Letter From Nowhere : #3 Letter – Ramalan Masa Depan

nowhere

Fanfic / Chaptered/ Friendship – Family – School Life / General / Kai – Sehun – Chanyeol – Soojung – Seulgi – Wendy

“Dear My Friend….”

Thanks to Sifixo@Poster Channel for wonderful poster

Recomended Backsong : SHinee – Color Of Seaseon

Prev. Chapter : 1 . 2 .

.

.

Chapter terbaru, tepat kan seminggu sekali ^^ lagi mencoba konsisten jadi mohon bantuannya. Ah, kemaren banyak yang bilang bingung dengan bagian flashback, maka dari itu kali ini aku bedain divider kalo udah flashback yaa

.

.

Ramalan Masa Depan

“Selamat ulang tahun, Jongin..”

Malam itu Jongin mendapat satu kejutan ulang tahun tidak terduga dengan kedatangan Soojung. Soojung dengan cake ditangannya dan satu ucapan selamat ulang tahun dari bibirnya. Jika kembali mengingat ke masa mereka sekolah ini memang bukan apa – apa. Pada masa itu mungkin Jongin akan mendapatkan beribu ucapan dari mereka, pelukan hangat, tawa, hadiah tapi kali ini hanya Soojung yang Jongin dapatkan.

Tidak masalah, bisik Jongin dalam diam sambil tersenyum kearah Soojung.

“Selamat ulang tahun Kim Jongin, sahabatku, dan aku merindukanmu bodoh,” ucap Soojung sambil berjalan mendekati Jongin dan Jongin baru sadar ada air mata di pipinya.

Tunggu, Soojung menangis?

Dengan segera Jongin meniup lilin yang Soojung tata menancap diatas kue kemudian menempatkan kue itu diatas meja ruang tengah. “Ada apa?” tanya Jongin ketika Soojung masih berdiri disana.

Soojung menggeleng pelan, kemudian berusaha menghilangkan jejak air mata dari wajahnya. “Aku terharu,” jawab Soojung.

“Kau yakin? Ceritakan padaku, Seorang Jung Soojung tidak pernah menangis jika itu bukan karena masalah besar,” ucap Jongin sambil memegang kedua sisi bahu Soojung mencoba menguatkan sahabatnya. Kita masih sahabat bukan?

Soojung kembali mengusap wajahnya kemudian melepaskan tangan Jongin dari bahunya. “Sudah tiga tahun berlalu sejak kita lulus SMA,” ucap Soojung sambil melangkah menuju ruang tengah kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas sofa coklat tua. “Soojung pemberani sudah menghilang. Sekarang hanya ada Soojung cengeng dan manja,” lanjutnya sambil tersenyum kerah Jongin.

Jongin yang mengikuti langkah Soojung juga ikut duduk disamping Soojung. “Jadi?”

“Jadi apa?” tanya Soojung yang sekarang sedang berfokus pada kue didepannya.

“Kenapa kau menangis?” tanya Jongin lagi.

“Aku merindukanmu bodoh, ah bukan, tapi aku merindukan masa lalu kita. Aku baru menyadari kehidupan ternyata berat, seberat ini”

“Hidup tidaklah berat Soojung, tapi cara yang kita ambil yang membuat langkah kita menjadi berat,”

“Berarti aku sudah salah melangkah sejak lama,” jawab Soojung.

Jongin baru akan menanyakan satu pertanyaan lagi pada Soojung, tapi gadis itu malah memberikan satu potong kue pada Jongin dan mengalihkan pembicaraan pada yang lain.

Malam itu, dengan Soojung, Jongin menghabiskan malam ulang tahunnya. Tidak banyak perbincangan yang mereka lakukan, hanya mengenang masa lalu, berbagi kabar keadaan sekarang, hanya itu. Tapi kembali Jongin mendapati Soojung berbeda, seperti ada beban yang ingin Soojung keluarkan. Jongin mendapati beberapa kali Soojung membuang nafas berat, menguncapkan kalimat – kalimat ambigu dan semua itu membuat Jongin takut.

Rasa khawatir Jongin memuncak ketika Soojung meminta ijin untuk menginap dirumah Jongin. “Jongin,”

“Ehm?”

