Painted By Own

Painted By Own

Fanfic / OneShoot / Mystery – Surealist – Phsycology / General / Red Velvet Irene – Seulgi – Wendy, EXO – Kai

.

.

p.s : ini fanfic pertama aku pae cast Red Velvet dan ini juga fanfic pertama ambil genre kaya gini. Ya ampun,, mind to review ^^

.

Jika dihitung – hitung mungkin sekitar 10 hari aku tidak keluar rumah bahkan keluar kamar. Sepuluh hari itu aku bahkan bolos sekolah, bolos les tari sungguh tidak melakukan apapun, tapi mereka katanya mengerti dengan kondisiku, ya sudahlah. Setiap hari aku habiskan didalam kamar, meringkuk dibalik selimut, menangis sepanjang hari atau sekedar membayangkan semua memori yang dia tinggalkan, atau mungkin memori yang ingin aku tinggalkan?

Ibuku bahkan harus menangis terlebih dahulu hanya agar aku mau keluar kamar untuk sekedar makan. Padahal seharusnya dia tidak harus seperti itu. Karena demi apapun, meski aku mengurung diri dan menjauh dari semua aktivitas manusia, keinginan hidupku masih tinggi, jadi aku tidak mungkin membiarkan tubuh ini mati hanya karena kelaparan. Jadi sebelum ibuku menangis lagi setiap harinya, tepat ketika dia mengetuk pintu kamarku aku langsung membukanya, memberinya senyuman kemudian turun kelantai bawah untuk makan.

“Haruskah ibu bawakan makananmu ke kamar?” Tanya ibuku saat aku tengah menghabiskan porsi makan malamku. Menggeleng kecil, itulah jawabanku untuk pertanyaannya.

“Kau harus merelakannya Irene,” itu lanjut ibuku.

Merelakan. Itu frasa yang sering mereka katakana padaku. “Iya bu, aku sedang mencoba. Hanya beri sedikit waktu, aku sungguh belum siap dengan semua ini” dan setiap aku menjawab seperti ini, ibu akan langsung berlari memeluku kemudian menangis. Tanpa komando, air mataku ikut turun mengalir dan terisak bersamanya.

“Maafkan aku bu,” itu ucapku dalam hati karena bibirku sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun, hanya suara isak yang terdengar.

.

.

Hari ini aku memutuskan kembali menjadi manusia. Setelah merapihkan semua perlengkapan Tariku, aku melangkah menuju gedung ditengah kota. Siap tidak siap, mau tidak mau, aku harus kembali melakukan aktivitas atau semua yang kulakukan akan sia – sia. Karena aku masih ingin mengejar impianku, menjadi seorang ballerina.

Tempo hari Wendy –teman satu lesku, mengabari bahwa sebentar lagi akan diadakan recital dan dia tahu betul itu menjadi impianku selama ini. Pemeran utama Recital yang akan disaksikan banyak pencari bakat seluruh kota. Selama ini aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk mendapatkan peran utama. Karena ada murid lain yang selalu mendapatkan posisi itu, dan dia sama sekali tidak ingin berbagi. Aku ingin memulai karirku dari sini. Bisa dibilang, kabar Wendy juga yang membuatku melangkah dari zona amanku –kamar dan kembali menyapa dunia.

Aku tiba didepan gedung itu. Beberapa mata yang menangkap sosok kehadiranku terlihat saling berbisik kemudian melempar senyum padaku. Ini aneh. Sebelumnya aku bukan sosok yang akan mendapatkan perlakukan hangat semacam ini, tapi karena dia aku menjadi sorot perhatian sekarang. Boleh aku akui, semua ini menyejukan hatiku. Setelah membalas senyum mereka, aku melangkah masuk menuju gedung itu. Mengambil arah kekiri, melewati lorong dengan cat putih dan dinding yang ditempeli foto – foto ballerina aku memantapkan langkahku menuju ruang latihan. Tepat disamping pintu masuk kelasku disana aku mendapati fotonya. Dengan kostum balet Black Swan dia tersenyum begitu manis –Seulgi, si pemeran utama recital setiap tahunnya.

“hai seulgi,” ucapku sambil menyentuh fotonya sebelum kedua tangan ini mendorong kenop pintu. Ruang latihanku.

