Letter From Nowhere : #6 Letter – Mari Kita Bicarakan

 

nowhere

Fanfic / Chaptered/ Friendship – Family – School Life / General / Kai – Sehun – Chanyeol – Soojung – Seulgi – Wendy

“Dear My Friend….”

Thanks to Sifixo@Poster Channel for wonderful poster

Recomended Backsong : SHinee – Color Of Seaseon

Prev. Chapter : 1 . 2 . 3 . 45 .

.

.

New Chapter UP!!! Oke, sorry buat minggu kemaren absen update fanfic ini. Kebetulan minggu kemaren ada libur panjang di weekend, jadi dipake buat liburan kerumah. Beneran ga megang laptop selaam weekend, jadi sorry guys ^^

.

.

Mari Kita Bicarakan

“Ada banyak yang ingin aku bicarakan, tapi sekarang ikutlah denganku kerumah sakit. seseorang membutuhkan dukungan kita,” Jongin mengakhiri kalimat seiring dengan satu bongkah khawatir di dadanya terlepas. Ini pertama kalinya dia bertatapan langsung dengan Sehun sejak hari itu. Jongin hanya berharap apa yang dia lakukan mendapat sambutan baik dari sahabatnya.

Sehun masih berdiri diambang pintu, pandangannya terpaku pada Jongin. Dia masih belum berkata apapun, merespon ucapan Jongin pun tidak. Hanya terdiam dan terus memandang Jongin.

“Se-” Jongin berniat mengucapkan kalimat lain, mungkin sapaan atau mungkin permintaan maaf lainnya, tapi segera Sehun memotong dengan satu ucapan tegas.

“Maaf aku tidak bisa,”

“Bukan, bukan. Seharusnya, aku yang meminta maaf padamu. Bukan dirimu,” sergah Jongin sambil menahan tangan Sehun sebelum dia menutup pintu dan kembali bersembunyi dibalik ruangan itu. “Aku ingin bercerita banyak padamu Sehun-ah,” lanjut Jongin dengan nafas memburu, “Tentang kita. Tapi, Soojung membutuhkan kita,”

“Soojung?” tanya Sehun yang dijawab anggukan Jongin.

Sehun melepaskan cengkraman tangan Jongin kemudian melangkah keluar. “Ceritakan ada apa dengan Soojung,” pinta Sehun dengan suara datar.

Jongin baru berencana membuka mulutnya, setidaknya Jongin harus memberi Sehun garis besar masalah Soojung agar dia mau berangkat dengannya. Tapi, getaran ponsel menghentikan mulut Jongin untuk bercerita. Dengan gerakan cepat Jongin merogoh ponsel disaku coatnya, nama Seulgi berkelip disana.

“Seulgi,” ucap Jongin pada Sehun seakan ingin mengisyaratkan bahwa ini adalah sesuatu yang penting.

“Halo,”

Jongin mendengarkan sahabat perempuannya disebrang sana bercerita panjang lebar. Sehun yang berada didepan Jongin, masih sabar menunggu yang kali ini sudah mengubah posisinya dengan bersandar dipintu, kedua tangan dilipat dengan mata yang terus menatap kearah Jongin.

“Aku..” Jongin menghentikan kalimatnya kemudian memandang Sehun. “Seulgi.. aku sedang bersama Sehun. Jadi bisa kau jelaskan padanya agar dia mau ikut denganku ke rumah sakit?” ucap Jongin yang sontak membuat Sehun menaikan alisnya bingung.

“Seulgi ingin bicara padamu.”

Jongin perlahan menggerakan tangannya kearah Sehun untuk memberikan ponselnya. Sehun masih terdiam dengan mata terus menatap Jongin, seakan bertanya sandiwara apa yang sedang kau lakukan?

“Kau mungkin tidak akan percaya jika itu keluar dari mulutku, tapi kau percaya jika itu Seulgi bukan?” tanya Jongin lagi meyakinkan temannya.

Sehun terlihat membuang nafas gusar, menurunkan kedua tangan yang terlipat didada, kemudian mengambil ponsel Jongin dan dengan cepat meletakan benda kecil itu ditelinga sebelah kirinya.

“Ehm.. Seul, ada apa?” tanya Sehun dengan suara masih tetap datar seperti tadi.

Kali ini giliran Jongin yang terdiam dan menyaksikan Sehun yang nampaknya sedang mendengar penjelasan Seulgi. Ya, seperti yang Seulgi katakan tadi siang. Seulgi adalah diary berjalan seorang Oh Sehun. Maka dari itu, Jongin yakin, apapun yang dikatakan Seulgi, Sehun pasti setuju.

Tahun demi tahun sudah berlalu bukan? Beberapa hari terakhir Jongin telah bertemu dengan beberapa sahabat lamanya, Soojung, Chanyeol, Seulgi. Jongin sempat berfikir mereka masih sama, lalu apa Sehun juga masih sama? tapi pertanyaan itu terjawab dengan sikap dingin dan tertutup Sehun. Ini sangat kontras dengan sifat Sehun beberapa tahun lalu yang selalu menjadi moodbuster diantara mereka. Jadi, apa Sehun seutuhnya seperti ini? atau hanya pada Jongin?