“Boleh, malam ini aku tidur dirumahmu?”

Jongin yang tengah menikmati kaleng coke terakhirnya, menatap Soojung dalam mencoba mencari masalah dari bola mata gadis ini. “Kenapa?” tanya Jongin kemudian.

“Sekarang ulang tahunmu, aku akan menemanimu. Lagi pula sekarang terlalu malam untuk pulang,”

“Aku bisa antar kamu pulang,”

“Hanya malam ini Jongin,” mohon Soojung lagi.

“Sesuatu terjadi padamu? Ceritakan padaku Soojung, dari awal aku sudah bisa tebak kau sedang tidak beres. Katakan,”

Soojung kembali menghembuskan nafas berat, kemudian menggeleng kecil. “Ada sesuatu menggangguku, tapi belum saatnya aku bercerita padamu,” ucap Soojung akhirnya mengakui. “Jadi boleh aku disini?”

Jongin mengangguk kemudian tersenyum. “Kau bisa tidur dikamarku, kamar Hyeong terlalu menyeramkan untuk perempuan,” ucap Jongin yang mengundang tawa dimuka Soojung.

.

.

“2 Februari 2015,” ucap Jongin dengan suara parau saat dia terbangun dari tidurnya. Dengan segera dia bangkit dari tempat tidur kemudian meraih ponsel yang terletak tidak jauh dari sana untuk mengecek jadwal dia hari ini.

“Oke, tiga mata kuliah untuk hari ini selebihnya aku habiskan di restoran.”

Jongin beranjak dari kamar kakaknya, menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan menyikat giginya. Waktu menunjukan pukul 7 pagi, ketika Jongin berniat menyiapkan sarapan pagi sebelum berangkat ke kampus.

Sebungkus ramen dan satu buah teluar. Jongin hendak menyalakan kompor dengan panci diatasnya yang sudah terisi air, tapi dia urungkan niat itu. Dia baru ingat, Soojung menginap disini semalam. Alangkah tidak bagus dan menyedihkan jika Soojung tahu kebiasaan Jongin sarapan dengan semangkuk ramen. Dengan segera Jongin menyimpan kembali ramennya kemudian membuka kulkas untuk mencari beberapa bahan sarapan.

Tahu putih, telur gulung, kimchi segar dan nasi hangat Jongin fikir ini cukup untuk mengisi perut mereka berdua pagi ini.

Jongin tengah menyicipi sup tahu miliknya ketika ponsel disaku celananya bergetar.

From : MinSeok Hyeongnim.

Anak pertamaku perempuan, dia sangat cantik. Kalian harus datang. Ah iya Jongin, aku sudah mengabari bos, untuk sementara kau yang mengganti tugasku, jadi motor simpan bersamamu untuk sementara. Ok

Jongin tersenyum membaca pesan itu. Kebahagian luar biasa itu menular hanya melalui sebuah pesan singkat? Alangkah hebatnya pagi ini.

To : MinSeok Hyeongnim

Siapa namanya? selamat hyeong. Ok, aku gantikan tugasmu.

20 menit, dan Jongin selesai dengan tiga menu sarapan paginya. Dengan segera Jongin melangkah menuju kamarnya untuk mengintip apa Soojung sudah bangun atau belum. Jongin berniat mengetuk pintu kamar, tapi dia mendengar suara Soojung dari dalam. Sebuah percakapan,

“Cukup!” suara Soojung terdengar begitu jelas bahwa dia sedang berteriak tertahan. “Jangan bicarakan dulu masalah ini, kau sudah merusak semuanya. Hentikan,”

Jongin masih mematung disana. Dia kembali berfikir keras dengan apa yang sedang terjadi pada Soojung. Dia tahu sahabatnya ini, Soojung tidak pernah mempermasalahkan hal kecil, jadi apa masalah besar itu?

Ketika suara percakapan via telfon didalam sudah berhenti, Jongin dengan berani mengetuk pintu kamarnya.

“Soojung,” ucap Jongin.

