Frozen Time

frozen time

Fanfic / OneShoot / Fantasy – Surealist – Slice Of Life / General / BaekHyun – Chanyeol

Selamat datang di era Peak Of Technology, dimana tidak ada yang tidak mungkin disini. Zaman beratus – ratus tahun setelah kalian berhasil menembakan nuklir ke bulan

.

.

Selamat datang di Era peak of technology – Po.T, beratus – ratus tahun setelah kalian berhasil menembakan nuklir kebulan. sekarang kau berada dizaman dimana tidak ada satupun yang tidak mungkin untuk dilakukan. Penyakit, kematian, kegagalan sudah terhapus dari kamus. Dengan berbagai macam kemajuan teknologi, kami bisa dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkan, menyembuhkan penyakit mematikan bahkan disaat kau mati, keluargamu sudah menyediakan amunisi yang bisa membuatmu kembali menikmati dunia ini. Kalian terkejut? Beginilah kehidupan kami.

Masa depan kalian.

Perkenalkan namaku, Byun. Umurku 18 tahun dan tiga hari lagi diprediksi aku akan mati. Ini mungkin salah satu kelemahan generasi kami. Tidak ada manusia yang akan bertahan hidup lebih dari 20 tahun, semua akibat sinar radiasi yang berasal dari teknologi super canggih. Secanggih apapun, kami tetap tidak bisa menyelesaikan problem yang satu ini. Tapi seperti aku bilang, tidak ada kata gagal, mati dan sakit dizaman ini. Maka dari itu, meski umur kami hanya sebatas angka dua, tapi kami memiliki satu solusi yang bisa menyambung hidupmu bahkan sampai 1000 tahun kemudian, tergantung sampai kapan kau lelah didunia ini.

Canggih bukan? Jadi tidak ada kata MATI untuk kami.

“Oy- Byun,” satu tepukan mendarat dipundaku dan seketika membangunkanku kembali ke realita. Si jangkung Chan.

“Jangan bilang kau menambah tinggi badanmu Chan,” ucapku saat dia turun dari skateboard terbangnya kemudian mensejajarkan langkah denganku.

“Tidak juga,”

Chan seumur denganku dan hari ini adalah pertama kali aku melihatnya setelah dia dikabarkan mati seminggu yang lalu. Dia kembali hari ini seakan tidak terjadi apapun. Keren bukan.

“Jadi seperti apa rasanya terbangun dari kematian?” ucapku membuka percakapan.

“Haha.. aku mengharapkan sebuah sengatan listrik luarbiasa saat transfer memori, tapi ternyata biasa saja. Kau seperti bangun tidur saja,” jelasnya.

“Hanya itu?”

Chan mengangguk setuju dengan kekecawaan yang juga kurasakan. Hey ini penemuan hebat para ilmuan setidaknya ada efek kejut menyenangkan yang kami nanti. Tapi ternyata.

“Tapi saat kau terbangun, kau akan merasakan satu perasaan hilang Byun,”

“Apa itu?”

“Entahlah, sampai hari ini aku masih merasa hampa. Maka dari itu seminggu setelah kematian kau harus mengikuti rehab,”

“Rehab?”

Chan mengangguk. “Untuk menghindari kau menjadi GILA”

.

.

Keluargaku terdiri dari Ibu, Ayah dan satu kakak laki – laki. Ibuku mungkin paling beruntung, dia memiliki kesempatan hidup paling lama -25 tahun, Ayahku 17 tahun, kakaku 19 tahun dan aku menurut prediksi 18 tahun.

Disekolah aku mengikuti kelas concern pada sejarah. Aku tertarik dengan kehidupan manusia jaman dulu. Pernah kami memutar dokumentasi beberapa puluh tahun dimana manusia hidup berdasarkan waktu, disana juga sudah terhapus nama Kematian, asal kalian terus mengisi waktu untuk hidup. Ada satu penekanan disini, manusia waktu tidak mati dan mereka membeku diumur 25. Ini mengakibatkan tidak adanya perbedaan umur. Menurut para ilmuwan ini tidak benar, maka dari itu munculah solusi kami.

Meski kami juga tidak MATI tapi kami tetap tumbuh. Jadi meski Ibu mati diumur 25 dan ayah 17, kenyataannya Ayah tetap lebih tua. Sebuah penemuan yang luar biasa bukan? Aku mengaggumi para ilmuan dengan otak luar biasa ini. Tapi, minatku tetap pada kehidupan manusia sebelum kami.

Tentang Kalian.

