Letter From Nowhere : #7 Letter – Menyingkap Tirai Kebenaran (1)

Fanfic / Chaptered/ Friendship – Family – School Life / General / Kai – Sehun – Chanyeol – Soojung – Seulgi – Wendy

“Dear My Friend….”

Thanks to Sifixo@Poster Channel for wonderful poster

Recomended Backsong : SHinee – Color Of Seaseon

Prev. Chapter : 1 . 2 . 3 . 45 . 6 .

.

.

New Chapter UP! dan Classmate Chapter 1 sudah bisa dibaca ^^

.

.

Menyingkap Tirai Kebenaran (1)

Sabtu, Minggu berlalu seperti kedipan mata. Baru kemarin rasanya mereka tiba didepan gerbang Everland kemudian menikmati berbagai wahana sampai pusing, malamnya mereka lewati bersama di Villa keluarga Son menikmati kebersamaan yang sebenarnya sering mereka lakukan juga ketika di asrama. Tapi, kejujuran mereka diacara api unggun mau tidak mau menyita rasa penasaran. Rasa penasaran yang sampai hari inipun masih mereka ingin tahu jawabannya. Terutama bagi Wendy, mungkin juga Sehun.

Malam itu, setelah selesai mandi dan makan malam bersama penghuni asrama perempuan lainnya Soojung, Wendy dan Seulgi kembali kekamar. Seperti gadis lainnya, mereka memiliki aktivitas masing – masing, sebelum tidur. Seperti Soojung yang sibuk dengan majalah dalam pangkuannya, Wendy dan bonekanya diatas kasur, sedangkan Seulgi sedang sibuk dengan beberapa tugas kelasnya. Mereka sibuk dengan dunia masing – masing, sampai akhirnya Wendy memecah kesunyian tersebut.

“Aku penasaran dengan jawaban kalian di acara api unggun kemarin,” ucap Wendy sambil menatap Seulgi dan Soojung bergantian.

Satu lagi kenyamanan yang tiga perempuan ini miliki. Seharusnya satu kamar dalam asrama diisi oleh empat murid. Tapi, dengan statu Wendy sebagai tuan putri, dia meminta ijin pada orang tuanya untuk membiarkan mereka tetap bertiga dikamar itu. Melanggar peraturan memang. Tapi tanpa banyak adu argumen, orang tua Wendy menyetujui permintaan anaknya. Jadilah mereka hanya bertiga dikamar itu dan leluasa untuk berbagi cerita apapun.

“Jawaban kami atau jawaban Jongin?” ucap Seulgi sambil tersenyum kecil.

“Bisa dibilang begitu,” jawa Wendy.

Soojung meletakan majalahnya kemudian beranjak pindah ke kasur Wendy, duduk disampingnya. “Apa penting tentang siapa yang Jongin pernah sukai?” ucapnya sambil menghembuskan nafas berat.

“kalau ditanya penting atua tidak entahlah. Hanya saja aku sedikit kecewa pada Jongin, kenapa dia harus mengatakan hal seperti itu pada kita,” sambung Wendy.

Seulgi yang tadi masih sibuk dengan tugas kelasnya segera berbalik dan menatap Wendy kaget. “Kenapa?”

Wendy memandang dua sahabatnya bergantian, “Kenapa kalian tegang seperti itu? Bukan kecewa dalam artian aku marah padanya. Hanya saja menurutku kejujuran Jongin kemarin hanya menyulut rasa penasaran. Lagi, cinta bukan perkara sepele bagi perempuan,”

“Ya, dia memang sedang menyulut keberanian seseorang,” bisik Soojung lebih pada dirinya sendiri tapi ternyata tertangkap oleh telinga Wendy, bahkan Seulgi. Menyadari Seulgi juga mendengar gumamannya, mau tidak mau Soojung mendapatkan satu delikan tajam. “Bukan, maksudku, kalian kenal Jongin kan, dia sering melakukan hal yang… ya.. seperti itu,” dengan gelagapan Soojung menjernihkan maksud kalimatnya.

“Ya, tapi cinta bukan untuk sebuah lelucon, Soojung,” timpal Wendy yang disambut anggukan Seulgi. “Lalu, apa kalian tahu apa hal paling sulit menjalin sahabat antara perempuan dan lelaki?” tanya Wendy lagi.

Seulgi dan Soojung terdiam, mereka terlalu takut untuk mengatakan sanggahan apapun. Mereka tidak berani menolak opini Wendy tapi juga tidak bisa menerima sepenuhnya. Mereka teringat dengan Sehun, sahabat mereka.