Tidak lama kemudian pintu terbuka dengan Soojung menyembul dari dalam. Rambut panjangnya terikat berantakan dan ada pemandangan aneh dari wajah Soojung yang Jongin tangkap. Kedua matanya sembap juga hitam dibawah matanya begitu kentara. Jongin ingin menanyakan kembali ada apa dengan gadis ini, tapi hari masih terlalu pagi untuk menggali masalah orang lain.

“Kau ada kuliah hari ini?” tanya Jongin.

“Ehm, jam 10,” jawab Soojung sambil melangkah keluar kamar.

“Ah, aku sekitar jam 9. Mau ku antar?” tanya Jongin.

Kedua alis Soojung berkerut kemudian dia tertawa kecil. “Tawaran bodoh apa itu? Kampus kita berbeda arah Jongin, haha..

“Mungkin kalau kita berangkah jam 8 aku bisa mengantarmu dulu,”

“Lalu apa yang kulakukan dikampus pagi – pagi? tidak usah, aku pulang kerumah dulu,”

“Baiklah,” jawab Jongin. “Ah, aku sedikit menyiapkan sarapan, jadi kau bisa makan dulu sebelum pulang..”

Soojung menatap Jongin dengan tatap menyelidik kemudian tersenyum. “Oke,”

Dengan segera Soojung melangkah menuju ruang makan yang disusul Jongin mengekor dibelakang. Tapi langkah Jongin terhenti, ketika dia mendapati satu benda didepan pintu masuknya. Jongin mengubah langkahnya menuju pintu masuk, kemudian mengambil benda itu.

Sepucuk surat dengan amplop berwarna coklat. Jongin mengerutkan kedua alisnya, berfikir dengan benda yang ada ditangannya. “Surat yang sama seperti sebelumnya?” bisik Jongin.

“Apa itu? Surat?” tanya Soojung yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakang Jongin.

“Ah, kakaku.. dia sedang berpariwisata jadi mungkin kartu pos,” jawab Jongin asal.

Soojung mengangguk kemudian kembali ke ruang makan untuk menyantap sarapan pagi hasil Jongin. Sedangkan Jongin melangkah menuju kamarnya, menutup pintu kemudian membuka amplop surat itu.

Sama seperti surat – surat yang sudah Jongin terima selama beberapa bulan terakhir, selalu ada inisial ‘W.Son’ dibagian depan amplopnya. Jongin mulai membaca surat itu, berisi tentang ucapan selamat ulang tahun untuk Jongin. Dan khusus hari ini, dibawah surat tertulis ‘Tuan Putri,’

“W.Son? Tuan Putri? Siapa yang sedang mengerjaiku,” ucap Jongin dengan suara dingin. Dia menutup kedua matanya kemudian menghembuskan nafas berat. Selama beberapa bulan terakhir kedatangan surat – surat ini sangat mengganggu hidup Jongin. Sangat.

Jongin tengah larut dalam fikirannya, ketika dia mendengar satu ketukan dari luar. “Jongin,” ucap Soojung.

Jongin membuka matanya kemudian kembali melipat surat itu dan memasukan kedalam amplonya lagi. Beranjak pada kotak kecil dimeja kamarnya, Jongin membuka kotak itu dan menyimpan surat bersama surat – surat yang datang sebelumnya.

“Sebentar,” jawab Jongin.

.

——————————

.

Masa penerimaan murid baru sudah selesai, Jongin mendapatkan banyak tekanan selama seminggu terakhir. Sungguh, Meski Seungri termasuk sekolah elit, kasta senioritas masih berlaku disana. Senior sungguh meraja.

Banyak murid baru yang mereka kerjai Jongin masih sangat ingat siapa saja mereka, terlebih orang – orang itu adalah mereka yang sudah Jongin prediksi sebelumnya.

Pertama Soojung yang dengan berani mencium senior di hari pertama. Dia dijadikan sasaran senior perempuan, dibentak, disuruh ini itu dan yang lebih parah mereka bahkan menyuruh Soojung untuk meneriakan ‘aku mencintaimu’ pada lelaki yang dia cium. Jongin fikir ini keterlaluan, jiwa ksatria Jongin muncul. Jongin berniat menolong Soojung tapi semua terhenti dan satu fakta tentang Soojung terungkap.