“Oke, aku mengerti,” ucap Sehun sambil menghembuskan nafas panjang setelah mendengarkan penuturan Seulgi.

Sehun selesai dengan percakapannya. “Jadi, sejak kapan itu terjadi?” tanya Sehun sambil mengembalikan ponsel pada Jongin.

“Apa?” tanya Jongin.

“Soojung dan Chanyeol hyeong,

Jongin mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Sehun. Tunggu? dari mana Sehun tahu tentang masalah ini? bukankah Seulgi menelfon Sehun untuk membujuknya ke rumah sakit menemani Soojung? tanya Jongin dalam hati.

“Kau tau dari mana Soojung ada masalah dengan Chanyeol hyeong?” tanya Jongin.

Kali ini Sehun yang terlihat mengerutkan kening. “kau bercanda?” Sehun mendengus gusar. “Bukannya kau menyuruh Seulgi untuk menceritakan semua ini padaku?” ucap Sehun. “Seulgi sudah memberitahu alamat rumah sakitnya padaku, jadi aku akan segera menyusul,” Sehun mengakhiri kalimanya dengan kembali melangkah menuju arah pintu, tapi dengan segera Jongin menahan langkahnya.

“Tunggu, apa kita tidak pergi bersama?” tanya Jongin ragu.

Sehun melepaskan tangan Jongin, kali ini tidak sekasar sebelumnya tapi cukup membuat Jongin memundurkan langkahnya. “Tidak, sebelum kita menceritakan banyak hal antara kita,” ucap Sehun dan setelah itu kembali menutup pintu apartement sewaannya.

Jongin mematung tepat didepan pintu yang baru saja Sehun tutup. “Ya, dia benar. Masih banyak hal yang harus kita selesaikan,” Jongin menghembuskan nafas berat kemudian beranjak dari depan pintu Sehun. Dia harus bergegas, jangan biarkan Soojung sendirian.

Ketika nama Soojung terlintas, ucapan Sehun barusan kembali mengganggu benak Jongin. Tentang Seulgi tahu masalah mereka.

“Seulgi tahu?” tanya Jongin pada dirinya sendiri.

Jongin merogoh ponselnya, dia berencana menelfon Seulgi. Tapi baru saja Jongin mencari nama temannya itu, satu pesan baru masuk ke ponsel Jongin.

From : Seulgi

Apa menurutmu membawa Chanyeol Oppa, keputusan yang baik?

Kening Jongin kembali berkerut. Seulgi sungguh tahu tentang masalah Soojung. Jadi bukan Jongin yang tahu segalanya tentang mereka? Kalimat Seulgi tadi siang kembali terngiang dalam benak Jongin. ‘Anni, aku adalah orang yang tahu tentang kalian semua,

“Kau sungguh tahu segalanya Seulgi?” tanya Jongin lagi sambil beranjak dengan langkah lebar – lebar.

.

.

Pertimbangan Jongin, jika dia naik subway setidaknya butuh setengah jam untuk sampai di rumah sakit. Tapi, jika menggunakan taxi dan mengambil jalan pintas, setidaknya dalam 15 menit dia bisa sampai disana. Maka dari itu, meski uang sakunya terbatas, Jongin memutuskan naik taxi dari depan apartement Sehun. Sesuai prediksi, 20 menit kemudian Jongin sudah berada didepan rumah sakit Inha Unversity.

Berlari dengan kecepatan paling tinggi, Jongin kembali membaca pesan yang Seulgi kirimkan. Kamar tempat Ibu Soojung sedang menjalani operasi darurat. Setelah bertanya pada satpam dan suster yang dia temui, Jongin berhasi naik ke lantai 5 yang merupakan deretan ruang ICU dan ruang Operasi darurat. Lorong itu terlalu panjang dan memiliki banyak cabang, ketika berpapasan dengan satpam, Jongin kembali menanyakan ruangan yang kali ini dia lengkapi dengan nama pasien agar lebih mudah.

Jongin kembali berlari, tepat ketika dia berbelok pada cabang lorong kedua, disana Jongin mendapati Soojung tengah terduduk bersandar pada sosok lelaki yang Jongin yakin itu adalah Ayahnya. Belum ada Seulgi, Sehun atau Chanyeol. Dengan segera Jongin mempercepat langkahnya.

“Soojung-ah” ucap Jongin pelan sambil menepuk bahu temannya. Kemudian mengangguk kearah Ayah Soojung yang menyadari kedatangan Jongin.

Soojung sedikit terperanjat, fakta dia tengah melamun meski kedua matanya sedari tadi hanya memandangi pintu ruang operasi. Soojung berbalik menatap Jongin. Kedua matanya sembap, bahkan jejak air mata masih berada disana, ini lebih parah dari hari itu bisik Jongin.

“Jongin kau datang,” ucap Soojung dengan suara serak. Mungkin dia menangis sejak sore atau mungkin sejak semalam?