“Mereka bilang lelaki dan perempuan tercipta untuk saling mencintai. Apa mustahil untuk menjalin persahabatan murni? Tidak, aku membuktikannya ketika bersama kalian. Tapi ketika Jongin mengajukan satu pertanyaan padaku di api unggun itu, lalu jawaban dia atas pertanyaan Sehun. Aku menjadi ragu. Aku bertanya – tanya, apa tidak bisa kita hanya murni sebagai sahabat,”

“Apa kau tidak bisa menganggap itu hanya sebagai lelucon? Oke kalau memang pembicaraan kita ini serius, seperti yang kau katakan karena kita adalah perempuan dan laki – laki, ditambah kita sudah saling mengenal satu sama lain. Menurutku itu bukan hal aneh,” jawab Soojung.

Seulgi ragu. Dia ingin mengangguk, menyetujui apa yang Soojung katakan tapi melihat ekspresi Wendy, dia batal melakukannya. Mengapa hal seperti ini saja membuat Wendy kesal? Seulgi bertanya dalam hatinya.

“Kau benar Soojung. Itu bisa saja terjadi,” jawab Wendy sambil menatap tepat mata Soojung kemudian tersenyum. “Aku hanya terlalu bias dengan ikatan persahabatan kita dan sulit menerima kenyataan bahwa kita perempuan dan laki – laki yang bisa saja,” Wendy menggantungkan kalimatnya.

Soojung mengerutkan dahinya. Dia merasa mendapatkan satu jawaban menyudutkan dari Wendy. Entahlah, dia merasa bahwa Wendy menumpahkan semua ini padanya, “Wendy aku ada satu pertanyaan,” ucap Soojung kemudian.

Tapi belum sempat Wendy menjawab pertanyaan Soojung, Seulgi sudah bergabung duduk diatas kasur sambil melontarkan satu pertanyaan pada Wendy. “Seandainya, diantara kita ada yang menaruh rasa padamu, apa kau akan tetap berpegang pada prinsipmu kita hanya sahabat?” tanya Seulgi sambil menggenggam tangan Soojung erat. Dia tahu apa yang akan ditanyakan Soojung. Percaya atau tidak, Seulgi sudah sangat hapal dengan gelagat para sahabatnya, termasuk sikap Soojung barusan.

“Entahlah, aku tidak tahu. Tapi yang pasti, aku tidak ingin semua itu menghancurkan apa yang aku rasakan sekarang,” jawab Wendy sambil tersenyum pada Soojung dan Seulgi.

.

.

“Aku bertanya – tanya, apa tidak bisa kita hanya murni sebagai sahabat,”

“Aku hanya terlalu bias dengan ikatan persahabatan kita dan sulit menerima kenyataan bahwa kita perempuan dan laki – laki yang bisa saja,”

“Entahlah, aku tidak tahu. Tapi yang pasti, aku tidak ingin semua itu menghancurkan apa yang aku rasakan sekarang,”

Satu persatu kalimat yang Wendy ucapkan kembali bermain dalam telinga Sehun. Bukan maksud untuk menguping pembicaraan mereka, Sehun hanya tidak sengaja mendengar cerita mereka ketika bermaksud meminjam buku catatan Seulgi. Pembicaraan yang lebih memberikan jawaban pada Sehun, tentang kenyataan bahwa Wendy hanya ingin mereka murni hanya sebagai sahabat. Tapi, mendengar kalimat – kalimat Wendy barusan, dia merasa ada sesuatu yang perempuan itu sembunyikan. Sesuatu, yang Sehun rasa akan menjadi hal besar. Pasalnya, tidak biasanya Wendy akan mengungkit hal yang mereka anggap sebagai candaan semata itu, menjadi pembicaraan serius.

“Jadi, kau menyukai Jongin, Wendy,” Sehun mengucapkan satu kalimat yang sebenarnya merupakan pembenaran untuk perasaanya.

Sehun telah lupa dengan tujuannya meminjam buku Seulgi, dia bahkan melupakan kenyataan besok dikelasnya akan diadakan test bulanan. Sehun tidak ingin memikirkannya, ketika kenyataan semua tentang Wendy memenuhi pikirannya. Betul memang yang buku katakan, cinta bisa merubah segalanya dan perempuan adaah masalah terbesar bagi lelaki. Bagi Sehun.

Sehun terus memacu langkahnya meninggalkan tempat itu, dilantai bawah di mengambil ID Cardnnya dari penjaga asrama yang dia berikan agar bisa memasuki kawasan para perempuan. Asrama lelaki yang bersebrangan dengan perempuan membuat Sehun dengan cepat bisa mencapai kamarnya. Tapi, kamar bukan tempat yang bagus ketika dia ingin bercerita banyak pada Jongin. Disana ada dua murid lain yang tidak mengerti akan kondisi mereka.

Menghentikan langkahnya didepan pintu masuk asrama perempuan, Sehun meraih ponselnya kemudian mengetikan satu pesan pada Jongin dengan cepat.

To : Jongin Kim.

Aku tunggu di lapangan barat asrama putra. Ada yang ingin aku bicarakan. Cepat,!