Disana sudah terdapat beberapa murid juga pelatih kami Mrs. Ellen. Mereka tampak terdiam, menghentikan aktivitasnya sebelum salah satu dari mereka lari kearahku kemudian menjatuhkanku satu pelukan, tentu. Dia sahabatku Wendy Son.

“Aku merindukanmu bodoh,” ucapnya dengan suara terisak. Dia menangis.

Aku membalas pelukannya, kemudian mengusap pelan punggungnya mencoba memberikan ketenangan. Sampai menit selanjutnya isakan itu berhenti, dia melepaskan pelukannya kemudian menatapku dengan senyuman. “Selamat datang kembali, Irene… kami merindukanmu,” ucapnya.

Aku tersenyum. “Terimakasih Wendy, aku juga merindukanmu.. dan aku juga merindukan kalian semua,” ucapku sambil menatap seluru penghuni kelas. Disana ada 10 termasuk Wendy, 6 laki – laki dan 4 perempuan. Jadi jumlah 11 orang denganku, seharusnya kelas ini berjumlah 12. Ya, karena semua kelas seharusnya 12 orang.

“Aku juga merindukanmu, Mrs. Ellen,” ucapku sambil menghampiri perempuan keturunan Prancis berambut emas kemudian memberikannya satu pelukan.

I miss you too, dear. Glad you comeback,” ucapnya sambil membalas pelukanku.

“Semangat Irene, Mrs. Ellen bilang kau yang akan menjadi Black Swan tahun ini” ucap salah satu penari lelaki –Kai, dia adalah favorit semua guru dengan kemampuan baletnya yang luar biasa.

Aku membulatkan mataku kaget. Tunggu, apa barusan dia bilang aku menjadi tokoh pusat dari Recital nanti?. Sebelum aku bisa menjawab sendiri, Mrs. Ellen menghampiriku. “Kau dan Seulgi adalah penari terbaik dikelas ini, kalian memiliki kemampuan yang sama dan jiwa yang penuh saat menari. Maafkan aku untuk kembali mengungkit Seulgi, tapi hanya kau yang bisa mengganti posisinya Irene.”

Oh, ini jawabannya. Aku tersenyum, “Thanks Mrs, tapi akan lebih adil jika kita lakukan pemilihan seperti kelas lainnya untuk tokoh utama ini,”

“Kau pasti yang mendapatkannya, siapa lagi yang bisa mengambil peran Black Swan selain kau atau Seulgi?” ucap salah satu dari kelompok perempuan –Soojung. Haruskah aku bilang terimakasih?

Akhirnya aku membungkukan tubuhku kemudian merapalkan kata ‘terimakasih’ pada mereka. Recital akan dilakukan tujuh hari lagi dan aku bersama Kai akan menjadi tokoh utama dari pentas nanti. Aku harus melakukan dengan sepenuh hati. Untuk panggung pertamaku.

Musik mengalun dengan merdu, tidak butuh lama aku untuk menguasai setiap gerakan, karena kebetulan aku sudah pernah melakukan latihan untuk tarian ini dua kali. Dua kali bersama Seulgi, saat dia mendapatkan peran utama ini satu tahun terakhir. Jadi, penampilanku cukup membuat Mrs. Ellen tercengang dan memberikan tepuk tangan. Aku sudah mempersiapkan sejauh ini, jadi aku tidak akan membuat kesalahan sedikitpun.

“Kau dengan sempurna menarikan setiap bagiannya, apa kau pernah menghafalnya?” Tanya Wendy ditengah jam istirahat.

Aku menutup botol air minumku, kemudian menghapus keringat di dahi yang mulai bercucuran. Sepuluh hari tidak melakukan ini, membuatku berkeringat seperti mandi. “Ya,” jawabku sambil mengangguk. “Seulgi sudah dua kali mendapatkan peran ini dan kami sering berlatih bersama dirumah. Aku sudah hafal karena sering menemaninya berlatih,” jawabku yang membuat Wendy kembali memasang wajah sedih.

“Aku tidak habis fikir dengan semua ini, bagaimana bisa Seulgi meninggalkan kita begitu cepat. Kau tahu, kami sangat bersedih dengan kepergiannya tapi kami sadar kau pasti orang yang paling terpukul, saat menyadari saudara kembarmu harus pergi selamanya,”

Aku tersenyum getir mendengar penjelasan Wendy. Tentang Seulgi.