“Teriakan pada lelaki yang kau cium dihari pertama itu aku mencintaimu dari sini,” suruh senior perempuan sambil memberikan microphone pada Soojung saat mereka sedang dalam sesi hukuman di lapangan utama sekolah.

Soojung menatap dua senior itu. “Pada siapa? Lelaki yang aku cium itu? Tapi Sunbae janji jika aku berhasil melaksanakan hukuman ini aku bebas dari hukuman lainnya?” jawab Soojung berani.

Kedua senior perempuan itu memutar bola matanya gerah lalu mengangguk setuju.

“Ini bukan hal yang sulit, mengatakan cinta pada kakaku sendiri,” ucap Soojung sambil tersenyum penuh kemenangan.

“PARK CHANYEOL, AKU MENCINTAIMU…….!” Teriak Soojung dengan lantang.

Mereka semua yang berada dilapangan itu tertegun. Bukan karena teriakan berani Soojung, tapi tentang fakta bahwa lelaki yang dia cium itu adalah kakaknya. Park Chanyeol –lelaki bertubuh jangkung yang mendengar teriakan Soojung melambai dari lantai dua gedung pendidikan kemudian membentuk Love Sign. Soojung melompat bahagia kemudian kembali berteriak, “GOMAWO OPPA…” dengan penuh kemenangan dia mengembalikan microphone itu pada dua senior yang tercenung kaget.

“Hukumanku selesaikan Sunbae?

Woah… perempuan yang mengagumkan,” puji Jongin saat melihat apa yang dilakukan Soojung.

yah, tipikal wonder women,” ucap Sehun yang sudah kembali berada disamping Jongin setelah menyelesaikan hukumannya. Jongin berfikir keras, entah sejak kapan dia dan Sehun selalu bersama seperti ini. Dari hari pertama sampai hari terakhir penerimaan murid baru, Sehun selalu bersama Jongin. Sedikit menyebalkan.

Soojung dengan skandalnya, Sehun dengan sikap urakannya, Seulgi yang terus melawan senior, Jongin yang selalu lupa dan tuan putri yang selalu selamat. Seminggu ini, Jongin merasakan kehidupannya dirampas.

Setelah sabtu minggu beristirahat, malamnya Jongin berkemas karena besok –senin, dia harus pindah tinggal di asrama sekolah.

“Selamat ulang tahun Kim Jongin,”

Jongin sedang merapihkan sepatu miliknya ketika Joonmyeon datang dengan kue ditangannya. Ulang tahun? Wah, dia bahkan lupa karena acara penerimaan murid baru itu.

“Woah, terimakasih Hyeong. Aku bahkan lupa,”

“Dan aku tidak mungkin lupa dengan hari ulang tahun adiku. Aku tiup lilinnya,”

Jongin meniup lilinnya kemudian memejamkan mata untuk mengharapkan semua hal bagus tahun ini.

“Apa yang kau pinta?”

“SMA-ku berjalan lancar”

.

.

Jongin baru berharap semalam semoga tahun ini berjalan lancar bukan? Tapi semua sudah terpatahkan ketika dia masuk keasrama dan melihat daftar teman sekamarnya. Satu kamar dihuni empat orang dan dari empat nama yang berada dikamar Jongin, tertulis nama Oh Sehun. Ada apa ini? Apa Jongin memang ditakdirkan untuk terus bersama Sehun?

“Oh, menyebalkan,” ucap Jongin.

Dikamar, baru Jongin yang mengisi. Dengan segera Jongin menyimpan barang – barangnya kemudian mengganti dengan seragam yang sudah menggantung dikamar itu, seragam dengan nametag resmi bertuliskan Kim Jongin.

Selesai berganti dengan seragam Jongin melangkah menuju gedung pendidikan untuk mencari kelasnya. Satu hal lagi tentang Seungri. Penempatan kelas dan tempat duduk untuk murid ditentukan dari nilai yang mereka bawa saat masuk.

Dengan nilainya, Jongin yakin bahwa dia setidaknya akan masuk kelas A. Dan betul, dia berada dikelas A dengan tempat duduk di nomor urut 2 yang berarti nilai Jongin tertinggi kedua dari semua murid angkatan mereka.

“Woaw,” ucap Jongin bangga saat dia membaca namanya.