Jongin mengangguk dengan sedikit senyuman, mencoba memberikan Soojung rasa nyaman. “Kau baik – baik saja?”

Jongin mengharapkan Soojung mengangguk meski kenyataannya itu hanyalah kebohongan setidaknya membuktikan Soojung masih memiliki kekuatan, tapi Soojung menggeleng pelan dengan kedua matanya kembali mengeluarkan air mata. “Aku tidak baik – baik saja, aku takut Jongin,”

Tubuh Soojung kembali bergetar bersamaan dengan suara isakan. Jongin kembali teringat kejadian malam itu, ketika mendapati Soojung hanya terdiam dan menangis dalam pelukannya. Kemudian malam ini? Lagi, Jongin menyakisakannya. Tanpa banyak berfikir, Jongin meraih Soojung kedalam pelukannya kemudian menepuk punggunnya pelan beberapa kali. “Kuatlah Jung Soojung, kau perempuan kuat,” bisik Jongin memberikan kekuatan.

“Aku takut Ibu pergi Jongin, aku takut,” ucap Soojung lagi yang membuat Jongin memperat pelukannya.

Tidak banyak yang mereka lakukan, Jongin membiarkan temannya tenang dan Soojung terus menangis mengeluarkan kesedihannya. Sampai satu suara menyapa Soojung.

“Soojung-ah,” Seulgi datang. Bersamaan dengan Chanyeol juga Sehun.

Soojung segera melepas pelukannya dari Jongin kemudian menghambur kearah Seulgi. Jongin bangkit dan membiarkan Seulgi duduk disamping Soojung. Karena biasanya sesama perempuan akan lebih mudah untuk menenangkan satu sama lain.

Sehun mendekat, dia membelai pucuk kepala Soojung sambil tersenyum. “Kuatlah, Jung Soojung.” Sehun tersenyum. Jongin melihatnya, senyum yang sama seperti dulu.

“Sehun,” kali ini Soojung beralih pada pelukan Sehun.

Sehun mengusap pucuk kepala Soojung pelan, kemudian menatap sahabat temannya sambil menghapus jejak – jejak air mata disana. “Ingat, Seorang Jung Soojung tidak pernah menangis. Tenanglah semua akan baik – baik saja,”

Jongin rasanya ingin menangis. Ini bagaikan sebuah reuni, tapi dalam waktu dan kondisi yang tidak tepat. Andai mereka berkumpul tidak disaat ibu Soojung sedang berjuang untuk hidup, andai mereka berkumpul ketika Sehun dan Jongin tidak ada masalah, juga andai mereka berkumpul ketika Soojung dan Chanyeol hanya murni sebagai kakak adik.

“Ah, mengapa aku sangat sedih,” bisik Jongin pelan saat menyaksikan teman – temannya. Seulgi, Sehun, Soojung sedang saling berbagi kekuatan. Jongin membalikan badannya mendapati Chanyeol masih berdiri dibelakang.

Chanyeol berdiri dalam diam, kedua matanya terpaku pada objek didepan, bukan kumpulan Soojung dan temannya melainkan Ayahnya sendiri. Keduanya saling menatap, seakan mata mereka bisa menyampaikan apa yang mulut tidak bisa ucapkan. Jongin tidak ingin menebak seperti apa perasaan Chanyeol, yang pasti ini adalah hal yang berat untuk mereka.

Jongin berjalan menghampiri Chanyeol yang masih terdiam. “Hyeong, Kau tidak menyapa Soojung atau Ayahmu? mereka berdua tampak sangat bersedih,”

Chanyeol menghembuskan nafas berat kemudian mengalihkan pandangannya pada Jongin. “Entahlah Jongin, aku terlalu takut bahkan untuk menatap mereka,”

“Satu kali kata maaf, jika belum cukup ucapkan dua kali, jika masih belum cukup katakan yang ketiga kali. Terus ucapkan kata maaf sebagai tanda penyesalanmu Hyeong. Itu bisa kau lakukan nanti, sekarang yang paling penting beri mereka dukungan,”

“Aku,” Chanyeol kembali menaikan pandangannya, bisa Jongin lihat dengan jelas matanya berkaca – kaca. Hati Jongin hancur, melihat Chanyeol seperti ini. Waktu sungguh mengubah segalanya.

“Bukankah seorang Park Chanyeol adalah yang selalu berada disamping Jung Soojung ketika dia kesusahan? Ibunya sedang berjuang disana Hyeong. Satu – satunya keluarga yang Soojung miliki. Dia ketakutan, tidak bisakah kau melakukan seperti yang kami lakukan?”

“Biarkan Jongin. Aku yakin, Jika Seulgi tidak mengajaknya dia sama sekali tidak ada niatan untuk kesini,”

Baik Chanyeol atau Jongin terdiam, perbincangan mereka terhenti oleh satu kalimat tajam dari Soojung yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakang Jongin. “Kau kesini hanya untuk berdiri disana? menyaksikan dalam diam?” tanya Soojung lengkap dengan air mata yang kembali menetes di pipinya.