Selanjutnya Wendy nampak terdiam, menghentikan kalimatnya kemudian menutup mulutnya. “Maafkan aku Irene, aku tidak bermaksud mengungkit rasa sedihmu, maafkan aku..”

“Sudahlah, aku sudah mulai menerima kenyataan sepuluh hari cukup untuk melampiaskan kesedihanku.”

Irene dan Seulgi. Aku dan Seulgi, ya kami adalah saudara kembar. Mereka menyebut kami sebagai Gold Two dan ibuku sangat bangga dengan julukan itu. Jika aku diizinkan menyombongkan diri Gold Two itu karena menurut mereka kami itu sangat cantik, baik aku atau Seulgi adalah penari Balet handal, selain balet Seulgi handal dalam alat musik sedangkan aku selain balet canvas dan cat minyak adalah belahan jiwaku. Jadi mereka menganggap kami sebagai kembar yang sangat berbakat, ditambah kami satu sama lain sangat akrab dan tidak pernah memiliki cerita buruk. Mungkin bisa digambarkan kami adalah Kembar yang sempurna.

Seulgi lebih menekuni dunia ballerina dan dengan sangat tepat dia selalu mendapatkan keberuntungan untuk menjadi pemeran utama, membuatnya semakin dikenal sebagai pemain Ballet dikota kami. Aku? aku juga memasuki kelas balet sama dengan Seulgi dan kemampuanku bisa dikatakan juga tidak kalah hebat dengan Seulgi tapi, aku tidak pernah memiliki banyak kesempatan seperti dia maka dari itu, aku lebih menonjolkan bakatku diatas canvas. Sampai dia pergi dari dunia ini, baru mereka menyadari sosok Irene. Miris.

Hari itu, ketika tubuh Seulgi ditemukan diruang latihan sudah tidak bernyawa. Dan kematiannya sungguh menjadi berita menggemparkan bahkan sampai hari ini. Polisi menyelidiki peristiwa ini, mereka awalnya mencurigai ini sebagai kasus pembunuhan. Tapi akhirnya disimpulkan, kematian Seulgi karena keracunan. Minuman yang berada disampingnya diindikasi yang membuatnya berhenti bernafas. Minuman yang kata mereka adalah doping anti stress. Hanya itu? Aku fikir, pembunuh Seulgi terlalu pintar, sampai polisi tidak menemukan semua ini.

Bahagialah disana Seulgi.

.

.

Dan hari inipun tiba. Aku berdiri didepan cermin dengan tubuh sudah dibaluti kostum black swan dan make up tebal untuk pementasan. Aku melihat bayanganku dicermin dan tanpa sadar berbisik ‘aku cantik’. Apa seperti ini juga perasaan Seulgi saat berada dihari pementasan, sampai membuatnya tamak dan tidak ingin memberikan peran ini pada orang lain. Sekarang aku mengerti, nampaknya aku juga tidak ingin melepaskan kesempatan ini pada siapapun.

Ibuku masuk keruang ganti. Dia sudah tampak bersinar sekarang, mungkin kesedihan karena kehilangan Seulgi sudah dia lupakan.

“Ibu,” ucapku saat menyadari sosoknya.

“Irene… kau sangat cantik,” ucap ibu sambil menghampiriku kemudian memberikanku satu pelukan hangat. Aku menyukainya. Awalnya aku takut, aku takut ibu akan mengungkit tentang Seulgi saat melihatku dalam balutan ini, tapi ternyata tidak. “Lakukan yang terbaik Irene, kau anak Ibu buat mereka iri pada ibu, kau anak kebanggaan Ibu”

Satu kalimat yang Ibu bisikan saat memeluku yang membuatku merasakan desiran darah. Aku merasakan jantungku berdegup kencang, nafasku tercekat, perasaan bangga dan merasa diakui yang sudah lama tidak aku rasakan, sebuah adrenalin. Aku mempererat pelukanku dan tanpa sadar air mata mulai menetes. “Aku akan melakukannya, aku akan membuat ibu bangga,” ucapku dengan suara bergetar.

