Another Love Story : 5 – ‘His name is BYUN BAEKHYUN’

als3

Another Love Story : 5 –  ‘His name is BYUN BAEKHYUN’

Fanfic presented By Apreelkwon

For BaekHyun and IU Lovers… This is it…

Cast : BaekHyun and IU
Genre : Romance , School Life
Type : Chaptered

.

sebelumnya : 1 . 2 . 3 . 4

.

How your love story?

This is just a common love story But…..

Lets Start.

.

.

His name is BYUN BAEKHYUN

Jieun dan sepeda motor itu sudah menghilang dari pandangan BaekHyun, yang tentu rencana mereka untuk pulang bersama gagal total. Hati kecil BaekHyun berbisik bahwa dia merasa sedikit kecewa tapi, sejurus kemudian dibantah oleh mulutnya.

“Setidaknya dia bicara langsung padaku, itu sedikit sopan,” jawab BaekHyun untuk dirinya sendiri saat dia sudah berhasil mencapai halte bus dan menududukan tubuhnya, menunggu Bis nomor 90A. Pulang? Entah kenapa tiba – tiba BaekHyun merasa malas hanya menghabiskan sorenya dirumah. Ini sebenarnya alasan mengapa BaekHyun mengajak Jieun pulang bersama, dia ingin menikmati es krim di kedai yang baru buka dekat sini bersama Jieun. Kenapa? Entahlah, mungkin BaekHyun sedang bahagia. Atau mungkin sebagai balasan makan siang Jieun tadi siang?

BaekHyun mengambil ponsel dari saku seragamnya, membuka list kontak, setelah menemukan nama Luhan, dia melakukan panggilan.

Hyeong kau dimana?” tanya BaekHyun saat suara disebrang sana menyapanya. “Aku baru saja pulang sekolah, tapi terlalu malas untuk pulang kerumah. Jemput aku hyeong, ayo kita jalan – jalan,” lanjut BaekHyun.

Menendangi kerikil didepannya BaekHyun menghembuskan nafas berat saat Luhan menjawab tawaran BaekHyun. Apa boleh buat, Sepupunya ini tengah menemani ibunya menggeledah pasar ikan didekat laut. Ini pasti akan memakan banyak waktu, BaekHyun yakin ibunya akan berhenti memilih saat langit sudah gelap. “Heol~ baiklah. Semoga kalian bersenang – senang,” jawab BaekHyun yang lebih tepatnya menyindir dengan posisi Luhan yang terperangkap.

BaekHyun memasukan kembali ponselnya kedalam saku. Apa boleh buat, sepertinya BaekHyun hanya bisa pulang dan tidur sampai ibunya pulang membawa makanan. Bis 90A sudah terlihat dari ujung jalan, bersiap – siap BaekHyun berdiri dari duduknya. Ketika kemudian kedua matanya mendapati tiga karibnya baru keluar dari gerbang sekolah. Satu ingatan BaekHyun akan janji pada mereka kembali teringat. Dengan senyum cerah BaekHyun berlari menghampir mereka, melupakan Bis yang sudah berhenti didepan halte.

.

.

“Seharusnya Oppa menelfon paman Kim, bawa Hana kesana. Kenapa malah menjemputku kesekolah dan meninggalkan mereka dirumah, ”

Sepeda motor merah yang mebawa Jieun tengah membelah langit siang Seoul. Entah sudah keberapa kali Jieun mengomel memarahi lelaki yang membawanya sekarang. Lee Jinki –kakak laki – lakinya. Jinki hanya bisa meminta maaf dengan terus memacu sepeda motornya dengan kecepatan penuh. Ada hal penting yang menunggu mereka dirumah –fikir Jinki.

Oppa, kau mau membunuhku,” sekali lagi Jieun melontarkan kekesalannya saat melihat sang kakak membawa motor dengan kecepatan penuh.

“Kau menyuruhku untuk cepat – cepat, tapi kau memarahiku saat memacu motor cepat,” ucap Jinki setengah berteriak.

“Ini semua salah Oppa…” teriak Jieun lagi tidak kalah dengan suara desing motor.