Chanyeol mengerjapkan matanya. Jongin bisa merasakan perasaan bersalah luar biasa Chanyeol. Chanyeol juga ingin menangis, tapi dia sadar bahwa semua ini karena ulahnya. “Maafkan aku, Soojung-ah

“Kau tahu Oppa? Kau membuatku juga Ayah kecewa. Apalagi dengan kepergianmu, apa seperti itu sikap lelaki? kau melempar batu pada kami dan menelentarkan kami dengan berlumuran darah,”

Kedua bersaudara itu nampak akan terjun dalam perbincangan serius. Mata Jongin menatap Seulgi dibelakang sana melambaikan tangannya untuk beranjak dari sana. Jongin mengerti.

.

.

Operasi berjalan alot. Sekitar 3 jam kemudian, pintu terbuka dan seketika Ayah, Soojung juga Chanyeol berhambur untuk mendapatkan informasi. Hanya Jongin, Seulgi dan Sehun yang tetap terduduk. Karena memang pada dasarnya itu sudah bukan urusan mereka lagi.

“Soojung akan ikut dengan Ayahnya,” ucap Seulgi memecah kesunyian ketika dia melihat Soojung mengekor dibelakang sang Ayah. “Chanyeol Oppa….” Seulgi menggantungkan ucapannya, ketiga pasang mata itu kini jatuh pada Chanyeol yang masih mematung didepan pintu operasi tanpa melakukan pergerakan apapun.

“Sungguh, Oppa datang kesini hanya untuk diam?” Soojung berbalik menghampiri Chanyeol dan segera menyerangnya dengan kalimat pedas. Chanyeol mengangguk, kemudian mengikuti langkah Soojung.

“Kau tahu tentang Soojung dan Chanyeol hyeong?” tanya Jongin, ketika dua bersaudara itu telah hilang dibelokan depan.

Seulgi menatap Jongin yang berada disisi kanannya, kemudian tersenyum. “Bukankah aku sudah bilang padamu Jongin. Aku diary berjalan kalian,”

“Sejak kapan kau tahu?”

“Ehm,” Seulgi nampak mengingat kejadian pertama kali Soojung mengabarinya. Tepat dimalam ketika Chanyeol menciptakan kekacauan. “Soojung menelfon setelah Chanyeol Oppa melakukan kekacauan dirumah mereka. Waktu itu aku juga menemani Soojung dirumahnya, dia sangat kacau,”

“Lagi pula, sejak lama aku sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi,”

“Apa?”

“Soojung dan Chanyeol Oppa. Apa kalian tidak merasa hubungan kakak adik mereka terlalu aneh?”

“Wah, ku pikir, hanya aku yang tahu tentang masalah ini,” ucap Jongin sambil menyandarkan kepalanya pada kedua tangan yang terlipat.

“Tidak penting siapa yang tahu dan siapa yang tidak tahu. Karena, kita semua sudah berkumpul disini untuk mendukungnya. Bahkan kau,” Seulgi melirik ke sebelah kiri dimana Sehun masih terdiam sambil melipat tanganyna didada. “Kau Oh Sehun, mau melepas dulu egomu untuk Soojung, aku senang…”

“Aku masih Oh Sehun yang sama,” balas Sehun yang dijawab anggukan dan senyuman kecil Seulgi.

Mereka kembali terdiam. Seulgi terlalu menikmati waktu berada diantara sahabat lelaki yang dulu selalu menjadi pahlawan baginya. Jongin tenggelam dalam lamunan memikirkan makna kalimat Sehun tentang dia masih sama seperti yang dulu. Apa memang Sehun masih sama? Sejujurnya Jongin tidak tahan dengan semua kondisi ini. Beberapa tahun terakhir dia sering mengasingkan diri dari sahabatnya ini, karena apa? karena dia merasa telah melakukan kesalahan paling besar. Mungkin itu juga alasan Sehun membencinya. Tapi sejak pertemuannya dengan Seulgi siang tadi, Jongin kembali mempertanyakan masalah mereka. Apa sungguh semua ini hanya kesalah pahaman?

“Duduk diantara kalian berdua, mengingatkanku masa itu. Kalian ingat? ketika kita sering bermasalah dengan Ayahku. Formasi seperti ini, aku selalu ditengah,” ucap Seulgi yang diakhiri tawa kecil.

Kemudian entah ide dari mana, Seulgi meraih tangan Jongin dan Sehun lalu menggenggamnya erat. “Aku mencintai kalian, kau Oh Sehun yang selalu membenarkan apa kataku,” Seulgi melirik Sehun. “Lalu kau Kim Jongin, yang selalu menjadi penuntun,” kali ini Seulgi meremas tangan Jongin. “Apa kalian tidak merindukan moment itu?”

Jongin menundukan matanya, Sehun menghembuskan nafas berat dan Seulgi masih menggenggam tangan kedua sahabatnya. “Ingatlah lagi, kalian dimasa lalu adalah pelindung kami. Aku, Soojung juga Wendy,”

tsh,” Sehun berdecak mendengar kalimat terakhir Seulgi, sejurus kemudian dia melepaskan genggaman tangan Seulgi.