Tersentil dengan nasib buruk teman sekamar, Jongin mencari nama Sehun dikelas A dan dia tidak menemukannya spontan Jongin tersenyum jahil.

Oh! Kita teman sebangku,” ucap satu suara nyaring dari samping Jongin.

Dengan segera Jongin melirik kesebelah kirinya dan mendapati perempuan berambut hitam ikal, berkulit putih dan Jongin tahu siapa dia. Wendy Son. Si tuan putri.

“Kau Kim Jongin kan?” tanya Wendy sambil menunjuk nametag Jongin. “Aku Wendy, teman sebangku mu.. semoga kita bisa menjadi teman menyenangkan,” ucap Wendy sambil mengulurkan tangannya.

Jongin menyambut uluran tangan itu kemudian tersenyum. “Dengan senang hati,”

Hari dimana secara langsung Jongin bertukar sapa dengan seorang Wendy Son. Perempuan yang Jongin predikati sebagai tuan putri, yang akan menjadi teman duduknya selama satu semester kedepan.

“Jadi kita mulai dari mana pertemanan kita?” ucap Jongin tanpa sadar.

Wendy menimpali kalimat Jongin dengan tawa sambil melangkah menuju kelas. “Ah, nampaknya aku kembali salah menilai orang,” ucap Jongin tertawa sambil ikut masuk kedalam kelas.

.

——————————

.

Hari ini berjalan lancar bagi Jongin. Setelah menghabiskan tujuh jam dikampus, kemudian kembali menyibukan diri dengan kerja part time di restoran lalu malamnya Jongin bersama rekan satu kerja pergi ke rumah sakit untuk mengujungi MinSeok yang baru saja jadi Ayah. Jongin rasa hari ini dia lalui dengan sempurna.

Melihat seperti apa bahagianya seniornya itu, Jongin hanya bisa membayangkan kapan masanya datang mendapati kebahagian yang melimpah seperti itu. Menyadari dirinya membayangkan hal tersebut, Jongin hanya bisa tersenyum.

Sekitar jam 11 malam Jongin sampai dipelataran rumahnya. Udara dingin ditambah salju – salju terakhir yang jatuh membuat udara semakin menusuk. Setelah menyimpan motor ditempatnya, Jongin melangkah menuju rumah.

Namun langkahnya terhenti ketika dia mendapati Soojung tengah terduduk didepan pintu masuknya. Jung Soojung, duduk diluar ketika udara sedang gila seperti ini. Dengan segera Jongin melepas coat coklat miliknya kemudian menghampiri Soojung.

“Soojung, Soojung, Jung Soojung..” ucap Jongin sambil menggoyangkan tubuh Soojung.

Soojung terbangun, kedua matanya sembab, bibirnya bergetar dan kedua tangannya terasa begitu dingin. Jongin merasa sangat bersalah mendapati temannya seperti ini. Sebenarnya ada apa dengan Soojung batin Jongin dalam hati.

“Jongin,” ucap Soojung dengan suara bergetar.

Jongin membalut tubuh Soojung dengan coat miliknya kemudian memapah Soojung untuk berdiri. “Ayo kita masuk dulu, baru kau ceritakan semuanya,”

.

.

Ramalan masa depan…

 

Jongin, kau masih ingat dengan kemampuanku membaca kartu tarot. Kau pernah bilang bahwa tarot bukan hanya tentang ramlan, tapi ada sains didalamnya. Karena kalimat mu itu akhirnya aku penasaran dan mempelajari tentang tarot.

Kalau tidak salah, tingkat dua aku mulai mendoktrin kalian dengan semua ramalanku. Ramalan yang menurut Soojung hanya kebetulan dan ketidak pastian. Ya, aku fikir juga begitu. Karena beberapa kartu ramalanku terjadi tidak seperti yang ramalan katakan.

Tapi apa kau masih ingat Jongin?

Kita pernah membicarakan masa depan kita berenam. Persahabatan tiga perempuan, tiga laki – laki. Apa kau yakin semua berjalan menjadi sahabat selamanya?

Aku membawa topik itu pada ramalan tarotku, dan…

Menurut kartu akan ada satu pasangan dan sejuta masalah dari kita berenam.