Oke, Oke, semua memang salahku. Jadi bisakah kau sekarang diam agar kita segera sampai rumah?” tanya Jinki yang tidak dijawab oleh Jieun. Karena tidak ada respon dari Jieun, dengan cekatan Jinki memacu motornya menyalip setiap mobil yang menghalangi jalan mereka. Bahkan dilampu merah terakhir dengan nekat Jinki menerobosnya, beruntung polisi tengah sibuk dengan tugas lain yang tentu membebaskan Jinki. Untuk kali ini.

Perjalanan rumah Jieun – sekolah yang biasanya bisa memakan 20 menit dengan sepeda motor, sekarang mereka dalam waktu 10 menit sudah berada didepan pekarang rumah Jieun dan Jinki. Bisa ditebak seperti apa Jinki membawa motor? Sepertinya dengan melihat keadaan Jieun kita sudah tahu seperti apa kakaknya ini mengendarai motor barusan.

Dengan kelimpungan Jieun membuka helm putihnya. Selama beberapa menit dia berdiri dalam diam kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “Kau hampir membunuhku oppa,” ucap Jieun ketika pusing yang menderanya perlahan telah hilang.

JinKi tidak menanggapi perkataan Jieun. Dia sudah berlari menuju arah rumah dan dengan cepat membuka kunci. “Cepat !!” ucap Jinki pada Jieun saat dia sudah berhasil membuka pintu.

Dua Lee bersaudara itu dengan cepat berlari menuju rumah yang sudah seumur Jinki mereka tinggali bersama ayah dan ibunya. Tapi karena kedua orang tuanya yang merupakan anggota orchestra tim yang selalu melakukan perjalanan kemana saja, membuat dua LEE ini harus tinggal berdua saja. Berdua disebuah rumah yang tidak terlalu besar juga tidak kecil. Rumah itu didominasi warna putih dengan pagar besi hitam disetiap sisi rumah. Terbagi menjadi dua tingkat dimana rumah bagian atas merupakan kawasan Jieun dan bagian bawah daerah Jinki. Dengan peraturan seperti ini mereka seperti memilki tanggung jawab masing – masing. Ya mereka terkenal sebagai adik – kakak yang baik meski hidup terpisah dari orang tua mereka.

Jinki terlihat mendahului dia berlari menaiki tangga secepat mungkin yang kemudian disusul Jieun dengan nafas terengah. Dia masih belum pulih dari efek kebut kakaknya dan sekarang berlari menyusul kakaknya. Dia tidak sanggup. Tapi apa boleh buat, ada yang menunggu Jieun dengan segera disana.

“HANA-ya…..!!!!” teriak Jinki saat dia sudah terlebih dahulu sampai dilantai atas lebih tepatnya dari salah satu kamar yang berada diujung. Mendengar itu Jieun dengan cepat memacu langkahnya. Dia takut.

“Ada Ap-” belum sempat Jieun menyelesaikan kalimatnya, matanya menangkap dua mahluk mungil yang tergeletak diatas karpet kuning kamar Jieun. Dua mahluk yang baru terlahir kedunia.

Ahahaha

Ya,, anjing Jieun dan Jinki –Hanna, baru saja melahirkan dua bayi anjing yang lucu. Ini alasan mengapa Jinki kelabakan menemui Jieun disekolah. Dia tidak tahu membantu anjing melahirkan. Dan tidak terfikir olehnya untuk meminta bantuan Paman Kim –tetangga mereka yang notabene ahli dalam bidang ini.

Aigoo…. Lucunya..” teriak Jieun saat melihat dua anak Hanna. “Untung Hanna baik – baik saja dan bisa melakukan semuanya sendiri, kalau tidak aku akan membunuhmu Oppa..

Jinki hanya mengelus dadanya dan menghembuskan nafas lega. Dia beruntung, anjing kesayangan Jieun baik – baik saja dan itu berarti hidupnya selamat. Jinki baru saja akan membantu Jieun membawa dua anak Hanna kedalam tempat tidur anjing yang telah Jieun siapkan, tapi kedua tangan Jieun dengan cepat memukulnya.

“JANGAN…” teriak Jieun.

“Kenapa? Aku hanya ingin membantumu,”

“Oppa, kau hanya akan membunuh anak Hanna. Ya ampun kau ini lelaki Oppa, suatu saat kau harus menjadi ayah dan bertanggung jawab atas anak kalian, lihat sekarang mengurus anak anjing saja kau tidak bisa,”

“Itu berbeda,”

“Lelaki harus bisa menyesuaikan situasi dimana dia berada, itu tugas lelaki,”

“Lalu tugas perempuan?”

