Letter From Nowhere : #9 Letter – Menerima Masa Lalu

Fanfic / Chaptered/ Friendship – Family – School Life / General / Kai – Sehun – Chanyeol – Soojung – Seulgi – Wendy

“Dear My Friend….”

Thanks to Sifixo@Poster Channel for wonderful poster

Recomended Backsong : SHinee – Color Of Seaseon

Prev. Chapter : 1 . 2 . 3 . 45 . 6 . 7 .8 .

.

.

akhirnya posting juga…. Sorry for looooong time waiting. Here you go guys ^^

.

.

Menerima Masa Lalu

Memutuskan keluar dari kamarnya dirumah sakit dan datang mengujungi asrama, bukan semata – mata Wendy hanya ingin menghabiskan waktunya. Dia rindu dengan sahabatnya, tidak bisa dihitung jari sudah berapa lama dia absen dari sekolah dan tidak bertemu dengan mereka kecuali Seulgi. Tapi ketika Wendy terduduk dikamar asrama dan menyaksikan tetesan air hujan, ada perasaan hampa lainnya. Hatinya bertanya dalam diam, sampai kapan Wendy akan menunggu dalam ketidak pastian akan hidupnya ini? Bukan Wendy melangkahi takdir tuhan, dia hanya berkaca dengan apa yang perlahan dia rasakan setiap harinya. Sebuah rasa sakit.

Dan nama Jongin terlintas dalam benaknya ketika melihat tetesan air hujan. Sungguh demi apapun, Wendy tidak ingin melibatkan Jongin dalam masalahnya. Tapi dari semua sahabatnya, hanya Jongin yang pasti akan mengabulkan apa yang mereka butuhkan tanpa perlu banyak alasan.

“Jadi, sekarang putri duyung tengah menikmati hujan?” ucap Jongin setengah berteriak, ketika dia dan Wendy dengan saling berpegangan tangan meneroboh hujan lebat.

Wendy adalah tuan putri, dia tidak boleh terlalu lelah, dia tidak boleh asal beraktivitas, dia tidak boleh terlalu excited dan dia tidak boleh terkena air hujan. Tapi hari ini dia melanggarnya.

Menerobos lebatnya hujan, membuat Wendy merasa begitu lelah. Tangannya dingin tapi dia gamang apa itu dingin karena hujan atau karena tubuhnya menolak kondisi ini. Dadanya berdebar begitu hebat, itupun entah karena genggaman tangan Jongin atau karena penyakitnya. Nafasnya memburu, Wendy juga merasakan matanya mulai berkunang, ah ini sudah jelas, halusinasinya telah kembali.

Menjadi terlalu lelah, terlalu bahagia dan menerobos hujan, Wendy telah melanggar garis zona aman miliknya. Ketika semuanya terjadi, Wendy seharusnya memikirkan akan seperti apa Jongin nantinya, tapi dia merasa akan ada Seulgi yang menjelaskan semua ini.

“Aku pulang,” ucap Wendy ketika dia merasakan tubuhnya begitu ringan, terbang diantara udara bebas bersama tetesan hujan.

.

————————

.

Ketika Jongin selesai dengan semua rentetan fakta yang tidak mereka ketahui sama sekali, keheningan kembali tercipta. Seulgi yang berniat membeberkan semuanya setelah mendengar yang sebenarnya terjadi pada Jongin, terhalang dengan tangisnya yang tak kunjung berhenti –Seulgi merasa bersalah. Sehun yang sedari tadi terus saja memaku matanya pada Seulgi, seakan mencari kebenaran yang akan temannya ungkapkan, kali ini terlihat menunduk dengan banyak pertanyaan melayang dalam benaknya. Sehun menghindari Jongin tiga tahun terakhir ini, karena yang dia kira Jongin hanya lelaki pecundang yang lari dari masalah tanpa memberi tahu cerita yang jelas. Dia tidak tahu jika sahabatnya ini dilanda trauma berat. Mereka berempat masih bisa hidup dengan normal, meski terkadang masih sering teringat dengan kepergian sahabatnya, tapi jika dibandingkan dengan Jongin…

“Kenapa kalian mendadak terdiam seperti itu,” ucap Jongin memecah kesunyian sambil tertawa kecil yang lebih pada menertawakan dirinya sendiri.

Sehun menaikan pandangannya, menghembuskan nafas berat kemudian untuk beberapa detik dia mengalihkan pandangannya pada Jongin. “Apa sekarang giliranku?”

“Silahkan,” jawab Jongin sambil mengangguk.

Sehun membetulkan posisi duduknya, banyak yang ingin dia katakan, banyak yang ingin dia tanyakan dan banyak yang ingin dia perjelas untuk mengembalikan persahabatannya dengan Jongin. Jauh dilubuk hati Sehun, dia benci harus memiliki musuh yang dulunya adalah sahabat dia sendiri.

“Karena kau sudah menceritakan apa yang rasakan, boleh aku bertanya banyak hal?” tanya Sehun yang dijawab anggukan Jongin. “Apa yang terjadi pada Wendy hari itu?” kali ini entah mengapa nada suara Sehun kembali dingin. Setiap mengingat apa yang terjadi pada Wendy dan Jongin, dia tidak bisa mengontrol emosinya.

“Biar aku-” Seulgi baru saja akan membuka mulutnya untuk menjelaskan apa yang ingin Sehun ketahui, tapi dengan segera Jongin menahannya.