Siapa diantara kalian berlima itu?

Ah, sudahlah lupakan tentang ramalan itu. Aku hanya terus berharap kau menemukan cinta sejatimu Jongin.

 

With Love

W.Son

.

.

-Bersambung-

Mind to review guys ^^

XOXO

42 thoughts on “Letter From Nowhere : #3 Letter – Ramalan Masa Depan

  1. Aku rada bingung sm yg chap ini._.
    Tapi ttp aja semangat bacanya>.<
    Oiya kak, aku msh nungguin ff ALS Ryu-Kyungsoo.. kirakira kapan kakak publish? Habisnya penasaran😀
    Keep writing kak, fighting!<3

  2. kak ikaaaaa~*lambai-lambai tangan ga jelas bareng dio*
    sumpah ini aku labil banget sih perasaan sekali manggil kak ika sekalinya lagi manggil kak april stagah -_-
    dan lagi yaa kak, aku lupa kalo diblog ini ada soundcloudnya kan jadi labas kebawah. eh tiba-tiba muncul suara. mana ini baca ditengah malam begini. kan horor uvu/ko curhat?disapu kak ika

    sebelumnya mari kita ucapkan selamat buat ayah minseok uhuhu~~
    well, ini entah aku yang terlalu kolot apa gimana yhaaaa…. part1 kan udah dijelasin yang masalah chan-jung itu tapi aku nangkepnya ko malah yang sungguh kakaadek ini in love giduu stagahh/disapu kak ika part2
    jadi pas bagian mbasoojung nangesh itu kirain berantem ama siparkchan gitu kan yaaaa…
    nah dan baru ngeh pas bagian flashbacknya jadi yang
    ‘ko?’
    ‘eh?’
    ‘oh,’

    hahahaa entahlah, kak.
    tapi diatas semuanya tahukah anda?
    kakak itu nyebelinnya akut syekalehhhh, kenapa ada kata bersambung ditengah-tengah kecamuk hati ini huhu

    oh iya kak, sedikit koreksi kata ‘nafas’ itu bakunya bukannya ‘napas’ ya? sama juga dengan ‘fikir’ bakunya ‘pikir’. eh tapi kalo pikir aku kurang yakin deng eheh.
    terus juga ada melihat mu–> itu bukannya yang bener melihatmu ya kak? soalnya kan sama kayak melihatku gitu. apa ya istilahnya saya lupa huhu dan lagi males ngesearch jadi maapkeun kalo ternyata saya yang salah/disapu kak ika part3
    terlepas dari beberapa typos. saya sangat menunggu kelanjutannya :3
    yasudah kak daripada sampah ini makin ga jelas saya kabur saja/bayy
    p.s: itu ngoreksi tanpa alasan apa banget coba.ya maafkanlah *efek baca ff dini hari**gaada hubungannya pehliss*
    xx tifaa

    • Hei Tifaaa ^^
      Jujur yaa, komen kamu itu bikin semangat banget asli deh,
      hahahah
      sampe ada babak maen sapu2an dikomen kamu doang,

      Oke pertama masalah Soojung – Chanyeol, kelupaan ya di chap 1 aku bilang mereka kaka adek tiri,
      hahaha

      Kenapa soojung nangis? apa masalah dia, nanti aku tanya dulu ya, dibujuk sama Jongin kayanya bakal mau bicara dek soojung ini,

      Untuk kata bersambung,
      apalah aku ini tifa,
      mereka udah cape jadi mereka bilang “Author cut dulu ampe chap ini dong, kita cape”
      hahaha

      dan..
      ugh, /peluk/
      thanks banget buat koreksinya,
      aku catet loh ini ^^

      dan see u next chap ya tifaa🙂

  3. Eumm~ apa ya? Bingung eh mau komen, pengen komen tapi gatau apa yg harus dikomen -_- yah,, intinya bagus deh, chapter kali ini lebih padat dan mudah dimengerti alurnya dibanding chapter 2 kemarin, terus apa ya? Ohya, tulisan! Sekarang udah mulai teliti ya, udah hampir ga ada typo, udah ah itu aja,,, gatau lagi mau komen apaan :3