“Jangan menangis,” ibu melepaskan pelukannya kemudian mengusap linangan air mata diwajahku. “Mereka sudah susah payah membuat riasan ini, jangan buat mereka harus dua kali kerja” lanjut ibu sambil memasang senyum. Dan aku baru sadar, senyum ibu ini berbeda dari senyum – senyum sebelumnya. Sebegitu bahagiakah ibu?

“Aku akan membuat ibu ingat Seul-”

“Irene adalah Irene, Seulgi adalah Seulgi, kalian dua orang yang berbeda. Jangan kubur dirimu dalam bayang – bayang Seulgi, sayang…” ucap Ibu lembut.

AKu fikir, dulu ibu lebih menyayangi Seulgi dibanding aku, dulu aku fikir aku hanyalah bayangan Seulgi, dulu aku fikir Seulgi yang akan mendapatkan segalanya. Tapi semua hanya kenangan tentang Seulgi yang perlahan akan aku hilangkan.

“Iya, bu..” jawabku sambil tersenyum.

Setelah mengucapkan kalimat penyemangat padaku, Ibu segera meninggalkan tempat kami untuk pindah kearena penonton yang sudah disediakan staff. Sedangkan aku bersama tim yang lainnya bersiap dibalik tirai panggung dan menyusun barisan sesuai dengan posisi kemunculan kami. Dan aku, berada dibarisan paling depan dengan Kai dibelakangku yang akan menjadi pasangan nanti.

Aku dibarisan paling depan. Kau lihat Seulgi, aku bisa melakukan ini sekarang.

Musik dengan lembut mulai mengalun, tirai terbuka secara perlahan dan lampu sorot secara halus mengikuti setiap gerakan yang aku buat. Lampu mengikutiku, beberapa kamera berpusat padaku dan seribu mata didepan sana juga tertuju padaku. Irene lah sekarang yang menjadi pusat perhatian. Ketika mendalami setiap alunan dan mengharmonisasikan dengan gerakanku, aku baru menyadari inilah yang dirasakan Seulgi. Perasaan yang membuatnya merasa paling bersinar, perasaan yang membuatnya diakui, perasaan yang membuatnya menjadi paling hebat, dan dia tidak ingin memberikannya pada orang lain, termasuk padaku saudara kembarnya.

Aku tahu Seulgi, tapi sayang semua terlambat. Kau sudah membuatku melukis untuk semua akhir ceritamu dan membuatku mewujudkannya jadi nyata. Maafkan aku Seulgi tapi semua ini sekarang miliku, termasuk Ibu atau mungkin sebentar lagi Ayah akan datang dan mengakuiku. Jangan khawatir, saat dia datang aku akan menceritakan tentangmu.

Aku menyayangimu Seulgi.

.

.

Mereka terlahir kembar. Irene yang paling pertama lahir membuatku mengakui sebagai sang kakak dengan adik Seulgi yang lahir tidak lama setelahnya. Aku fikir, melahirkan dua bayi kembar perempuan tidaklah buruk, terlebih lagi mereka tumbuh menjadi dua gadi cantik, pintar dan baik. Jika mereka bertanya apa aku kesulitan mengurus dua malaikat ini, maka jawabannya tidak. Mereka berdua saling menyayangi. Dengan Irene yang tidak pernah bilang ‘Tidak’ untuk adiknya, dia sungguh sosok kakak, yang perhatiaan dan selalu mengalah, apapun itu asal Seulgi bahagia itulah yang pernah Irene katakana padaku. Sedangkan Seulgi, dia juga tipikal anak yang manis. Aku menyadari, bakat seni Ayahnya mengalir murni dalam darah Seulgi dia lihai bernyanyi, bermain alat musik, bahkan kemudian aku menyadari dia adalah penari balet yang pintar.

Kedua gadisku yang sempurna.

Tapi kesempurnaanku tidak bertahan lama. Suami yang berjanji akan selalu menemaniku pergi tanpa memberi kabar, kedua anaku sedih dengan tiba – tiba hilang sosok ayah mereka. Pernah sekali Irene bercerita mereka berdua pernah tidak sengaja bertemu dengan Ayahnya tapi sang Ayah tidak mengakui mereka. Untuk pertama kali aku melihat murka diwajah kecil Irene dan Seulgi ikut menangis saat Irene marah.