“Biar aku yang jawab terlebih dahulu,” jawab Jongin. “Hari itu Wendy mengirimku satu pesan singkat. Dia bilang ingin bertemu denganku dan jangan katakan dulu pada yang lain tentang kedatangannya. Aku bahagia, sahabatku kembali,” Jongin tersenyum, kenangan hari itu kembali teringiang dalam benaknya. Hari dimana Wendy menyambutnya dengan kedua lengan terbuka dan satu senyuman.

“Kemudian kami bertemu dibelakang asrama perempuan. Aku kaget ketika melihatnya, dia tampak kurus, pucat, lemah, kalian tahu? Tidak seperti Wendy biasanya, padahal kita baru saja tidak bertemu beberapa minggu,” kalimat Jongin terhenti dengan kembali terdengar suara tangisan Seulgi. Suara tangisan yang tidak biasa.

Dengan kembali menangkupkan wajahnya diatas meja, Seulgi mencurahkan penyesalannya.

“Kau menyembunyikan banyak hal Seul,” ucap Sehun atau lebih tepatnya sebuah pertanyaan untuk Seulgi yang tidak dia respon sama sekali. Akhirnya Sehun kembali memberikan gesture pada Jongin untuk melanjutkan ceritanya.

“Aku bertanya apa yang terjadi padanya, dan Wendy menjawab jika semua itu karena dia terlalu stress dengan persiapan tes di London,”

“Dia berbohong!” kalimat Jongin kembali terpotong, kali ini dengan ucapan Seulgi yang bergetar karena dia masih menangis. “Wendy berbohong, dia membohongi kalian semua dan aku juga membohongi kalian semua!!!” emosi Seulgi pecah, kali ini tangisnya bahkan lebih kencang. Membuat Jongin dan Sehun tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang harus mereka lakukan.

“Wendy membohongi kalian semua, dia tidak pernah baik – baik saja, dia tidak pernah pergi ke London, dia tidak pernah mengikuti kejuaraan apapun, karena dia tidak pernah kemana – mana selalu terbaring dikamarnya, di rumah sakit.”

.

.

Masih ditempat yang sama, suasana yang sama tapi kali ini Soojung dan Chanyeol sudah duduk bersama mereka. Mendapati Seulgi menangis karena cerita Jongin dan memang dari awal Seulgi berniat untuk membicarakan sesuatu pada mereka, akhirnya Sehun menghubungi Soojung dan Chanyeol untuk datang. Sehun tahu ini sudah terlalu malam, dia juga tahu bukan kondisi yang tepat untuk mengganggu Soojung, tapi mereka juga butuh kejelasan.

Tidak butuh waktu lama untuk dua kakak adik bermasalah itu datang. Soojung berjalan terlebih dahulu segera menghampiri Seulgi, melihat sahabatnya menangis dengan segera Soojung memeluknya dan bertanya pada Sehun melalui tatapan mata.

Sedangkan Chanyeol berjalan dua langkah dibelakang Soojung, kemudian mengambil duduk tepat disamping Sehun. Chanyeol masih jadi seorang pendiam, mungkin masalahnya dengan Soojung belum menemui kata selesai. Lupakan masalah mereka, baik Sehun atau Jongin menginginkan Seulgi untuk mengatakan semua yang dia rahasiakan.

“Bagaimana Ibumu?” tanya Sehun, ketika mereka berdua sudah duduk.

“Masih belum sadar, tapi masa kritis sudah lewat,” jawab Soojung. “Jadi ada apa ini?” tanya Soojung yang dari kedatangannya sudah merasa curiga dengan aura para sahabatnya.

Seulgi masih berusaha mengatur tangisnya, Sehun kembali terdiam, Jongin juga demikian. Mereka terlalu bingung harus menjawab dengan kalimat seperti apa untuk pertanyaan Soojung barusan.

Sehun menghembuskan nafas panjang, dia nampak membetulkan posisi duduknya, kemudian secara bergantian memandangi semua wajah yang ada disana. “Seulgi ingin memberitahu kita sesuatu,” ucap Sehun.

“Apa itu?” tanya Soojung.

“Entahlah, yang pasti-” Sehun menggantung kalimatnya kemudian memandang Jongin sekilas. “ada hubungannya dengan Wendy,” lanjut Sehun.

Mendengar jawaban Sehun sontak pandangan Soojung beralih pada Jongin. Apa mereka sedang memojokan Jongin? “Baguslah,” jawab Soojung kemudian. “Aku rasa kita memang harus membicarakan ini dan bisa memperjelas apa yang selama ini hanya anggapan satu dan dua pihak, kau setuju Jongin?”

Mendapat pertanyaan mendadak dari Soojung, sontak membuat Jongin terkesiap. Entahlah, Jongin merasa malam ini fikirannya sangat kacau. Dia bukan Jongin seperti biasanya, mungkin karena mengungkit masalah ini membuatnya terkenang kejadian itu. “Tentu,” jawab Jongin sambil tersenyum.

“Jadi apa yang ingin kau katakan Seul?” Sehun kembali pada tujuan Seulgi.

“Sebelum Seulgi, karena Soojung dan Chanyeol hyeong sudah disini. Ada baiknya aku menceritakan kejadian hari itu dulu,” ucap Jongin sebelum Seulgi berhasil menemukan kalimatnya.

Mereka nampak terdiam. Sebelum kemudian mengangguk setuju untuk usul Jongin barusan.

