Fiction and Fact [1/2]

s

Fiction and Fact | by Apreelkwon
Baekhyun – Jieun | Romance, Angst,Psychology  | PG | Twoshot

Summary : Fakta dan Fiksi hanya tersekat satu oleh satu kata ‘kepercayaan’, mana yang kau percayai.


Hujan turun dengan sangat lebat membuatnya memutuskan untuk berhenti mengendarai mobil hitam kesayangannya. Berhenti dipinggir jalan, hujan dan ketika dia melirik jam tangan yang melingkar, ternyata malam sudah beranjak larut.

Dia terdiam bersama sosok perempuan yang duduk disampingnya. Meski berdua, tidak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka hanya menyisakan suara air hujan yang jatuh saling susul menyusul.

“Aku mohon bicaralah,” lelaki yang mengenakan setelah jas hitam lengkap membuka pembicaraan –Baekhyun. Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada perempuan disampingnya yang sama sekali tidak melihatnya, perempuan itu sedari tadi hanya diam dan memaku pandangannya pada pemandangan diluar kaca mobil.

Baekhyun menggerakan tangannya, menyentuh tangan si perempuan. Tidak berhasil dia tetap diam.

“Aku tahu kau marah, tapi tolong jawab dan respon kalimatku. Aku sudah berulang kali minta maaf dan bersedia menerima apapun yang akan kau lakukan,”

Tetap tidak ada jawaban.

Marah, kesal, dan ribuan kata lain bisa saja perempuan itu gunakan untuk menggambarkan kondisinya saat ini. Baekhyun mencintainya, yang lelaki itu lontarkan padanya beberapa bulan yang lalu dan mereka setuju untuk segera menikah. Tanggal pernihakan telah ditentukan, orang tua mereka sudah bertemu tapi kemudian Baekhyun meniupkan nafas neraka padanya. Ketika dengan mudah Baekhyun berkata, “Dia masih mecintaiku Ji, dia yang aku fikir meninggalkanku ternyata masih amat sangat mencintaiku. Maafkan aku, aku fikir aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini,”

Dengan penuturan tidak berperasaan itu, perempuan mana yang tidak akan merasa hidupnya sudah diakhiri? Jieun merasa tersakiti.

Baekhyun beribu kali melontarkan kata maaf dan berkata akan menerima apapun balasan yang akan Jieun lakukan. Tapi semua itu tidak bisa menyembuhkan rasa sakit Jieun. Baekhyun tahu itu. Jieun sakit hati, itu fakta yang Baekhyun sangat ketahui. Namun fakta perempuan dari lembaran lalu hidupnya yang amat Baekhyun cintai datang kembali dan berkata masih teramat sangat mencintai Baekhyun, tidak ada yang bisa Baekhyun lakukan kecuali menyerah akan Jieun.

“Ji, bicaralah. Jangan diamkan aku seperti ini. Setidaknya makilah aku, pukul aku, koarkan pada orang lain betapa brengseknya aku, atau bunuh aku kalau itu bisa membuatmu merasa baik.”

Jieun tetap diam.

“Aku telah menghancurkan hatimu, aku egois karena mengejar cinta yang ku inginkan. Tapi apa yang kau lakukan? Kau bilang pada kedua orang tuamu pernikahan ini gagal karena kau tidak ingin bersamaku? Kau membuat cerita seakan aku pria baik – baik saja. Akui saja Ji, katakan pada dunia bahwa aku ini seorang brengsek. Aku menerima itu, karena aku memang yang menghancurkanmu.”

Baekhyun mengeluarkan semua unek – unek dalam hatinya. Tapi Jieun tidak meresponnya sama sekali, tetap diam dan mengunci rapat semua kenyataan yang terjadi seakan dia takut jika satu kalimat makian saja keluar darinya deras hujan akan menyebarkannya pada seluruh dunia. Tentang Baekhyun yang mengkhianati cintanya. Jieun tidak bisa. Karena Jieun sangat mengasihi lelaki disampingnya ini, dia tidak mau membuatnya terluka, meski dia telah membuatnya terluka terlebih dahulu.