Kalau tidak salah ingat, Jongin tengah sibuk dengan tumpukan komiknya ketika Sehun beranjak dari kamarnya. Tapi Sehun yakin, satu pesan itu bisa membuat Jongin dengan segera melepaskan komik kesayangannya, meraih jaket dan segera menyusul Sehun.

Lapangan barat disamping asramanya, selalu sepi. Karena kebanyakan murid memilih berlatih atau berkumpul di lapangan utama sekolah yang lebih luas dan fasilitas lengkap. Sedangkan lapangan tempat Sehun terduduk sekarang, hanya lapangan rumput biasa dengan jogging track dipinggirannya dan gawang lepas – pasang disudut lapangan.

Sehun terduduk ditengah lapangan, ditemani lampu sekitar dan cahaya dari bulan. Tidak banyak yang dia lakukan selama menunggu Jongin, masih tetap bermain dengan fikirannya yang semakin liar. Tentu semua ini memusingkan. Sehun sendiri bingung dengan apa yang dia inginkan.

Suara derap langkah terdengar mendekat. Sesuai prediksi Sehun, tidak akan memakan waktu lama bagi Jongin.

“Apa yang penting itu?” tanya Jongin ketika dia sudah terduduk disamping Sehun.

“Perempuan,” jawab Sehun singkat.

Jongin terdiam, dia memandang Sehun untuk beberapa detik sebelum kemudian dia mendapatkan satu perubahan pada temannya ini. “Kau menjadi lebih sensitif semenjak kita pulang dari acara liburan itu,”

“Katakan padaku siapa perempuan yang kau maksud di api unggun itu?” tanya Sehun tanpa basa – basi dengan apa yang ingin dia ketahui.

“Karena itu kau menjadi uring – uringan sekarang?”

Sehun memejamkan matanya, benar kata Jongin. Dia merasa akhir – akhir ini menjadi lebih sensitif. Apa karena kenyataan tentang Jongin? Atau karena Wendy? Atau mungkin keduanya? Sehun menggelengkan kepalanya, kemudian ingatannya kembali pada perbincangan dengan Soojung tadi siang.

“Bagaimana jika perempuan itu kau, Soojung?”

Soojung mendelik mendengar pertanyaan Sehun. “Jongin suka padaku? Sehun, apa kau tidak mengerti maksud kalimat Jongin kemarin malam?” Sehun menggeleng yang membuat Soojung menghembuskan nafas kesal. “Jongin tidak serius dengan kalimatnya. Dia sedang memancingmu untuk jujur pada Wendy,”

“Tapi bagaiman jika kenyataan berkata lain?” Soojung belum menjawab tapi Sehun segera berlalu meninggalkannya.

Mengingat apa yang Soojung katakan kemudian menyambungkan dengan pembicaraan pada perempuan dikamarnya, Sehun tidak tahu pada tiang mana dia harus berpegang.

“Apa yang kau katakan kemarin bohong?” tanya Sehun kemudian setelah dia kembali pada kenyataan.

“Maksudmu?”

“Apa kau mengatakan itu untuk memancingku mengaku pada Wendy?”

Jongin bergumam, dia menatap Sehun untuk beberapa saat kemudian mengalihkan pandangannya pada langit dan hamparan bintang yang kebetulan malam itu terlihat begitu jelas. “Bisa iya, bisa tidak,” jawab Jongin.

Sehun menghembuskan nafas gusar. Dia sudah cukup pusing dengan dua kemungkinan yang dia dapatkan, tidak harus ditambah dengan riddle lain dari Jongin.

“Aku bercanda Sehun, tenanglah. Kau tidak perlu mengambil serius ucapanku kemarin malam. Sesuai tebakanmu, aku hanya ingin kau segera mengambil langkah atas perasaanmu pada Wendy. Tapi, aku tidak menyadarinya. Jadi kapan akan kau katakan?”

“Entahlah,”

“Apalagi yang kau pusingkan? Bukankah semuanya sudah jelas?”

“Apanya yang jelas? Ya, sudah cukup jelas, Wendy hanya menginginkan kita jadi sahabat seutuhnya,” jawab Sehun dengan intonasi yang mungkin terdengar lebih tinggi.

“Maksudmu?”

“Apa tidak bisa, sahabat dan kekasih dalam waktu bersamaan?”

“Bisa, tentu saja bisa. Asal kau bisa membedakan dua perasaan itu,”

“Aku fikir aku tidak bisa,” jawab Sehun pelan.

Jongin menepuk pelan bahu sahabatnya, sejujurnya Jongin mengerti dengan apa yang sedang Sehun rasakan. “Aku mengerti apa yang kau rasakan. Sebelumnya aku pernah merasakan hal serupa, tapi karena aku tidak bisa berada ditempat yang sama sebagai sahabat dan kekasih, maka aku mundur.” Jongin melanjutkan kalimatnya dan satu perasaan gugup menjalari tubuh Sehun.

.

.