“Hari itu aku bertemu dengan Wendy untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia absen dari sekolah.” Jongin membuka ceritanya. “Seperti yang aku bilang barusan, dia nampak berbeda. Kurus, pucat, tidak seperti Wendy biasanya yang kemudian Wendy bilang bahwa itu efek dari perjuangannya tes di London,”

“Hari itu hujan turun sangat lebat. Aku baru ingat, jika selama ini Wendy selalu menghindari air hujan sore itu dia memintaku untuk bermain hujan. Aku fikir ini mungkin alasan dia mengajaku bertemu, dia rindu korea setelah lama tidak ada disana. Dan sore itu kami berlari menikmati air hujan,”

Seulgi menarik nafas kasar ketika mendengar cerita Jongin. Kedua tangannya terkepal menahan emosi, membuat semua mata disana beralih pada reaksi Seulgi barusan.

“Kemudian itu terjadi,” Jongin mulai menerawang kembali kejadian hari itu. Rasanya dia enggan untuk kembali mengungkit trauma terbesar dalam hidupnya.

“Kami tengah menikmati hujan, ketika Wendy melepas genggaman tanganku. Aku berbalik menatapnya, dia sedang menarik nafas pendek – pendek dan bilang dia lelah. Oke, aku berniat mengakhiri permainan kami, tapi dia menolak dan terus berjalan mendahului. Dia mulai bercerita panjang lebar, masa kecilnya, tentang kakaknya, tentang kita, sampai pada satu cerita yang mulai tidak aku mengerti alurnya,”

“Apa yang dia ceritakan?” tanya Seulgi.

“Aku sudah tidak ingat kalimatnya tapi dia bercerita seakan dia sedang menanggung hidup yang sangat berat. Aku tidak mengerti apa yang terjadi padanya,” Jongin mengusap wajahnya kasar sebelum melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan. “Kemudian kami sampai dijalan utama menuju Seungri. Wendy berbalik menatapku, aku merasa waktu itu wajahnya terlihat sangat lelah. Menyandarkan tubuhnya di bahu jembatan, dia berkata padaku ‘Aku pulang,’ dan kemudian semua terjadi,”

Mereka terdiam. Ingatan masing – masing kembali pada kejadian tiga tahun yang lalu. Ketika mereka menerima kabar, Wendy mengalami kecelakan jatuh dari jembatan. Dan semua peristiwa itu terjadi tepat didepan mata Jongin. Melihat tubuh Wendy jatuh dengan ringan kedasar sungai Jongin tidak bisa mempercayai apa yang terjadi didepan matanya. Dia bahkan terlalu bodoh untuk mengeluarkan ponsel dan memanggil nomor darurat, sampai akhirnya salah satu warga menyadari hal itu dan segera menghubungi rumah sakit.

Wendy tidak terselamatkan. Kematiannya diumumkan atas dasar kecelakan, Jongin yang menjadi saksi mata sempat dibawah ke kantor polisi untuk dimintai keterangan tapi dengan segera semuanya dihentikan oleh keluarga Wendy. Mereka menerima semua atas dasar murni kecelakaan. Mungkin benar keluarga menerima apa adanya, tapi tidak dengan mereka.

Tidak dengan Jongin yang melihat semua terjadi didepan matanya. Dia tidak habis fikir apa yang terjadi pada Wendy, apa masalah yang dimiliki temannya sampai dia nekat melakukan hal itu. Apa yang selama ini dia tidak tahu dari Wendy. Dan mengapa semua itu harus terjadi ketika bersamanya. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya saat itu, tapi sayang keluarga Wendy langsung pergi dari tempat tinggalnya sejak insiden itu. Jongin yang mengalami trauma juga terpaksa harus pindah ke Busan tinggal bersama orang tuanya.

Sehun, lebih tidak bisa menerima semua ini. Dia sudah lama tidak bertemu dengan Wendy dan ketika harus bertemu semua sudah berbeda. Wendy sudah tidak menyapanya lagi, dia terdiam dalam sunyi. Mengetahui semua ini, Sehun ingin bertanya dengan jelas semuanya pada Jongin. Keluarga Wendy pergi dari Seoul, harapan Sehun tinggal Jongin, tapi sayangnya Jongin pun pergi dari Seoul. Inilah yang membuat Sehun membenci sosok Kim Jongin.

Seulgi tahu permasalahannya. Tidak lama setelah kejadian itu, Irene menemuinya dan menceritakan keadaan terakhir Wendy. Harusnya Seulgi memberitahu sahabat yang lain. Tapi ada daya, dia terlalu terpukul untuk menerima kenyataan dan fakta dia menyimpan semua rahasia Wendy. Seulgi berniat memberitahu sahabatnya ketika dia sudah siap. Tapi kemudian Jongin pergi. Dan ketika Seulgi siap menceritakan semuanya, Sehun sudah enggan mengungkit semua itu.

Kenyataan pahit, ketika kebenaran harus tertunda.

“Aku fikir, itu yang ingin aku katakan-” Jongin menggantungkan kalimatnya seraya dia menarik nafas panjang, “-Sejak lama.”

Soojung menatap Jongin tepat pada kedua matanya. Dia bisa merasakan kesedihan dan kepedihan pada sahabatnya itu. Menjadi saksi hidup atas kematian sahabat sendiri bukanlah kenangan yang menyenangkan untuk diingat kembali. “Sudah kubilang,” Soojung membuka mulutnya. “Permasalahan bukan pada Jongin! Kita- ah, bukan maksudku kau,” Soojung menunjuk Sehun sebelum melanjutkan kalimatnya, “dan Jongin hanya salah paham. Dan betapa bodohnya hal seperti ini saja harus memakan waktu tiga tahun?”