  4. Waaah,chap ini bikin aku penasaran abis..
    Pertama,tentang soojung and her problem,hadooh part pas jongin makein coat k soojung karena nggu abang jongin ituu….
    menurutku so cute..
    Kedua,tentang Wendy and her letters..secara disini dia udh bahagia di alam sana gitu ya,jadi siapa??
    Entahlah,hanya apreel dan tuhan yang tahu (alah).
    Terakhir,kenapa masalah nyium mencium masih dibahas ya dipart ini? aku kan jadi jealous😦
    Bawa pulang abang Chanyeol..(lho) (apaaa) (maap ya) (salah pokus)
    ehehehe…

    satu kata buat kamu Jjang!!
    Kip nulis ya,see u next chap!

    Ps.typo masih ada dikit,tapi selebihny GREAT!!
    Annyeong!

    • Heii Janne ^^
      sama aku juga suka banget, bagian jongin pakein coat ke Soojung,
      hahahha
      so sweett gitu kan😄

      wahh ada yang males sama masalah cium2an,
      kkk~

      ditunggu next chapnya yaaaa

      • Kita sehati,semoga akan ada part” manis lainnya ya buat KaiStalnya..
        Heheu.

        iya males,soalnya bukan aku yg dicium. (eh apa apaan ini) (kicked)

        okk..

  5. haihai kaak ^_^
    sbener’a ak dah beberapa hari yang lalu baca’a,,tapi baru skrg komen’a,,hehe mian
    ini cerita lama2 misterius ya,,jadi serasa baca novel,,goodgood kak
    i’m corious,,

  6. Setiap membaca surat dari w.son, aku selalu merasa gimana sakitnya perasaan w.son untuk menjalani semua hidupnya walaupun gk semuanya terungkap tapi masih bisa bayangin gmna rasanya itu lohh.. dan ak salut banget ama author yg dapat ide yg semenarik ini.. jadi ak doa in semoga author bisa lanjut seperti oenulis novel yg terkenal .. aku doa in yg terbaik dehh.. semanagttt

  7. Pingback: Letter From Nowhere : #9 Letter – Menerima Masa Lalu | EXO Fanfiction World

  8. ooooih jadi apakah disini jongin jdi lead male nya? aku kira peran jongin sm chanyeol & sehun sm aja tp udah 3 chap jongin mulu yg di ceritain,hehehe gpp sih aku seneng-seneng aja berhubung dia my beloved husband *narsis
    semangat semangat semangat ya!

  9. Makin ke sini makin seru niih >_<

    Sehun udah kaya' makhluk halus aja, tiba2 muncul d depan Jong In😄

    Aku bener2 penasaran siapa yg ngirim surat, tapi kalo' yg bikin bner2 Wendy ya?
    ❤❤❤

  10. Aaah kepo nih soojung kenapaaaa,aku pikir ada kaitannya sama wendy mungkin? Karna dichap.1 dia ama chanyeol baik baik aja. Still wonder where’s wendy,kalo meninggal(semoga nggak) keknya rada aneeh trus yg ngirim surat siapa dong hehe. Baru baca pas udh ada epilogue nyaa

  11. Wah, part 3 ini tambah bikin penasaran. Seunghwan bener2 tipe tuan putri. Uda kaya, pinter pula. Jongin juga ternyata lumayan /lumayan apaan/😄
    Yang ngirim surat atas nama wendy itu ada diantara mereka berlima nggak sih? Ini masih tebakan asal sih kak. Apa ada pihak lain yang belum disebutin?
    Ughh penasaran. Jangan bosen dengan komenku yang memenuhi notifmu kak…😀

    • Komen kamu masuk list moderasi, haloo pembaca baru yaa ^^
      salam kenal dear,
      buat FF ini udah tamat ko, kamu tinggal baca tiap chapternya aja yaa ^^
      dan thanks udah baca ^^

  12. kk, si wendy meninggal kn yh? itu ntr diceritain di chap selanjutnya kn? sebenernya aku lebih penasaran ke wendy nya.. hehehehe

    dan surat yg inisialnya w.son itu si wendy kn?

    aahh, kk… kau membuatku pusing -,-

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s