Classmate : #3 Class – Somebody!

CLASSMATE | by Apreelkwon
Do Kyungsoo – Ryu Sujeong | Romance – School Life – Friendship | T | Chaptered

Summary : Kyungsoo berfikir mereka hanya teman satu kelas. Tapi nyatanya, Sujeong sudah menaruh rasa sejak mereka masih tingkat pertama.

A/N : this chapter contain 5000+ word, take your time..

Prev : Prolog . 1 . 2 .

poster credit : Sifixo@Poster Channel


Sujeong hapal betul dengan semua aktivitas keluarganya. Jadwal kerja ayahnya, jadwal sekolah Manse, bahkan sampai pada jadwal belanja Bibi Hwang yang suka membantu merapihkan rumah ketika mereka sudah berangkat beraktivitas. Termasuk hari ini. Hari ini setelah kelas regulernya, Manse ada jadwal mengikuti kelas tambahan diluar sekolah dan kelasnya akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya kelas Sujeong. Biasanya Sujeong akan menjemput Manse, tapi untuk hari ini karena Bibi Hwang ada jawdal belanja maka dia berencana menjemput Manse. Lalu bencana itu datang.

“Sujeong-ah, Bibi sudah datang 10 menit sebelum kelas Manse selesai. Setelah menunggu dan Manse tidak ada keluar, Bibi bertanya pada guru les di sana dan mereka bilang Manse tidak masuk,”

Telfon masuk dari Bibi Hwang sontak membuat Sujeong mempercepat aksi membereskan peralatan sekolahnya. Bibi Hwang bilang dia sudah mengabari Ayah mereka dan sedang menuju tempat les Manse. Sujeong tidak bisa hanya diam saja, dia juga akan menyusul kesana, atau mungkin menanyakan pada teman – teman Manse.

Satu nama yang terfikir oleh Sujeong untuk membantunya adalah Ara, tapi sialnya Ara masih ada kelas tambahan dan Sujeong tidak mungkin mengganggunya dengan berita ini. Dan entah perintah dari mana, saat Sujeong berlari keluar dari gedung sekolah kemudian mendapati sosok Kyungsoo, dia langsung meminta bantuannya.

“Masalah apa yang menimpa adikmu?” tanya Kyungsoo saat mereka tengah berjalan cepat menuju halte bus dalam diam.

“Dia tidak ada ditempat lesnya,” jawab Sujeong singkat yang sontak menutup perbincangan mereka karena Kyungsoo tidak bertanya lain – lain dan memilih diam.

Sampai di halte bus, Kyungsoo memilih duduk sedangkan Sujeong berdiri ditepian halte mencoba melihat bus yang mereka tunggu. Sujeong biasanya akan banyak tingkah atau mungkin salah tingkah, jika dia sudah dekat dengan Kyungsoo, tapi tidak sekarang. Kabar Manse membuat Sujeong bahkan lupa dengan arti seorang Do Kyungsoo didekatnya.

“Kyung, kamu tidak keberatan kan? Aku baru terfikir sekarang, tidak sopan sekali aku langsung memaksa bantuanmu,” ucap Sujeong kemudian sambil membalikan badannya menatap Kyungsoo yang masih terududuk di bangku halte.

Kyungsoo tersenyum kemudian menggeleng pelan. “Tidak masalah, meski aku juga awalnya kaget, tapi sepertinya kau dalam masalah, jadi aku harus membantu,”

“Sungguh?”

“Ehm, Bus nomor berapa yang kita tunggu?”

Sujeong tersenyum mendengar jawaban Kyungsoo, kemudian dengan segera membalik badannya kembali menghadap badan jalan mencoba mencari bus tujuan mereka, ketika Sujeong mendapati bus tersebut sudah terlihat tidak jauh dari halte. “Itu,” ucap Sujeong sambil menunjuk bus yang semakin mendekat. “Ayo!”

Terbiasa hidup berdampingan dengan Ayah dan adiknya saja, membuat Sujeong menjadi pribadi yang gesit dalam segala hal. Termasuk ketika dia berlari kemudian berjejal masuk kedalam bus tujuan mereka, berebut dengan beberapa murid yang juga sama menaiki bus itu. Sujeong sampai lebih cepat dari Kyungsoo yang masih terlihat mengantri masuk dengan sabar.

“Tidak ada kursi tersisa,” ucap Sujeong ketika Kyungsoo sudah berdiri didekatnya.

“Berdiri atau kita tunggu bus selanjutnya?” jawab Kyungsoo. Dia ikut mengedarkan pandangan didalam bus, berharap Sujeong melewatkan satu kursi kosong dari pandangannya, tapi ternyata memang semua kursi sudah penuh.

Sujeong menggeleng pelan. “Kita berdiri saja, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,”

“Baiklah,” Kyungsoo menyetujui.

Berdiri dibagian tengah bus memang tidak nyaman dan rawan ketika bus berhenti atau menginjak rem tiba – tiba, atas usulan Kyungsoo mereka pindah kebagian belakang dan bersandar pada bagian kaca. Bus melaju, mereka terdiam. Kyungsoo sibuk memandangi jalanan diluar sana, sedangkan Sujeong sibuk dengan fikirannya sendiri tentang adiknya. Sampai kemudian Kyungsoo menghentikan kediaman itu dengan melontarkan satu pertanyaan.

“Sudah ada kabar?” tanya Kyungoo.

Sujeong yang sedari tadi menyandarkan kepalanya pada kaca bis, mengalihkan pandangannya pada Kyungsoo kemudian menggeleng. “Belum sama sekali,” lanjut Sujeong kali ini dia memastikan kembali sambil membuka ponselnya, barangkali ada pesan baru dari Ayahnya atau Bibi Hwang.

“Ayahmu?”

“Sekolah Manse, Ayah berencana mencari dari tempat pertama Manse pergi,”

Kyungsoo mengangguk. “Ibumu?”

Sujeong masih sibuk dengan ponselnya, pergerakannya berhenti ketika pertanyaan Kyungsoo mendarat ditelinganya. Sujeong mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel pada Kyungsoo.

“Ibumu ikut mencari Manse?” tanya Kyungsoo lagi.

Sujeong tidak langsung menjawab, dia kembali sibuk dengan ponselnya mencoba mencari satu nama di daftar phonebook. Ketika mendapatkan nama itu, dengan segera Sujeong melakukan satu panggilan.

“Terimakasih sudah mengingatkan Kyung,” ucap Sujeong sambil menunggu panggilannya tersambung.

Kyungsoo tersenyum canggung. Dia tidak mengerti apa maksud Sujeong berterimakasih dan mengingatkan atas apa. Tapi dia tidak ingin mengorek lebih dalam dan hanya mengangguk sambil menjawab “Sama – sama,”

Sujeong melupakan satu hal, satu hal yang selalu dia ingatkan pada Manse, agar Manse selalu menghubungi Sujeong menggunakan ponsel daruratnya jika satu hal buruk terjadi. Kenapa tidak terfikir oleh Sujeong sebelumnya untuk menghubungi ponsel Manse. Mungkin jika dari tadi dia sudah melakukan itu, dia tidak perlu merepotkan Kyungsoo. Karena pasti Sujeong yakin, insiden Manse sekarang ada hubungannya dengan Ibu mereka.