“Mungkin, disini aku yang harus minta maaf,” Seulgi akhirnya mengeluarkan suaranya setelah sejak tadi hanya terdiam, bergulat dengan fikirannya.

“Katakan yang ingin kau sampaikan Seul!” ucap Soojung dengan tegas.

Seulgi menghirup nafas panjang sebelum mengeluarkan ceritanya. “Aku sungguh merasa bersalah ketika mendengar apa yang terjadi pada Jongin. Selama ini aku mengira kita baik – baik saja, mungkin tidak dengan persahabatan kita. Aku hanya berfikir, kita hanya perlu waktu. Tapi sekarang aku sadar, waktu itu berjalan ditanganku. Kalian tahu aku adalah pemegang rahasia kalian. Aku memegang satu rahasia Wendy sampai hari ini,”

Semua mata yang ada disana sontak terpusat pada Seulgi setelah mendengar kalimatnya barusan. Mereka bersiap untuk menerima satu kenyataan baru lagi. Sedangkan Seulgi yang menerima tatapan itu, membuat tangannya dengan segera meraih tas merahnya kemudian mengeluarkan satu buku tebal berwarna coklat. Jurnal coklat milik Wendy, Seulgi taruh diatas meja didepan mereka.

“Ini milik Wendy. Didalamnya banyak terdapat rahasia tentang dirinya. Awalnya aku menolak ketika Wendy memberikan ini padaku, tapi ketika Wendy bilang yang lain juga akan dia pinjamkan suatu saat nanti maka aku terima dan aku baca semuanya,”

“Sejak kapan kau tahu rahasia Wendy?” tanya Sehun.

“Setelah kita pergi berwisata bersama,” jawab Seulgi.

Jawabannya barusan membuat beberapa diantara mereka mengeluarkan ekspresi yang berbeda. Sehun berdecak kesal, apa ini disebut persahabatan? Saling merahasiakan? Seulgi bahkan sudah tahu sangat lama. Jongin menatap diam tepat kearah Seulgi, dia bingung harus mengeluarkan perasaan seperti apa. Chanyeol mengusap dahinya kasar. Sedangkan Soojung nampak memutar bola matanya kesal, dia kesal karena dampak dari Seulgi menyimpan rahasia jadi seperti ini.

“Apa rahasia itu?” kali ini Soojung yang bertanya.

Seulgi tidak langsung menjawab. Dia merasakan dadanya begitu berdebar, dia takut, dia tahu dia bodoh. Kenapa baru sekarang dia mengungkapkan semua ini, kenapa tidak dari dulu ketika Wendy memberitahu kebenarannya.

“Kau masih mau merahasiakannya Seul?” lanjut Soojung.

Seulgi menarik nafas panjang. “Rahasia itu, Wendy sakit,” Ucap Seulgi. “Kelainan pada ketahanan tubuhnya. Sejak kecil. Dia tidak boleh kelelahan, tidak boleh terlalu bahagia, tidak boleh terlalu excited, tidak boleh tidur terlalu malam dan dia tidak boleh-” Seulgi menggantung kalimatnya, melirik Jongin sekilas adalah yang Seulgi lakukan sebelum melanjutkan berbicara, “-terkena air hujan.”

Diam, tegang, nafas tercekat mungkin adalah rentetan ekspresi yang mereka keluarkan malam itu. Mendengar apa yang terjadi pada Jongin, mendengar cerita seperti apa kejadian hari Wendy meninggal, menerima kenyataan Seulgi tahu semua tentang Wendy dan mendengar kenyataan Wendy tidak boleh terkena hujan, membuat mereka sadar dasar apa yang membuat keluarga Wendy tidak pernah mengusut kejadian kecelakaan itu. Tentu dengan fakta seperti ini, mereka tidak bisa menyalahkan Jongin.

Tapi ketika mereka mendengar, Hujan adalah musuh dari Wendy, sontak mereka kembali teringat dengan apa yang dilakukan Jongin dan Wendy hari itu.

Jongin merasakan tubuhnya bergetar, kenyataan hujan bisa membunuh Wendy, membuatnya sadar bahwa dialah yang membawa Wendy berlari dibawah hujan. “Woah, ternyata semuanya karena hujan,” ucap Jongin memecah keheningan. “Pantas kalian, terutama Sehun sangat membenciku,”

“Tapi mereka tidak tahu tentang ini,” jawab Seulgi.

Jongin tersenyum kecil. “Dengan tidak tahu saja kita sudah seperti ini, apalagi sekarnag kalian tahu alasan kenapa semua itu terjadi. Kalian semakin membenciku?”

Seulgi menahan nafas mendegar jawaban Jongin. Sekali lagi, dia merasa sudah menghancurkan hidup orang lain. Memang benar adanya, menyimpan jauh kebenaran sama dengan membunuh kebenaran itu secara perlahan. Seulgi menurutuki dirinya sendiri pada kenyataan betapa bodohnya dia menyimpan semua ini.

“Berarti benar adanya,” Jongin kembali mengucapkan kalimatnya ditengah diamnya yang lain, “Aku yang membunuh Wendy?”

“Semuanya diam!” Soojung yang sedari tadi hanya terdiam, membiarkan kalimat demi kalimat yang Seulgi ucapkan diterima oleah nalar fikirnya, bersuara dengan nada dingin. Dia menaikan pandangannya, menatap Jongin untuk menyuruhnya diam kemudian beralih pada Seulgi.