“Apa itu?” Tanya ibuku saat aku sedang menyelesaikan tugas. Ibuku menunjuk kearah layar dikamarku yang sedang memutar video documenter beratus – ratus tahun yang lalu.

“Itu cacing tanah Mom,” jawabku sambil terus menulis.

“Ugh, itu sangat menjijkan sayang, mereka menggeliat dan- tunggu dimana mereka itu tinggal,”ucap ibuku saat dia melihat para cacing itu menggeliat diatas benda berwarna coklat.

“Itu tanah Mom, tempat manusia jaman dulu berpijak. Dan cacing adalah penghuni tanah,”

Ibu mengangguk mendengar penjelasanku. Jangan heran, karena hal semacam ini sudah tidak ada di zaman kami. Cacing? Bagaimana bisa ada cacing disaat semua makanan sudah instant, bagaimana bisa ada cacing disaat kamar mandi kami sudah canggih luar biasa, bagaimana bisa ada cacing disaat kau sudah tidak bisa melihat dan tidak tahu apa itu tanah. Kami modern dan teknologi kami tingkat tinggi.

Video berganti dengan seorang manusia tengah mengendarai sesuatu yang aku yakin adalah kendaraan zaman itu, sampai kemudian lelaki dengan kendaraan roda dua itu bertabrakan dengan benda roda empat yang pada zaman itu disebut mobil. CLASH. Aku dan ibu melihatnya, saat kedua benda itu bertubrukan, darah membanjiri jalanan aspal juga potongan tubuh yang bercecer.

Ibuku mengernyit menyaksikan kejadian ini. “Bodoh, mereka harusnya memasang sensor pada kendaraan itu agar menghindari kejadian tidak diinginkan dan ugh, lelaki itu masih bisa hidup kalau dia hidup dizaman kita,”

Aku tersenyum mendengar komentar ibu sambil terus menyalin analisa dari video kedua ini. “Beruntung Mom, kita hidup lebih maju. Setidaknya kau tidak akan mengalami anakmu hancur seperti itu,”

Ibuku tertawa. “Jika aku ingin menghancurkanmu sekarangpun bisa aku lakukan, kemudian tinggal menunggu ayahmu membawamu ke pusat kota dan menghidupkanmu kembali,”

yeah, Mom terdengar seperti monster sekarang,”

Kami kembali terdiam ketika video selanjutnya diputar. Menampilkan ruangan kelas dengan beberapa anak yang sedang serius, sepertinya mereka sedang ujian. Kamera berfokus pada satu anak lelaki di kursi belakang yang nampak gelisah dan belum ada satupun soal yang sudah dia kerjakan.

“Kasian sekali anak itu, dizaman kita sudah tidak ada anak bodoh. Orang tua akan menyuntikan cairan perangsang cerebrum yang akan membangkitkan kinerja otak,” kemudian ibu meletakan tangannya tepat dipucuk kepalaku sambil mengusapnya lembut. “Seperti anaku ini,”

Ya, tidak ada orang bodoh di zaman kami. Saat kalian lahir tim medis akan langsung menyuntikan pembangkit cerebrum, efeknya kalian bisa menggunakan hampir 20% kapasitas otak. Jadi jangan heran saat kau mendapati bayi umur 3 bulan sudah bisa berbicara atau bocah umur 1 tahun merakit system.

“Tapi dengan cairan itu funsi sekolah sudah tidak berarti lagi,”

“Sekolah bukan untuk mengasah otakmu, tapi untuk menambah pengetahuanmu”

Video terakhir dari rentetan tugasku diputar. Menampilkan sebuah iringan berbaju hitam dan penuh dengan tangis. Oh, aku sudah lama tidak melihat adegan seperti ini. Guruku bilang, ini adalah prosesi pemakaman. Moment saat orang yang ditinggal mati.

Clik.

Aku menekan udara kosong dan video itu menghilang. “Tugasku selesai,” ucaku.

“Satu hal yang ibu ingin tahu dari ritual orang jaman dulu,” ucap Ibu sambil menatapku. Aneh.

“Apa itu?”

Ibu terdiam, dia membuang pandangannya keluar jendela dimana disana terdapat banyak gedung tinggi dan kendaraan terbang lalu lalang.“ menangis,” jawab Ibuku. “Kau tahu kan manusia Zaman kita tidak bisa menangis, bahkan bayi sekalipun..”

Ibu sedikit aneh. Dia ingin merasakan tangis? Disaat kata ‘menangis’ bahkan sudah dilupakan dizaman kami. Aku hanya menaikan bahuku untuk ucapan ibu ini.

