Ended, without Starting!

qe.

Kalimat mengatakan, bahwa selalu ada perpisahan untuk sebuah pertemuan, itu adalah harga yang harus dibayar dari sebuah pertemuan. Tapi mungkin jika perpisahan itu datang, setidaknya apa yang kita bayar dengan datangnya perpisahan sudah pernah kita rasakan manisnya waktu selama masa pertemuan. Sebuah simulasi sebab – akibat yang mungkin akan meninggalkan jejak manis dalam lembaran buku hidupmu.

Kemudian hati ini bertanya dalam kehampaan, bagaimana bisa sebuah perpisahan terjadi bahkan tanpa ada sebuah pertemuan? Semua bahkan belum menemukan cerita manis untuk selalu kita kenang -ah tidak mungkin ada tapi tidak terlalu banyak, tapi kemudian perpisahan datang. Atau mungkin aku sebut saja sebuah akhir, bukan perpisahan.

Sebuah akhiran yang datang bahkan ketika permulaannya saja belum dimulai.

Tapi bagaimana bisa hati ini mendeskripsikan bahwa itu adalah sebuah akhiran atau perpisahan? hah, siapa yang tidak akan dengan mudah menuliskan ini berakhir ketika bahkan satu persatu tanda muncul dihadapanmu. Ketika kau terbiasa bangun pagi, tapi kemudian kau tidak bangun lagi bukankah itu sebuah akhir?

Sama halnya dengan kondisi, bagaimana jika terbiasa saling melempar senyum, menulis cerita baru setiap hari, menghabiskan waktu bersama, kemudian kebiasaan itu hilang dan terganti menjadi bisu. Dan kemudian sepasang asing datang menjadi sosok baru.

Hah! akhir ini bahkan mengubah mereka menjadi dua orang asing yang sepertinya belum pernah mengenal satu sama lain. Mereka bahkan lupa, hitungan bulan yang pernah mereka habiskan bersama. Apalagi kalau bukan sebuah akhir?

Cerita ini berakhir bahkan sebelum memulainya.

END.