Koyaanisqatsi 2/2

Koyaanisqatsi : Second Shot
Baekhyun – OC – Chanyeol | Thriller, Psychology | Two Shot | PG17
Summary:
Apapun alasan dia melakukan hal itu, semoga tuhan membakarnya habis di neraka, lelaki bernama Byun Baekhyun.

Koyaanisqatsiko.yaa.nis.katsi (from the Hopi language), n. 1. crazy life. 2. life in turmoil. 3. life disintegrating. 4. life out of balance. 5. a state of life that calls for another way of living.

Koyaanisqatsi first shot

Ilachan & Apreelkwon @2015


Byun Baekhyun –itu yang dibisikan intuisku saat kedua mata ini bersirobok dengan bayangan tubuh yang menggantung bebas di ujung kelas. Tapi otakku menolak. Ruangan ini terlalu gelap untuk menafsirkan siapa itu dengan jarak pandang sejauh ini. Logikaku juga menolak, bisa saja ini bagian halusinasi dari mimpi tadi dan membuat semua hal mengerikan adalah bayangan nyata Baekhyun. Tidak, ini tidak benar –bisiku dalam hati sambil menggelengkan kepala dengan ritme yang lebih cepat.

Itu Byun Baekhyun –lagi bisikan itu datang. Dengan langkah bergetar dan tangan yang mulai terasa kebas karena rasa takut ini, aku melangkah mendekati tembok sebelah pintu untuk menyalakan saklar lampu. Aku harap penerangan mampu menghapus semua halusinasi akibat mimpi itu, juga semua perasaan tidak menyenangkan ini. Ya, cukup nyalakan dan lihat yang sebenarnya terjadi.

Dengan susah payah, ujung jariku mendarat didinding kelas dimana saklar menempel. Harusnya dengan satu gerakan jentikan jari, semua akan menyala dan aku akan mendapatkan kebenarannya. Tapi aku tidak melakukannya. Pertahananku hancur, bisa kurasakan tubuh ini lemas tak berdaya. Nafasku berburu terjadi perlombaan antara udara yang masuk dan keluar. Dadaku berdegup kencang, tanganku kembali bergetar hebat dan aku bisa merasakan ada cairan hangat mulai mengalir di pipiku.

Menangis, apalagi yang bisa aku lakukan?

Sosok didepan itu terlalu jelas untuk aku tampik. Siluetnya terlalu familiar bahkan diruang gelap seperti ini. Postur tubuhnya sudah terlalu aku hafal tanpa harus aku pastikan dari jarak dekat. Dia Byun Baekhyun.

“Baekhyun­-ah…

Sambil terduduk pasrah dilantai kelas yang dingin, aku memanggilnya dengan suara bergetar disela takutku. Berharap dia hanya sedang melakukan lelucon kemudian akan mengakhiri semua ini dengan tawa kencangnya karena sukses membuatku ketakutan. Tidak ada jawaban. Hanya suara gesekan rumput dari luar sana yang menjawab panggilanku

Ya! Byun Baekhyun….”

Dia masih dalam di posisi yang sama. Kaki telanjangnya menggantung bebas, kedua tangannya ikut melakukan gerakan sama membentuk sebuah sinkronisasi dalam diam yang membuatku takut, cahaya dari luar ruangan kelas menempa wajah pucatnya yang terpejam, dia terlihat seperti tertidur.

Melihat semua itu aku rasanya ingin menangis, bukan, aku ingin berteriak kemudian lari dari ruangan ini dan segera mengunci diri dikamar. Melupakan kenyataan bahwa Baekhyun telah mengakhiri hidupnya. Tapi ketika melihat bayangan wajah Baekhyun, aku merasakan satu debaran menyakitkan. Ada rasa sakit, ketika melihat wajah putih pucat itu terpejam dengan begitu tenang. Seakan semua rasa sakit yang dia rasakan hilang dengan menjeratkan lehernya. Apa Baekhyun sebahagia itu dengan pilihannya ini?

Sontak semua ini membawaku kembali pada mimpi itu. Baekhyun dalam mimpi yang begitu frustasi dan menyedihkan, melemparkan tubuhnya dengan bebas melawan angin dari ketinggian yang tidak ingin aku tafsirkan. Dan didepanku, Baekhyun dengan wajah tenang mengakhiri hidupnya yang juga tidak ingin aku tafsirkan butuh berapa lama untuk menghilangkan nyawa yang bersemayam ditubuh itu.