Panggilan tersambung, hati Sujeong terasa sangat lega ketika dari sebrang sana terdengar sapaan dari Manse. “Halo, Noona,”

Bodoh. Kenapa tidak dari tadi aku menghubungi Manse, fikir Sujeong dalam benaknya sambil melirik Kyungsoo yang berdiri disampingnya masih menikmati pemandangan diluar sana.

“Katakan kau dimana sekarang?” ucap Sujeong kemudian, kalimatnya terdengar oleh Kyungsoo membuatnya berbalik menatap Sujeong.

“Sujeong Noona, kau jangan marah. Manse lupa memberitahumu, Ibu mengunjungiku disekolah, lalu Ibu-”

“Dimana?” tanya Sujeong lagi singkat.

“Noona, ingat toko roti yang sering kita kunjungi bersama Bibi Hwang? Aku dan Ibu disini dan sekarang-”

Ya! RYU MANSE! Apa kau melupakan pesan Noona mu ini hah? Untuk apa aku memberikan ponsel itu jika tidak kau gunakan? Kau tahu? Bibi Hwang menunggumu ditempat les, dia ketakutan ketika tahu kau ada disana. Ayah ijin dari kantornya dan kau sedang menikmati roti bersama…” Sujeong menarik nafas, dia tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya. Melanjutkan kalimat dengan menyebutkan satu nama.

“Noona,” suara Manse terdengar bergetar disebrang sana.

Sujeong menghembuskan nafas pelan, memijat dahinya kemudian mengangguk. “Tunggu disana, Noona dalam perjalanan, Ayah mungkin-”

“Manse aman bersama Ibu Sujeong, kau tidak usah Khawatir. Lebih baik kau pulang, karena Ibu yakin kau tidak ingin bertemu denganku dan lagi Ayahmu sudah ada disini untuk membawa pulang adikmu,”

“Bagus kalau begitu,” Sujeong tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat dari orang disebrang sana. Asalkan nasib Manse sudah aman dan Ayahnya sudah disana, Sujeong sudah lega. Satu hal terlupakan, Kyungsoo yang berdiri disampingnya sedari tadi mungkin akan heran dengan aksi Sujeong barusan. Terlihat dari ekspresi Kyungsoo yang menatap Sujeong dengan tatapan penuh tanya.

Sujeong tidak ingin menjelaskan lebih detail. Mungkin Kyungsoo cukup tahu bahwa adiknya sudah pulang dan mereka bisa kembali. “Manse sudah bersama Ayah,” ucap Sujeong yang kali ini sudah beralih menatap Kyungsoo, nada bicaranya pun berubah lebih ceria di banding tadi.

“Oh, jadi? Kemana tadi adikmu?” tanya Kyugnsoo masih dengan tatapan heran.

“ehm… saudara jauh dari Ayah mengajaknya pergi makan. Dia tidak mengabari Ayah, Manse juga tidak mengabariku dan aku juga lupa untuk menelfon Manse terlebih dahulu. Maaf Kyung, merepotkanmu untuk hal seperti ini, aku sungguh-”

“Ok, tak masalah, alasan aku terima. Jadi apa kita akan turun disini atau melanjutkan pergi kesuatu tempat? Jam segini, waktunya perutku diisi sesuatu,” Kyungsoo memotong kalimat Sujeong dan menjawabnya seakan mencoba menetralkan kembali suasana.

“Karena aku sudah merepotkanmu, jadi sekarang giliranmu,” jawab Sujeong sambil tersenyum.

“Baiklah, sekarang bola ditanganku,” jawab Kyungsoo. Dia mengalihkan pandangannya keluar jendela, ketika mendapati apa yang dia cari dengan segera dia meraih lengan Sujeong dan menariknya dari tempat mereka berdiri. “Kita berhenti disini,” ucap Kyungsoo.

Kyungsoo mengajak turun Sujeong di halte bus selanjutnya. Dia tidak tahu daerah ini, tapi sesuai permintaannya tadi di bus, mereka berencana untuk mengisi perut sebentar baru kembali kerumah masing – masing.

Bersama dengan Sujeong –hanya berdua, bukan sesuatu yang familiar bagi Kyungsoo. Mungkin jika itu Jieun akan lain ceritanya. Untuk sahabatnya yang satu itu, Kyungsoo sudah seperti kakak lainnya bagi Jieun. Tempat bertukar cerita, menghibur jika ada masalah dengan Baekhyun atau hal lainnya. Maka dari itu terkadang Kyungsoo sering mensyukuri kehadiran Jieun dalam hidupnya. Kenapa? Karena dengan semua itu, Kyungsoo jadi mengerti akan eksistensi perasaan sosok perempuan. Wajah, hati dan ucapan mereka kadang tidak sinkron. Ada phase dimana hati mereka terkadang bertolak berlakang dengan apa yang mereka ucapkan. Dan Kyungsoo merasa Sujeong sedang mengalami phase itu. Kyungsoo bukan siapa – siapa bagi Sujeong yang bisa leluasa bertanya ini itu, memintanya bercerita kemudian Kyungsoo memberikan opini, mereka belum memasuki tahap pertemanan sampai sejauh itu. Maka ketika menyadari perubahan sikap Sujeong sejak bubar kelas lalu memintainya pertolongan, ditambah percakapan telfon yang tanpa sengaja Kyungsoo dengar, dia yakin Sujeong dengan mengalami sesuatu yang tidak baik. Karena mereka bukan teman terlalu dekat, yang Kyungsoo bisa lakukan hanya menghibur layaknya teman sekelas biasa.

“Perempuan suka makanan manis bukan,” ucap Kyungsoo memecah kesepian antara mereka ketika langkah kakinya berhenti didepan toko dengan cat dan ornamen serba merah hitam, lalu ada plang bertuliskan Sweetest didepan toko yang kemungkinan adalah namanya.

Kyungsoo tidak tahu menahu tentang toko ini, tapi dia yakin di dalamnya akan banyak menu manis yang konon bisa memperbaiki mood perempuan. Ah, Kyungsoo bahkan sudah memikirkan keadaan Sujeong. Bukan apa – apa, hanya saja sejak dia mengenal Jieun, Kyungsoo paling tidak bisa membiarkan perempuan begitu saja.

“Tidak semua perempuan Kyung, kau suka makanan manis?” tanya balik Sujeong saat dia ikut menghentikan langkahnya kemudian berdiri mengamati disamping Kyungsoo.

“Dibilang suka tidak tapi benci juga tidak, ayo, aku rasa kita akan menemukan makanan luar biasa didalam sana,”

“Sepertinya kau tahu banyak tentang wanita Kyung,”

Kyungsoo mengalihkan perhatiannya dari papan menu didepan toko pada Sujeong yang berdiri disampingnya. Dia tersenyum, perempuan memang penuh perasaan fikirnya. “Percayalah perempuan dan laki – laki ditakdirkan untuk hidup berdampingan nona, maka dari itu kita harus saling mengerti satu sama lain,”

“Alasan yang bagus tuan,” jawab Sujeong sambil balas tersenyum pada Kyungsoo.

Tidak menjawab kalimat Sujeong, Kyungsoo malah berjalan mendahului kemudian mendorong pintu masuk yang kemudian menciptakan gemerincing lonceng. “Kita lanjutkan didalam pembicaraannya,” Kyungsoo menggerakan kepalanya mengarah toko sebagai gesture untuk mengajak Sujeong masuk.