Jongin yang melihat reaksi Sehun, merasa tertusuk tepat pada ulu hatinya. Sehun masih terluka karenanya.

“Waktu yang pas,” ucap Seulgi sambil bangkit dari duduknya. Dia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, kemudian mengetik pesan singkat yang entah dia kirim pada siapa, “Kalian berdua, ikut denganku. Aku tidak tahan dengan semua ini. Ayo kita selesaikan,”

Seulgi menatap Jongin, tatapan yang membuat Jongin bangkit seketika. Kemudian tatapan itu beralih pada Sehun, Sehun menghindarinya dan tetap diam dalam duduknya. “Oh Sehun kau mengacuhkanku kali ini? Kau tidak ingat mimpimu beberapa hari yang lalu?”

Sehun mendelik ketika Seulgi mengungkit masalah mimpinya. “Kau ti-“

“Aku menyayangi Wendy, aku tidak akan membiarkan semua ini begitu saja. Bahkan aku terlalu bodoh sudah mendiamkan ini terlalu lama,”

.

———-

.

Malam beranjak larut, tapi tidak satupun dari mereka menunjukan tanda – tanda meninggalkan ruang tengah. Mereka masih terlalu asik untuk melewatkan malam liburan bersama ini hanya untuk tertidur. Seulgi, Jongin dan Soojung masih menikmati permainan kartu dengan berbagai macam hukuman yang makin aneh. Sedangkan Sehun, Wendy dan Chanyeol terlihat duduk dipekarangan dengan Chanyeol mulai memetik senar gitar dan Wendy mulai bernyanyi. Sepert itulah mereka untuk beberapa saat.

Sampai kemudian Jongin menghampiri Sehun yang terduduk diluar kemudian mengajaknya ke pekarangan luar untuk membuat api unggun. Chanyeol bergabung, mengumpulkan beberapa kayu dari gudang belakang. Sekitar 10 menit kemudian api terlihat menyala.

Para perempuan turun, ikut bergabung. Soojung membawa alas duduk mereka, Seulgi sibuk dengan beberapa helai selimut dan Wendy turun dengan cemilan dalam pelukannya.

Api unggun adalah pilihan yang tepat.

“Kenapa kita tidak lakukan in dari tadi,” ucap Seulgi antusias ditengah aktivitasnya bersama Soojung memanggang marshmallow yang kemudian diikuti Jongin yang ikut membakar benda – benda putih itu.

Sehun meraih Gitar Chanyeol kemudian mengeluarkan suara yang melenceng dari nada – nada seharusnya. Sehun nampak bosan, tapi ada hal lain yang mengganggunya. Entahlah, dia merasa terganggu melihat Jongin begitu asik dengan Soojung. Sehun tidak mengerti, mengapa dia tidak terima jika kenyataan Jongin menyukai Soojung. Kenapa demikian? Karena Sehun tidak ingin Wendy kecewa.

“Ya, dari awal memang seharunya dalam persahabatan tidak boleh ada rasa cinta,” bisik Sehun sambil menyaksikan temannya yang tengah terlarut dengan dunia masing – masing.

Sehun masih asik dengan imajinasi dan gitar dalam pangkuannya, ketika Seulgi menepuk pundaknya pelan kemudian menjejelkan marshmallow kecoklatan kedalam mulutnya. “Malam – malam begini dilarang melamun, atau hantu akan merasukimu,”

Sehun menjulurkan lidahnya tanda tak setuju. “Hantu akan takut dengan ketampananku,”

Seulgi hanya tertawa kecil menanggapi lelucon Sehun yang menurutnya garing. “Mau melakukan sesuatu yang menyenangkan? nampaknya kita mulai asik dengan dunia masing – masing,” ucap Seulgi kemudian sambil mengamati teman mereka.

“Apa?”

Seulgi kembali terdiam. Dia melihat benda – benda disekitar mereka, kemudian berhenti pada botoh air mineral yang sudah kosong. Seulgi menjulurkan telunjuknya pada benda itu, Sehun mengikutinya. “Truth or Dare,

“Ada banyak yang ingin aku lakukan pada kalian,” ucap Seulgi semangat. Dia bangkit dari duduknya, berencana mengambil botol air mineral juga memberi tahu teman – temannya tapi tangan Sehun menahannya membuat Seulgi kembali terduduk.

“Kenapa?”

“Berjanji padaku, Seulgi,” ucap Sehun serius.

“Untuk?”

“Jangan tanyakan apapun tentang perasaanku pada Wendy dipermainan ini,” ucap Sehun yang dijawab anggukan dan senyum Seulgi.

“Tenang saja, rahasia kalian aman bersamaku. Aku janji,” Seulgi meraih kelingking Sehun kemudian menautkan jarinya, sebagai tanda janji mereka.

.

.

Api unggun masih bertahan ketika mereka sudah duduk melingkar, dengan botol air mineral kosong terletak ditengah lingkaran. Seperti usul Seulgi, mereka akan melakukan truth or dare.