Seulgi melangkahkan kakinya dengan sentakan, dia marah dan khawatir dalam waktu yang bersamaan. Hari ini dia tengah menikmati praktek seni rupa ketika satu telepon mengiterupsi siangnya yang menggairahkan. Satu telpon dari Ayahnya. Ya, ini sudah sangat lama sejak Ayahnya berbuat onar, maka dari itu Seulgi memiliki firasat buruk dengan panggilan tiba – tiba itu.

Benar saja, Ayahnya sedang dirumah sakit. Kebiasaan mabuk – mabukan, membuat sistem pencernaanna bermasalah. Jadi seperti inilah Seulgi sekarang, meninggalkan kelas dan berlari disetiap lorong rumah sakit mencari kamar Ayahnya mendapatkan pertolongan darurat. Setelah mendapatkan nama ruangan yang perawat sebutkan dengan segera Seulgi membuka paksa pintu dorong itu.

Andai saja ini bukan rumah sakit dan andai saja kamar itu bukan untuk ruangan pasien yang mendapat pertolongan darurat, mungkin Seulgi sudah meneriaki nama Ayahnya saat itu juga. Dengan langkah pelan, meski masih terdengar suara hentakan Seulgi mendekati tempat Ayahnya tengah terbaring. Masih mengenakan seragam kerjanya, satu selang infus melekat ditangan kiri Ayahnya.

Appa sering memuat onar, kadang memarahiku tidak jarang juga aku tekena imbas ketika kau mabuk, tapi bagaimana bisa aku masih sangat ketakutan ketika Appa terbaring seperti ini,” gerutu Seulgi dengan suara tertahan.

Memutuskan menunggu Ayahnya terbangun, Seulgi duduk disamping ranjang sambil memandangi wajah Ayahnya yang sudah tidak sama seperti dulu. Dulu Ayahnya sosok yang hangat, pengertian, berwibawa tapi sekarang? Semenjak istrinya yang tidak lain adalah Ibu Seulgi meninggal, Ayahnya berubah drastis. Wibawa memang masih melekat pada Ayahnya, tapi hangat dan perhatan entah hilang kemana. Semua ini membuat Seulgi memutuskan untuk bersekolah yang memiliki sistem asrama.

“Kau datang?” satu suara membangunkan Seulgi dari lamuman.

“jadi Appa mengaharapkanku tidak datang?”

“Tidak juga. Karena kau pasti datang,” jawa Ayahnya sambil tersenyum kecil.

“Apa yang terjadi?”

“Mereka memberiku Alkohol terbaru, tapi seperti perut ini sudah tidak bisa menerima minuman modern ala anak muda,”

“SUDAH AKU BILANG BERHENTI MINUM!” Seulgi lepas kontrol dengan meluapkan semua emosi pada Ayah kekanak – kanakannya ini. Tidak lama kemudian muncul perawat lelaki yang memberi Seulgi tatapan tajam. “Jadi bagaimana sekarang? Appa dirawat?”

“Tidak. Setelah habis kantung infus ini Appa akan segera pulang,”

Seulgi mendengus sebal. “Ada yang bisa aku bantu? Appa sudah mengurus administrasi? Aku tidak ijin lama dari sekolah,”

“Sudah, biar Appa yang urus nanti. Aku menelfonmu tadi karena takut sesuatu yang buruk terjadi dan kau tidak bisa menemui Appa jahatmu ini,”

Satu kalimat dari Ayahnya sontak membuat tubuh Seulgi bergetar. Sejahat apapun sosok didepannya, tetap saja dia orang tua satu – satunya milik Seulgi. Ketika mata Seulgi menangkap dompet Ayahnya yang tersimpan disamping tempat tidur, dengan segera dia terpikir satu ide bagus. Dengan cepat Seulgi meraih dompet Ayahnya.

“Aku tidak bilang aku mencintai Appa, hanya saja aku belum siap menghadapi kenyataan terburuk. Jadi sekarang ikuti apa kataku,”

Seulgi melangkah cepat dari ruangan itu, dia berlari kembali ke lantai satu dimana bagian administrasi dilayani. Dia tidak bisa membiarkan Ayahnya pergi begitu saja hanya dengan penanganan jarum infus. Maka dari itu, Seulgi berniat untuk memasukan Ayahnya pada kamar rawat inap dan menggunakan kartu di dompet yang sedang Seulgi pegang.

Mengurus semuanya ternyata tidak semudah yang Seulgi bayangkan. Dia harus pergi kesana – kemari, mengurus ini dan itu hanya untuk memasukan Ayahnya kekamar rawat inap. Untungnya kebiasaan dan masalah kesehatan Ayahnya karena alkohol mempermudah Seulgi melakukan pendaftaran. Terhitung 30 menit semuanya selesai, Seulgi berniat kembali ke kamar Ayahnya untuk mengembalikan dompet yang dia ambil, namun langkah Seulgi terhenti ketika dia mendapati sosok perempuan dengan seragam pasien berada beberapa langkah didepannya.

“Wendy?”

