See You Again

see you again

SEE YOU AGAIN | by Apreelkwon
Irene | Romance – Fantasy  | T | Oneshot

Summary : Padahal Irene selalu tidak menyelesaikan tugasnya hanya untuk menunggu penghujung musim semi, tapi sekarang…


“Sampai nanti!”

Dari ribuan kalimat yang pernah dia dengar, Irene selalu merasa tubuhnya bereaksi berlebihan ketika mendengar seseorang yang mengatakan kalimat itu. Sampai nanti, terdengar seperti undangan yang harus dipenuhi bagi Irene. Undangan agar mereka bertemu lagi dan Irene harus memenuhinya.

Sosok itu tersenyum begitu tulus. Setelah mengucapkan salam perpisahan, dia berbalik dan siap meninggalkan tempat itu. Sebelum melangkah jauh, Irene meraih tangannya membuat dia kembali berbalik dan menatap Irene penuh tanya.

“Kita akan bertemu lagi bukan?” tanya Irene dengan wajah berbinar, senyumnya bahkan mampu menularkan sengatan bagi siapapun yang melihatnya. Termasuk sosok lelaki didepannya yang tengah Irene genggam erat tangannya.

Dia melepaskan genggaman Irene, merunduk untuk menyamakan tinggi badan mereka kemudian mengangguk sambil tersenyum yang membuat kedua matanya menyipit sempurna. “Tentu, kita pasti akan bertemu lagi,” jawab lelaki itu.

Irene puas mendengar jawabannya. Dia tersenyum, kemudian ikut mengangguk. “Kalau begitu, sampai nanti Lee Jinki.”

Jinki melangkah pergi, sedangkan Irene masih mematung menatap sosok itu lamat sampai akhirnya hilang dari pandangannya. “Ah, Lee Jinki membuat musim semi menjadi menyenangkan bagiku,” ucap Irene sambil melangkah pergi dari tempat itu, tidak lupa dia meraih ransel besar yang selalu dia bawa kemana – mana, ransel yang berisi tugas – tugas untuk segera diselesaikan.

.

.

Ketika matahari terbenam sempurna, Irene akan memacu langkahnya menuju tempat tinggalnya. Sebuah bangunan bertingkat dengan banyak kamar disananya karena memang bukan Irene saja yang tinggal disana, ada banyak yang lainnya.

Berkumpul di aula dengan ransel dimasing – masing punggung, adalah hal rutin yang selalu dilakukan penghuni bangunan itu. Mereka akan berbaris rapih, satu persatu menunjukan isi ransel mereka pada mereka yang bertanggung jawab baru bisa beranjak kekamar untuk beristirahat. Semua temannya tampak tidak ada masalah, toh tugas mereka selesai dengan sempurna.

Berbeda dengan Irene, ketika barisan semakin maju yang membuatnya semakin memasuki bagian dalam ruangan dia mulai merasa khawatir dan terus memutar scenario lainnya untuk lolos –lagi dari pemeriksaan.

Apa lagi –bisik Irene.

Dan gilirannya tiba.

Perempuan dengan pakaian putih hitam berdiri didepannya, dia tersenyum tapi Irene merasakan senyuman itu bagai gertakan.

“Bagaimana denganmu hari ini Irene,” ucapnya.

Irene tersenyum kemudian mengangguk hormat. “Aku selalu melakukan yang terbaik untuk keberlangsungan musim ini,” jawab Irene lembut. Anakan rambut yang ujungnya berwarna Pink bahkan mengikuti gerakan lembut Irene –dia mencoba tenang.

“Terdengar bagus, jadi apa tugasmu selesai?”

Irene masih ingin melanjutkan akting ala bangsawan terhormatnya, tapi pertanyaan itu membuat urat sarafnya kaku. Santai Irene, tinggal katakan alasanmu tadi, maka selesai. “Aku menyelesaikannya,” jawab Irene bangga.

“Kalau begitu, kau tidak keberatan kami memeriksa tas mu itu,”

“Tentu,” jawab Irene sambil menyerahkan tasnya.