“Kenapa kau merahasiakan semua ini?”

“Karena Wendy yang memintanya, aku bahkan tahu tentang dia karena tidak sengaja.”

“Dan kau merahasiakan begitu saja?”

“Awalnya aku setuju untuk merhasiakannya karena kesehatannya mulai membaik. Tapi ketika tingkat tiga dan dia mulai sering absen, aku berniat untuk memberitahu kalian. Tapi ada satu hari Wendy memanggilku kerumah sakit dan memberikanku buku ini,”

“Apa yang membuatmu tidak jadi memberitahu kami?”

“Karena Wendy bilang padaku dia akan memberitahu kalian secepatnya!”

Soojung berdecak sebal. Untuk pertama kalinya dia benci pada kenyataan bahwa Seulgi adalah orang yang sangat menjaga pada arti kepercayaan. Termasuk kasus dia menjaga rahasia Wendy. “Tapi apa kau tahu? Diam yang kau lakukan, malah memperburuk keadaan. Lihat, apa yang terjadi pada Sehun dan Jongin. Berapa lama mereka harus salah paham seperti itu. Jongin mengira kita membenci dia dan Sehun yang beranggapan Jongin hanyalah pecundang. Kang Seulgi…”

“Maka dari itu aku minta maaf, pada kalian semua. Terutama padamu Jongin,”

“Jika saja kau memberitahu kami semua rahasia ini, aku rasa kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Karena Jongin pasti menolak permintaannya,” ucap Soojung lagi. Dia mengalihkan perhatiannya dari Seulgi dan tanpa sengaja bertatapan dengan Chanyeol, tidak ada reaksi apapun mereka kembali memalingkan pandangan. Soojung baru sadar, sedari tadi ada Chanyeol bersama mereka.

“Kau bilang Wendy tidak boleh terkena air hujan, lalu apa dia meminta bantuan Jongin yang tidak tahu sama sekali dengan kondisinnya adalah dia…. Menyerah berjuang?” Semua mata beralih menatap Chanyeol yang sedari tadi hanya menjadi penyimak diantara mereka.

Benar. Mereka membenarkan dalam hati masing – masing. Jadi? Apa Wendy sendiri sudah menyerah dengan kondisinya?

“Selama tingkat 1 dan 2, kondisi dia masih normal asalkan rutin mengikuti intruksi medis. Dan tingkat 3 kondisi dia memburuk. Kakaknya memberitahuku kondisi terakhir mengharuskan dia untuk terus dikamar, jadi tebakan Chanyeol oppa mungkin benar,”

“Oke. Lalu kenapa kau masih tidak memberitahu kami setelah dia meninggal? Membiarkan semua kebenaran terbawa jauh!” Soojung kembali berucap dengan suara kesal.

“Pelankan suaramu Soojung,” ucap Chanyeol pelan. Soojung sama sekali tidak merespon, dia masih memaku matanya pada Seulgi.

Seulgi tersenyum kecil. “Jika kau di posisiku Soojung, apa yang akan kau lakukan? Kau adalah satu – satunya yang tahu semua ini diantara kita. Kemudian semua terjadi, apa yang akan kau lakukan? Aku ketakutan. Aku menyesali kenapa tidak memberitahu kalian sejak lama, aku menyesal menjadi orang yang serba tahu, sulit untuk mengungkapkan semuanya saat itu. Aku menunggu sampai hatiku sanggup, tapi kemudian semua sudah berubah. Aku bisa apa,”

“Kita selalu hampir bersama tapi kenapa kau tidak pernah mengatakannya?” tanya Sehun.

Seulgi yang mendengar pertanyaan ini memejamkan matanya kesal. “Oh Sehun, apa kau sadar selama ini setiap aku ingin meluruskan masalah kau dan Jongin kau selalu menolak. Kau mendiamkanku, mengintimidasi dengan tatapan matamu, apa yang bisa aku lakukan?”

Sehun yang mendegar jawaban Seulgi kembali terdiam. Memang benar adanya, selama ini dia sangat tidak ingin masalah dia dan Jongin kembali diungkit. Menurut Sehun itu sangat tidak penting. Tapi setelah Wendy datang pada mimpinya, rasa penasaran Sehun kembali bangkit.

“Aku tidak tahu harus berkomentar apalagi, semua ini terlalu… tiba – tiba,” jawab Sehun kemudian.

“Lihat! Kau saja yang hanya mendengarkan tidak bisa melakukan apa – apa, bisa kau bayangkan apa yang aku rasakan Sehun?” pertanyaan Seulgi yang tidak ada satupun yang menjawab.

“Aku rasa, aku dan Seulgi merasakan hal yang serupa,” Jongin mengalihkan perhatian mereka. “Posisi aku dan Seulgi sama, tapi karena semua sudah jelas, aku harap masalah ini selesai,”

“Aku minta maaf Jongin,”

“Aku mengerti posisimu,”

“Setelah semua kejadian itu dan Jongin pindah ke Busan tanpa kabar, aku mencoba menjalani kehiduapn seakan tidak terjadi apa – apa. Membaca jurnal Wendy adalah yang selalu aku lakukan. Tapi waktu tidak mengikis rasa bersalahku. Sampai akhirnya Soojung mengabariku bahwa Jongin sudah kembali. Kemudian aku mengirimkan surat atas nama Wendy pada kalian secara diam – diam,” Seulgi mengakhiri kejujuran yang dia lakukan lainnya.