Apa kedua Baekhyun itu sama? Apa mimpiku itu bisa diartikan? Sekarang apa yang harus aku lakukan? Tetap diam seperti ini sampai perasaanku baikan dan kembali kerumah? Atau haruskah aku menghubungi seseorang? Tapi perasaan gamangku terhenti, ketika kalimat yang Baekhyun ucapkan dalam mimpiku kembali terngiang.

“Hanya ada satu kondisi untuk saat ini. Jika kau ikut denganku maka penderitaanmu berkurang dan aku akan senang.”

“Maksudmu penderitaanmu.”

“Tidak. Tapi penderitaanmu. Kaulah yang akan menderita.”

Perutku mual ketika mengingat kembali apa yang terjadi didalam mimpi terutama kalimat terakhirnya. Baekhyun yang mengulurkan tangannya mengajakku melompat, kemudian ketika dengan lantang dia berkata bahwa aku yang akan menderita dengan menolak tawarannya.

Aku akan menderita? Kalimat ini tepat menusuk ulu hatiku. Menyebabkan satu kontraksi yang bahkan mampu melumat semua tubuhku. Aku rasa mimpi itu adalah sebuah pertanda, tapi apa gunanya pertanda jika muncul diwaktu yang telat seperti ini? Bagaimana aku bisa melakukan satu tindakan jika orang bersangkutan sudah kaku tergantung seperti itu? Sekarang tinggal aku disini.

“Kau cuci tangan dari semua masalah ini Baekhyun-ah,” ucapku dengan suara tertahan disela menahan semua rasa sakit yang tiba – tiba menjalari tubuhku. “Selama ini kau pura – pura baik – baik saja, nyatanya sekarang kau menikamku dari belakang Byun Baekhyun..”

Kalimat terakhir memberiku satu kekuatan. Dengan tubuh yang masih bergetar aku bangkit dari rasa takut dan kehilangan, sekali lagi kutatap sosoknya sebelum meninggalkan ruangan ini.

“Aku harap tuhan menyiksamu di Neraka,” dan entah dengan kekuatan dari mana aku berhasil menutup pintu kelas dengan satu sentakan.

.

.

Malam itu mungkin akan menjadi malam terpanjang dalam sejarah hidupku. Melupakan seragam yang masih aku kenakan, dengan segera aku mengubur diri dibalik lipatan selimut diatas tempat tidur. Aku tidak bisa terlelap sama sekali. Bayangan tubuh Baekhyun yang menggantung bebas, kemudian kilatan penggalan mimpi buruk itu, juga kenyataan yang akan menyambutku membuat tubuh ini terjaga sepenuhnya. Sakit rasanya menyadari kedepannya tinggal aku seorang.

“Setidaknya, sosokmu dalam mimpi masih memikirkan nasibku dengan mengulurkan tangan mengajaku terjun dari ketinggian. Sedangkan dirimu yang asli, meninggalkanku begitu saja,”

Dan semua penggalan demi penggalan itu menghamtam kepalaku sepanjang malam. Sampai kemudian satu ketukan pintu kamar menyadarkanku dari mimpi buruk tanpa akhir ini. Atau mungkin ketukan itu panggilan untuk aku menghadapi mimpi buruk?

Park Chanyeol berdiri disana ketika aku membukakan pintu. Penampilannya berantakan, wajahnya kusut, matanya merah, menyaksikan ini jantungku kembali berdegup begitu cepat. Hadapai kenyataan –bisiku dalam hati.

“Ada apa denganmu?” itulah yang pertama kali keluar dari mulut Chanyeol ketika dia menatapku dengan kedua mata bulatnya.

Aku hanya mengeleng untuk jawabannya.

Dia terlihat menepuk dahinya keras, kemudian menarik nafas panjang seakan berusaha mengisi parunya untuk yang terakhir kali. “Dengarkan aku, ini mungkin akan mengejutkan. Tapi aku harus memberi tahumu.”

Chanyeol memperpendek jarak kami berdiri, dia sedikit menurunkan tubuhnya untuk mesejajarkan tinggi badan kami, kemudian menangkup dua sisi tanganku dengan genggaman eratnya.