Baekhyun tahu itu, karena masih jelas dalam ingatannya ketika malam Baekhyun memberi tahu tentang semuanya, Jieun hanya menangis pelan dan berkata, “Tidak apa Baek, aku menerima semua itu. Karena aku juga mencintiamu.”

Air hujan masih terdengar deras menjatuhi bumi, suaranya bagaikan hakim alam bagi Baekhyun. Mereka menghakimi Baekhyun atas apa yang dia lakukan pada Jieun. Hari – hari Baekhyun berjalan suram setelah semua ini terjadi. Dia penuh dengan halusinasi dan rasa bersalah.

Masih dengan suara derasnya air hujan, Baekhyun kembali menyalakan mobilnya dan melaju dalam kecepatan paling tinggi. Suara deru mesinnya mampu mengalahkan suara deras air hujan, dia sedikit merasa aman.

“Tolong teriaki aku Ji, maki aku, hina aku,”

Air mata Baekhyun mulai menetes, membuatnya semakin menambah laju kecepatan mobil. Mereka masih saling diam. Baekhyun mulai merasakan dadanya bergemuruh, darahnya mengalir panas dan air mata mulai tak terkendali mengalir dari bendungan yang Jieun bocorkan. Selanjutnya dia tidak bisa menahan desakan batin yang berburu ingin keluar. Keluar dalam sebuah teriakan kencang Baekhyun yang bahkan mengalahkan deru mesin dan suara hujan.

Mobil kembali berhenti diatas jembatan yang dibawahnya sungai tengah mengamuk karena hujan datang menghakimi mereka tanpa ampun.

Baekhyun menarik napas pendek – pendek. Pundaknya naik turun dan dia bisa merasakan keringat dingin membasahi punggung dan telapak tangannya. Dia gelisah –luar biasa.

“Aku tidak bisa menahan semua ini Ji, aku tidak bisa,”

Jieun kali ini bergerak. Dia mengalihkan pandangannya dari jendela mobil kearah Baekhyun. Dia menatap Baekhyun lekat. Air mata sama – sama membasahi wajahnya. Perlahan tangan Jieun bergerak mengelus lembut tangan dingin Baekhyun, membuat si empunya menyadari dan memandanginya.

“Ji, aku mohon aku tidak kuat dengan semua ini,” ucap Baekhyun dengan suara gemetar dan tangis yang masih belum berhenti.

Jieun menggeleng sambil tersenyum tapi air mata masih setia disana. Kini tangannya beralih dari tangan Baekhyun, kearah kepala Baekhyun. Sama lembutnya, Jieun membelai setiap helai rambut Baekhyun lalu mencoba membenamkan tubuhnya dalam pelukan Baekhyun, tapi dengan segera Baekhyun menolak.

“Percayalah Baek, aku mencintaimu. Percayalah, semua ini bukan salahmu. Apa yang aku katakan pada dunia dan kedua orang tuaku adalah kenyataan,”

“Tidak. Itu kebohongan, kau telah berbohong Ji,”

Jieun melepas tangannya, kemudian kembali menjauhkan pandangannya dari Baekhyun. “Aku tidak pernah berbohong Baek, tapi kau yang selama ini berbohong. Berbohong padaku, pada dirimu sendiri, pada orang tuamu, orang tuaku bahkan pada dunia. Semua itu membuatku merasa hina,”

Baekhyun menggeleng kencang mendengar penuturan Jieun. Susah payah dia meraih tangan Jieun, tapi dengan cepat juga perempuan itu hindari. Setelah kalimat itu terlontar dari mulutnya, Jieun membuka pintu mobil. Melihat itu, Baekhyun sangat hapal apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan cepat Baekhyun membuka pintu mobil, berjalan dibawah deras hujan menyusul Jieun yang sudah berjalan beberapa langkah lebih cepat darinya. Jarak mereka hanya beberapa langkah dan Baekhyun ingin dengan segera meraih tangan putih dingin Jieun tapi selalu gagal. Selalu ada jarak antara mereka berdua, sulit untuk Baekhyun meraih Jieun.