Sama seperti yang lain, mereka membuka tas Irene. Memeriksa beberapa item didalamnya, memeriksa dengan apa yang mereka miliki. Satu persatu merek cek. Irene yang merasa tidak sabar dan khawatir, ingin mengatakan sesuatu untuk klarifikasi. Tapi belum sempat Irene mengeluarkan pembelaannya, perempuan tadi kembali tersenyum.

“Kau pasti sangat kesulitan Irene,”

“Ehm, sebenarnya-”

“Bagianmu memang sedikit sulit, jadi kami memahaminya kali ini,” potong perempuan itu kemudian mengembalikan tas pada Irene lalu melanjutkan pada perempuan lain dibelakang Irene.

Selamat –batin Irene. Tidak mau memikirkan banyak hal dan berlama – lama di ruangan itu, dengan segea Irene berlari menuju kamarnya yang berada dilantai tiga.

“Aneh mereka tidak banyak bertanya padamu malam ini Kak?” tanya satu suara yang tiba – tiba sudah berada disamping Irene. Perempuan ujung rambut berwarna hijau yang posturnya lebih tinggi dari Irene meski umurnya jauh lebih muda.

“Entahlah, padahal aku sudah menyiapkan alasan lebih logis,” jawab Irene.

“Kenapa Kakak masih belum menyelesaikan tugas itu,”

“Kau tahu alasannya Joy,”

Perempuan rambut hijau bernama Joy itu menghentikan langkahnya kemudian menggenggam tangan Irene erat. “Demi serbuk pixie yang aku rindukan, kau masih menemui lelaki itu?”

Irene melepaskan genggaman tangan Joy kemudian mengangguk sambil melanjutkan langkahnya. “Kau akan mengerti jika berada diposisiku, aku tidak bisa melepasnya Joy”

“Tapi kau harus bisa, kau ingat sekarang bulan apa kak?” tanya Joy tapi belum sempat Irene menjawab Joy sudah melanjutkan kalimatnya. “Bulan Mei segera berakhir, Musim panas akan segera tiba, kau masih belum mengerti maksud kalimatku selama ini?”

“Aku tahu,” jawab Irene. Dia membalikan badannya kemudian menangkup kedua sisi wajah Joy dengan gemas. “Aku tahu dear, maka dari itu sebelum musim semi berakhir biarkan aku mengisi dengan banyak kenangan manis,”

Joy menghela nafas panjang yang diikuti gerakan tangan melepas tangan Irene. “Kau yakin itu kenangan manis? Bukan kenangan yang akan membawa tangis?”

.

.

“Bunga itu kalau dia perempuan, dia adalah yang terpopuler dikalangan laki – laki,”

Mereka tengah terduduk ditaman kota dengan menikmati ice cream, ketika Irene membahas tentang nama bunga – bunga yang tengah bermekaran pada Jinki. Seperti apa kata Irene kemarin, kalimat Jinki adalah undangan yang harus Irene penuhi. Maka dari itu, hari ini –setelah Jinki selesai dengan jam kantornya mereka kembali bertemu ditaman kota.

“Kenapa?” tanya Jinki sambi memainkan sendok ice cream di bibir yang menurut Irene sungguh lucu.

“Serbuk sarinya paling manis, serangga mencintai bunga itu,”

Jinki mengangguk setuju. “Kau tahu banyak tengan bunga, apa kau seorang Florist?

“Tidak, aku hanya terlalu mencintai bunga. Ah, mungkin harus mencintai bunga,” jawab Irene yang mendapat respon anggukan dari Jinki. “Jinki, dari semua musim kau paling suka musim apa?”