Jieun yang sedang mengikat rambutnya menatap tepat pada mata Jinki. “Kami hanya perlu meyakini pada cinta yang lelaki berikan dan semua akan berjalan baik, selama para lelaki percaya pada cinta yang mereka perjuangakan, Cuma itu..”

woah… Lee Jieun, kau sedang jatuh cinta??” tanya Jinki saat dia sudah terduduk dikasur Jieun menyaksikan adiknya merapihkan tempat tidur bayi anjingnya.

Yaps..” jawab Jieun enteng.

Jinki sontak bangun dari tidurnya. Dia kaget. Dengan segera dia menghampiri Jieun kemudian memegang kedua sisi bahu Jieun erat. “Kau serius? Siapa dia?” Jinki kaget tapi dia juga takut, mengingat Jieun memiliki sedikit masa lalu buruk dengan lelaki.

“Tenang Oppa… aku fikir dia lelaki baik – baik, dan oppa yang mengenalkannya padaku,” jawab Jieun sambil tersenyum.

Kali ini giliran Otak Jinki yang kaget. Kapan dia mengenalkan lelaki pada Jieun? Mencoba mencari dan mencari tapi hasilnya nihil. Tidak ada seingatnya. Lalu siapa maksud Jieun. Jinki mencoba mengorek lebih dalam, tapi melihat Jieun sibuk dengan penghuni barunya, dia mengundurkan niatnya. Mungkin nanti malam –fikir Jinki.

.

.

Baekhyun memang gagal menghabiskan sore harinya dikedai es krim dekat sekolah bersama Jieun, yang pulang bersama lelaki bersepeda motor merah yang entah siapa. Tapi dengan itu BaekHyun berhasil menempati janji pada tiga temannya dengan mentraktir mereka es krim sepuasnya. Di kedai es krim dekat sekolah. Bisa terlihat dengan jelas aura bahagia dari wajah Jongdae, Kyungsoo juga Chanyeol ketika mereka melahap cup demi cup es krim didepan mereka. Bahkan BaekHyun sudah berhenti berhitung, berapa cup yang telah dihabiskan JongDae.

BaekHyun hanya berharap, semoga uang didompetnya cukup.

“Jadi sudah sampai tahap mana hubunganmu dengan Jieun,” ucap KyungSoo disela – sela menikmati es krim banana miliknya.

Mendengar pertanyaan KyungSoo sontak Chanyeol dan JongDae juga memusatkan perhatiannya pada jawaban BaekHyun. “Maksudmu?” tanya BaekHyun sambil memandang tiga teman dihadapannya.

“Sejak camping sepertinya kalian semakin dekat, Jieun bahkan membawakanmu makan siang tadi,” sambung Chanyeol.

“Kalian juga berniat pulang bersama bukan? Tapi kenapa kau malah mengajak kami kesini, kemana Jieun,” JongDae ikut penasaran.

“Dia pulang bersama seorang lelaki dengan sepeda motor tadi,” ups. Seharusnya BaekHyun tidak mengatakan ini. Dan BaekHyun menyadari betapa bodohnya mulutnya ini. Segera Baekhyun mendapatkan pandangan kaget dari tiga temannya. Habislah kau Byun BaekHyun .

“Lelaki? Sepeda motor merah? Wahhh siapa dia?”

“Setahuku Jieun tidak memiliki teman lelaki,”

“Dan dia tidak akan pernah dekat dengan lelaki kecuali BaekHyun,” ucap Chanyeol melengkapi kalimat JongDae.

Telinga BaekHyun terasa tersengat saat dia mendengar kalimat Chanyeol barusan. Apa maksudnya? eiy.. apa maksudmu Jieun hanya dekat denganku,”

Chanyeol menghentikan aktifitasna menghabiskan es krim coklat dan memandang BaekHyun. “Kau sudah tau tetang masa lalu Jieun bukan? Ini mustahil bagi Jieun dekat dengan lelaki begitu mudah, tapi aku juga tida mengerti mengapa dia bisa dekat denganmu, apa kalian pernah bertemu dimasa lalu?” yang hanya dijawab gelengan kecil dari BaekHyun.

ah.. BaekHyun-ah, kau sudah tahu tentang masa lalu Jieun dengan lelaki?” lanjut KyungSoo sekarang yang bertanya, yang dijawab anggukan kecil BaekHyun.

