[A to Z FlashFic Challenge] Q for “Quite Night”

A to Z Flash Fiction Challenge

Day 17 ‘Q

Quite Night

Contain : 500 word

.

.

Kita akan selalu bersama..

.

.

Malam beranjak larut, ketika aku terduduk didepan jendela ditemani secangkir kopi yang sudah tidak mengepul. Akupun tidak tahu sejak kapan cangkir kopi itu sudah berada disana, tidak bisa kutebak juga kapan terakhir aku menyesap cairan hitam itu. Entahlah, aku tidak terlalu mempermasalahkan perkara kopi dan cangkirnya, yang aku tunggu sekarang adalah kehadiranmu.

Ini sudah lama, bahkan teramat lama. Bukankah dulu kau berkata kita akan selalu bersama? bukankah kau pernah bilang tidak bisa hidup tanpa diriku? tapi dimana dirimu sekarang? mendiamkanku dalam kesendirian ini.

Lalu, kenapa aku masih terus menunggmu?

Kalimatmu yang selalu menahanku untuk beranjak dari tempat ini. Sudah banyak orang yang mengusirku dari sini, mereka menyuruhku pergi dan menyerahkan tempat ini pada mereka. Lihatlah, rumah ini, rumah yang kau bangun untuk menamanikupun sudah sangat berantakan. Jangan salahkan aku, aku tidak memiliki semangat hanya untuk membereskannya. Yang aku inginkan hanya kehadiranmu, hanya dirimu.

Ku hembuskan nafas berat sekali lagi. Bulan sudah bersinar terang, angin berhembus semakin dingin dan hewan malam mulai mendendangkan melodinya. Tapi aku masih tetap terjaga, termangu didepan jendela menunggu kehadiranmu.

Kalimatmu hari itu kembali bermain dalam benaku.

“Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu ingat itu. Akan selalu bersamamu,aku tidak akan melupakanmu. Aku sangat mencintamu,”

Hari itu kau mengucapkannya dengan begitu tulus seraya memelukku erat. Aku tidak bisa berkutik, hanya terdiam dalam pelukanmu, meresapi setiap kalimat tulus yang kau ucapkan.

“Aku terus menunggumu, karena kau bilang akan terus bersamaku. Kau mencintaiku bukan?” ucapku bersamaan dengan angin yang berhembus. kupejamkan mata dan berdoa semoga kalimat ini tersampaikan padamu.

“Aku akan selalu menunggumu, karena aku ju-“

Belum selesai kalimat yang ingin ku ucapkan. Sungguh, aku belum selesai dengan harapan dan doa yang selalu kupanjantkan ketika malam tiba, tapi satu suara menghentikan doaku. Suara derap langkah kaki yang menginjak tangga kayu dipekarangan. Tunggu, apa itu dirimu?

Aku beranjak dari duduk dan memutar tubuh menatap kearah pintu. Pintu terbuka mengeluarkan suara derat menyedihkan. Perlahan aku melangkah mendekat. Terbuka, semakin lebar sampai akhirnya pintu itu benar – benar terbuka.

Aku terdiam. Sinar rembulan masuk dari pintu yang terbuka, tepat menerpa wajahku. Aku masih terdiam, kedua tanganku bergetar, air mata mulai mengalir di pipiku.

“Kau mengabulkan doaku Tuhan?” ucapku diikuti suara isakan.

“Maafkan aku, telah membuatmu menunggu,” ucap satu suara. Satu suara dari seseorang yang berdiri didepan pintu, seseorang yang membuka pintu, seseorang yang ku tunggu. Dirimu.

Tanpa pikir panjang, aku berlari kearahmu dan menghambur dalam pelukan yang begitu aku rindukan. Ini sudah sangat lama sejak terakhir kita bertemu. “Aku merindukanmu,” ucapku dalam isakan.

Kau balas mememeluku, mengusap pucuk kepalaku dengan lembut menyapu semua rasa sepi yang selama ini aku rasakan. “Tapi aku datang sekarang, karena aku tidak akan meninggalkanmu. Dan akan bersamamu selamanya,”

Aku menangguk menjawab kalimatnmu. Ya, mulai saat ini kita akan bersama. Aku melepas pelukanmu, kemudian menuntu kearah jendela tempat dimana aku selalu menunggunya. “Aku menunggumu seperti ini,” ucapku sambil memandang langit malam.

Kau tersenyum. “Dalam kegelapan seperti ini?” yang aku jawab dengan anggukan. Dia beranjak meraih lilin yang entah sejak kapan berada dibawah tempatku terduduk. Dilihat dari bentuknya yang sudah dilapisi jaring laba – laba, sepertinya sudah sangat lama lilin itu tidak terjamah olehku. “Seperti ini, mulai saat ini kita akan seperti ini”

Ya, seperti ini ucapku dalam hati. Terduduk berdua disamping jendela dengan dirimu dan cahaya lilin yang memberiku kehangatan dari malam yang sepi juga dunia yang sepi.

.

.

“Kau tahu tentang cerita rumah itu?” tanya seorang murid SMA bertopi saat dia dan teman – temannya melewati rumah megah tapi tidak terurus sepulang sekolah.

Dua temannya menggeleng untuk jawaban tadi, yang otomatis membuat si murid bertopi segera menghentikan langkahnya. “Rumah ini dulunya milik sepasang suami istri kaya. Mereka berdua kecelakan, si istri meninggal seketika dan suaminya meninggal setelah koma selama 3 tahun,”

“Owh, menyedihkan” sahut salah satu murid.

“Tapi ada cerita mengerikan dibalik kematian mereka,” sambung si murid bertopi. “Menurut satpam setempat sudah dari seminggu yang lalu, dirumah ini bagian jendela depan selalu ada lilin menyala,”

“Seramnya?”

“Sang suami sangat menyukai cahaya lilin dan seminggu yang lalu adalah tepat 3 tahun suaminya koma,”

.

14 thoughts on “[A to Z FlashFic Challenge] Q for “Quite Night”

  1. Sumpah kak, ini awalnya ngejleb sedih nyaaaaaaa :”’3
    Tapitapitapitapi….. aku juga malah ngira yang meninggal itu suaminya :”’3 Aku ketipu lagi wowowowohhh :’v

    Yaampun kak, aku suka yang iniiiiiii ><
    Duuh kan aku mau baca ulang lagi aahhh

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s