Seulgi sebagai pencetus mengambil botol itu, sebelum memutarnya dia menatap kelima sahabatnya kemudian menerangkan aturan main. “Oke, ingat, ini hanya untuk permainan. Tidak ada unsur paksaan dan tidak boleh ada yang memaksa. Ingat oke, jangan memaksa,” tanya Seulgi yang dijawab anggukan mereka.

Botol sudah berada dalam genggaman Seulgi. Dia mencondongkan badannya kedepan, kemudian dengan gerakan cepat menggerakan botol kosong itu. Botol berputar, pelan – pelan sampai akhirnya ujung botol berhenti dan mengarah pada Wendy.

“Korban pertama,” ucap Seulgi sambil meraih botol. “Truth or Dare?” tanya Seulgi.

Wendy terlihat menimbang, dia menatap mata teman – temannya. Kemudian mengangguk pasti. “Truth,

“Woohhhh!!! Oke, Wendy..” ucap Soojung antusias.

“Asssaaa! Mari kita buka rahasia tuan putri,” timpal Jongin dia melirik Sehun kemudian memberikan kode untuk menanyakan sesuatu pada Wendy. Tapi sehun hanya menggerakan bahunya. Jongin akhirnya mengambil inisiatif dengan memberikan pertanya pada Wendy.

“Aku yang bertanya bagaimana?” tanya Jongin yang sebenarnya lebih dia tujukan pada persetujuan Sehun.

“Oke, Jongin kau boleh bertanya,” ucap Seulgi.

“Ehm, Wendy Son. Jika seandainya suatu saat nanti, entah kapan itu, diantara kita ada yang mengungkapkan cinta padamu apa yang akan kau lakukan?” Jongin tersenyum mengakhiri pertanyaannya.

Tapi berbeda dengan yang lain, mereka terdiam seakan Jongin baru saja melontarkan kalimat yang salah. Soojung yang duduk disampingnya bahkan menyikut perut Jongin. Jongin yang merasa kaku, melirik kearah Sehun dan temannya itu hanya membuang nafas gusar dengan wajah yang bisa dibilang tidak senang.

Sedangkan Wendy? dia terdiam. Terlalu kaget dengan pertanyaan Jongin yang diluar prediksi.

“Bukan, begitu. maksudku, kau tahukan kita nanti pasti akan tumbuh dewasa, sering bersama, tahu satu sama lain, bisa saja perasaan itu muncul bukan?”

Wendy mengangkat pandangannya, memandang Jongin. “Bukan sekarang kan? jika yang kau bilang suatu saat nanti, aku pun tidak bisa menjawab sekarang. Jadi kita lihat suatu saat nanti,” jawab Wendy diakhiri senyuman manis.

Jongin kalah telak. Dia pasti akan kena marah Sehun, Seulgi, Soojung bahkan mungkin Chanyeol juga akan ikut memarahinya. Ini rahasia mereka, tentang perasaan Sehun pada Wendy. Jongin merasa kepercayaannya sedang dipertanyakan.

Seulgi kembali memutar botolnya, semua kembali terdiam dengan mata terfokus pada perputaran benda didepan mereka.

“Jika berhenti didepan Jongin, aku yang akan bertanya padanya,” ucap Sehun disertai satu seringaian. Jongin hanya berharap semoga mulut botol itu tidak berhenti didepannya. Sehun pasti marah dengan pertanyaannya barusan dan sebagai balasannya, hal gila dari Sehun akan menantinya.

Tapi sialnya, benda itu berhenti didepan Jongin.

“Oke, Jongin truth or dare,” tanya Sehun.

Jongin memejamkan matanya, menimbang pilihan yang tepat. Jika dia memilih dare, Sehun pasti akan menyuruhnya dengan hal aneh. Akan lebih baik dia memilih truth, lagi pula Jongin tidak memiliki rahasia, lagi pula Seulgi sudah menyatakan tidak ada paksaan dalam permainan ini.

Oke.

truth,” jawab Jongin mantap.

Sehun tersenyum. Puas dengan pilihan Jongin. “Katakan pada kami, apa kau pernah jatuh cinta pada tiga perempuan disini?”

Satu pertanyaan yang tidak pernah temannya bayangkan, bahkan Jongin sekalipun. “Katakan Kim Jongin,” bisik Sehun tidak sabar.

Mereka kembali terdiam. Jongin terdiam dengan apa yang harus dia jawab. Mereka sisanya juga terdiam kaget dengan pertanyaan aneh Sehun, terlebih para perempuan. Jika Jongin menjawab pernah, apa mereka tidak akan penasaran?

“Ehm,” Jongin berusara. “Pertanyaannya hanya ada atau tidakkan?” tanya Jongin memastikan yang dijawab anggukan Sehun.

“Jawabannya,” Jongin kembali terdiam. Dia menatap Seulgi, kemudian Wendy dan terakhir Soojung. “Ya, aku pernah.”

Satu jawaban malam itu yang meghentak jantung tiga perempuan disana.

.

.