“Tentang dia yang pernah dibully karena dikira perempuan kasar juga perembut lelaki orang,?” kali ini giliran KyungSoo yang mengangguk.

“Sejak kapan kau tahu cerita itu?”

“ehm… hari pertama camping, watu itu Jieun sendiri yang bercerita padaku,”

“Dan kau biasa saja?” tanya KyungSoo janggal.

“Maksudmu biasa saja?” tanya BaekHyun bingung.

“Kebanyakan mereka yang telah mengetahui masa lalu Jieun akan berbalik simpati padanya, dan berujung Jieun akan menjaga jarak dengan mereka karena dia merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu, lalu kau?”

ah.. itu, Jieun juga pernah bertanya padaku tentang itu, tapi aku meyakinkannya bahwa aku akan tetap seperti ini,”

“Dan Jieun percaya?” tanya KyungSoo tidak percaya, yang dijawab anggukan BaekHyun. Mendengar jawaban BaekHyun JongDae dan Chanyeol hanya bisa mengangkat bahu mereka tidak tahu apa – apa.

“Satu pertanyaan lagi,” ucap KyungSoo. Dia bahkan sudah menyingkirkan cup es krimnya. Sepertina dia sangat penasaran tentang BaekHyun dan Jieun. “Kenapa kau menyatakan cinta pada Jieun? Alasannya?”

ya.. apa itu penting untukmu,” jawab BaekHyun gelagapan. Dia selalu bingung bila ada yang bertanya seperti ini.

“Jieun sudah pernah bertanya seperti ini padanya, tapi dia tidak menjawab sepertinya dia tidak memiliki alasan,” jawab Jongdae sambil melirik BaekHyun yang duduk disampingnya.

“Tidak mungkin, apa kau?” KyungSoo menghentikan kalimatnya kemudian menatap BaekHyun dengan menyipitkan kedua bola matanya.

“A…ap.. apa ini?” tanya BaekHyun yang merasa tidak nyaman dengan tatapan KyungSoo.

“Jangan bilang kau hanya mempermainkannya?”

.

.

Waktu menunjukan pukul 6 lewat 40 menit. Biasanya Jieun dan Jinki akan menghabiskan waktu mereka didepan televisi dengan camilan dipangkuan masing – masing dan menikmati hiburan keluarga. Tapi kali ini, karena mereka baru kedatangan penghuni baru khususnya untuk Jieun, mereka sepakat untuk diam dikamar Jieun mengawasi dua anak Hanna.

“Jadi siapa lelaki itu?” tanya Jinki.

Jieun yang duduk dekat tempat tidur anak anjing, membalikan badannya untuk bisa melihat ekspresi Jinki. “Siapa?” tanya balik Jieun.

“Lelaki yang membuatmu jatuh cinta, dan kau bilang aku yang mengenalkannya,”

ahh…” Jieun tersenyum. “Oppa memang yang mengenalkannya padaku,”

“Kau tahu Lee Jieun, sejak siang aku terus berfikir siapa lelaki yang aku kenalkan padamu tapi aku tidak ingat,”

Oppa mungkin tidak akan mengingatnya, tapi tidak denganku,”

“Jadi?”

Jieun rasa kakaknya sudah sangat penasaran luar biasa. Dia melangkah kemudian terduduk tepat disamping Jinki. “Oppa masih ingat saat aku terkena masalah disekolah? Lalu kita pergi liburan bersama ayah dan ibu kedaerah pegunungan?”

Jinki mengangguk. Kepalanya terus memutar kenangan beberapa bulan itu, tapi hasilnya tetap nihil. Dia tidak ingat.

Kembali kemasa sulit Jieun saat pertama kali masuk sekolah. Saat dia dicap sebagai perempuan kasar dan perebut lelaki orang. Jieun yang masih berstatus murid baru tapi sudah mendapat surat panggilan teguran dari kepala sekolah untuk insiden kekerasan yang dia lakukan pada murid sekolah tetangga. Ketika Jieun harus menerima pandangan Jijik dari semua penghuni sekolah, dan ketika beberapa orang mulai mengerjainya dengan menjadikan Jieun sasaran bully senior.

Itulah masa kelam Jieun.