“Ah lusa, hari kematianmu, kau sudah urus izin sekolahmu?”

Aku mengangguk. “Sudah beres Mom,”

“Sebelum hari itu tiba, nikmatilah semuanya sayang,” ibuku mendekat kemudian mendekapku. Ada apa ini?

“Ada apa Mom? Apa mesin transfer memori sedang rusak dan aku tidak bisa hidup lagi?” sungguh aku takut mengucapkan ini.

Ibuku tertawa sambil kemudian mengacak rambutku. “Hal itu tidak mungkin terjadi sayang,”

Fiuh~ syukurlah, “jadi kenapa?”

“Nikmati saja, dua harimu ini..”

.

.

Hari inipun tiba. Ayah, ibu juga kakaku mengantarku kepusat kota. Memasuki sebuah gedung paling tinggi dan paling megah. Ratusan lantai, ratusan ruangan dan ratusan manusia tumpah disini. Nampaknya setiap harinya ada saja yang mati. Ayah menuntun kami memasuki salah satu lift diujung kiri, menekan lantai yang dituju kemudian secepat kedipan mata kami sudah berada disana.

Dua orang berjubah putih dengan masker menutupi wajah mereka menyambut kami.

“yang mana Byun?”

Ayahku dengan segera membawaku mendekat. “Ini anaku,”

“Berapa umurmu tampan?” Tanya salah satu dari mereka sambil menjabat tanganku.

“18 tahun,”

“Dan berapa lama kau ingin hidup?” tanyanya lagi

Aku terdiam, kemudian menatap keluargaku yang hanya tersenyum. “Entahlah,” jawabku yang kemudian membuat mereka tertawa.

“Kau lucu sekali, mereka biasanya kalau ditanya akan menjawab ‘selamanya’”

Setelah perbincangan basa – basi itu, kami dituntun menuju satu ruangan dimana pada pintu masuknya tertulis dengan huruf besar dan berkelip ‘Memory Life Treasure Room’. Ya, selamat datang diruang penyambung nyawa generasi kami. Ini juga pertama kalinya aku masuk ruangan ini, tapi sebelumnya aku pernah membaca tentang ruang penyambung nyawa ini.

Ruangan dimana kata MATI akan dihapuskan. Disana terdapat sebuah tabung yang akan kita huni selama semalam tepat dihari kalian diprediksi akan mati. Pada tabung itu ada beberapa device yang akan menyalurkan cairan – cairan untuk menghidupkan kembali sel – sel mati. Sebenarnya bukan menghidupkan, melaikan mengganti dengan yang baru. Kemudian ada teknologi lain juga yang akan menyuntikan kehidupan baru pada organ yang berhenti. Satu lagi yang paling canggih, kami menamainya Treasure Chip yang akan berfungsi mentransfer semua memori sejak kalian hadir di bumi ini. Hasilnya, saat kalian membuka mata keesokan harinya, seakan tidak terjadi apapun. Bangun tidur dan kalian akan melanjutkan hidup seperti biasanya. Itu menurut pengalaman mereka.

Dan hari ini aku akan mengalaminya.

Setelah berganti pakaian dengan baju seperti piama tapi lebih tipis, dua orang tadi menuntun kami memasuki ruangan itu lebih dalam. Disana terdapat beberapa tabung yang juga berisi manusia, sepertinya mereka dalam proses menyambung nyawa. Kemudian langkah kami berhenti di tabung ke ehm entahlah urutan keberapa.

“kau siap?”Tanya salah satu petugas padaku.

Sebelum sempat menjawab pertanyaan itu, Ayah menghapiriku kemudian memberiku satu pelukan. “Sampai bertemu besok,”

Kemudian Ibu melakukan hal yang sama, begitupula kakaku. Aku hanya tersenyum kemudian mengangguk pada sipetugas. Dia melangkah terlebih dahulu, membuka pintu tabung itu kemudian memanggilku untuk mendekat.

Aku menjalan mendekat, kemudian sebelum masuk kedalam tabung itu mereka menyuntikanku sebuah cairan berwarna biru. Menuntunku masuk kedalam, memasang beberapa kabel warna – warni dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi.

.

.

Seminggu telah berlalu sejak hari kematianku dan aku sudah selesai mengiktui acara rehab yang menurut Chan akan membebaskanku dari GILA. Tapi benar menurut dia.