Seulgi beru berniat menerikan nama Wendy, namun sahabatnya itu sudah memasuki ruangan bersama seorang perempuan yang umurnya mungkin sekitar lima tahun lebih tua dari mereka. Kembali teringat dalam ingatan Seulgi, ketika Wendy dua hari yang lalu tidak masuk kelas juga tidak ada dikamarnya, kabar mengatakan Wendy tengah mengikuti kejuaraan dengan sekolah lain. Tapi kejuaraan macam apa yang dilakukan dirumah sakit?

Dengan segera Seulgi memacu langkahnya, dia menyusul ketempat Wendy tadi masuk. Ketika sampai didepan ruangan itu Seulgi membaca nama dokter yang bertanggung jawab atas kinerja didalam sana, juga nama penanganan penyakit yang dilakukan yang namanya sulit untuk Seulgi eja. Hanya saja dia tahu, ruangan ini untuk melakukan terapi.

Dompet Ayahnya bukan menjadi prioritas utama Seulgi lagi. Mungkin sekarang para perawat sudah memindahkan Ayahnya keruang rawat. Seulgi bisa mengurus Ayahnya nanti, sekarang yang dia tunggu adalah sosok perempuan yang dia yakini adalah Wendy. Menunggu bukan hal yang asing buat Seulgi, jadi 20 menit belum seberapa untuknya.

40 Menit sudah Seulgi menunggu disana, ketika pintu terbuka dan sosok perempuan tadi keluar dan benar itu Wendy. Dia masih belum menyadari sosok Seulgi, masih terlalu sibuk mendengarkan penuturan perempuan disampingnya. Sampai akhirnya Seulgi berjalan mendekat dan menyapanya.

“Wendy Son,”

Perbincangan itu terhenti, perempuan disampign Wendy menatap Seulgi dan Wendy bergantian. Sedangkan Wendy terlihat terkejut dengan kedatangan tidak diduga dari Seulgi. Dia hanya bisa mematung, memaku matanya pada Seulgi tanpa bisa berkata apa – apa.

“Jadi kejuaraan apa yang dilakukan di rumah sakit?”

“Siapa dia?” tanya perempuan yang bersama Wendy.

Wendy masih memaku matanya pada Seulgi, tapi dia menanggapi pertanyaan perempuan disampingnya –kakak perempuannya. “Sahabatku,”

“Ah, kenalkan aku Kakak dari Wendy, Irene.”

Seulgi dengan segera mengangguk sopan merespon kalimat perempuan yang ternyata kakak perempuan Wendy. “Salam kenal Eonni, aku sahabat Wendy, Seulgi.”

“Kalian butuh waktu untuk berbincang?”

Wendy masih terdiam membuat Seulgi dengan cepat menjawab pertanyaan itu. “Ne, bisakah kami bicara sebentar?”

“Baiklah, aku tinggal dulu. 20 menit lagi aku jemput oke,” ucap Irene yang hanya dijawab anggukan kecil Wendy.

Irene melangakah meninggalkan mereka. Seulgi menatap sahabat didepannya ini, rambutnya diikat tinggi, peluh membasahi lehernya, wajahnya pucat seakan tidak ada setitik bedak pun memulasnya. Rahasia apa yang sahabatnya ini sembunyikan?

“Kenapa kau bisa disini?” tanya Wendy membuka percakapan.

“Berterimakasihlah pada Ayahku, jadi rahasia apa ini Wendy? Flu dan sakit perut tidak mungkin masuk ruangan ini bukan?”

Wendy belum menjawab, dia beranjak mendekati Seulgi kemudian mengajak sahabatnya ini untuk duduk disalah satu kursi tunggu didepan ruangan itu. “Janji jangan katakan ini pada yang lain?”

“Aku memegang banyak rahasia kalian, tidak ada satupun yang aku bocorkan,” jawab Seulgi menjanjikan.

“Apa yang terjadi padaku secara detail kau tidak harus tahu. Intinya, seperti yang Jongin katakan aku ini tuan putri. Aku tidak boleh terkena hujan, aku tidak boleh kelelahan, aku tidak boleh bermain dipantai, aku tidak boleh terlalu excited dan masih banyak lagi yang tidak boleh tuan putri ini lakukan,”

“Sejak kapan?” tanya Seulgi terbata.

“Sejak lahir,” jawab Wendy sambil tersenyum. “Aku memang ditakdirkan untuk menjadi tuan putri, orang tuaku bahkan membangun kastil untuku,”

“Kenapa kau tidak mengatakan semua ini pada kami?”

“Status tuan putri terlalu berbahaya untuk di ekspos Seulgi, maka dari itu aku diam,”

“Jadi itu alasan dari semua tingkah laku manjamu selama ini?” satu anggukan Wendy menjawab pertanyaan Seulgi.