Mendapati anaknya tertekan, Ayah dan Ibu Jieun berhenti dari acara musik mereka kemudian meminta ijin pada sekolah untuk istirahat Jieun selama beberapa waktu. Dan selama tiga minggu kemudian Jieun juga keluarga menikmati satu kehidupan baru, dengan tinggal didaerah gunung jauh dari tempat tinggal asli mereka.

Ayah Jieun bilang ini Healing Time.

Sebuah rumah atau lebih tepatnya villa yang berada disebuah perkampungan dikaki bukit. Udara setiap pagi disana akan sangat menusuk kulit. Tapi itu malah membuat siapapun untuk cepat bangun dan menghangatkan tubuh dengan lari pagi. Saat kakimu melangkah keluar, udara segar, cicit burung, sinar matahari, embun pagi dan hijau sepanjang mata memandang akan menyambutmu.

Disanalah Jieun dan keluarga menghabiskan waktu selama tiga minggu.

Pagi itu Jieun tengah berlari bersama Jinki. Kemudian mereka berhenti disebuah taman kecil yang tida jauh dari perkebunan.

“Kau sudah merasa baikan?” tanya Jinki sambil mengusap kening adiknya yang berkeringat.

“dari awal aku baik – baik saja oppa, kalian hanya terlalu berlebihan dengan memperlakukanku seperti ini,” jawab Jieun sambil tersenyum.

“Tidak. Kau tidak baik – baik saja, aku mengenalmu Jieun-ah, sangat mengenalmu. Dan akhir – akhir ini aku tidak melihat sinar diwajah adiku ini,”

Jieun hanya tersenyum tapi menit selanjutnya dia membuang nafas berat kemudian membenamkan wajahnya pada handuk putih yang selalu dia bawa untuk mengusap keringat. “Aku fikir sekarang aku trauma dengan lelaki Oppa,

Jinki menggeleng pelan kemudian meraih bahu Jieun. “Jangan karena hal itu membuat arah pandangmu berubah, bukannya kau berniat mencari kekasih saat masuk sekolah, ayolah itu hanya sedikit pengalaman kecil untukmu,”

“Tapi itu menakutkan, kau tahu Oppa… saat kau mendatangi tempat baru, mencoba semuanya berjalan sesuai rencana tiba – tiba seseorang datang menghancurkannya, sungguh semuanya hancur. Aku bahkan tidak bisa menegakan pandanganku saat melangkah disekolah,”

“Dengar, tidak semua lelaki jahat. Lihat ayah, aku, dan masih ada lelaki baik yang tersisa untukmu, Oppa yakin..” ucap Jinki mencoba meyakinkan adiknya. Jinki memutarkan pandangannya di taman itu ketika kedua bola matanya mendapati seorang lelaki dan perempuan yang tengah terduduk terdiam. Sepertinya mereka sepasang kekasih yang tengah bertengkar. Jinki memang tidak tahu seperti apa jelasnya keadaan mereka, tapi untuk menghibur adiknya dia mencoba mengarang satu cerita.

“Jieun-ah kau lihat lelaki dan perempuan diujung sana?” ucap Jinki sambil menunjuk dengan dagunya.

“Lihat, mereka sepertinya sepasang kekasih. Lihat si perempuan. Oppa yakin salah satu dari mereka menginginkan perpisahan. Apa yang kau lihat dari lelaki itu?”

Jieun menggeleng kecil. “Aku tidak tahu,” jawab Jieun.

“Lihat lelaki itu seperti berat untuk melepas cinta si perempuan,” Jinki dengan susah payah mengarang scenario. Beruntungnya tidak lama si perempuan berdiri, si lelaki mencoba menahan tangan si perempuan tapi perlahan melepasnya. Si Perempuan menangis tapi si lelaki mencoba tegar. Ah Ini memudahkannya, fikir Jinki.

“Perempuan itu meninggalkan si lelaki,” ucap Jieun saat melihat siperempuan pergi. “Ah, lelaki itu menangis. Padahal tadi dia sangat lihai menutupi perasaannya,”

nah, masih banyak lelaki baik didunia ini. Salah satunya lelaki itu, dia sangat mencintai perempuannya tapi dia tidak bisa memaksakan egonya itu contoh lelaki tulus Jieun. Kemudian saat si perempuan akan pergi si lelaki menggenggam tangannya meski akhrinya dia melepasnya, itu bentuk kasih sayang yang kuat. Dan dia menangis sekarang itu kau tahu kenapa..”