Sujeong tersenyum, melangkah pelan menyusul Kyungsoo, “Ide bagus,”

Sesuai judulnya Sweetest, tempat ini ditata sungguh manis. Perpaduan antara vintage, warna merah dan hitam yang menciptakan suasana hangat dan tidak lupa kesan manis. Diujung bagian tengah ruangan terdapat konter untuk memesan yang juga terdapat etalase yang menjajakan beberapa menu andalan mereka. Ukuran ruangan ini tidak terlalu besar. Didalam hanya terdapat sekitar 5 atau 6 pasang meja dengan format 4 kursi bagian tengah dan dua kursi dekat jendela. Suasana toko tidak terlalu ramai, 2 meja bagian tengah terisi dan beberapa orang terlihat membawa pulang pesanan mereka. Saat mendapati kursi dekat jendela kosong, Sujeong berjalan terlebih dahulu kemudian disusul oleh Kyungsoo.

“Jadi bagaimana kau mengerti perempuan?”

“Menjadi teman mereka,” jawab Kyungsoo singkat sambil tersenyum.

Sujeong mengerutkan dahinya ketika mendengar jawaban Kyungsoo, “jawabanmu terlalu klise, semua orang juga pasti akan menjawab seperti itu,”

Hahaha, kau berharap aku menjawab seperti apa? Bak lelaki dewasa yang mengerti akan cinta dan sifat para perempuan?”

Sujeong mengangguk, “karena ucapanmu di depan tadi aku berekspetasi tinggi,”

Kali ini Kyungsoo yang mengangguk, “Asal kau tahu aku tidak terlalu pandai tentang perempuan. Pertemananku hanya seputaran lelaki juga. Tapi tahun lalu, ada satu pelajaran yang membuatku mendapatkan hal baru,”

“Apa?”

“Baekhyun. Kau tahu Jieun? Kekasih Baekhyun?”

“Legenda sekolah kita, bagaimana aku tidak tahu,”

“Kau mungkin tidak tahu. Kisah cinta mereka itu tidak semanis yang kalian lihat sekarang, mereka penuh dengan kebohongan. Bahkan aku ikut campur dalam kebohongan mereka, tapi memang kadang cinta butuh sedikit bumbu untuk kisah lebih manis, hahaha. Dari Jieun aku belajar banyak tentang perasaan wanita, tidak banyak mungkin, tapi setidaknya aku bisa sedikit tahu tentang spesies kalian.”

“Sepertinya pembicaraan kita akan menarik. Kau tahu? Jarang lelaki yang mengerti tentang perempuan, sangat jarang.”

“Baekhyun salah satunya, hahhaa…

“Malah mungkin kau juga?” ucap Sujeong disela aktivitiasnya memilih menu yang sedari tadi hanya mereka pegang membuat beberapa kali kasir dikonter melirik mereka.

“Ehm… mungkin,” jawab Kyungsoo kemudian ikut terlarut memilih menu. “Kau yang memilih Ryu, aku ikut pilihanmu,”

“Sungguh? Aku pecinta manis Kyung,”

“Aku juga tidak bilang aku benci manis bukan?”

“Oke baiklah,” Sujeong tersenyum mendengar jawaban Kyungsoo. Setelah mendapati menu seimbang yang akan mereka pesan, Sujeong menutup buku menu kemudian melambaikan tangannya kearah meja kasir.

Tidak lama sampai kemudian salah satu pelayan menghampiri mereka dan bertanya menu yang dipesan. “Bisa saya catat pesanannya?”

Sujeong menyebutkan nama menu yang mereka pesan dan Kyungsoo ikut melihat deskripsi menu itu. Si pelayan menyebutkan kembali semua pesanan mereka, ketika sudah sesuai si pelayan mengucapkan terimakasih dan pesan untuk menunggu sebentar, saat itulah Kyungsoo menaikan pandangannya kemudian menyadari siapa pelayan itu, begitupun sebaliknya.

“Kyungsoo Sunbae?

Kyungsoo terdiam dia kaget meski tidak tahu untuk alasan apa dia harus kaget dan hilang akal seperti ini ketika bertemu Kim Yeri atau adik kelas yang tadi bertemu dengannya disekolah.

“Oh, kau Yeri bukan?” Yang menyimpan surat dilokerku, lanjut Kyungsoo dalam benaknya.

Hari ini diluar prediksi, itulah yang terlintas dalam benak Sujeong. Semua insiden terjadi diluar imajinasinya. Dari mulai insiden notes atas pertolongan Ara, kemudian hilangnya Manse sampai insiden paling menakjubkan dalam harinya, menghabiskan sore bersama Kyungsoo. Sujeong tidak tahu harus berekspresi seperti apa, hatinya terlalu lelah berdetak kencang terus seperti ini. Dia terlalu bahagia, Manse bahkan sudah dia maafkan dengan mudah hanya karena tukarannya bersama Kyungsoo. Mungkin Sujeong harus berterimakasih pada adiknya itu.

Pembicaraan tentang pengalaman masing – masing bersama Kyungsoo mengalir begitu menyenangkan. Dia bercerita banyak, tentang Baekhyun Jieun meski Kyungsoo tidak menyebutkan secara detail karena dia sudah berjanji pada mereka berdua bahwa ini hanya rahasia antara mereka berlima. Kemudian tentang hobi – hobi Kyungsoo. Semua berjalan menyenangkan, sampai – sampai Sujeong tidak tahu harus bertingkah seperti apa atau mungkin salah tingkah.

Setelah menghabiskan waktu sekitar 3 jam, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Menggunakan bus yang berbeda akhirnya mereka berpisah. Sepanjang jalan, Sujeong tidak lepas dari ponselnya dia menceritakan semuanya pada Ara secara detail. Dari mulai insiden Manse sampai pada kencan dadakan dia dengan Kyungsoo.

“Kau berkencan dengan pangeran Kyung. Omg, lanjutkan perjuangmu Sujeong-ah, aku akan jadi prajurit garis paling depan untuk membantumu,”

Itu tulis Ara pada chat mereka dan Sujeong membalasnya dengan satu emoticon hati untuk sahabatnya. Sampai dihalam rumah, baru masalah tentang Manse kembali dalam benak Sujeong. Bagaimana kabar adiknya, ada apa dengan ibunya dan yang paling penting bagaimana kondisi Ayahnya setelah bertemu ibunya dengan cara seperti itu, bisa dibilang insiden tadi siang adalah penculikan terselubung. Manse mungkin tidak tahu apa – apa dengan insiden tadi siang, tapi tidak dengan ayah mereka dan Sujeong. Tidak dengan kemunculan ibu mereka secara tiba – tiba seperti itu.

Sujeong mempercepat langkahnya, sesekali dia mengedarkan pandangannya kesekitar rumah dan bernafas lega ketika mobil ayahnya dia dapati berada di garasi. Berlari kemudian membuka pintu dengan cepat, dengan segera Sujeong mencari adik juga Ayahnya dimana mereka tengah duduk diruang makan.

“Kau pasti tidak lupa membawa beberapa potong roti untuk kami kan Manse?” Sujeong bersuara ketika dia sudah mengganti sepatunya dengan sliper ungu miliknya. Manse memutar tubuhnya, dia menatap Sujeong dengan pandangan takut. Sedangkan Ayahnya memberkan gesture pada Sujeong untuk jangan mengungkit masalah tadi lagi.