Mungkin dari sana muncul ambisi pada dua gadisku. Mereka berlomba untuk membuktikan bahwa mereka adalah gadis luar biasa kemudian membuat Ayah mereka kembali. Usaha mereka berhasil, banyak orang tua yang cemburu padaku dengan dua gadis kembar ini. Mereka bahkan menjuluki Irene – Seulgi sebagai Gold Two.

Seulgi paling menonjol disini, dia sudah dua kali mendapatkan peran utama di recital balet dan karena inilah dia tanpa sengaja bisa bertemu dengan Ayahnya yang membuat dia menangis sepanjang malam dipelukan Irene. Niatan bertemu Ayahnya lagi membuat Seulgi tamak dan tidak ingin berbagi dengan kakaknya.

Irene adalah tipikal orang yang tidak bisa bilang tidak. Membuat adiknya bahagia, dia hanya diam dan tersenyum sesekali. Aku sengaja memasukannya di kelas balet sama dengan Seulgi, tapi apalah Irene. Saat semua orang memilih Seulgi, dia tidak bisa berbuat banyak.

Irene juga bukan tipe anak yang akan meraung menangiskan semua kesedihannya. Ungkapan perasaannya hanya terdapat pada lukisannya. Dan aku melihatnya.

Satu lukisan Irene yang menggambarkan betapa marah dan cemburunya dia pada Seulgi. Aku fikir Irene tidak masalah dengan kemajuan pesat adiknya, tapi ternyata dia memendam rasa sakit karena sifat tamak adiknya.

aku ingin Seulgi menghilang..’ itu kalimat yang tertulis pada salah satu lukisna Irene. Tulisan yang beberapa hari kemudian telah dia sobek. Dari sini aku mulai memandang dari segi Irene. Mungkin dia merasa sakit, merasa terbuang dan merasa tidak dianggap dengan semua sorot terpaku pada Seulgi. Irene bilang dia hanya bayangan.

Tidak. Irene lebih berharga dari bayangan.

coklat ini aku campur dengan obat yang katanya akan membuat setiap sendimu lumer, aku akan berikan ini pada Seulgi

Lagi, aku mendapatkan tulisan dilukisan Irene. Pesan kematian untuk Seulgi. Dan hari itu mereka berdua berangkat ke tempat Les. Hari itu dimana sorenya Irene hanya pulang seorang diri, hari itu dimana aku sadar Irene dengan semua rasa sakit yang sudah lama ia pendam membuatnya berbuat nekad dengan membunuh saudaranya sendiri.

Aku mendapati Seulgi disana, terbujur kaku diruang latihan. Aku sayang Seulgi, tapi aku lebih sayang Irene. Dengan segera aku mengeluarkan botol minuman anti stress kemudian aku suntikan kedalam tubuhnya untuk menghindari terdeteksinya pembunuhan Irene.

“Maafkan ibu sayang, ibu menyayangimu tapi kau terlalu mirip dengan Ayahmu yang telah menghancurkan hidupku, dan aku tidak bisa membiarkan sosok lain Ayahmu yang akan menghancurkan hidup Irene..”

Malam itu aku pulang kerumah dengan alasan menemui rekan kerja saat Irene bertanya. Malam itu aku mendapati Irene sangat pucat, kedua matanya bergetar dan degup jantunya tidak karuan. Dia ketakutan fikirku. Dengan segera aku memeluknya membelainya sayang.

“Ibu menyanyaimu Irene, kau segalanya untuk Ibu,” Jadi sekarang ijinkan Irene bersinar dijalannya.

.

.

Kkeut-

44 thoughts on “Painted By Own

  1. ckckck..
    endingnya bikin nyesek ya..
    ibu dan kaka yang luar biasa…
    gila hhmm..
    sampe sesak bacanya Daebak..
    jdi bkan karena meratapi kematian tpi kesalahan..
    sudah saya kira..