Seulgi sangat ingat, temannya ini tidak pernah mau terkena air hujan, dengan alibi putri duyung dia selalu menjauhi air hujan. Ketika Seulgi dan Soojung histeris menonton film tengah malam, Wendy selalu sudah tertidur pulas sebelum pukul 10. Atau ketika ditaman bermain, Wendy hanya mengikuti kemanapun langkah temannya tanpa sekalipun mencoba ikut bergabung menaiki wahana. Jadi ini.

“Jadi bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Seulgi kali ini kentara sekali kekhawatiran menyeubungi kalimatnya.

Wendy tersenyum. “Inilah yang tidak aku inginkan, perhatian lebih. Aku baik – baik saja, asal selalu melakukan apa yang mereka perintahkan,” jawabnya.

Mereka kembali terdiam. Seulgi masih terlalu terkejut dengan kenyataan yang dia terima. Tentang Wendy dan semua rahasianya, jadi ini dibalik betapa istimewa Wendy bagi orang tuanya. Masuk akal dengan semua yang dilakukan orang tua untuknya. Mereka sangat menyayangi Wendy yang memiliki nasib kurang baik.

“Seulgi kau pemegang rahasia diantara kita bukan?” tanya Wendy yang dijawab pandangan heran dari Seulgi. “beberapa hari lalu Soojung memberitahuku, bahwa pertanyaan Jongin di api unggun bukan suatu saat nanti, tapi sekarang. Soojung bilang ada seseorang yang mencintaiku sekarang, jadi siapa itu Seulgi?”

“Soojung mengatakan itu?” tanya Seulgi tidak percaya.

“Aku sudah mengatakan rahasia terbesarku padamu, jadi apa tidak bisa kau katakan rahasiamu?”

Seulgi menghembuskan nafas berat, seakan masih menimbang apa yang akan dia katakan. “Sehun, dia mencintaimu Wendy,” akhirnya semua terucap dari bibir Seulgi.

Wendy tersenyum mendengar jawaan Seulgi, bukan terkejut. “Ah, jadi Sehun,”

“Sekarang katakan padaku,” Seulgi mengucapkannya dengan nada ragu.

“Apa?”

“Kau, menyukai Jongin bukan?”

Senyuman itu kembali muncul. Tidak disangka, dengan mudah Wendy mengangguk untuk jawaban Seulgi. “Tapi Jongin menyukai orang lain, dan aku tahu siapa itu,”

.

——————

.

Operasi sudah selesai, masa kritis ibunya sudah lewat, untuk pertama kalinya Soojung bisa merasakan perasaan nyaman seperti ini. Bersandar pada tembok dekat jendela ibunya dirawat, Soojung hanya bisa menatap sang ibu disana. Rasanya dia ingin berlari kearanya, memeluk sang ibu atau menggenggam tangannya. Tapi apa daya, prosedur rumah sakit melarang mereka melakukan itu. Ada waktu dan batasan orang untuk bisa melihat ibunya dan sekarang sang Ayah sedang berada disana. Ya, Soojung mengalah untuk Ayahnya.

Soojung beranjak dari tempatnya berdiri, membalikan badan dan menyadari Chanyeol masih disana. Terduduk dikursi tunggu dengan fikiran entah kemana. Melihat Ibunya, melihat Ayahnya juga Chanyeol, Soojung tidak pernah menyangka mereka akan melewati hal rumit seperti ini. Soojung sudah terbiasa dengan Chanyeol disampingnya sejak orang tua mereka, beberapa hari merupakan waktu yang sulit ketika mendapati Chanyeol perti entah kemana. Dulu, orang yang pertama kali menghapus air matanya ketika bersedih pasti itu Chanyeol, tapi kenapa sekarang air mata itu tercipta karena Chanyeol. Soojung merindukan Kakaknya, bukan Park Chanyeol yang sekarang.

Melangkah menuju kearah Chanyeol, Soojung ingin membuncahkan semua perasaannya. Mereka tidak bisa hanya diam seperti ini tanpa berbicara satu sama lain.

“Apa Oppa merasa sedih?” tanya Soojung ketika dia sudah duduk disamping Chanyeol yang membua lelaki jangkung itu tampak terkejut. “Bagaimana perasaanmu melihat kerusuhan keluarga kita beberapa hari ini?”

Chanyeol tidak menjawab, dia menundukan kepalanya sambil menarik nafas kasar. “Maafkan aku Soojung-ah,

“Aku tidak bertanya perkara maaf, aku hanya bertanya apa Oppa merasa sedih?”

Mereka kembali terdiam. Soojung menunggu kalimat Chanyeol, sedangkan Chanyeol terlalu bodoh untuk berfikir kalimat apa yang pantas untuk dia ucapkan. Menyadari apapun kalimat yang dia keluarkan tidak akan merubah semuanya, dia memutuskan untuk diam.