Jinki terlihat berfikir sebelum menjawab pertanyaan Irene yang sebenarnya mudah. “Ehm, Musim semi,” jawab Jinki. “Aku suka musim semi, karena tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas,”

Irene tersenyum kemudian mengangguk antusias mendengar jawaban Jinki. “Kau benar, musim semi adalah yang terbaik. Sinar matahari, bunga – bunga bermekaran. Bukankah akan bagus kalau selamanya musim semi,”

“Nampaknya kau sangat mencintai musim semi dan anak – anaknya, Irene”

“Bisa dibilang begitu,”

Jinki meletakan cup ice creamnya yang sudah habis kemudian menghela nafas panjang sambil menatap langit yang mulai menguning. “Kau tahu? Aku punya pengalaman buruk dengan Musim semi. Aku menyatakan cinta pada orang yang aku cintai musim semi tahun lalu, tapi dia menolaknya. Yang lebih menyakitkan adalah dia bilang dia menolak karena akan segera menikah. Menyakitkan bukan? Patah hati ditemani bunga yang bermekaran. Sangat kontras. Seharunya aku membenci Musim semi, tapi aku tidak bisa,” Jinki menghentikan kalimatnya kemudian beralih menatap Irene kemudian menggenggam erat tangannya. “Kau akan mengerti ketika merasa sakit tapi bahagia membuat orang yang kau cintai berbahagia, itu akan semacam ehm…” Jinki menggerak – gerakan kepalanya berfikir mencoba mencari kalimat yang tepat, “.. Ending twist, dalam Novel,”

Ungkapan rasa sakit dari masa lalu Jinki. Irene mendengarnya, dia merasakan seperti apa perasaan Jinki. Jika itu baru terjadi tahun lalu, bisa dikatakan luka dihatinya belum sembuh. Ah, apa Irene sekarang sedang berharap menjadi penyembuh luka itu? Lucu sekali –batin Irene.

Matahari mulai bersembunyi, semburat jingganya semakin kentara dan lampu – lampu taman mulai dinyalakan. Jinki bangkit dari duduknya membuat Irene juga melakukan hal yang sama. “Sudah sore, sebaiknya kita pulang,” ucap Jinki.

Irene mengangguk. Mengikuti langkah Jinki, mereka berjalan meninggalkan area taman. Untuk pulang Jinki harus menggunakan Bis jadi mereka akan berjalan bersamaan menuju halte bus. Meski sebenarnya Irene tidak perlu menggunakan Bus untuk pulang.

“Jadi apa kita akan bertemu lagi besok?” tanya Irene ditengah langkah mereka.

Jinki nampak bergumam, mengingat jadwalnya. “Aku rasa untuk satu minggu kedepan kita tidak bisa bertemu,” jawab Jinki.

Mendengar jawaban Jinki sontak Irene menghentikan langkahnya. Satu minggu? “Kenapa?”

“Aku ada tugas dinas keluar kota dari kantor, prediksi satu minggu tapi mungkin bisa bertambah. Ah, mungkin ketika aku kembali kita sudah tidak bisa merasakan pertemuan musim semi,” ucap Jinki sambil tersenyum.

Irene hanya ikut terseyum.

Bis yang akan membawa Jinki pulang berhenti tepat didepan mereka. Bangkit dari duduknya seperti biasa, melemparkan senyum manis kemudian Jinki melemparkan salamnya, “Sampai nanti Irene,” kemudian beranjak menaiki bis.

Irene tidak menjawab salamnya. Sampai nanti? Kapan? –batin Irene. Jinki tidak akan disini selama satu minggu kedepan. Yang artinya di penghujung musim semi mereka tidak akan pernah bertemu, yang berarti hari ini adalah pertemuan terakhir mereka?

“Padahal aku tidak pernah menyelesaikan tugas dari mereka, karena ingin menunjukannya dipenghujung musim semi padamu,” ucap Irene. “Selamat tinggal Lee Jinki,”

Dan kemudian kata Sampai Nanti menjadi begitu getir diteliga Irene. Kenyataan Jinki tidak akan disini selama penghujung musim semi, mebuat Irene merasa perjuangannya sia – sia. Sepanjang musim semi ini, dia selalu menyembunyikan serbuk bunga terbaik untuk dia tiupkan di penghujung musim dan membuat Jinki bahagia juga mencintai musim semi buatannya. Setiap sore ketika matahari terbenam dan para penanggung jawab memerika benih Irene, dia harus berkelit dari penyitaan dan pemindahan area, semua demi Jinki. Hah, sayang sekali.