“Baekhyun. Baekhyun meninggal Najung-ah, dia ditemukan gantung diri didalam kelas semalam,” ucapnya dengan suara bergetar.

Aku tahu ­–ucapku dalam hati. Memejamkan mata secara paksa, kemudian aku merasakan bulir air mata kembali mengalir. Bukan, aku bukan menangisi kepergiannya tapi aku menangisi nasibku kedepannya. Chanyeol yang melihatku menangis segera memeluku dengan erat kemudian mengelus rambutku beberapa kali. Dia salah mengartikan reaksiku terhadap beritanya.

“Kau perlu ganti baju atau kita berangkat sekarang? Kita lihat dia untuk-” Chanyeol menggantungkan kalimatnya, kembali dia menarik nafas panjang kemudian bisa aku lihat matanya kembali basah. Aku tahu, Chanyeol pasti sangat terpukul dengan kepergian sahabatnya ini. “-kita lihat dia untuk terakhir kalinnya,” ucapnya dengan suara bergetar.

Melihat betapa sedihnya Chanyeol, hatiku kembali ngilu. Kekuatan yang dari semalam aku kumpulkan kembali hancur, setengah jiwaku hilang. Kusandarkan tubuhku pada dinding kamar dan tangis itu kembali pecah. Banyak yang ingin aku ucapkan, tapi hanya suara isakan dan tangis menyakitkan yang bisa aku keluarkan.

Chanyeol kembali mendekap tubuhku dan bisa aku rasakan dia juga ikut menangis. “Lihat, sudah dua orang dia buat menangis dengan pilihan bodohnya itu,” ucap Chanyeol disela tangis kami.

.

.

Kaki telanjangnya sekarang sudah dibalut sepasang kaus kaki dan sepatu yang akan membuatnya hangat. Itu sedikit melegakan, setidaknya aku tidak akan dihantui bayangan kaki putihnya yang menggantung ketika menyaksikannya tertidur seperti ini. Dia tertidur, dia sudah tenang, itu yang Chanyeol ucapkan. Dan aku membenarkan semuanya.

“Aku berharap dia tiba – tiba bangun kemudian berteriak Kalian tertipu! Dari pada melihatnya diam seperti ini,” Chanyeol menyuarakan perasaannya.

Aku melirik lelaki jangkung disampingku, dia masih tampak kacau seperti tadi pagi. Meski dengan susah payah dia mencoba menggambar seulas senyum diwajahnya. “Aku juga berharap seperti itu,” jawabku.

Chanyeol menepuk pundaku, kemudian memberikan satu senyuman. “Ayo, sudah cukup!” ucapnya kemudian melangkah keluar dari kamar duka.

Sebelum mengekor langkah Chanyeol, untuk terakhir kalinya ku tatap sosok tak bernyawa didepanku ini. Sosok Byun Baekhyun, matanya, hidungnya, bibirnya, wajahnya dan untuk terakhir kalinya biarkan aku mematri semua dalam hatiku. Sebelum semua mimpi buruk akan membakar habis nama Byun Baekhyun itu sendiri.

Chanyeol sedang terduduk disalah satu kursi tunggu ketika aku keluar dari kamar. Menyadari kedatangannku, dia bangkit dan menghampiriku. “Aku antar,” ucapnya dan aku hanya mengangguk kemudian membiarkan Chanyeol menggenggam tanganku meninggalkan tempat ramai ini.

“Kenapa Baekhyun melakukan itu?” tanyaku memecah sepi ketika Chanyeol sedang berfokus pada mobil yang dia kendarai. “Semua tahu, Baekhyun adalah tipe yang ceria. Nampaknya dia tidak memiliki masalah dan selalu bahagia,” lanjutku.

“Baekhyun adalah extrovert yang terpenjara,” jawab Chanyeol. “Sekilas mengenalnya mungkin kalian fikir dia orang yang ceria yang menyenangkan dan hidup seperti tanpa beban. Tapi ketika kau memasuki wilayahnya, dia hanyalah setumpuk ranting hancur yang siap menunggu waktu untuk disapu. Pencitraan yang dia ciptakan hanyalah topeng. Aku sudah mengenalnya lebih dari lima tahun, dan-”

Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya, sebagai gantinya satu hembusan nafas kasar terdengar mengalahkan suara deru mesin.