Mendengar ini Jongin tercekat. Dia mengalihkan pandangannya menatap Seulgi untuk mencari kebenaran yang dijawab anggukan kecil Wendy. Kenyataan bahwa selama ini yang mengirimi dia surat adalah Seulgi.

“Aku berniat dengan perlahan seperti ini akan mempermudah bagiku bicara seperti sekarang,”

“Jadi selama ini kau yang mengirimiku surat itu?” tanya Soojung tidak percaya.

Seulgi mengangguk pelan. “Bukan hanya kau Soojung, aku mengirimkan surat pada kalian semua. Sehun, Jongin, Kau, Chanyeol Oppa, bahkan untuk aku sendiri.”

“Tidak bisa dipercaya,”

Seulgi tidak merespon kalimat sarkas Soojung. Dia kembali merogoh tas merahnya, kemudian mengeluarkan lima amplop yang berisi surat yang belum dia kirimkan. Secara bertatap langsung, Seulgi memberikan semua ini pada mereka.

“Ini mungkin yang terakhir, aku harap kalian menerima permintaan maafku. Aku tahu aku bersalah, tapi…” Seulgi menggantungkan kalimatnya, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “Ah, lupakan. Intinya aku minta maaf. Dan, Jurnal Wendy, aku rasa Jongin yang harus membacanya terlebih dahulu.”

Seulgi bangkit dari duduknya, tersenyum adalah yang terakhir dia lakukan sebelum akhirnya melangkah meninggalkan para sahabatnya. Seulgi hanya berharap semoga mereka menerima kejujuran Seulgi meski terlambat.

Dan malam itu, pertemuan untuk mengungkap kebenaran dari masa lalu berakhir dengan surat dimasing – masing tangan mereka.

.

.

Oh Sehun!

Ada satu buku yang pernah aku baca mengatakan bahwa lelaki tidak akan pernah mau berhadapan dengan seseorang yang menghancurkan hatinya. Aku pernah melukaimu bukan?

Tapi, seperti apa kataku padamu..

Kau adalah lelaki paling hebat didunia ini. Aku harap kau menemukan perempuan tepat yang akan mengisi hatimu, perempuan itu akan sangat bahagia mendapatkan lelaki yang bahkan rela berkorban untuknya.

Terimakasih Sehun, kau pernah menyimpanku dihatimu.

Cepat hapus aku dari sana dan gantikan dengan yang lain..

 

Aku menyayangimu Sehun-ah,

 

With Love,

W.Son

.

.

Oppa kami satu – satunya, Chanyeol Oppa.. kau ingat adikmu yang malas ini?

 

Kau sering membandingkan aku dengan Soojung. Kau bilang, aku lamban, manja, hahaha tapi semua memang benar adanya. Tapi apa Oppa sadar, semua bentuk perhatianmu membuatku merasa bahwa kau adalah sungguh Oppa kami.

Terimakasih untuk selalu menjadi penengah, ketika Soojung dan Seulgi bersitegang, ketika Soojung dan Sehun saling diam atau bahkan ketika Oppa sendiri dalam masalah.

Berbeda dengan yan lain, aku tahu, Oppa lebih suka menyimpan semuanya sendiri bukan?

 

Masa depan menyambutmu Oppa, semangatlah.

 

Dari adikmu

W.Son

.

.

Jung Soojung, saudara perempuan hebat kami….

 

Ah, terlalu banyak yang ingin aku tulis untukmu. Kenapa? Aku iri terlalu banyak padamu. Aku iri bagaimana kau begitu cantik, berani, pintar, kau juga tahu bukan? Ada banyak lelaki yang mengejarmu? Tapi aku tidak pernah sadar.

Ada seseorang menyukaimu Soojung-ah, sejak lama..

Tapi karena dia tidak ingin merusak persahabatan ini, dia menghapus perasaan itu dan tetap menjadikan persahabatan itu menjadi nomor satu.

Dia lelaki baik, kau tidak akan menyesal jika bersamanya.

Percaya padaku…

 

Yang begitu iri padamu

W.son

.

.

Sahabat tersayangku, Kim Jongin..

 

Aku semakin bingung untuk menuliskan apa padamu. Entah karena sudah terlalu banyak atau mungkin karena aku terlalu bingung. Salahkan otaku. Hahaha

Terimakasih Jongin, mungkin itu adalah kata yang akan sering aku tuliskan padamu. Hanya itu. Jika ada kalimat diatas terimakasih, mungkin aku akan menggunakan itu.

Aku berterimakasih karena kau sudah memberikanku persahabatan yang indah. Kau yang mengenalkanku pada mereka, sahabat terbaik kita.

Maka dari itu, sayangilah mereka seperti kau menyayangiku. Kau menyayangiku bukan? Kkkk~

Dan lagi. Lelaki adalah pejuang yang akan selalu maju sampai garis finish. Tapi apa yang kau lakukan? Kau mundur bahkan sebelum berlari. Kejarlah dia Jongin, jangan menyerah hanya karena asumsi dirimu sendiri. Kau bahkan belum mendegar pendapatnya bukan?

Kau lelaki Jongin,

Belajarlah pada Sehun untuk mengerti semua itu.

 

Tuan Putri.

W.Son

.

.

Seulgi melangkah keluar dari rumah sakit dengan langkah cepat – cepat. Ada dua perasaan campur aduk dalam hatinya. Pertama dia lega karena sudah mengungkapkan semua rahasia yang selama ini dia simpan sendiri, kedua dia merasa semakin terbebani mengingat semua kecanggungan dalam persahabatan mereka adalah karena dia.