“Sujeong Noona, aku janji ini yang terakhir. Jangan marahi aku, aku tidak akan bertemu Ibu lagi aku tidak akan lupa mengabarimu lagi,”

Sujeong mengangkat tangannya tinggi diatas kepala Manse, menduga hal terburuk Manse sudah memejamkan matanya kalau – kalau kakaknya ini akan memukul kepalanya. Alih – alih pukulan telak, satu belaian lembut bermain di sela – sela anakan rambut Manse. Sujeong tidak marah.

“Bodoh, kenapa Noona harus melarangmu bertemu Ibu. Bagaimanapun dia, Ibu tetap Ibumu jadi tak apa kau bertemu dengannya, tapi… ingat satu hal-”

“Tentu! Lain kali aku tidak akan lupa Noona, aku mencintaimu,” Sujeong belum selesai dengan kalimatnya tapi dengan segera Manse menyela lengkap dengan satu pelukan tiba – tiba. Kalau sudah begini, Sujeong tidak bisa berbuat apa – apa, dia terlalu mencintai adiknya ini.

Noona, juga mencintamu anak nakal, sekarang cepat ke kamar, kerjakan PR-mu agar nanti malam kau bisa menikmati kartun kesukaanmu,”

Sekali lagi Manse memeluk erat tubuh Sujeong kemudian menjatuhkannya satu kecupan lembut di pipi Sujeong. “Aku membawa beberapa potong roti, Ibu yang membelikannya, Ayah dan Noona bisa memakannya,” setelah mengatakan itu dengan segera Manse menghilang masuk ke kamarnya.

Setelah memastikan Manse masuk kamar, Sujeong duduk di kursi tepat depan Ayahnya. Ini akan menjadi pembicaraan serius, karena mustahil tidak terjadi apa – apa tadi.

“Makanlah, Ayah dan Manse sudah memakan beberapa sobek tadi,” sang Ayah yang merasa Sujeong akan menanyakan sesuatu dengan cepat mendekatkan piring yang berisi beberapa potong roti coklat, coklat almond dan blueberry.

“Aku sudah makan tadi Ayah,” dengan cepat Sujeong menjawab. “Jadi apa yang terjadi tadi? Apa yang Ibu lakukan? Tidak biasanya dia mengendap – endap seperti ini, aku sempat terfikir bahwa dia sebenarnya berencana menculik Manse,”

“Cerita macam apa Sujeong­-ah, Ibu menculik anak sendiri,”

“Cerita keluarga kita, karena sang Ibu yang memiliki masalah,”

Sang Ayah tidak langsung mengjawab. Menarik nafas panjang, kemudian tersenyum kearah Sujeong. “Ibumu hanya rindu pada Manse-”

“Lalu dia tidak rindu padaku? Oh, iya.. dia sudah tidak menganggapku sebagai putrinya,”

Sujeong menyela kalimat Ayahnya yang dengan segera di jawab dengan pandangan sengit. “Jaga bicaramu, dia tetap Ibumu.”

Sujeong mengangguk, refleksi perasaan menyesalnya.

“Setelah kejadian tempo hari, ketika gerombolan itu kembali kesini dan meminta sejumlah uang. Ternyata itu bukan atas kesalahan Ibumu. Maka dari itu dia khawatir. Langsung bertemu denganmu, dia tahu tidak akan pernah berhasil kau pasti kabur dan tidak mengatakan pada siapapun bahkan pada Ayahmu kalau kau bertemu Ibu. Beda cerita dengan Manse, dengan begini semua orang akan datang pada Manse dan Ibumu bisa memastikan semua baik – baik saja. Sayangnya, tadi kau tidak kesana Ibumu-”

“Ibu melarangku kesana setelah tahu Ayah ada disana,” Sujeong kembali menyela.

Ayahnya mulai geram, berhadapan dengan anak perempuan memang tidak mudah. Maka dari itu dia hanya diam dan kembali menikmati roti didepannya. Biasanya anak perempuan lebih sering bermain dengan perasaan, mendiamkannya adalah salah satu metode jitu.

“Karena Ayah dan Manse sudah makan, dan masih ada roti, juga masih ada stok makanan instan, malam ini aku tidak akan masak untuk makan malam. Banyak tugas dari sekolah, jika ada sesuatu panggil aku saja Ayah,”

“Baiklah, selesaikan tugasmu nanti temani Manse untuk jam TV-nya,”

Sujeong membentuk gesture Ok dengan jarinya, bangkit dari tempat duduk kemudian beranjak menuju kamarnya. Banyak tugas? Bohong sekali Sujeong, memang ada beberapa tugas tapi tidak ada deadline untuk besok atau lusa. Mungkin malam ini hanya akan menghabiskan beberapa jam untuk membaca materi untuk besok dan sisanya akan Sujeong habiskan untuk…

“Jadi apa aku tulis notes lagi atau tidak menurutmu?” Sujeong tengah berbicara dengan Ara, tepat ketika dia menutup pintu kamar lalu menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Seragam bahkan masih belum dia ganti.

“Kau mau mundur dengan semua yang sudah terjadi hari ini? Kalau kau tidak melanjutkan jejakku, kupastikan akan nasibmu besok Sujeong, berakhir!”

Sujeong tertawa, dia masih teramat sangat bahagia dengan efek kencan dadakannya tadi bersama Kyungsoo dan langsung terfikir apa yang akan dia tulis untuk notesnya besok. Apa yang akan dia katakan besok ketika bertemu Kyungsoo, apa dengan kejadian tadi pertemanan mereka naik level? Entahlah, Sujeong terlalu berandai – andai.

“Aku masih takut, gara – gara kau membobol lokernya, Ara. Mungkin Kyungsoo sudah beprasangka tidak baik dengan pengirim notes itu,”

Disebrang sana Ara terdengar menghembuskan nafas gusar. “Oke baiklah, anggap saja pembobolan loker itu tidak terjadi atau anggap saja Kyungsoo sadar bahwa lokernya tidak di kunci –aku berharap demikian karena itu memang kesalahan Kyungsoo. Ingat lagi, bukan tadi kau bilang Kyungsoo sangat senang ketika mendapatkan notes itu? Kita asumsikan saja, Kyungsoo tidak mempermasalahkan insiden loker, aku tidak mau menyebutnya pembobolan loker kau terlalu kejam, kau fikir aku pencuri apa?”

Sujeong mengubah posisinya, dari tiduran di kasurnya beranjak menuju meja belajar kemudian membuka laci – laci kecil miliknya dan disana dia menemukan satu pak kertas lipat warna – warni. “Aku selalu bangga padamu Ara, kau selalu bisa membuat semua masalah terdengar mudah. Meski kenyataannya belum tentu begitu,” kali ini tangannya yang tidak memegang ponsel beranjak mengambil spidol warna biru muda. “Tapi kita asumsikan saja memang begitu, jadi apa yang harus aku tulis?”

“Untuk apa yang harus kau tulis, maaf aku tidak bisa membantu. Itu terserahmu mau menulis apa,”

“Bagaimana menurutmu, kalau aku menulis sesuatu yang bersangkutan dengan ehm… kencan dadakan tadi?” spidol biru muda sudah terletak di meja belajarnya dan kini tangannya tengah berusaha membuka plastik pembungkus kertas lipat, kemudian matanya berlarian diantara pilihan kertas warna – warni lalu di ambilnya kertas warna coklat muda. “Mungkin aku menuliskan tentang coklat yang tadi kita makan,”

“Lalu Kyungsoo akan tahu dari siapa notes itu? Kau sudah tidak sabar mengakhiri permainan? Aku fikir notes ini akan terus berjalan sampai setidaknya ada 30 notes,”

“Benar juga, kalau Kyungsoo langsung tahu itu aku, mungkin dia akan sedikit risih.”