“Ji, lihat aku. Ji…!”

Berteriak dibawah deras hujan adalah sesuatu yang sia – sia. Berlari dengan pakain mewah dan basah juga sesuatu yang sia – sia, tapi Jieun lebih sia – sia lagi ketika dia tersandung karena sepatu hak 7cm miliknya. Dengan kesempatan ini Baekhyun beringsut mendekati perempuan terkasihnya.

“Ji, aku mohon Ji..”

Jieun menggeleng. Dia menolak untuk melihat langsung pada mata Baekhyun.

“Semua akan baik – baik saja Ji. Aku baik – baik saja, aku mencintaimu,” ucap Baekhyun kali ini sambil mencoba memeluk perempuan kecil itu, tapi Jieun menolaknya.

“Tidak Baek, aku sudah menyakitimu. Membuatmu berbohong, membuatmu tidak bisa menerima kenyataan dan membuatmu seperti ini,”

Kalimat Jieun membuat Baekhyun berhenti menggenggam pergelangan tangannya. Dia mentap Jieun lurus, penuh cinta, penuh kasih dan penuh amarah.

“Berhentilah Baek,”

Dan tepat setelah mengucapkan kalimat pendek itu, Jieun bangkit. Dia berjalan dengan kaki telanjang –Baekhyun selalu ingat itu, menuju pinggiran jembatan. “Hentikan Baek,”

Baekhyun berteriak, dia bangkit menyusul Jieun. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya yang menyisakan kehidupan Baekhyun dalam lubang penderitaan. Maka dari itu, setiap kesempatan lain datang, Baekhyun selalu mencoba untuk mengubahnya.

Bersamaan dengan derasnya air hujan, derasnya air mata, dia mendorong tubuh Jieun kedalam luapan air sungai yang mengamuk.

Semua selesai.

“Kau terlalu berharga untuk mendapat gelar sebagai orang yang bunuh diri Ji. Aku tidak ingin melihatmu bersedih, aku tidak ingin kau tersakiti oleh siapapun. Kau tidak pantas untuk menderita di dunia ini,”

Dan Baekhyun hanya terdiam di pinggiran sungai membiarkan tubuhnya basah. Menyaksikan amukan air sungai yang membawa tubuh orang tekasihnya. Baekhyun membunuh Jieun.

“Faktanya adalah aku yang membunuh Jieun,”

Baekhyun bangkit. Dia berjalan kembali menuju mobilnya, melupakan seluruh tubuhnya basah kuyup kemudan kembali memacu mobilnya menuju arah yang sudah sangat dia hapal. Kediaman keluarga Lee. Baekhyun akan mengakui fakta baru, putrinya bukan bunuh diri melainkan dia yang membunuhnya.

.

.

Hujan deras sekarang menjadi hal yang paling menakutkan bagi keluarga Lee. Jinki –kakak Jieun, tidak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun. Gemuruh air hujan selalu saja membuatnya tersadar. Tidak bisa memaksakan diri, dia kembali menyalakan lampu kemudian beranjak menuju kursi baca, ketika dia menyadari ada mobil terparkir dengan lampu menyala di halaman rumah mereka.

Jinki tahu apa yang akan terjadi. Dia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat yang mengakibatkan tangannya bergetar hebat. Dengan segera Jinki meraih jaket hangatnya, berjalan keluar kamar lalu tidak lupa mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.

“Dia disini Ayah,” itu ucap Jinki, yang membuat sang Ayah juga Ibu berjalan cepat keluar dari kamar.

Mereka berlari menuju pintu depan, membukanya lalu mendapati sosok itu tengah terduduk didepan pintu mereka. Dia mengenakan setelan jas lengkap, basah dan tubuhnya menggigil. Ketika menyadari pintu rumah terbuka, dengan segera lelaki itu menangis histeris.

