[A to Z FlashFic Challenge] N for “Normally Insane”

Favim.com-blackampwhite-girl-hair-photography-run-97587

A to Z Flash Fiction Challenge

Day 14 ‘N‘

‘Normally Insane’

Contain :500 word

.

.

won’t let you go..!!

.

.

Normally Insane

Tetesan air hujan dan kelamnya langit malam tidak menghentikan langkahku untuk terus berlari. Berlari menjauhi rasa ketakutanku. Ketakutan akan kehilangannya. Ini baru menginjak tahun pertama. Aku bahkan sudah merangkai betapa manisnya sisa hidupku yang akan aku lalui bersamanya. Tidak, dia tidak boleh pergi secepat ini.

Kaki ini dengan langkah tidak beraturan akhirnya sampai disebuah rumah yang dikelilingi pagar tinggi. Pohon rambat yang menjalari setiap pagar memberikan kesan sangat tertutup untuk bangunan didalam sana. Memang tidak banyak orang yang sering mengunjungi rumah ini. Tapi tidak berlaku untuku. Meski memiliki aura sangat menakutkan, lembap mengisi seluruh isi bangunan aku sudah hafal dan nyaman dengan bangunan ini.

Ketika berhasil mendorong pintu pagar tinggi yang diselimuti tanaman rambat dan mengeluarkan derat besi tua, aku kembali berlari menuju halaman rumah.

“Paman.. paman..” ucapku lantang ditengah suara tangisan juga rintik hujan yang bercipratan dengan dedaunan.

Lama. Sampai kemudian derap langkah berat dan terbukanya pintu depan itu membuatku menghambur kedalam. Memeluk seorang berbadan tambun dengan lampu senter ditangannya yang menjadi penerangan kami saat itu.

“Ada apa?” suaranya.

“Dia sekarat paman… cepat tolong,” isakku. Tanpa menunggu jawabannya dan berdiam disana lebih lama lagi, aku menyeret lelaki itu kembali ke tempat tadi. Melewati kegelapan, rumput basah dan suara kukukan hewan malam. Kembali ke sebuah rumah dengan penerangan redup dibawah rindangnya pohon ek.

“Dia sekarat..” ucapku lagi sambil mendorong pintu tua itu dengan paksa membiarkan lelaki berbadan tambun itu melangkah duluan.

“Dia hanya diam, dia tidak menjawab ucapanku, dia tidak bernafas, apa dia mati? Tapi aku-”

Aku belum selesai dengan ceracauan panjang ini, namun sepasang tangan gempal itu membekap mulutku. Tatapan matanya seakan menyuruhku untuk diam. Aku mengangguk setuju, kemudian dia melepaskan tangannya.

Menatap lelaki tambun itu melangkah semakin kedalam rumah, aku mengikutinya dari belakang. Dengan pelan kami sampai di ruangan itu. Sebuah ruangan dengan satu tempat tidur besar dimana disana terbaring seseorang lengkap dengan selimut yang melindunginya dari dingin. Dia nampak tertidur. Tapi dia bukan tidur.

Aku melihatnya. Wajahnya yang pucat, bercak darah di sekitar tubuhnya dan satu pisau tertancap tepat diperutnya. Sudah aku bilang bukan, dia sekarat. Dan aku yang melakukannya.

“Kau yang melakukan ini?” tanya lelaki tambun itu saat menatap pemandangan didepannya. Berbalik menatapku dengan tatapan menakutkan. “Kau yang membunuhnya?” ucapnya lagi dengan suara menggelegar.

“Jangan kencang – kencang, dia bisa bangun..” jawabku sambil menutup telinga dan menjatuhkan tubuh dilantai dingin. “Nanti dia bangun,” ucapku ditengah isakan.

“Dia MATI!!! Kau membunuhnya… kau membunuhnya!!”

Suara bergema di telingaku. Dia mengatakan aku pembunuh? Apa maksudnya?. Aku menatap lelaki tambun itu kemudian melangkah menuju kamar dimana dia tertidur dengan warna merah sebagai pemanis disana.

“Dia berniat meninggalkanku, jadi ini cara agar dia diam. Pintaku sekarang, tolong bantu dia dari kesakitan..” ucapku dengan suara bergetar dengan menatap tajam lelaki tambun.

Dia mendelik kasar. “Kau pembunuh!”

“BUKAN!” aku kembali menjerit, menutup telinga dan memejamkan mata. Saat kubuka mata ini, semua hilang.

Tidak ada lagi ruangan gelap dengan suara hujan, tidak ada kamar tidur dengan lelaki bersimbah darah, tidak ada juga lelaki tambun yang menghakimiku. Semua berganti dengan ruangan kecil pengap berwarna putih. Disana hanya ada satu ranjang, satu bantal dan satu selimut.

Dan hanya ada aku.

“Ah, aku berhalusinasi lagi,” menit selanjutnya aku tertawa. Tertawa untuk apa? Entahlah. Ini hanya terdengar lucu aku bisa menangis dan tertawa hanya selang beberapa detik bahkan diwaktu yang bersamaan pun aku bisa.

“HAHAHAHA….”

.

.

16 thoughts on “[A to Z FlashFic Challenge] N for “Normally Insane”

  1. normally insane…itu jdulnya,
    tp dpt dpstikan bhwa ntu cwe, GA NORMAL sma skali…
    psychopat spertinya ya…
    iiih ada pmbunuhan dsni…
    apreel…kmu pmbunuh ? atau aku ya ??
    feel slalu dpt, mskpun d crt sesingkt ini…
    goooooooood…🙂

  2. Ya ampun…tau ga april aku baca hampir semua flasfic challenge kamu…aku berasa naek roller coaster dech…benran…dari awal emosi aku d ajak naek turun…dari mulai cerita yg manis, ngeselin, nyeremin…
    TApi ga tau kenapa aku paling suka baca fanfic yg genrenya beginian…ahaha…
    Padahal aslinya aku ga suka fic psiko horror dan berbau bau darah…ahaha…

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s