Satu malam aku habiskan didalam tabung tanpa tahu apa yang terjadi. Setelah tubuhku dipasangi beberapa kabel aku tidak tahu apa lagi yang terjadi. Tidak ada rasa sakit, tidak ada sengatan, semua seperti tidur dan aku terbangun ketika ada seseorang yang membuka pintu tabung miliku.

Saat kedua mata ini terbuka ada sesuatu yang hampa. Entahlah, seperti tubuh ini terlalu ringan. Perasaan seakan apa yang akan aku lakukan dalam hidup tanpa batas ini? Apa yang akan aku lakukan dimana aku sudah merasakan semuanya? Untuk apa lagi aku hidup disaat semua mesin ini bahkan sudah bisa melampauiku.

Sekarang aku tahu apa yang Chan bilang tentang merasa kehilangan, tentang kalimat Ibu yang menyuruhku untuk menikmati hari – hari sebelum kematianku. Karena saat kau membuka mata setelah kematian motivasimu untuk hidup lenyap entah kemana. Satu minggu rehab, seperti prosedur untuk membangkitkan kinerja otak, tapi tetap tidak bisa menghilangkan perasaan hampa ini.

“Bagaimana kabarmu,” Tanya Chan saat aku tengah menikmati pemandangan kota dengan fikiran kosong.

“Good and Bad,” jawabku.

“Aku tahu bagaimana perasaanmu,”

“Untuk apa kita masuk tabung itu Chan,”

“Untuk hidup,”

“Sekarang, disaat kita bisa hidup selamanya apa yang akan kita lakukan?”

“Entahlah aku pun tidak tahu,”

“Sepertinya tugas kita untuk hidup memang hanya samapi umur 18 tahun,dan dengan menyambung nyawa di tabung itu menjadi tanda kita akan menganggur seumur hidup,”

“Kau tahu kenapa kita merasa hampa seperti ini?” Tanya Chan yang aku jawab dengan gelengan. “Karena pada dasarnya kita sudah mati, tugas kita sebagai manusia sudah habis. Tabung itu hanya men­ngeset ulang tubuh ini untuk kembali hidup tapi ada satu yang tidak bisa tabung itu kembalikan,”

“Apa itu?”

“Organ yang membuat kita merasa hampa, Hati kita” ucap Chan sambil menunjuk dadanya. “Kita sekarang mahluk tanpa hati, bagaimana bisa menikmati hidup”

Aku terdiam mendengar penuturan Chan. Tanpa hati? Apa ini alasan begitu banyak manusia disekitar kami yang seperti hidup tapi juga mati. Apa ini alasan yang membuat ayah, ibu dan kakaku seperti boneka hidup. Mereka menjalani rutinitas tanpa jiwa. Dan sekarang aku menjadi bagian mereka?

Pertanyaannya apa yang akan aku lakukan dengan hidup ini?

“Ternyata generasi kita, generasi paling gagal” ucapku.

Chan nampak mengangguk setuju “Karena kita sudah terlalu melampaui batas sang pencipta” jawab Chan yang membuatku kembali terdiam.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang? Ini kutukan”

.

.

-Kkeut.

 

24 thoughts on “Frozen Time

  1. Keren! Bahasanya lembut, ringan, menarik dan membuatku benar-benar merasakan apa yang dirasain Bacon yang baru nge UNfollow pacarnya itu~

    Setiap paragraph demi paragraphnya buat aku mencoba nebak-nebak “gimana kelanjutannya?” dan gimana nanti? kenapa Chen jadi gitu? kenapa ibu Baek bilang gitu?

    walaupun konten dan isi ceritanya bisa dibilang sulit dibayangkan, dan bahkan bisa disebut mustahil juga, tapi aku jadi ngerasa semua itu bisa terjadi dengan bahasa author-nim yang keliatannya bener-bener menguasai cerita ini.

    dan tentang sudut pandang Baekhyun terasa bener-bener mengalir tanpa ada unsur memaksa–mengingat ceritanya nggak nyata–. tapi semuanya mulus!

    ZOmbie! hal mati yang hidup! keren!
    Aku selalu menunggu karya Author-nim yang lain. Keep Writing~ Hwaiting!

    ^^ Kkaebsong..