“Kau dan Baekhyun juga sangat dekat, apa dia tidak pernah cerita apapun?” Chanyeol bertanya padaku sambil sedikit mengalihkan pandangannya.

Aku dan Baekhyun?

Jika dihitung jari, sekitar satu tahun kami berdua saling mengenal. Sampai akhirnya Chanyeol yang sudah lebih dulu menjalin persahabatan dengan Baekhyun rela memberikan sebagian titlenya. Aku, Baekhyun dan Chanyeol adalah sahabat, seperti itulah semua dimulai. Satu tahun bukan waktu yang pendek dengan berlalu begitu saja. Banyak hal terjadi antara kami bertiga, mungkin Chanyeol memang lebih tahu tentang Baekhyun. Tapi aku pernah menjadi orang yang mampu mengobatinya. Ya, kenyataan Baekhyun memiliki masalah, aku tahu itu. Aku yang juga berteman dengan berton – ton masalah, merasa kami bisa saling berbagi untuk saling menyembuhkan. Kami sungguh berbagi, dan Baekhyun berjanji kami juga akan saling menyembuhkan. Tapi kenyataan sekarang.

“Aku… sebenarnya aku bisa membaca kalau dia sedang dalam masalah. Tapi karena dia tidak pernah bercerita, aku tidak berniat untuk mengorek apa masalahnya. Hanya saja, aku selalu mencoba menghiburnya ketika aku rasa dia sedang kalut,” jawabku dengan sedikit menutupi fakta sebenarnya dari Chanyeol.

“Kau sudah membantunya dengan hanya seperti itu,”

“Ehm,”

“Kau tahu latar belakang keluarga Baekhyun?” tanya Chanyeol lagi. Aku mengalihkan perhatianku memandangi jalanan padanya.

“Aku tidak tahu,”

“Ayah Baekhyun dia sebatang kara yang sukses mencapai puncak dengan menjadi CEO di salah satu perusahaan,” Chanyeol membuka ceritanya. “Berjuang sendiri dan mendapatkan apa yang dia inginkan, membuat Ayahnya takut untuk menyerahkan semua ini pada orang lain. Beliau menyerahkan semua kekhawatirannya pada Kakak Baekhyun,”

“Dia punya kakak?”

“Ehm, Kakak Laki – laki. Mereka terpaut umur 8 tahun dan seharusnya sekarang dia sudah berada di perusahaan menggantikan Ayahnya,”

“Tapi?”

“Baekbom Hyeong memilih jalan yang sama seperti Baekhyun. Dan tidak ada pilihan lain, tekanan Ayahnya berpindah pada Baekhyun. Sejak dia berumur 15 tahun, menghadapi kenyataan kakaknya meninggal kemudian tekanan dari Ayah dan Ibunya, sejak saat itu Baekhyun berubah,”

“Jadi dia-”

“Baekhyun bilang dia tidak akan memilih jalan bodoh seperti kakaknya. Dia akan berusaha untuk menyenangkan Ayah dan Ibunya, menjadi penerus usaha keluarga mereka yang Ayahnya rintis dari 0. Baekhyun sungguh serius dengan niatnya dan dia berhasil, seperti yang kau lihat, meski dia berlagak bodoh dia selalu menempati posisi tiga besar di sekolah,”

Aku mengangguk membenarkan kalimat Chanyeol. “Tapi kau bilang, dia penuh dengan masalah,”

“Apa menurutmu mempertahankan posisi satu, serba bisa dalam segala hal, berlaku baik, membentuk relasi dengan orang yang tidak dikenal tidak menimbulkan stress? Baekhyun menerima banyak tekanan dengan niatan dia menyelamatkan orang tuanya. Kalau kau memperhatikan, kapan Baekhyun pernah terlihat bermain? Kapan dia bersantai? Kalau bukan karena aku yang memaksa, dia tidak akan meninggalkan istana yang dia buat sendiri,”

“Tapi aku juga tidak tahu apa yang membuatnya sangat tertekan dan memilih jalan seperti itu. Dia pasti telah melakukan kesalahan besar dan membuat orang tuanya sangat kecewa,”

“Ah,” Aku mengeluarkan satu suara frustasi dan merasakan air mata mulai menetes. “Jadi selama ini Baekhyun hanya mempersilahkanku masuk didepan istananya?”

“Maksudmu?”