“Cintanya sangat tulus, ah dia lelaki yang baik” ucap Jieun sambil terus memperhatikan lelaki yang tengah terdiam itu. Terus memandanginya, sampai lelaki itu tanpa sengaja bertemu pandang dengan mata Jieun. Dan Jieun melihat jelas wajah lelaki itu.

Wajah yang tidak akan Jieun lupakan. Sosok lelaki dengan cinta sejati dalam hatinya. Wajah yang beberapa bulan kemudian kembali menyapa Jieun sebagai sosok murid baru dikelasnya.

Byun BaekHyun.

“Dia satu kelas denganku sekarang,” ucap Jieun mengakhiri ceritanya.

Jinki hanya terdiam dengan mata memandang lurus kedua anak anjing Hanna. Otaknya terlalu kusut untuk digunakan berfikir. Ini salah fikir Jinki. Adiknya terlalu polos. Jinki bahkan tidak yakin peritiwa apa yang minmpa lelaki itu saat itu. Jinki hanya mengarang indah untuk membangkitkan kembali semangat dan cara pandang Jieun. Tidak pernah terfikir olehnya akan seperti ini.

“Namanya Byun BaekHyun Oppa..” lanjut Jieun.

eoh..’ jawab JinKi sambil mengangguk.

“Seperti yang Oppa katakan, dia memang berbeda dengan yang lain. Meski dia tahu seperti apa masa laluku, dia tetap memperlakukanku seperti biasanya, tidak seperti yang lain. Aku suka itu,”

Jieun baru akan melanjutkan ceritanya saat dia mendapati handphone nya berdering. Segera dia meraih benda kecil yang terletak dimeja belajarnya dan terkejut ketika mendapati nama BaekHyun disana.

“Sebentar Oppa…” ucap Jieun sambil beranjak keluar kamar.

.

.

BaekHyun tidak mengerti dengan perasaannya sekarang. Setelah selesai makan malam bersama keluarganya, BaekHyun memutuskan untuk berdiam dikamarnya sendirian berhubung Luhan sedang menikmati siaran televisi dengan ayah dan ibunya.

BaekHyun merasa resah. Dia terus menggenggam handphonenya. Hati kecilnya terus berteriak menyuruh BaekHyun menelfon Jieun dan menanyakan perihal tadi siang. Tapi segera ditepis akal sehatnya. Apa jadinya nanti kalau dia menelfon Jieun. Fikirnya.

Tapi sepertinya kekuatan hati lebih kuat dari pada akal saat BaekHyun membuat panggilan pada Jieun dan menit berikutnya satu suara menyapa dari ujung sana.

“Halo..” ucap Jieun dari sana.

ah.. Halo…” jawab BaekHyun mencoba biasa saja.

ehm… ada apa BaekHyun?”

Dan BaekHyun bingung dia harus jawab apa? Dia bahkan bingung mengapa dia menelfon Jieun. Entahlah.

Ah.. aku,” BaekHyun menarik nafas. “Aku hanya penasaran, hal mendesak apa yang membuatmu terburu – buru tadi siang,” berhasil ­– teriak BaekHyun.

Ohh.. tadi siang Kakak laki – lakiku menjemputku kesekolah, karena anjing kesayanganku melahirkan,” ucap Jieun.

Entah kenapa BaekHyun serasa habis menengak logam besar ditenggorokannya. Ketika dia dan ketiga temannya berasumsi Jieun mengalami hal buruk atau apapun itulah, ternyata hal penting itu adalah kelahiran anak anjingnya? Oh my god… betapa bodohnya fikir BaekHyun.

eoh… jadi apa kabar anak anjingmu,” tanya BaekHyun basa – basi.

“Mereka baik – baik saja, untuk kakaku cepat menjemputku,”

Tunggu. Dia bilang Kakaknya menjempuntnya? Jadi lelaki sepeda motor merah itu kakaknya? Dan entah kenapa BaekHyun mengayunkan tangannya membentuk gerakan victory. Kenapa entahlah. Menyadari itu hal bodoh BaekHyun segera mengontrol tangannya.

ah.. syukurlah. Tadi aku berencana mengajakmu ke kedai es krim dekat sekolah, tapi karena kau pergi terlebih dahulu jadi aku kesana bersama Chanyeol, JongDae dan KyungSoo. Dan KyungSoo bertanya kenapa kau tidak ikut,”

Ohh..