    • hei hei hei bang Archii
      thanks udha komen,
      gimana, percobaan fanfic dengan genre lebih dark😄
      hahaha

      betul sekali tebakan anda, jadi 10 irene ngurung diri karena dia merasa bersalah, dijelaskan di part si Ibu yang hari Seulgi mati irene nampak ketakutan,
      Tapi setelah merasakan semuanya, perasaan bersalah Irene hilang…

  2. Nyeseekkkkkk!!!!!!😥
    Ehehe kayanya kakak fan nya RV juga yaa??
    Biasnya siapa gitu??? ._.

    Kakak kok bisa sih nemu ide bikin fic sampe serumit ini? Ah kakak buat aku terinspirasi buat main rp :v

    Jan lupa sama Joy yaa kak😀

  3. keren neng apreel banyakin aja biar ga boring jgn yg cinta2 mulu hahaha..
    seru ceritanya hhaaa..
    yg bikin nyesek apa coba??
    itu posternya senyum manis tpi ceritanya jahat abis..
    tpi itu bagus..

    semangat bwt nulisnya ya jgn bosen2 manjain reader2 di WP ini hhaaa
    hhaa event udah d tutup ya??

    • hahaha,
      siaaappp ^^b
      Irene kan emang baik aslinya, cuma karena pengen ketemu bapaknya jadi menyimpang gitu,
      heheh

      Event ditutup hari ini nanti jam 12 malam,
      tunggu pemenangnya yaaa ^^

      • iya emg hidup kdang bisa bikin yg baik bgt jdi jahat bgt hhmmm….

        itu enak bgt yg mnang dpet novel..
        udah baca ulasan k3 hadiahnya..
        tpi kayaknya seru yg jilidnya kupu2 itu jaman eropa hhaa
        tpi kirain novel luar tpi penulis lokal ya hhaa
        neng apreel punya buku “kening” fitrop gk hhaa
        klo ada minta boleh hhaa *gaktaumalu

      • mau menang ga?
        hahahhaa

        Actualy
        dua novel hadiah itu favorit aku, Fleur yang cover kupu2 sama Valharald itu the best banget,
        ceritanya amazing,
        yang cover biru juga keren tapi ya tipikal novel romance kebanyakan ^^

        wah aku ga ada eum,,
        hehhee

  4. emg boleh req klo mo mnang??
    hahahaha
    yg sportif aja hahah
    oh iy nnti mnang gk mnang bls ya surat cintanya ok?!
    d fb juga boleh blsnya..

    iya baca reviewnya si seru2 ya yg biru itu yg korea ya..
    hahaha agak aneh ceritanya bwt aku..
    kirain punya hahah
    boleh loh kasih bocoran siapa yg mnang besok haha
    udah ada kandidatnya gak??

    • ga ga bisa request ^^
      yang suratnya paling bagus aku kasih yang paling bagus juga ^^
      heh?
      mau ga yaaa ‘-‘

      ga ada bocor2an,
      kalo kandidiat dari dua hari event berjalan aku udah nemu favorit aku,
      hahahha

    • Yeheeetttt!!!!
      Kak apreel, aku mencintaimuuuu berikut dengan fic ini❤
      Btw, kakak fan nya RV juga yaa? Biasnya siapa gitu? ._.

      Ini yaa kak, ff paling duuuhhh nyesek yang pernah aku baca..
      Ditambah idenya yang apa gitu yaaa, langka deh pokoknya ._.v
      Sempurna~😀

      • ohorat❤
        aku juga mencintaimu cha meski kamu belom mandi,
        hehhee
        makasihh lohh❤
        RV suka sama mereka soalnya anak SM, secara diriku SMStan😄
        kalo ditanya suka member mana, sejauh ini kepincut sama Wendy,

        duh makasih loh cha,
        padahal ini percobaan bikin fanfic genre kaya gini
        thanks yaaa❤

      • Ngek, aku mah uda mandi :3
        Pake sabun sampe nyaris abis biar wpku bisa komen😄
        Ternyata… jreng jreng!!! Bisaa deehhhh😀
        Keajaiban mandi, duuh beneran ampuh😄

        Wahh, samaan dong sukanya Wendy😀
        Rambutnya bikin semangat ngegambar laut/? :’v
        Heheheh..😀

        Hoho, iyess kakak.. Aku ga yakin ini percobaan, uda kaya mahir bikinnya😄

      • ternyata ya, WordPress itu sensitif sekali,
        hahaha

        wiihh samaan kita
        hahah
        senyumnya ituloh wendy tuh,

        beuh,
        lebay kamu cha😄
        dan betewe kapan kamu update Fanfic kamu,

      • Hahah, iyadeh tobat make wp kalo belom mandi😄

        Iyaa kak, begitulah Wendy yang biyutipul kaya Wendy pasangannya Peterpan😄

        Hahah, iyaa kak aku rada gitu orangnya kalo lagi kumat/? :v
        Udaasih cuma ide gaje :3 Ga layak baca😄