“Betul sekali Nona, Jadi apa yang akan kau tulis?”

Sujeong tidak langsung menjawab, ingatannya kembali pada kejadian tadi sore ketika mereka melewati waktu bersama. Duduk berhadapan, berbicara tentang satu sama lain dan menikmati manisnya makanan yang lezat. Ah, sepertinya Sujeong tahu apa yang harus dia tulis. “Aku tahu, Oke thanks Ara kau selalu berhasil memberiku inspirasi. Akan segera kutulis notes itu dengan manis dan aku tempelkan sendiri besok di pintu lokernya.”

“Berarti kau tidak boleh bangun kesiangan lagi,”

“Akan kupastikan alarmku hidup untuk 100 tahun,”

Percakapanya dengan Ara berakhir dengan Sujeong mendapatkan pencerahan untuk apa yang akan dia tulis besok dan semoga besok dia berhasil berangkat lebih pagi. Spidol biru yang sudah dia ambil tadi, dikembalikan pada tempatnya. Sebagai gantinya dia meraih bolpoin tinta hijau yang biasa di gunakan untuk mempercantik catatannya. Selanjutnya Sujeong terlarut dengan notes.

Noona kau akan menemaniku menonton televisi malam ini kan? Kau sudah janji?”

Sujeong terlalu larut dalam aktivitasnya sampai dia lupa berapa jam sudah berada disana. Dia bahkan belum mandi, dan invasi Manse ke kamarnya membuat Sujeong sadar akan perputaran dunia. “Kau bahkan belum mandi Noona, baiklah aku tunggu dikamarku,”

Sujeong tersenyum, dia memberi gesture oke pada Manse, menyelesaikan sedikit lagi notesnya kemudian beranjak ke kamar mandi. Besok, harus dia sendiri yang menempelkan notes ini.

“Jadi ada apa kemarin dengan Sujeong?” Baekhyun bertanya ketika dia dan Kyungsoo sedang menaiki tangga menuju kelas mereka. Biasanya, mereka tidak pernah berpapasan masuk kelas seperti sekarang ini. Baekhyun selalu berangkat pagi demi bersama Jieun yang jam kelasnya 20 menit lebih awal dari mereka. Melihat Baekhyun berangkat jam normal seperti dia, Kyungsoo bertanya – tanya apa ada sesuatu lagi antara mereka?

“Kau ada masalah lagi dengan Jieun?”

Baekhyun menautkan kedua alisnya menciptakan kerutan kecil di dahinya. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Karena kau biasanya jam segini sudah berada di kantin, menelfonku, pamer betapa enaknya sarapan pagi di sekolah. Kalian bertengkar lagi?”

Kali ini Baekhyun menggelengkan kepalanya. “Kalian ini, apa harus aku dan Jieun setiap pagi berangkat bersama? Kami sudah bukan pasangan di mabuk asmara lagi, aku dan Jieun sepakat untuk bertingkah normal seperti biasa,”

“Normal? Kalimatmu semakin memperkuat teori Jongdae bahwa kalian berdua memang tidak normal selama ini,”

“Oh Kyung, Jieun akan sangat marah mendengar kalimatmu,”

“Dan aku berharap kau tidak mengatakan pada Jieun kalimat barusan,”

Mereka berdua tertawa menimpali percakapan yang sebenarnya tidak terlalu berbobot. Hanya tentang Baekhyun dan Jieun yang katanya mulai menerapkan pacaran normal dari semua ketidak normalan mereka selama ini. Bersyukur saja, mulai sekarang mungkin Kyungsoo tidak akan sering di ganggu telfon malam Jieun, atau Chanyeol yang muak dengan romantisme makan siang mereka, atau Jongdae yang menjadi korban kekesalan Jieun jika mereka sedang berdebat, mungkin mereka bisa damai sekarang. Kyungsoo tersenyum membayangkannya.

Mereka sampai di depan pintu kelas, ketika Baekhyun kembali menanyakan perkara Sujeong kemarin dengan suara pelan karena tidak mau ada yang mendengar, kenapa? Entahlah. Kyungsoo tidak langsung menjawab, matanya bergerak kearah depan kelas –kearah kursi Sujeong dan dia mendapati kursi itu masih kosong. Apa hal kemarin semakin buruk? Telisik Kyungsoo dalam hati. Ketika Kyungsoo tengah sibuk mempertanyakan kemana Sujeong, Baekhyun menepuk bahu Kyungsoo beberapa kali.

“Lihat Kyung!”

Kyungsoo memutar pandangannya, pintu loker miliknya, disana sudah tertempel notes berwarna coklat di tulisi tinta hitam dan beberapa ornamen dari pita warna – warni. Lagi? Fikir Kyungsoo.

“Oow,”

Baekhyun tertawa pelan, “Ini semakin menarik Kyung, sepertinya kau memilki penggemar,”

“Menurutmu ini wajar?” Kyungsoo melepas notes itu membacanya kemudian menunjukannya pada Baekhyun. Yang kemudian Baekhyun ambil dan dia baca sendiri sambil tertawa pelan.

“Ini manis Kyung. Kau seharusnya senang, dia pasti perempuan yang sangat lucu. Lihatlah cara dia menempelkan semua pita – pita lucu ini, hahahha…

Kyungsoo merebutnya kembali dari Baekhyun. Membuka lokernya kemudian menyimpan notes itu bersama dengan notes yang dia temukan kemarin. “Apa menurutmu ini bukan penyerangan privasi atau semacam teror?”

“Itu surat cinta bodoh, bukan teror pembunuhan. Kecuali kau merasa terbunuh karena betapa manisnya pesan yang dia tulis, hahahha…

Kyungsoo tidak menimpali kalimat Baekhyun, fokusnya beralih memilih buku pelajaran yang akan dia gunakan sekarang. Sedangkan Baekhyun sudah berjalan terlebih dahulu ke meja mereka dan sialnya dia kembali bersifat berlebihan seperti kemarin, Kyungsoo tidak bisa berbuat banyak kecuali segera menyusul Baekhyun dan menjatuhkan pukulan telak di kepala sahabatnya itu.

“Kau tahu Ryu, Kyungsoo salah tingkah karena notes itu, seseorang mengirimkan lagi dia surat tanpa nama hahahha… dia bilang dia merasa di teror karena tulisan dalam notes itu sangat manis,”

Sujeong ikut tertawa bersama Baekhyun. Kapan perempuan itu masuk? Entahlah, mungkin Kyungsoo melewatkan dia masuk ketika Baekhyun berkelakar di dekat loker tadi.

“Jangan dengarkan dia Ryu, mahluk yang satu ini memang selalu berlebihan,”

“Tidak. Baekhyun itu tahu cara menghargai hal kecil, pantas Jieun jatuh cinta padamu Baek,” Sujeong menimpali kalimat Kyungsoo sambil ber-highfive ria dengan Baekhyun.