“Baekhyun menuntun tanganku, aku membagikan hal besar padanya karena dia bilang dia akan memberikan hal besar juga padaku. Aku fikir aku sudah memasuki istananya, ternyata dia hanya bermain denganku dipekarangan istana?”

Gedung apartementku sudah terlihat, Chanyeol kini sedang berfokus untuk menghentikan mobilnya sebelum kembali bertanya dengan maksud kalimatku.

“Apa mak-”

“Chanyeol-ah, kau bilang tadi Baekhyun ibarat setumpuk ranting hancur yang siap di sapu? Jadi apakah dia ranting dari setangkai bunga atau ranting kering dari pohon mati atau ranting dari pohon yang dipaksa patah kemudian dihancurkan?”

Aku mencecarnya dengan pertanyaan yang mungkin akan membuatnya berfikir panjang. Sama halnya seperti yang Baekhyun lakukan dalam mimpiku. Dan sudah pasti, Chanyeol tidak akan bisa menjawabnya karena dia tidak memahami arti ranting dan hancur itu. Seperti aku dalam mimpi itu, yang belum memahami arti bunga yang Baekhyun hancurkan.

“Maksudmu?”

Aku hanya tersenyum, kemudian perlahan melepaskan seatbelt dan siap membuka pintu. “Bukan apa – apa, lupakan,” jawabku sebelum melangkah dan meninggalkan Chanyeol dalam kebingungan.

.

.

Hadapi awal mimpi burukmu Najung-ah, ucapku dalam hati ketika tangan ini tepat menutup pintu kamar yang membuatku kembali pada kesendirian. Chanyeol sudah menceritakan semuanya, tentang latar belakang Baekhyun, tentang tekad kuatnya untuk membahagiakan orang tuanya, tentang semua yang sudah berhasil dia raih. Baekhyun berhasil. Lalu apa alasan dia memilih jalan ini?

“Dia pasti telah melakukan kesalahan besar dan membuat orang tuanya sangat kecewa,”

Kalimat Chanyeol kembali berdengung di telingaku. Kesalahan besar? Jadi Baekhyun menganggap semua itu kesalahan besar? Pria bertopeng itu?

Aku mendudukan tubuhku diatas kursi meja belajar. Disana masih terpampang jelas figura yang membingkai sempurna fotoku dan Baekhyun. Dia tersenyum manis kearah kamera, begitupula denganku. Hari itu, ketika dia berjanji akan menjadi penyembuh luka yang kami derita.

Aku meraih figura itu kemudian tanpa ragu melemparnya. Biarkan dia hancur, objek didalamnya saja akan dibumi hanguskan sore ini dan hidupku juga sudah tidak terbayang akan seperti apa, jadi biarkan foto itu hancur.

“Jika aku memberimu sebatang mawar, apakah mawar itu bisa disebut sebagai bunga?”

”Jika mahkota bunga mawar itu satu persatu aku cabut, apakah putik, kelopak, batang dan daunnya masih bisa disebut bunga?”

“Lalu, jika daun dari tangkainya aku cabut satu persatu, maka apakah batang itu masih bisa disebut sebagai mawar?”

“Dan, jika batang itu aku patahkan, kuhancurkan menjadi serpihan kecil, apakah sampah itu masih bisa disebut sebagai mawar?”

Pertanyaan Baekhyun dalam mimpi menyambangi otaku untuk sekian kalinya. Suara itu seakan menghakimi atas kehidupanku kedepannya. Jadi itu pertanyaan untuk kehidupannya atau Baekhyun sedang meledek nasibku?.

Ponsel yang aku taruh diatas meja belajar terlihat berkelip membangunkanku dari lamunan menyakitkan ini. Satu pesan dari ibuku. Dengan segera aku menyapu layarnya dan membaca pesan itu.

‘Ibu sudah kirimkan sejumlah uang. Gunakan dengan baik Najung-ah, dan seperti biasa pesan ibu… sekolahlah dengan serius! Kau putri ibu satu – satunya, semangat!’

Satu tusukan didada kembali aku rasakan. Apa yang telah kau lakukan Shim Najung!