“Aku rindu ketika kita menghabiskan makan malam bersama, sejak hari itu jangan makan bersama Ayah tidak pernah mau meninggalkan rumah sakit. Aku rindu pagi hari dibangunkan dengan suara cerewet Ibu, sedangkan sekarang? Jangankan teriakan Ibu, rumah bagaikan kastil kosong,” Soojung menarik nafas panjang, belum puas dia mengatakan semuanya.

“Aku juga rindu bernyanyi bersama Oppa dibalkon kamar ketika malam tiba, sekarang? Jangan salahkan aku karena telah menghancurkan gitarmu. Aku rindu pelukan hangat dan kalimat menenangkanmu ketika aku terjebak masalah, sekarang? Kau sumber masalahku Oppa,

“Maafkan aku,” ucap Chanyeol pendek tanpa berani menatap mata Soojung. “Aku tidak pernah berfikir semua akan berlari sejauh ini. Aku hanya tidak ingin,” Chanyeol menghentikan kalimatnya dengan suara gusar.

Soojung mengalihkan pandangannya pada Chanyeol, apa yang terjadi pada mereka? Chanyeol bahkan terlihat berantakan sekarang. “Sejak kapan Oppa? Sejak kapan kau tidak menganggapku sebagai adik perempuanmu?”

“Aku tidak tahu,” jawab Chanyeol pasti.

“Kenapa harus didepan mereka Oppa mengatakan semua itu? Kenapa tidak kita selesaikan berdua semua ini?”

“Karena aku takut ketika melihat ketertarikan pada Myungsoo diwajahmu,”

Satu jawaban dari Chanyeol berhasil membuat Soojung diam. Ini sungguh perasaan Chanyeol yang sesungguhnya, dia sayang pada Soojung tapi saat melihat betapa bahagia dia saat bertemu Myungsoo ada satu perasaan tidak terima di hatinya. Chanyeol sudah melewati tahun demi tahun bersama Soojung, sekarang ada sosok yang baru beberapa jam datang berhasil membuat Soojung tersenyum berbeda.

“Katakan semuanya padaku Oppa, kemudian kita lakukan dari awal, aku tidak sanggup kita terus seperti ini,”

“Apa yang harus aku katakan Soojung-ah,

“Apapun itu, yang belum sempat kau katakan sejak lama, biarkan semuanya pergi sehingga aku bisa berani menyambutmu lagi Oppa,

Chanyeol terdiam. Dia menutup matanya kasar sambil bersandar pada tembok rumah sakit. Perasaan ini tidak nyaman, tidak nyaman rasanya berbicara dengan Soojung seperti ini. “Orang pertama yang selalu kau hubungi adalah aku selama beberapa tahun kebelakang,” ucap Chanyeol membuka ceritanya.

“Awalnya aku menerimamu dengan tangan terbuka sebagai adik perempuanku. Hasilnya? Lihat betapa kita sangat dekat, menjadi tempat berbagi, tempat berkeluh kesah, bercerita, menangis, marah, kau dan aku. Tapi kemudian aku merasa kau adalah miliku,”

Soojung memejamkan matanya mendengar kalimat Chanyeol.

“Aku bahagia melihatmu tertawa, aku senang melihatmu berhasil, aku selalu disampingmu ketika sedih, dan aku marah ketika Myungsoo datang. Entah sejak kapan perasaan itu muncul, tapi aku rasa aku mencintaimu Soojung-ah

“Pernah Seulgi berkata padaku, bahwa hubungan kita lebih terlihat seperti sepasang kekasih dari pada adik kakak. Membuatku berfikir apa bisa kami hanya menjadi adik kakak? Mengingat tidak ada ikatan darah sama sekali antara kita, membuatku yakin suatu saat akan ada cara untuk aku…” Chanyeol memberi jeda pada kalimatnya. “Memilikimu,”

Soojung menggengam erat tangannya, entahlah dia bingung saat merasakan kedua tangannya bergetar hebat mendengarkan kalimat demi kalimat dari bibir Chanyeol.

“Tapi semua terjadi seperti ini sekarang,” ucap Soojung.

Chanyeol mengangguk. “Aku memang lelaki gegabah, yang aku pikirkan hanya kau dan aku. Aku melupakan kenyataan Ayah yang sangat mencintai kita, termasuk Ibumu. Andai aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan mengatakan itu dan menahan semua ini, biar aku saja yang tahu,”

Soojung dengan cepat menggelang. “Tidak! Andaipun waktu bisa diulang, aku ingin kau menjadi sosok kakak yang melindungiku, bukan mencintaiku!”

“Kau pernah jatuh cinta Soojung-ah, semua tidak bisa terhapus begitu saja,”

Oppa tidak akan bisa menghapusnya jika hanya memikirkan keinganan memiliki, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya. Tapi, aku berharap Oppa menemukan jalan untuk pulang,” Soojung beranjak dari duduknya berencana menyusul Seulgi dan teman – temannya. Tapi tangan Chanyeol menahannya.

“Boleh aku bertanya satu hal?”

