasanya,”

“Yups,”

“Selesai?”

Wendy mengangguk, “Intinya aku ingin kita seperti biasanya, tapi ternyata memang ada yang berubah,”

“Karena kita sekarang sepasang kekasih,”

“Hentikan Oppa,

“Jadi kau sungguh tidak ingin ada yang berubah Wen?”

“Aku ingin kita seperti biasanya Oppa, itu sudah sangat menyenangkan bagiku,”

Chanyeol mengangguk mengerti. “Jadi tidak ada berpegangan tangan, berpelukan, berbagi headset saat mendengarkan lagu, bermain ke taman lalu bermain gitar, menonton ke bioskop, pergi makan yang bukan restoran cepat saji, mengantarmu pulang sambil saling menggenggam tangan, menelfonmu sebelum tidur untuk mengucapkan selamat malam dan semoga bermimpi indah, bertukar pesan selamat pagi ketika bangun tidur-”

Oppa kau sudah merencakan semua itu?” potong Wendy dengan tatapan kaget tapi ada garis senyum terukir di bibirnya yang hari itu dia poles dengan lipgloss warna orange Chanyeol menyadari perbedaan itu.

“Karena kita sepasang kekasih dan karena aku sudah menyukaimu sejak lama,”

Wendy tidak menjawab dan hanya tertawa pelan.

“Jadi bagaimana?”

Sekali lagi Wendy tersenyum, dia memalingkan pandangannya dari Chanyeol kemudian kembali menatapnya. “Mungkin bisa beberapa kita lakukan sekarang,” jawab Wendy sambil menunjuk bis yang datang dengan matanya.

Chanyeol tersenyum, dia mengangguk. Bangkit dari duduknya kemudian meraih tas gitarnya, dia siap. “Baiklah, kita mulai dengan berpegangan tangan yang bisa ku pastikan tangan kita akan sangat berkeringat karena tegang, hahhaa…

“Hentikan leluconmu oppa, meski semua itu kenyataan,”

Bus semakin mendekat, Chanyeol mengulurkan tangannya dia menatap Wendy kemudian perempuan itu menyambut tangan Chanyeol. Mereka berpegangan.

“Woah, lihatlah tanganmu bahkan sangat pas ditanganku,”

Wendy hanya tersenyum menimpali kalimat Chanyeol karena dia terlalu malu.

“Jadi apa di Bus nanti kita akan berbagi headset untuk mendengarkan lagu? Lalu nanti aku antar kau ke kelas. Malamnya kita akan makan malam-”

“Aku setuju dengan makan malam karena tadi aku melewatkan makan siangku,” potong Wendy sambil tersenyum lebar.

Tingkah Wendy ini spontan membuat Chanyeol meleleh. Tanpa perintah tangannya mengacak lembut pucuk kepala Wendy.

Oho, ini tidak ada dalam perencanaanmu,” ucap Wendy.

“Dan sekarang akan aku tambahkan, ketika kau bertingkah manis dan lucu tangan ini akan dengan senang hati membelai ponimu itu. jadi nanti kita makan malam dimana?”

“Dimanapun asal jangan restoran cepat saji samping sekolah, aku bosan.”

“Oho, ini isyarat kau mengundangku untuk berkeliling malam? Kita berkencan? Oke, baiklah nanti akan aku cari tempat makan paling enak,”

“Hentikan ceracaumu Oppa, ayo kita naik kalau tidak mau terlambat,”

“Tentu, aku tidak mau terlambat untuk menghabiskan kencan nanti malam dan mengantarmu pulang,”

Bus berhenti tepat didepan mereka, Wendy melangkah masuk terlebih dahulu kemudian di susul Chanyeol. Apapun rencana mereka malam ini, biarkan semua berlalu seperti yang mereka harapkan. Karena ini hari pertama mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

.

.

-Kkeut.

27 thoughts on “Day ‘1

    • Kak ika!! Ini manis bangett .<
      Mereka berdua sampe nervous gitu waktu ketemu ughh. Ngebayangin duo rame ini malu-malu kucing bikin tanganku keriting kak.
      Haha iya sih pasti ada yang beda setelah status udah ganti. Dan yah chan sangat manis seperti biasa😀
      Sering-sering bikin chan-wen kak! ~~ Keep writing ^^

  1. Omg suka bangeett! Fluffy banget aduh aku jadi malu2 sendiri nih bacanyaa:3 bisa dibuat chapter ngga kak? Atau ngga after story deh? Yayayayayaya.. Gemesh banget manisnya itu loh mereka ngga nahan banget hihi

  2. wahhhh….ff bru,proyek bru kkak!!
    haha…smuanx jdi kacau…n’ brntakan…ya ok. itulah hri prtma mreka…mari lihat klnjtn dri kisah mreka…😉
    good write!!🙂

  3. Sweet banget kak, senyum2 sendiri pas baca, coba aja cerita kaya gini tu ada di dunia nyata juga gitu gak cuma di ff atau drama2 hahaha
    Jadi pengen punya pacar 😀 eh? 😂😆
    Kerenn kak ika 👍

  4. HULLLLA KAK APRELL…
    AKU KEMBALI /? , setelah resmi jadi murid kelas tiga yang sebelum ujian udah stress duluan, aku jarang banget berkeliaran disini. dan pas dateng..
    UWAAA… ff ini asli bikin baper /?.
    fluff banget kak..😀 , Tapi kalau dipikir lucu juga yaa.. keadaan yg tadinya biasa aja bakal berubah jadi gak biasa kalau statusnya juga beda . ahh apalah teori gak jelas aku ini. tapi sumpah kak.. ini kerenn….

  5. Aslii baper,
    Aaaaaaa,ini maniiiiiis nya semanis senyumnya abang chanyeol yang paling manis apreel..

    Entah kenapa susah banget ngbayangin wajah oc atau cast cewe klo di pasangin sama abang yg satu ini,jatohnya malah ngeblur gituu.(efek takut galau)
    (Bawa pulang abang chani)

    Anyeong,apreel..
    Xoxo™

  6. wah ternyata udah ada update-an ff lagi di blog ini😀
    serius beneran senyum-senyum sendiri baca ini, gimana tingkah mereka yang manis banget
    dan ini realita banget, kalo status berubah maka pasti ada sesuatu yang berubah😄
    /thumbs up

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s