Terkadang menjadi orang yang serba tahu bukanlah solusi untuk menjadi orang paling penting.

Seulgi menghentikan langkahnya di depan halte bus, mengelurkan kertas yang dia sobek dari halaman jurnal Wendy kemudian membacanya.

‘Terimakasih untuk kerja kerasmu Kang Seulgi…’

.

.

Bersambung

how bout this chapter? Leave your love guys ^^

XOXO

57 thoughts on “Letter From Nowhere : #9 Letter – Menerima Masa Lalu

  1. Woahh deg deg an tiap baca cerita ff ini..
    Jujur kasian juga jdi Seulgi, dia yg nyimpen semua rahasia tapi juga ga boleh dikasih tau. Ternyata gaenak jadi pemegang rahasia ya. Serba salah.
    Mudah-mudahan mereka bs nerima semua ini, buat Jongin dan Seulgi selamat udah berhasil melewati semua ketegangan antara sahabat2 kalian sampe sekarang!🙂
    Duh fanfic ini keren pokoknya, speechless!
    Yah Tinggal 1 chapter lagi dong, mudah mudahan isinya bahagia smua yaa kak😀
    Fighting xoxo❤

  2. waaayyaaww after long long loooonnggg time ahahah hampir 3senin..
    aku menghitungnya nona kwon!!! in chapter ter baper yang pernah saya baca ahahah tapi gpp lh penantiannya terobati sama ffiction yg gk bisa di bilang picisan dan biasa aja.. typo doang mah gpp..

  3. hampir tiga kalo besok gk keluar baru 3senin.. saya kira anda satu komplotan dgn ilachan?? menyeret nyeret rasa penasaran para reader dan para pemirsah ahahaa ngaku!!! kamu sengkongkol kn? ahahha yg smartrass juga blom keluar lgi..

  4. ini sudah berapa minggu?
    dan chapter ini bikin sesak. di cerita ini aku suka sosok Jongin. cara kakak membuat alurnya,,,,,hhhh aku tak tahu mau bilang apa. keren!!!
    sangat membosankan menunggu kapan chapter selanjutnya akan datang!

    oh god, kenapa aku terbawa suasana cerita dengan komentar yg seperti ini?

    Kaaaaaaaaaakkkk… kenapa ceritanya seperti ini??? nyesek tau gak!
    haha besok senin. sesuai jadwal, kk sepertinya harus melanjutkan ceritanya. diposting besok yah??? yah??? ‘kan kasian klo ceritanya nggak diungkap2 sampai berminggu2. seulgi harus menanggung nya berdua dengan saya. hiihihi

    • Apaa???!!! <- ini ngomongnnya pake ekspresi Soojung,
      di update besok? harusnya ini aku update besok aja ya,
      hahahhaa

      ditunggu yaaa,,
      kalian tuntasin dulu Bapernya,
      aku mau mejeng dulu bareng Seulgi biar dia ga galau,,

  5. jujur bener bener bingung mau komen apaaa. konfliknya dapet bgt eon, soojung kayaknya yang paling emosi yaa disitu. hohoho ternyata yang selama ngirimin surat itu si seulgii tohh, aku pikir sehun, ternyata tebakkan ku selama ini salah. tapi, ada satu kekurangan dari fic ini postnya itu kelewat laaaaamaaaaaaaa. oh iya eon sekalian classmate dong penasaran ama kelanjutannyaaaa

  6. Aduuhh.. Aku ngk tau mw bilang apa. Setelah dua minggu lebih, ni FF Ditunggu.
    Ahh chapter ii menguras air mata. Jongin psti trauma banget, ap lgi dia liat sendiri bgaimna meninggalnya wendy.. Huhuhuh.. Seulgi setia bnget. Memng benar menjadi pemegang kebenaran dmpaknya besar. Ahh jdi dpt pelajarn dri FF ini. Sumpah kak ini keren. Tpi tinggal stu chapter lgi ya.. Huhu.. Bkal rindu sma FF ini. Smoga mereka kumpul lagi, dan hidup bahagia.

  7. Kaakkkk bagaimana caraku menjelaskan ini semua???? ;;;-;;;

    Yaampun, biarkan aku bernapas bersama Baekhyun /ggggg
    Oke, mari mulai!:3

    Pertama, aku excited gilaak gegara kakak uda update😄 Astaga kak, demi apa ini fanfic yang aku tunggu2 dari lama huahahahah😄
    Astagfirullah kak aku terlalu menggebu:’v Aakkkk gimana iniiii?><

    Kedua, ngehiks kak :"
    Aku asli nangis ditengah malam saking gabisa ngontrol emosi bareng Seulgi/? *peluk Seulgi
    Nyesek kakk duuh:"
    Jadi yang serba tau itu emang serba salah kadang:"

    Ketiga, ini tuh super kak, aku serius :B
    Atuhlah bagus!! Gimana bisa dapet ide berantai kaya gini kak??? Minta rahasianya dong~~ Dirimu kalo bikin ff chapter pasti suka stuck tengah jalan😄 /abaikanjuseyo-,,-

    Btw, kak, wdyt soal exo next door yang uda rilis kemaren?😄
    Maygaattt makin cinta ama baekhyun😄

    Oiya kak, jan marah yaa ._.
    Untuk kesekian kalinya aku nyampah dikomenan:''''3
    Sayaaang kak apreel♥♥♥♥♥