Mereka dalam perjalanan pulang kembali ke asrama Seungri. Liburan selama dua hari cukup mereka puas. Lupakan jawab dan pertanyaan konyol pada sesi api unggun, karena menurut mereka itu hanya bagian dari cerita menyenangkan. Tapi, tidak bisa dipungkiri para wanita penasaran dengan jawaban Jongin.

Mobil berpacu meninggalkan pedesaan tempat Villa keluarga Son. Chanyeol duduk disamping supir di kursi paling depan. Para perempuan berdempetan duduk dibagian tengah. Tersisa Jongin dan Sehun yang duduk di kursi paling belakang.

“Katakan padaku siapa perempuan itu,” ucap Sehun berbisik pelan.

Jongin tersenyum, kemudian menyikut tubuh Sehun. “Truth or Dare sudah berakhir bung! lagi pula kau tidak bertanya namanya semalam, jadi tidak akan aku jawab.”

Sehun mendengus sebal. Dia mendekatkan jarak duduknya dengan Jongin, kemudian berbisik tepat pada telinga Jongin. “Itu Soojung?”

Jongin tertawa, kemudian mendorong Sehun menjauh darinya. “Dilarang menebak – nebak, itu sangat berbahaya, intinya aku tidak akan menjawab. Kenapa kau sangat penasaran? para perempuan saja tidak,”

tsh, kau ini.”

“Apa? Kau takut aku menyukai Wendy?” tanya Jongin, yang segera dia lanjutkan dengan melambaikan tangannya, kemudian menepuk pundak Sehun. “Tenanglah, dia hanya untukmu.”

Sehun membuang muka keluar jendela. Bukan Wendy yang Jongin sukai, tapi entah kenapa kenyataan itu malah membuat Sehun takut.

Dan tanpa mereka sadari, Wendy dari depan mereka diam – diam mendengarkan pembicaraan mereka. Wendy tersenyum, tapi kemudian satu hembusan nafas berat terdengar.

.

.

Harusnya surat ini tidak aku berikan hanya padamu Jongin,

Kenapa?

Tenang – tenang, surat kali ini tidak banyak yang ingin aku sampaikan. Aku hanya rindu dengan kalian, aku harap masih banyak cerita yang kalian ciptakan dimasa depan.

Lanjutkan cerita kita, lalu dikemudian hari ceritakan semua ini pada anak – anak kalian.

Tentu jangan lupakan aku.

Sebutlah, Wendy Son sahabat kalian sambil menatap langit, saat menceritakan pada mereka. Karena aku ada disana.

 

With Love,

W.Son

.

.

Bersambung

how bout this chapter? Leave your love guys ^^

XOXO

52 thoughts on “Letter From Nowhere : #6 Letter – Mari Kita Bicarakan

      • kakaaaaak, kubur saja daku kubur dikubangan cintanya bang dio, kubur sajaaa/slapped/

        aaaaak, kugatau mau ngomong apa kak, seriusan. antara spechless dan……………bingung.
        entahlah kak, yang jelas tiap baca beginian itu bawaannya jadi baper huhu

        oh iya, sekalian mau bilang aku pengen pinjem niel-nya chen. tapi gatau bakalan jadi beneran apa engga, hahahaha
        dan maaf ini udah sepot lama-lama malah nyampah gini huhu
        \

      • Hahahah,
        ga papa tifa, yang penting kamu udah baca itu udah bikin aku seneng,
        kkkk~
        apa yang bikin specless??

        Pinjem Neil?
        Mau diapain nih😄
        kkk~
        boleh boleh, silahkan ^^

  1. Kak minggu kmrin absen ya._. Ttp rajin post ya kak, klo bs kasih tau di chap sebelumnya..
    Wendy udah tau? Waaa Sehun blm nyatain perasaannya ya?
    Chanyeol kasian tau😦 mudah2an ibunya Soojung baik baik aja..
    Jongin cepet baikan sm Sehun yap
    Love this chapter kakk!❤

  2. seulgi jadi pahlawan nih ceritanya? di chap ini.
    sehun mukanya mesti pas bgt waktu ngomong datar gtu,,, jdi senyum2 bayanginnya ^^
    trs surat2’a dateng dari siapa dong kalo wendynya aja uda dilangit,?
    aku penasaran kak,,,
    ditunggu lanjutannya ^^

  3. Ini seulgi yang ngirim surat kak?
    Penasaran apa yang terjadi sama wendy
    Sedih liat chanyeol kayak gitu :’-(
    Keep writing kak….!!🙂

  4. aku ketinggalan updatenya nih T.T huhuhu
    ceritanya bagus banget.. bikin penasaran ._.
    lanjut next chap kak. fighting…!!!