Baekhyun kembali tertawa puas dan Kyungsoo hanya bisa menghembuskan nafas gusar atas semua itu. “Maksudmu aku tidak bisa menghargai hal kecil? Level aku dan Baekhyun dalam menghargai perempuan jauh berbeda, dia ada dibelakangku. Dia lelaki tidak peka,”

“Dan kau lelaki yang terlalu banyak pertimbangan, pusing dengan hal kecil sampai bingung harus seperti apa.” Skakmat. Baekhyun selalu tahu cara membuat Kyungsoo kalah dan diam membungkam kalimatnya. “Sekarang aku tanya Ryu, pilih antara aku lelaki yang menurut Kyungsoo tidak peka atau dia yang mengerti perempuan tapi terlalu banyak pertimbangan,”

Sujeong mengerutkan dahinya. “Kenapa jadi aku yang kalian seret dalam perdebatan ini?”

“Ayo jawab saja,”

“Baiklah. Aku tidak bisa memilihmu Baek karena kau sudah milik Jieun. Dan aku juga tidak mau pusing berpacaran dengan Kyungsoo, hhahaha..

Sujeong tertawa, Baekhyun ikut tertawa tapi Kyungsoo tidak bisa. Mungkin mereka berfikir Kyungsoo sebal, tapi dia bertanya dalam hatinya. Apa benar dia terlalu memikirkan banyak hal?

Ketika Kyungsoo ingin menanyakan itu, Kim Ssaem masuk dan kelas hening seketika.

Jam istirahat tiba. Alih – alih berlarian ke kantin menyusul Baekhyun dan Chanyeol yang sudah histeris, Kyungsoo memutuskan tidak ke kantin dan menyusul Jongdae – Jieun di perpustakaan. Mereka berdua tengah menyelesaikan tugas dan belum bisa ke kantin, mungkin bergabung dengan murid pintar bisa sedikit memberi pencerahan bagi Kyungsoo.

“Aku mendapatkan notes itu lagi,” Kyungsoo membuka pembicaraan yang sedari tadi hanya fokus dengan buku masing – masing. Mendengar kalimat Kyungsoo sontak Jieun dan Jongdae menaikan pandangannya membuat kaca mata mereka turun ke pangkal hidung. Oh lihatlah, dua sahabatnya ini sungguh terlihat jenius –Kyungsoo tidak tega menyebut mereka nerd.

“Wow,” hanya itu yang Jongdae gumamkan.

“Dimana kali ini kau dapatkan?” Jieun bertanya, dia bahkan menutup bukunya. Ini yang Kyungsoo suka dari Jieun. Terkadang dalam persahabatan lelaki butuh satu perempuan sebagai penengah dan membuat suasana kembali damai.

“Kali ini dia tempel di pintu lokerku,”

“Berarti dia menyadari perbuatannya kemarin melanggar norma,” ucap Jongdae sambil kembali larut dengan bolpoin dan bukunya. Lelaki yang satu ini, memang.

“Seperti apa tulisnya sekarang?” Jieun kembali bertanya. Kyungsoo merogoh sakunya, kemudian memberikan notes itu pada Jieun.

“Kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu dan mengingatmu seperti aroma coklat. Manis, ketahuilah perempuan sangat menyukai coklat. OMG, aku harap Baekhyun tidak membaca ini,

“Kenapa kau malah memikirkan Baekhyun?”

“Aku tidak perlu memikirkanmu karena kau sudah pasti tetap tenang kalau Baekhyun-”

“Dia sangat heboh tadi,”

“Kalau tidak begitu bukan Baekhyun namanya,” Jongdae ikut menimpali dibalik tugasnya.

“Ada seseorang menyukaimu Kyung, lihat manis sekali dari cara dia menulis notes ini. Jangan tanya lagi isinya,” Jieun mengembalikan notes itu.

“Tapi aku masih memikirkan kejadian tempo hari dia menyimpan ini di lokerku,”

Jieun terdengar menghembuskan nafas panjang. “Kau ini lelaki tapi banyak memikirkan hal kecil, Kyung,”

“Baekhyun juga bilang seperti itu tadi,”

“Asumsikan saja kemarin kau lupa mengunci pintu loker dan ketika perempuan itu akan menempelkan notes, pintu lokermu terbuka. Mengambil kesempatan, perempuan itu langsung menempelkan pada bukumu. Lagi pula tidak ada bendamu dari loker yang hilangkan? Berarti bersyukurlah karena perempuan itu bukan klepto dan masih tahu norma, meski sudah melanggar privasi,”

“Kau berniat memberiku hipotesa positif tapi kalimat terakhir membangkitkan lagi masalah awal,”

“Ya, intinya anggap saja kemarin itu kau lupa mengunci lokermu, itu bisa saja terjadi bukan?”

Kyungsoo tidak langsung menjawab pertanyaan Jieun, beberapa detik dia berfikir tapi kemudian setuju. Bisa saja memang kemarin dia lupa. Kemudian Kyungsoo mengangguk sebagai jawabannya.

“Jadi apa yang akan kau lakukan?” tanya Jieun lagi.

Kyungsoo kembali terdiam. “Aku juga tengah memikirkan itu dari tadi pagi, apa yang harus aku lakukan. Baiknya bagaimana menurutmu Jongdae?” Kyungsoo mengalihkan padangannya pada Jongdae meminta pendapat.

“Sederhana saja, jawab notes dia dan katakan mari bertemu secara terbuka, aku lebih suka serangan terbuka. Mencitai seseorang secara anonim itu seperti berselancar di dunia maya, tidak jelas,”

Kyungsoo tidak pernah tahu kapan terjadi chemistry sangat kuat antara Jongdae dan Jieun. Melihat mereka sekarang singkron dari mulai cara berfikir dan lihat, sekarang mereka bahkan berbagi highfive dan tersenyum bangga. Oh, Kyungsoo melewatkan momen dua temannya ini.

“Aku setuju dengan ide Jongdae, lakukan seperti lelaki yang sering kau bicarakan itu,” Jieun berhenti melanjutkan kalimatnya karena tertawa sebentar, “Ajak dia bertemu dan lakukan pendekatan seperti layaknya remaja,”

Kyungsoo tertawa pelan, “Sejak kapan kau dan Jongdae jadi sangat kompak seperti ini?”

Kali ini mereka berdua yang tertawa –Jongdae dan Jieun. “Kau harus tahu Kyung, aku dan Jieun ini terkenal di kelas. Kami duo paling sukses, tunggulah pengumumannya mungkin kami berdua akan menjadi dua murid paling genius di sekolah ini,”

Yups! Aku posisi 1 paralel dan Jongdae posisi 2,” Jieun mengamini kalimat Jongdae, tapi Jongdae terlihat tidak setuju terlihat dari cara dia memutarkan bola matanya –ekspresi malas.

“Awas, nanti Baekhyun berfikir yang tidak – tidak dengan kalian,”

“Dan jika itu terjadi aku akan mengakhiri persahabatan ini dengan bedebah itu,” ucap Jongdae namun Jieun nampak membela kekasihnya dengan segera menepuk pundak Jongdae cukup keras sampai membuat si empunya mengernyit.

“Kembali pada masalahmu, bagaimana?”

“Tapi Ji, sepertinya aku tahu siapa yang mengirim notes ini,” jawab Kyungsoo sontak kalimat ini membuat Jieun ber-wow ria dan Jongdae meninggalkan bukunya.

“Siapa?” tanya mereka bersamaan.