    • hahaha
      dan aku pun ngerasa udah bayar hutang pas posting chapter ini,
      kkk~
      selamat menikmati,, dan selamat ber-gloomy ria sama mereka,
      aku udah cukup pusing pas nulis percakapan mereka, pusing banget,
      kkk~

      ayo Chaaa ditunggu fanfic chapter kamu,

      exo next door?
      jujur aku ga berharap banyak, ceritanya absurd banget.. aku nonton cuma karena ada EXOnya.
      Penempatan castnya ga tepat, kalo emang mereka ambil setting asli member EXO, harusnya jangan Chanyeol yang jadi cowo dingin,
      jadi awkward..
      dan Byun Baekhyun…. damn!!!!
      ugh >.<

  8. Hallo..
    salam knl kak..
    saya pembaca bru di sini. nemu page ini gara2 nyari translate lagu exo dan RV🙂
    Saya suka ff ini. ceritanya bagus, meski tiap chapnya msih berasa pendek. ahaha..
    Saya juga suka krn ada wendy di sini. tp sayang tdk ada kyungsoo di sini.
    but, still ok if wendy with sehun or jongin. mskipun dcrita ini udh musthil untuk keduanya. kkkk~

    saya mnunggu krya lain dri kk yg lbih keren dri ini. klo bisa msukin or coupelin wendy dgn kyungsoo.
    maafkn saya org baru yg bnyk mau kak… ahahaha..
    saya juga suka nulis cerpen. tp blm prnh post ff.
    mungkin lain kali saya coba.. haha.. ^^

  9. Huaa akhirnya diupdate juga setelah sekian lama T^T

    1 Chapter lagi ya? jangan lama lagi dong kak, aku penasaran hehe

  10. ugh kaak.. aku nangis tengah malam kan jadinya.. (tengah mlm WIT) T_T
    kadian seulgi.. dia harus nanggung semuanya demi mnjaga rahasia..
    dan jongin juga..
    ugh pokoknya chp ini nguras hati banget.. T_T

  11. Annyeong kak.. Sekian lama tak bersua maaf baru baca ff favorite ini, mian aku ga apdet karena twitterku kena hack dan bikin baru lagi😦 padahal aku juga pengen jawab cryptic storynya tapi telat😥
    Btw aku nunggu sekali chapter klimaks ini akhirnya sseul secret terungkap, kasian seulgi😦
    Kira” akan ada couple ga kak disini kasih clue dund😀 btw planningnya berapa chap kak? Hehe^^
    The last like it kak Apreel❤😉

  12. Iya kak yg hyoniez23off unfoll ajah aku udah follow kaka juga kok pake acc baruku hyoniez23 hehe promote dikit
    ^_^v
    Oh real sahabatan ajah hehe susah gampang ya memang sahabat beda gender🙂

  13. Ah kakak~ maaf aku telat komen -_-
    Oh, jadi Wendy jatuh ke sungai.. aku pertamanya ngira kalo Wendy meninggalnya lagsung di lapangan😀
    Dan,itu suratnya, Seulgi nulis berdasarkan imajinasinya apa atas pesannya Wendy??
    Lanjut kak.. keep writing😀

    • Bukan, surat2 itu bukan murni tulisan Wendy, karena emang wendy ga ada niat kirim surat ke mereka,
      jadi itu bisa diibaratkan tulisan Seulgi berdasarkan tulisan di jurnal dan apa yang terjadi,

  14. Wahh.. aku telat komen nih.. maaf ya kak, aku soalnya ketinggalan 9 chap, jadi hrs baca dari awal. Maaf belum sempet ninggalin jejak di chap sebelumnya. Tapi selanjutnya aku bkl slalu ninggalin jejakku ko..^^

    Jujur, ff ini.. aku suka banget! Dari chap pertama udah penasaran sama jalur ceritanya. Entah.. setiap baca pasti deg degan sendiri, apa lagi waktu baca surat2 W.Son yg tenyata dari Seulgi. Dan setiap baca, um.. gimana ya? Excited pokoknya. Kasian ya, Jongin dan Seulgi:( Tinggal 1 chap lagi ya kak? Ditunngu ya.. keep write kak!

  15. aduh kaka,, ak baca ini serasa flashback masa smp,,nyaris sma
    moga temenku bahagia disana,, amin

    sesuai tebakan,,yeyeye,, ak tau banget rasanya jadi Seulgi,,
    tinggal 1 chapter lgi iya? yaahh,,,,

  16. waaaah kang seulgi! aku baru sadar kalo kamu itu hebat banget! TOP BGT sama kaya authornya😀
    semoga mereka kembali bersama lagi walaupun wendy hanya dalam kenangan
    semangat semangat semangat

  17. Aku ga tau harus komen apa..
    T_T Huuaaaaaaaaaa,kamu tega bikin aku nangis gini apreeel…
    *SesegukanDipelukAbangChanyeol*

  18. Kak, aku baca ini backsoundnya set me free-nya taeyeon. Mana rumah sepi lagi sendiri dan aku bayangin, aku di posisinya Wendy /apa ini/
    Dia juga struggle, nggak cuma sama penyakitnya tapi sama perasaan juga sahabat-sahabatnya. Kasian juga sampe harus bunuh diri gitu, apalagi di depan orang yang dia suka TT TT
    Jongin sama Sehun juga korbannya. Masalah mesti ada ya di tiap persahabatan. Ini malah sampe complicated bertahun-tahun …
    Semangat last part!

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s