  5. Who is she? Woaaaaaa berani sekaleee kim jongin..
    next chap kasih tau dong ya kak siapa gadis itu….
    Feel aku sih ya Soojung bukan hahah
    Oiya ka postingnya jangan telat yuaaaaa… Ditunggu..
    Thanks kak apreel…

  6. Haloo kak! Aduhh… jadi Wendy suka sama jongin?
    Kakak kemarin nggak update? Nggak apa apa, soalnya kemarin lagi sibuk tryout.😀
    untuk chap selanjutnya SemangKa! Semangat Kakak!!🙂

  7. Tapi yang kirim surat itu “….” manusia bukan? ._. (ngaco)
    Feel aku seulgi masa? Or ada cast lain? Hahah
    Tapi kira” diantara mereka ada yg jadi pasangankah?
    Next teteup dinanti *tos bareng seulgi*

  8. Oke kak, aku terlalu speechless di chapter ini, sumpah-___-v
    Rasanya konflik yang bermunculan makin rumit khas remaja yang mau otw ke dewasa/? *bahasa aku apaan-__-*

    Refleks kak, pas bagian si Wendy uda ngedengar kasak-kusuk Sehun ama Kai dibelakang, aku panik sendiri :’v Huhahuha😄

    Speechless ah speechless :”3
    Lanjut senin depan yaa kak apreel, aku gamau tau pokoknya pas aku pulang les uda ada ff ini :v *maksa*

    Fighting, kak! 😁😁

  9. WAH, knp nggak dua kali ya post-nya krn minggu lalu ‘kan nggak ada, lgi sibuk!!. hehe.. maaf rakus.
    itu suratnya menurut aku sih suratnya dari Wendy, tapi dikirimnya setelah beberapa tahun kemudian. heheh..ngaco -_-
    lanjut minggu depan. fighting (Y)

  10. Ehh? Lho?? Koq?
    Udah beresan lagi…
    Kurang panjang nii,heheu
    //minta dihajar ini mah//
    /ampun/ /skip/

    Chap kali ini keren,makin bikin penasaran,dan ngegemesin asli.lagi..
    Ternyata,oo ternyata..
    rumit..serba salah..ahhh.
    /apa ini/

    Hmm..
    Masih ada typo sedikit dibeberapa kalimat tapi ga terlalu ngaruh ko..smangat ya!

    Aku tunggu neks capternya,dan Chanyeol nya (ehehe)(modus)..

    Ps.Maaf ya buat spam comment ini,rada absurd kata katanya..Lagi Moody abis (eeh curcol).
    Ppai~~

  11. eonni mian baru berkunjung ke blog eonni:( akhir akhir ini sibuk ngegambar jadi lupa segala-galanya miaaanhae.
    chapter ini entah kenapa aku gak merasakan ketegangan pas perdebatan antara soojung dan chanyeol mungkin karna chanyeol terlalu memilih untuk diam daripada membalas ucapan soojung, entahlah. dan jujur eon chapter ini sedikit membosankan. aku sih seneng cerita ini lebih banyak tentang sehunnya:D tapi aku berharap ada konflik yang lebih lagi eon yang lebih ‘panas’ dari konflik ini #sokbgtyaeon

    fighting eon!!!!!!!!!

  12. yaaaahhhh koq abisss?? lanjutannya dong kak.. penasaran.. penasaran… penasaran.. >_<

    ah mf dateng2 langsung begitu.. sebelumnya salam kenal ka.. ak pembaca ff baru.. tadi lagi cari lirik lagu trus masuk ke blog ini dh
    ternyata ada fanfic nya juga.. ak coba baca ternyata cerita nya bagus..
    aku follow blognya boleh kaaannn yaaaa?? hehe

  13. ahhh kak.. di komen ini mewakili dri chapter 1 – 6 ini ya kak.. aku ngak tau mw blng ap untuk crita kakak… ahh ini ff tekeren deh… pokoknya 100000000 jempul untuk kakak.. aku suka smuanya terutama jongin ohh noo.. aku mw tahu siapa sih yg slalu kirim surat itu, trus wendynya udh ninggal ya .. lalu ap alasan jongin mengasingkan diri dri teman2nya dan meninggalkan hoobinya, lalu mengapa mereka semua mlah berpisah aduh aku tambah penasaran kak.. ini benar2 DAEBAk…

  14. Pingback: Letter From Nowhere : #9 Letter – Menerima Masa Lalu | EXO Fanfiction World

  15. Masih nggak paham sama masalahnya sehun wendy jongin. Si sehun itu suka wendy tapi wendy suka jongin gitu? Trus jongin suka siapa? Masalahnya segitu besar ya sampe jongin ninggalin dunia dance ‘-‘

  16. uwaaaa aku jg klo jdi seulgi-soojung-wendy jg kya nya bakal deg-degan deh,gimana engga jongin yg tampan dan seksi jatuh cinta sma salah satu dari mereka ahahah daebak
    semangat semangat semangat

  17. Sumpah pas jongin bilang dia pernah suka satu dari antara 3 cewe itu bikin gemes juga pegel. Ah, jadi emang bener si wendy suka sama jongin.
    Emang ya, sahabatan cewe-cowo itu susah. Karena sering ada yang naro hati ke yang lain dan ngerusak persahabatan mereka deh.
    Next part!

  18. Aku kira jongin suka sama wendy, trus sama siapa dong?? Hadaahh.. Aku penaaaran wendy tu mninggalnya krn apa? Dan knp jongin yg merasa paling bersalah, apa krn perasaan wendy ke dia?? Ah entahlah, blm tau klo blm baca ….

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s