“Katakan,”

“Jika kita tidak terikat hubungan keluarga seperti ini, apa kau akan menerima cintaku?”

Soojung terdiam, dia sakit melihat kakaknya berubah menjadi seorang penghayal seperti ini. “Tapi kita tidak bisa memutar waktu dan merubah yang sudah terjadi. Aku hanya punya satu jawaban, kenyataan bahwa aku sangat mencintai keluargaku sekarang. Termasuk Oppa sebagai Kakakku.”

.

.

Bersambung

how bout this chapter? Leave your love guys ^^

XOXO

35 thoughts on “Letter From Nowhere : #7 Letter – Menyingkap Tirai Kebenaran (1)

      • yah dan semua makin ruwet seperti benang kusut.
        ampun ya abis baca yang unyu-munyu di tempat sebelah masuk sini tuh rasanya. yaampun,

        ah terus itu mba seulgi kenapa harus bilang sihhh, kenapaaa. kan kasian mas tehunnya huhuhu
        udah ah kak, aku bingung daripada ga balikbalik lagi. dan yesh berarti tiga minggu lagi kelar.
        oh iya yg class itu mau tiap senin juga apa gimana ka? .-.
        ini komen dimana komennya apa hahahaha/ditendang

      • Wendy ada sesuatu, Jongin ada sesuatu, Sehun ada sesuatu, Seulgi yang tahu semuanya, ditambah Soojung ma Chanyeol yang bikin mati kutu,

        aku pun pusing dengan mereka tifa,
        maka dari itu mari kita akhiri,
        kkk~
        pengennya sih 3 chapter terakhir dikebut,

        yang Classmate, entahlah apa mau di taro tiap senin atau tergantung mood, nanti di pikirkan lagi,
        hahaha

  1. huft.. konfliknya tambah berat..
    semoga nanti happy ending untuk semuanya..
    lanjut trus ka ditunggu lanjutanya yaa..🙂

  2. Chanyeol move on donggg…
    Kenapa mereka ribet ka? Tolong diselesaikan ._.
    Next chapter kuharap ada titik terang buat mereka terutama chanyeolnya.. Dan aku penasaran sebenernya soojung punya rasa ga sama jongin tolong diperjelas kak apreel.. Ditunggu^^

  3. daebak.
    udah klimaks???
    semakin jauh permasalahannya semakin rumit. tapi kayak nyata, natural. hihi
    lanjut!!!
    eh, happy ending kah?

  4. Aahhh kak apreel aku merasa jrennngjreng sendiri baca chapt ini😄
    Astaga kak aku heboh sendiri nyadarin kalo ini hari selasa, 1 hari kelewat tanpa sadar/?-_-

    Oke aku speechless kak. Taulah dirimu aku ini sering speechless sendiri kalo uda baca fic sampe serius gila/?😄
    Pokoknya kak, lanjut yaa lanjuuttt ><

    Oke aku semakin menggila karena gatau mau ngomong apa:v
    Jadi let me terbang egen barenv bekyun/? :v
    Laaffffff♥♥♥♥

  5. ouh kaaakk..
    msalah mreka tambah rumit aja..
    tapi suka banget sama cara penulisannya kakak yg menjelaskan masalahnya satu persatu,, dan jadinya bikin penasaran..
    okelah.. aku tunggu senin berikutnya..😀
    semangat ya kaak.. ^^

  6. oooOmaaigat,
    GA TAAAHAAAAAN,
    ASLIIIII,GA TAAAHAAAAN…
    *let mi krai dibahu chanyeol oppa*
    Hiks,hiks..

    Chap ini bikin galau banget,huhu..
    Apa lagi pas Soojungnya gemeteran pas denger penjelasan chanyeol.
    Omaii,kamu ituu..
    Kerenlah pokoknya!
    fiksi kamu yg ini itu filnya dapeet,galau gemes gimana gituu..

    sekian,(lho?)(absurd)
    sampai ketemu neks cap ya apreel..
    lov ya,
    Xoxo

  7. Pingback: Letter From Nowhere : #9 Letter – Menerima Masa Lalu | EXO Fanfiction World

  8. spechless aku ga tau harus ngomong apa kasian wendy kasian sehun kasian chanyeol juga aaaah nyesek jadinya
    pokoknya semangat semangat semangat

  9. Akhirnya mereka cuma jadi ade kaka😥 tapi mereka kan gak da hubungan darah, kalo’ Soojung mau, harusnya mereka bisa jadian :’3

  10. Wendy kamu kok melas banget TT TT Udah cinta bertepuk sbelah tangan, sakit pula. Dia pengen persahabatan mereka tetep kayak gitu, padahal dia sendiri suka jongin. Tuan putri semakin rumit :3
    Kaget pas mba airin jadi cameo. ngahaha
    Dan balik lagi ke soojung-chan yang semakin ribet. Mana Chanyeolnya masih berharap sampe akhir, tapi bener mba soojung ya. Harus teges gitu😀

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s