“Aku jelaskan dulu kronologinya kenapa aku berasumsi itu dia,” dua temannya mengangguk setuju, Kyungsoo melanjutkan kalimatnya. “Setelah notes pertama kemarin, bubar sekolah ada seseorang mendatangiku dia meminta maaf wajahnya seperti takut dan kikuk didepanku. Sayangnya kemarin aku tidak bisa mendengarkannya selesai bericara karena ada masalah mendadak. Lalu hari ini dia mengirimkan notes tentang coklat,” Kyungsoo mengayunkan notes itu, “Dan kemarin aku bertemu dengan orang yan sama yang aku temui ketika pulang sekolah di toko coklat dimana aku makan disana, aku semakin yakin itu dia.”

Wow, lumayan masuk akal. Jadi siapa itu?” tanya Jieun lagi.

“Ehm, dia murid tingkat satu,” ucap Kyungsoo, Jieun dan Jongdae mengangguk antusias. “Namanya Kim Yeri,”

Oh ini bodoh, seharunya Kyungsoo tidak secara lugas mengungkapkan spekulasinya. Jongdae dan Jieun terdiam setelah Kyungsoo menyebutkan nama itu, mereka berdua nampak berfikir seakan nama Yeri adalah nama perempuan yang mereka kenal, saling pandang kemudian kembali memandang Kyungsoo.

“Murid tingkat 1 namanya Kim Yeri? Dia anak 1-4 kan?” Jieun bertanya.

Kyungsoo menggerakan bahunya, dia tidak tahu kelas berapa tepatnya dia, tapi kenapa Jieun bisa tahu? “Kau tahu dia?”

Jongdae berdiri dari duduknya, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru perpustakaan, kemudian kembali duduk menatap Kyungsoo. “Apa Yeri yang itu yang kau maksud? Perempuan berambut berambut hitam pita pink polkadot yang sedang tertawa dengan temannya? Yang itu,” ucap Jongdae sambil menunjuk sosok perempuan dengan sudut matanya.

Kyungsoo dan Jieun mengikuti arahan petunjuk mata Jongdae. Kyungsoo menyipitkan matanya menatap seksama perempuan itu, dan Kyungsoo merasa itu memang sosok Yeri yang dia temui tadi. Ya, dia yakin itu.

Kyungsoo mengangguk, “Ya, itu dia.”

Jongdae dan Jieun saling bertukar pandang, mereka tidak merespon kalimat Kyungsoo malah larut dalam tawa tertahan dibalik buku mereka kerena tidak ingin melanggar peraturan perpustakaan menyisakan pertanyaan dalam benak Kyungsoo.

Siapa Yeri itu?

– To Be Continued –

Noted : Ya ampun, ini lucu banget chapteran update 1 bulan sekali, maafkan diriku ini, hahhaaa…. sebenernya kemaren sebelum lebaran pengen posting tapi ga keburu mulu. Jadi baru sempet sekarng, semoga masih pada inget sama FF ini, masih pada inget sama Ryu – Kyung. Aku ga bisa janji cepet2 posting lagi, tapi chapter 4 on progress ^^

Leave your review guys,

67 thoughts on “Classmate : #3 Class – Somebody!

      • KA IKAAAAAA LET’S TAKE A LITTLE BREATH, BERSIAP-SIAPLAH DENGAN TEBARAN KAPSLOKKU YAK UWIUUU

        FIRST, WANJAY LAH KAK KARAKTER MAS KYUNGNYA SUMPAH PACARABLE BANGET, GASALAH LAH JEAN MEMILIHMU YHA MAS HUHUHU GAKUKU GANANA ;;-;; /kemudian baper/

        terus ini kayaknya ingatanku yang memang buruk. jadi si sujeong dan ayahnya teh tidak benarbenar ada masalah dan masalahnya ada sama ibunya? oooooooooooooo……..

        “Baiklah. Aku tidak bisa memilihmu Baek karena kau sudah milik Jieun. Dan aku juga tidak mau pusing berpacaran dengan Kyungsoo, hhahaha.. ” –> sujeongnya sok gamau iya kan mas kyungnya udah sama akoh /peluk/

        sumpah ka padahal pas baca teh tiap kalimat ada yang mau dikomentarin, giliran masuk kolom komen…….wasalam….

        dan yhak tolong JONGDE-JIEUNNYA KO UNYUK BINGGO HUHUHU BUAT SIDE STORYNYA MEREKA KAAAK HUHUHUHU SEBAGAI DUO JENIUS (?)

        TERUS YERI TEH NUGU? ADEKNYA JONGDE? ETAPI ADEKNYA JONGDE KAN JEAN. TAPI MEREKA KALO JADI ADEK JUGA UNYUUUU /kai ka mabok/buang aja tifa kepelukannya bang dyooo/

        terlepas dari si sujeong karakternya unyu juga, soso an tanya bekhyun, soso an gamau jadi pacarnya awas aja kalo nanti jadian end kamu mba end sama akoh…..
        …..tapi ko yha kaaaa, si sujeong ini teh di rl bisa main gitar juga jebhaaaal…….hiks untung bang dyonya ga bisa….bhaaaak…..menggelinding…..

        dan sekian sampah dari saya, salam cinta dan sayang selalu utk babang dyo dan kaka jongde serta nyonya jieun yang tak pernah terganti…
        bye
        xx jongdae’s sister and dyo’s❤ tifaa

      • Doh jangan sebut2 Jean disini tif, disini area Kyung-Ryu, wkwkwkkw

        beneran dah aku ketawa sendiri pas nulis part Jongdae sama Jieun, ngebayangin mereka berdua cute banget. Terus IU rambut item panjang kaya di producer lengkap dengan kaca mata frame item,
        hahah
        lucuk lah,

  1. halloow kak ikaa..
    duh chapter ini greget banget deh kak. salut banget sama kakak yg ngejabarin interaksinya sujeong dan kyungsoo. berasa asik banget gitu, dan gak canggung seperti percakapan biasanya antara cewek dan orang yang dia suka. jadi makin suka sama karakternya sujeong disini ^^

  2. Udah lupa ada masalah apa ya di keluarga ryu(?) Tapi ttp nyoba inget dan ga bisa X_X
    Ah cie kyungsoo salah ngira orang😄
    Itu kenapa pas mau tbc jieun sama jongdae ketawa-ketawa setelah nunjuk yeri? Jadi makin penasaran aja >< Haha
    Ditunggu chapter selanjutnya ya~^^

  3. kan tadi si ryu nulis pake spidol biru lah kenapa jadi warna hitam tintanya?

    heleh…
    hhhhwwwwaaa aku mh gk bakal lupa ama ff ni.. apalagi cast’a my oppa hhhuuuu
    tapi aku harap di post lanjutnya gk lama” yh

  4. Kyung jgn mikir dulu kalo Yeri yg ngirim notenya… bisa aja Yeri ga ada maksud apa-apa.
    Sebulan sekali :’) ditunggu ya kak. Asal jgn berhentu di tengah yaa
    Fighting!