“Maafkan aku, aku membunuh Jieun. Aku mendorongnya ke sungai, jangan salahkan dia,” mengucapkan kalimat dengan suara menggigil, air mata mengalir, hati mana yang tidak akan merasa sakit.

Dengan segera Ibu dari keluarga Lee itu bergerak kearahnya, melepaskan jaket yang dia kenakan lalu menyelimuti tubuhnya yang basah. Ibu itu memeluknya. “Lupakan Jieun, Baekhyun. Semua ini bukan salahmu, semua ini bukan salahmu. Kami percaya padamu, jangan hukum dirimu seperti ini. Melihatmu seperti itu, semakin membuatku marah pada anakku sendiri,”

“Tidak ibu, Jieun tidak bersalah. Semua ini salahku, aku yang membunuhnya. Aku mendorongnya,”

Dan malam itu berlalu bersama hujan turun semakin lebat juga teriakan sakit dari Baekhyun atas fakta yang sudah terjadi.

.

.

Fiction/Fact

26 thoughts on “Fiction and Fact [1/2]

  1. Jujur ak agak bingung diakhir,, jieun yg lompat apa dia didorong???

    But ini bgs bgt kak,, suer
    Ak baca.a waktu praktikum biologi lgi,, haha

  2. Fakta dan Fiksi hanya tersekat satu oleh satu kata ‘kepercayaan’, mana yang kau percayai.

    sial, summarynya bikin merinding….kemudian ingat…betapa fananya para oppa…..menggelinding…..
    ouwo
    jadi di mana kakak lee hyunwoo berada? lah
    padahal kemaren udah ngintip di nomer duanya nyari spoiler dibagian endnya. dan jeng jeng ternyata tidak cukup sodara sodara hikseu ;;;=;;;

  3. Oke pertama jien sangat mencintai baekhyun, *diabertemuseseorangyghebat>.<
    Mreka tdk sedang dlm suatu acara kan?*waswas
    Lalu baekhyun mengambil resiko untuk menghukum dirinya sendiri dengan ngebunuh jien-atau semua ini, kejadian itu, jembatan, hujan, itu cuma kenangan? Halusinasi? Dia gila?-Baekhyun, maksudku dia spt itu,
    setelah baca chap. Ini ada pertanyaan yg langsung nemplok ngejeblak tanda tanya segede pintu,
    Soal apa yg dikatakan jien ke keluarganya? Ke semua org?
    good story😮 and i miss you kak april😣 tulisanmu pula
    Aku bner2 harus lanjut, kepo berat😶

  4. Kk ini apaa 😭
    Yaa ampun nyesek bgt kk, q baru baca bagian awal aja udh mau nangis #lebay
    Jgn2 ini sbnrnya jieun udah meninggal, baekhyun cuma halusinasi aja 😐 apa gmn 😰
    Yaudah lah yaa baca part 2 nya aja klo gtu hahaha

  5. anyeong
    keren , ni ff , jujur saja pas baci ni ff entah ni pikiran nyangkut kemana? bingung , setelah selesai baca baru paham ,,haha
    keren
    @_@+fighting

  6. Kak, itu summarynya dapet darimana. or bikin sendiri? tapi sumpah itu keren and menginspirasi banget. soalnya aku lagi stuck buat some project ku dan keinget fic ini.
    But ini keren banget loh, idenya itu. Dan jujur lagi, aku udah baca lumayan lama, tapi belom sempet komen😄 maapkan saya kak😀
    Oke, langsung capcus ke next part ya

  7. keduanya sama-sama menderita karena saling tidak ingin menyakiti *apadeh bahasaku. tapi keren kak ceritanya, ijin baca kelanjutannya ya…

  8. SUMPAH INI MENYAYAT HATI.
    Kenapa baekhyun malah bunuh jieun??
    aku kira dia bakalan nyegah jieun bunuh diri.. aaaah kak inii kenapa bikin nyeseek banget yaa.. next chap selanjutnya duluu dehh, siapa tau ada keajaiban/?

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s