      • hehehee
        okehlah gimana kamu cha,,

        ah itu juga salah satu alasan,
        suka banget sama peterpan – wendy
        makanya nama wendy tuh terkesan imut manis gimana gitu, dan orangnya juga ini mendukung

        aku udah mampir ke blog kamu tadi,
        baca yang dear diary pas banget Cha, disini lagi ujan
        aku butuh Baekhyun tolong,
        hahaha

      • Aduuh kita satu selera ternyata😄
        Jadi pen nonton film Peterpan lagi :’3
        Hahah😀

        Hoho, Baekki ada dikotak suratnya pak camat, kak :’v
        Dicek juseyooo!!!

  5. Neng apreel bilangin aja sama ji eun suruh bls surat aku ya..
    haha biar gwnya gk bertepuk sebelah tangan haha..
    biarin gk mnang yg penting bls suratnya gitu ya..
    hhaaa gimna ya sosok dlm ff tiba2 serasa nyata gitu??
    ckck please??

    • Udah aku bilangin ke Jieun,
      katanya entar dia bales suratnya pas lagi ga ada BaekHyun,
      soalnya dia cemburuan,
      dan kata Jieun “Aku emang nyata kalii search aja di youtube”
      hehehe

      Peace, salam damaii

      • haha iya tau gw jieun lu tuh nyata…
        tpi tetep aja gw fokusnya ke jieun yg d ff dri pada yg nyanyi d panggung..
        terlu sulit d gapai klo d panggung haha..
        bacon lgi d mexico lgi mubank..
        bagus loh dia nyanyi lgu mexico loh..

  6. wahh kak keren gilaakkk! SeulRene.❤
    jadi sebenarnya yang bunuh seulgi itu irene, tapi saking sayangnya mamah irene-seulgi dan gak pengen seulgi menghalangi jalan irene buat bersinar, mamahnya yang nutupin pembunuhan ini. yakan gitu ya kak? duhh aku baca tengah malam sehabis bangun tidur jadi agak gimanaaaa gitu buat konek .__.
    nice fanfic kak! ditunggu karya selanjutnya.🙂

    • hehehe,
      yepss bener gitu,
      jadi Irene mikir polisi pada bodoh ngira Seulgi meninggal gara2 minuman, padahal emang ibunya suntikin minuman racun itu,
      hehehe
      Semua sih karena Seulgi ga mau berbagi, Irene cuma pengen pengakuan dan diakui bapaknya,
      tapi yaa…
      dan ibunya ga suka Seulgi gara2 mirip banget bapaknya,

      Makasihh yaaa ^^
      Ditunggu juga kunjungan kamuu

  7. huah, deg-degan bacanya..ibu dan anak sama aja ternyata..sama-sama punya ambisi buat melenyapkan seulgi dari muka bumi. aku suka banget fic ini..terlebih main castnya Irene, aku lagi suka Irene nih..ditunggu Fic Irene yg genrenya romance atau fluff hheu. fighting Apreel😀

  8. Kak, aku main kemari karena ini castnya RV ngah😄
    Ini mah family-angst, yang ternyata ibu sma anaknya bersekongkol. Kasian irene sih yang kemakan ambisi sama egoisme nya.😥

  9. Huaa… entah kenapa sejak awal aku udah nebak kalo ini tentang pembunuhan dan pembunuh itu adalah si Irene haha *ketawa evil*
    Dan ternyata bener seperti dugaanku… kenapa bisa pas ya? Wah… mungkin kita sehati, kak *tos bareng kak Ika* kkk~
    Hm… ini keren dan aku nggak bisa kasih komentar selain itu gara-gara terpukau dengan ide yang kakak tuliskan ini…
    Okay, mungkin segitu aja dariku, sampai jumpa di lain kesempatan *ppyeong~*

  10. owh..apa ini..irene kok jadi pembunuh? TT
    tp irene kasihan juga..dia selalu jadi bayangan😦
    yaampun ibunya irene baik banget ya(?)

    bagus kak^^

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s