    • Tunggu tunggu, sebelum nyapa ini apa hubungannya sama perasaan Baekyeon yang saling unfollow? hahaha ada – ada aja kamu ^^

      Hei heii ajeng,
      makasih loh udah baca dan ninggalin komen manis kaya gini,
      Untuk masalah membayangkan mungkin emang bakal ada kesulitan bayangin visualisasinya soalnya blue printnya emang ada di imajinasi aku seorang,
      hahah
      Tapi kebayang ga kalo dunia kaya gini,
      hemh menakutkan ya,

      Makasih banget loh ya Ajeng udah komen
      ^^

      • Hyaryarya~~ iya juga! nggak ada relasinya~

        entah kenapa blue printnya kayanya terbang melayang kaya ikan akrobat dan mendarat di kepalaku. jadi bisa bayangin gimana gembarannya kaya nonton film langsung!

        nggak pernah bayangin Author-niim! mendingan aku mati saja sebelum kiamat diam-diam menghanyutkan itu! dan nggak mungkin juga generasi kita bisa nyampe kesana,, bensin naik aja udah kaya EXO bubar responnya…haha!!

        …….(hening) entah kenapa komennya jadi semakin ngelantur -_-…

        okeh! sama-sama Author-nim! aku akan berusaha untuk selalu update post-post mu~
        Keep Writing and Hwaiting!!

      • hahaha
        senangnya itu blueprint sampe kamu juga, jadi bisa bayangin😄 asikk asikk,

        hahah
        betul sekali, mending kita hidup kaya sekarng aja,
        Zaman kita aja udah banyak hal menyimpang dan menyalahi aturan,
        haha entahlah
        dan tunggu itu kenapa bawa2 BBM😄
        hahaha
        no komen ah kalo masalah goverment

        Eh btw aku kelahiran 92,
        kamu?
        biar lebih asik jangan panggil Authornim ^^
        bisa panggil Ika aja kalo kita seumuran atau bebas sih hehe

  2. Kak Apreel, ampuni aku kali ini😄
    Aku uda jauh-jauh hari sebelumnya ngewanti-wanti supaya aku bisa mudeng pas baca ff ini ._.
    Dan entah kenapa dari kemaren otakku ngeblank banget :’3
    Menyedihkan sekaleh rasanya waktu ga bisa mahaminnya😥

    Umm, aku ngerasa gimana gitu yaa pas baca ending fic ini ._.
    Something yang berbeda/? *aku berusaha mudeng loh/? :’v
    Dan dari awal aja aku uda ngerasain something itu pas baca summary nya ._.

    Demi apa kak, ini salah satu fic favoritku disini😀
    Bahasanya ringan, karakternya pas, pokoknya semuanya bikin nyaman!😀
    Jjang~

  3. FF nya asli bagus banget xD
    Bahasanya ringan dan mudah dibaca tapi tetep mudah dimengerti *ApaIni
    Intinya ini adaqlah daebak ff (y)

  4. wawww… apa jadinya kalo dunia terlalu modern seperti itu ? hidup tanpa batas ? bahkan cacing si pengurai makanan juga kaga ada.. tanah juga gk ada..lalu mereka berpijak di mana ? aneh.. tapi aku suka ceritanya… setuju sama komen diatas.. bahasanya ringan, mudah diimajinasikan tapi juga berkualitas… point of viewnya baekhyun sangat cocok dan pas buat kita masuk ke dalam alur cerita….hebat–… saluttt… darimana datangnya ide ini ?? boleh minjem otak bentar kaga ? haha… dan chanyeol,, dia pinter yah.. otaknya lebih maju..haha.. pokoknya aku sukaa… #hug

  5. Mian ketinggalan baru komen. Ini ff idenya ga kepikir aku sempet kepikiran doraemon dan labirin kaleng dimana aktivitas manusia diganti robot. Annyeong author aku sering baca ffmu tapi baru bisa komen, ga ngerti soalnya ^^v

  6. Annyeong anyeong author-nim😀😀
    Aku suka banget sama FF ini! ^^ Paling suka sama idenya auhtor-nim tentang plot alur ceritanya. Ga bayangin gimana kalo berapa ratus ato ribu tahun lagi dunia bakalan kayak gitu…😮 Dan aku suka banget sama FF2 fantasy model kayak gini, apa lagi yang bahasanya enak dibaca kayak gini… wehehe… Ditunggu FF fantasynya yang laen ya, author-nim ^^
    salam kenal, Nike, 96liner😀

  7. Imajinasimu…………. sangat keren. Kalau menurutku, perasaan hampa itu ada karena setiap mahkluk hidup harus kembali ke pemiliknya. Kaya misal, anjing main dia bakal kembali ke rumah majikannya. Dan kita di dunia ‘main’ juga pasti bakal kembali lg ke pemilik kita.
    emg sih teori teknologi ga bakal nyambung sm teknologi agama. Tp kl aku mending balik ke tuhan drpd hidup bak hasil mesin teknologi.

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s