Percakapan mereka memang terkesan sangat garing dan membosankan. Dengan BaekHyun yang sudah kehabisan akal, akhirnya dia mengakhiri telfon dengan alibi ibunya memanggil.

“Selamat malam,” dan perkacakapan selesai.

“Kau berbohong, ibu tidak memanggilmu,” ucap satu suara dibelakang BaekHyun. Luhan. Oh tidak BaekHyun kepergok.

BaekHyun memabalikan tubuhnya dan mendapati Luhan tengah memandanginya dengan senyum menyeringai. “Siapa dia?” tanya Luhan.

.

.

Bersambung

.

.

Buat semuanya, dukung terus Baek Jieun yaa… meski di dunia nyata dia udah TAKEN. Tapi didunia imaginasi yang tanpa batas, kita masih bisa memiliki mereka bersama,,, FIGHTING….

Suffer banget nulis FF ini abis ada rumor itu,

.

.

3vPYwAT8

35 thoughts on “Another Love Story : 5 – ‘His name is BYUN BAEKHYUN’

  1. woah…. eonni😄
    Aq sneng + trharu, eon bener.. aq gak brubah pndrian ttg pair ff.. meskpun didunia nyata baek udah ada yg pux..
    makasih bnget eon ttep lnjtin ff ni.. ><
    agak aneh sih, tp slama gk inget2 ttg baekyeon mah aq bcax fine fine aja.. eon hwaiting!!!!!!

    • nah ngerasain juga kan.,,
      aku juga agak ragu pas mau posting,, apa reader bakal konsen bacanya, disaat diluar lag heboh bAekyeon,,
      ahahah

      tapi tenang aja,
      pasti lanjut ko…

  2. yup, gomawo eonni..^^
    ka, aq udah cek, trnyata kaka blom konfirm prmntaan prtmanan aq di fb😦
    nama fb aq Ismy Aeon, diknfirm ya kak.. please, hehe ^^

  3. Kak ceritanya kerwn banget, salut dapet ide dari mana kerennn….
    Aku sebenernya gak peduli sama rumor itu jadi lanjut kak ^^
    Jadi fighting kak…..
    Lanjutannya lebih panjang dong kak:D

  4. apapun yg terjadi dgn baekhyun di dunia nyata,aku tetep masih dukung cerita jieun dan baekhyun koq,lanjut terus ya…
    ditunggu next chap.nya..
    화이팅!!😉

  5. Annyeong…salam kenal lagi…tifany imnida…92line, hehe…
    Aku udh baca bbrp ff mu d blog sebelah…dan ternyata ini blog pembuatnya….!!!
    Yyyeaaayyy seneng bgt bsa mampir langsung d blog authornya…
    Owwwhhh…aku seneng banget sama semua ff mu, apalagi bahasa, alur, tata bahasanya jga bagus banget menurut aku..walaupun aku ga terlalu ngerti tentang tulis menulis..tapi ini daebak…
    Ga bosen baca semua ff mu…
    Dan semua genre yg kmu buat pun aku suka…
    Jjang buat authornya dech…😄

  6. Aku uda ampir nebak kalo oppa nya jieun pasti onyu/?-3-
    Tapi aku malah nyangka yang lain lain-3-
    Apasih si manusia ayam bawa motor ngebut2-,-
    Aku kira ada apa, eh tau-tau perihal…. -3-
    Bagus kak apreel, aku ketipu/?:’3

  7. Aku mau komen apa bingung ka -_-
    Yang jelas aku nangkepnya si baek udah mulai kemakan omongannya sendiri , terus tadi apa aku kira ada hal yang gawat gitu sampe ngebut” eh ternyata cuma …. -_- kakak adek yang freak
    Next ya kak🙂

  8. ahh lucu ternyata cuma karena anjingnya ngelahiring omg>< jieun jinki sama aja!
    baekhyun cemburu itu gelisah juga :v

  9. cieeee baek mulai suka sama jieun nih walaupun kayanya dia ga nyadar haha. dan itu luhan wkwk pasti baek kesel banget wkwk lanjut chapter 6^^

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s