Kalau sudah begini apa yang bisa Irene lakukan? Mungkin dia akan menebar semua benih yang dia simpan. Musim semua tinggal beberapa hari, tapi hari ini Irene sudah melakukan perpisahannya dengan Jinki. Di saat musim semi berlalu, Irene dan kelompoknya akan berhenti bertugas sampai musim semi selanjutnya. Karena itu tugas dari para Peri Bunga. Ya, Irene adalah salah satu dari Peri Bunga, Mahluk musim semi.

 .

.

-Kkeut.

Noted : Hahaha, asli ini crack banget tiba – tiba bawa Irene sama Jinki, apa dah. Belom lagi ceritanya cem gini, hahahaha. Entahlah, lagi pengen nulis tapi otak sama jari ga sinkron hasil kaya gini.

18 thoughts on “See You Again

  1. hhmmm…
    musim semi akan dimulaaaiii ^_^
    hehehehe…
    ngebayangin wajah irene jadi peri nya pas banget ya…
    what a sad story but is has to be like that,,,hehehehe…
    gomawoyo…

  2. Okee yang bikin kagol akut akut banget di sini adalah pendek dan ending yang gantung bin agak sad” gimana (?)
    dan seperti biasa, setelah menjadi penggemar rahasia blog kamu aku selalu kasih jempol😀 ceritanya keren. Tulisannya unik, bisa masuk ke dalam cerita dan tentunya bahasanya renyah banget😀
    dan maaf, sepertinya ini komentar pertama saya. Yah bisa dibilang saya termasu silread :v

  3. jadi irene itu bukan manusia? dia peri? ok…
    sebelumnya maaf ya eon, tapi ending ceritanya itu bener benr gk sesuai harapan ku. but its okey, aku suka alur ceritanya keliatan manis bgt.😀

  4. hai hai hai kak Ika..
    aku datang kembali/?😀

    kak, ini terinspirasi dari Barbie nggak sih?? mirip-mirip gitu ya
    Irene emang cocok jadi peri
    mukanya luwes/? gitu😀

    What a sad story T.T
    kesian Irene ya
    bagus kak😀 keep writing ya😀

  5. Tapi ini ini tetap indah ka, meskipun otak sama jari kamu gak sinkron pas nulis ini ceritanya tetap enak untuk dibaca.

    awalnya aku gal ngerti tugas Irene yg gak ia kerjain itu apa, ternyata ia semacam pengurus bunga atau taman gitu..

    perpisahan yang indah dan andalemi, tiap baca tulisan kamu aku selalu pengen nulis juga. hheu kyak kamu nyodorin makanan terua aku laper karena kamu nunjukin makanan itu.

    semangat Ika!!! ^^

    • Ya ampunn, makasih ma,
      hahahaha
      ya begitulah, Irene semacam peri yang bertugas memekarkan bunga – bunga di musim semi. Dia ga buru2 selesai-in karena ga mau pisah sama Jinki,

      aduh,
      sok atuh kamu nulis lagi,
      ^^b
      Semangat

  6. Gampang ngebayangin irene jadi peri, karena emang cocok, hehe
    Endingnya sedih ya, tapi tetep suka :v
    Meskipun otak dan jari gak sinkron, tetep aja betah bacanya😀
    Good (Y)

  7. Emang betul Eon, ini crack!! Banget..
    Lanjutin dong Eon, jadi kayak Drabble Series gitu. Ini cerita menarik, apalagi si Irene jadi peri bunga. Dan hanya ada di waktu Musim Semi aja kan??
    Aku sudah berimajinasi sampai kemana mana; Jinki yang kembali dari dinas dan tidak bertemu lagi dengan Irene. Lalu mereka ketemu lagi di Musim Semi berikutnya..
    Betapa rusaknya otakku ini, Eon!!
    Keep Writing!

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s