“Semua tidak akan sama lagi, Baekhyun-ah. Disebut bunga jika dia memiliki mahkota, putik, kelopak, batang dan daun, itu baru namanya setangkai bunga. Lalu sekarang apa aku masih bisa disebut seorang gadis? Jika kau sudah berhasil menghancurkan mahkota, putik, kelopak, daun dan batang kumiliki. Apa sekarang aku masih bisa disebut wanita? Apa aku masih bisa disebut gadis? Aku memberikan semuanya dan kau berjanji kita akan terus bersama. Kemudian, kau menyadari semua ini telah melanggar peraturan istana yang kau rancang, lalu Raja marah dengan kelakuan putra mahkotanya. Sekarang? Kau mengakhiri hidupmu dan meninggalkan gadis penjual bunga itu dijalan penuh duri sendirian,”

Aku menyeka air mata yang mengalir ditengah narasi putus asaku. “Aku berdoa semoga tuhan menghukummu disana,”

.

.

-Berakhir-

Noted : Mengutip kata Ila, ini projek udah ke freeze ampir 6 bulan. Kalo ga salah oktober tahun lalu, Ila ngirim aku part 1 nya dan baru sekarang (itupun karena Ila mengingatkan) bisa aku selesaiin.

Aku udah baca komentar dan respon di part 1, hiks! itu memberatkanku untuk menyelesaikan part 2 nya, alasan kenapa Baekhyun bunuh diri, alasan kenapa si Aku mimpiin Baekhyun, alasan kalimat – kalimat menyeramkan Baekhyun didalam mimpinya.

Dan ini hasil ekspolari yang aku dapatkan. kalian bisa nangkep alasan kenapa Baekhyun bunuh diri? Aku ga bisa gambarin terlalu jelas alasannya karena otomatis nantinya berdampak naik rating, jadi cukup segaris aja.

Well, sorry, kalo part dua ini diluar ekspetasi kalian.

p.s : La, apa aku menghancurkan image Baekhyun kita disini T^T. Ayo bikin projekan lagi lain waktu, ini udah projek keberapa kita yaaa???

Bye!

CCNKQ0gUgAEy4Ih

 

 

150 thoughts on “Koyaanisqatsi 2/2

  1. Halo kak aku reader baru nih… sumpah bahasa dan perumpamaan yang digunakan ngena banget dihati. meskipun perlu ekstra konsentrasi dalam mengerti artinya tapi aku jadi ngerti kenapa “aku” itu bingung kehidupan ke depannya bagaimana tanoa baekhyun pas baca di kalimat akhir… bener-bener banyak tebakan… aku suka…

  2. anyeong author aku reader baru…maafkan aku yg tiba2 coment di ff ini… :v
    aku udh baca part 1 nya d wp ilachan lalu aku cari2 tuh part 2 d wp ini…setelah aku baca sampai akhir aku msh bingung sama jalan ceritanya tapi aku udh nebak2 kalo si baek ini bunuh diri karna ‘ini’ dan si ‘aku’ marah karna ‘itu’ aku mulai nebak2 tapi msh agak ragu trus aku bacain aja coment2nan reader yg lain ternyata bener dugaan aku ..kenapa si baekhyun bunuh diri dan si tokoh ‘aku’ ngebenci baekhyun…aku mengerti!😀 kata2’y ngena bngt author walaupun aku tidak terlalu memahami mksudnya aku suka sama tiap2 perkalimatnya. daebak deh pokonya buat author yg buat ff ini!! saya suka,saya suka!..

    salam kenal jg ya buat author nya..! ”🙂

  3. kereeeeeeeen banget kak.. bahasanya itu bener-bener keren, jadi harus ngehayatin banget pas baca ini baru bisa ngerti maksudnya. .. semangat terus kak buat bikin ffnya.. kalo bahasanya keren kayak gini udah bisa di jadiin novel loh kak, semangat!!

  4. Aku suka kalimat “Aku harap tuhan menyiksamu di Neraka,” dan “Jika kau sudah berhasil menghancurkan mahkota, putik, kelopak, daun dan batang kumiliki.” dua kata itu bener2 mendefinisikan semua nya, kematian baekhyun dan knp najung nangis+ marah. Huhu aku bener2 ngerasa Sakit hati nya tau gak kak, smpe aku ikut nangis huhu~ gk tau deh klo aku jdi najung. Najung emang bener, dia cuma gadis penjual bunga yang cuma di ajak becanda sama baekhyun, parah nya lg, baek menhancurkan bunga2 nya dan pergi gitu aja </3

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s