  5. Yeri red velvet, do kyungsoo hahahah. it’s like the real do kyungsoo anyway. i can’t stop smiling when i read this cutie-pie story

  6. Aku ngga tau kenapa kasian sama sujeong, gimana ya… Sumpah kyungsoo ngga peka bangett, malah mikirin orang lainn-_- ya mungkin kalok aku jadi kyungsoo juga bakalan nebak yeri cuman kasian aja sujeong. Ngga di akui:’)) sabar yaa sujeong. Dan aku merasa kehadiran yeri adalah gangguan besar buat hubungan kyungsoo sama sujeong, ya semoga aja hubungan mereka bisa lancarXD semanagat nulisnya ya kakk

  7. Omoo… kak ika… keren (Y)

    Kyung… aku menyukainya..

    lalu kenapa mereka menertawai Kyungsoo? ada apa dengan Yeri?? di tunggu…

    I Love this story ^_^

  8. Hidup sujeong beruntung banget di chap ini, manse terimakasih telah membuat kisah cinta kakakmu naik level /mungkin. Deskripsi tentang pita polkadot yeri, entah kenapa aku lgsung membayangkan kalo gaya rambut dia kya di Mv ice cream cake haha.
    Ey, ada apa dg Yeri emangnya kak? Knp jongdae sama Jieun gak nanggepin kyung gtu pas nanyain Yeri /ini pasti rahasia lah .
    Udah ya kak segitu aja komen nya😀, yg jelas chap ini meruntuhkan badmoodku yg tinkatnya lebih tinggi dr burg khalifa /apadah ini😀 . Dan kak, sepertinya 5 postingan comeback kakak /? Bakal aku jadiin bekal deh. . Haha

  9. Manisnyaaaa… Kyungsoo walau pinter dalam masalah perempuan tapi tetep aja lamaa…. Cieee sama sujeong kencan ciee
    Tapi jnapa mesti yeri yang di pikir sebagai pengirim sih, yahh nanti makin salah aja lagi persepsi kyungsoo
    Ditunggu yaaa nextnyaa hihi

  10. ryu mirip banget sama aku ding.-. ngasih2 notes.. trs becanda ngetawain doi gr2 dapet gituan *huk*
    tp doi mah orgnya beda sama kyung -..- #malahcurhat
    keep writing ya^-‘)9

  11. Uwaaaa sujeong banyak kemajuan… selamat! selamat! selamat!
    kyungsoo ini salah paham sama yeri mulu,tapi chapter depan engga lagi kan…
    aduh sebenernya aku udah lama ga check wp kamu tp pas buka wp ff exo ada post kamu aku jdi inget ini hahahah semakin menarik dan semoga kyungsoo cepet nurutin saran jongdae ya
    semangat buat sujeong! bua author juga ya😀

  12. akhirrnyaa ff yang aq tngguin dteng jg,, hehehe. congrat bwt sujeongnya udah ada kemajuann lebih ketahap yg lbih dket lah ama kyung. yaahh si kyung salah paham ama yeri, dikira yeri yg ngrim suratnya. tapi aq masih penasaran sampe sekarang kenapa ya yeri nyamperin kyung?? mau ngpain yaaa? buat sujeongnyaa majuu terus jgn mndurr biar bsa dket ama kyung. kayaknya seneng bgt deh si sujeong akhirnya bsa canda2an bareng pujaan hatinyaa .. : )
    buat kak ika, fighting yaa untuk nulis kelanjutan ff ini dn juga krya2 yg lainnya. dtnggu bwt klnjutan crta ff ini dan ff lainnya. suka bgt dgn tulisan dn pnggunaan bhsa pd ffnya, menarik, lucu ad komedi2 nya yg bsa mnghbur, bkin pnsran, dan juga ad sweet2nya…. hehehehe

  13. anyeong
    wooaaaw , emang deh nasib sujeong , yang pertama minta maaf yeri , keduanya ada yeri juga pas sama kyungsoo , kekeke
    bikin penasaran deh , nggak mungkin kan kyungsoo ma hyeri dulu , terus akhir2 ketahuan deh ,, hehe

    @_@+fighting

  14. Mood gua tdi lagi down awalnya.. Eh iseng liat blog lu kak ternyata ff nya udah dilanjut..XD mood nya langsung naik yawoh…XD
    ohya kak maafkan daku gegara jarang mampir dsini..:’v gk sempet mulu..e.e

    eh yah Sujeong azek/? Banget itu ngedate uhukdadakanuhuk sama Kyungsoo..:v seneng eyaak..:v hubungan sama Kyungnya juga ada kemajuan.. Oho..

    btw Kyung salah paham masalah notenya ngeh..:’v
    trus yah yeri sebenernya knapa.? Ampe jieun jongdae reaksinya begonoh.?

    Yaudah lah yah dtunggu aja lanjutannya..
    Fighting terus akak..^^9

  15. miannn…
    sempet lupa memang,,,tapi pas baca lagi..langsung triiinggg..inget lagi,,,hehehe
    cerita nya manis…
    but..yeri will be part of the story?
    hmm..nampak akan berliku kisah cinta kyung nya,,,heheheh
    sukaaa…
    manis ceritanya kaya coklat,,,wkwkwkw
    gomawoyo..

  16. Apa ada hal yang diketahui jondae dan jieun tentang Kim Yeri itu sampai tawa mereka hampir meledak
    Ok lah q tunggu aja kelanjutannya

  17. eeeee..😁
    Sujeong nge date juga ama abang diyo nyaaaaaaaaaaaaa…ahahaha,chukae sujeong *jingkrak bareng sujeong*😂*blankD.O**pasang petasansuper*🎆🎇

    tapiiiiiiiiii,

    Kenaapa jadi yeri bang???
    Yah,parah nii aalamat galau dah sujeong..*baper**hiks*😱😭😢
    asli aku ga suka yeri,penasaran banget kelanjutan cerita kamuu apreel..*always*
    Ditunggu chap selanjutnya yaaaaa..
    si yaaa

    p.s Maaf baru sempet komen,jam segini pulak and its meeh apreel,Im Janne

    Xoxo

  18. Kak ikaa!!
    Akhirnya kakak kambek jugaa. aku sering ngecek luminosky, but masih belum ada tanda-tanda fic baru. Dan yah seneng banget waktu kakak sekali update, langsung sekalian banyak gitu😀
    Tbh, aku ini baca udah kelewat lama yahh. Dan waktu aku cek lagi kesini, kukira aku udah komen. Eh ternyata belum hoho.
    Oke, jadi Sujeong udah berhasil naik ke level selanjutnya gitu ya haha. Kesempatan dalam kesempitan.😄 Tapi masa mas kyung ngira yang suka dia plus yang ngirimi surat rahasia itu yeri. Kebetulan yang entah kenapa pas banget. Dan endingnya itu makin bikir penasaran kak, kenapa jongdae sama jieun ketawa waktu bahas yeri? ahhh penasaran.
    Ditunggu chap selanjutnya kak!😀
    pat

  19. OH NO!!!!!! itu bukan yeri, kyungsoo!! yg ngirim notes itu bukan yeri, tapi sujeong!!! kyungsoo plis deh jangan asal berasumsi gitu. hah, aq jadi sebel sendiri.

  20. Ciee… Yang lagi kencan #ehm
    Itu si kyungsoo masih nggak ngerti juga???? Astaga…. Trus sbenernya ada apa dengan yeriiii???

  21. pas nyari letter from nowhere tidak sengaja nemu ini… bahagianyaaaaaa….
    aku selesaiin baca letter from nowhere dulu deh baru ke sini…
    jangan kaget ntar komenku nongol di ff terdalam… blog ini bakal aku bongkar semalaman.. hohoho ^^v

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s