Another Love Story : 4 – ‘No.. No Sympathy’

als3

Another Love Story : 4 –  ‘No.. No Sympathy’

Fanfic presented By Apreelkwon

For BaekHyun and IU Lovers… This is it…

Cast : BaekHyun and IU
Genre : Romance , School Life
Type : Chaptered

.

sebelumnya : 1 . 2 . 3

.

How your love story?

This is just a common love story But…..

Lets Start.

.

.

No.. No Sympathy..!

PLAK

Jieun sedang menikmati langkahnya keluar dari sekolah saat satu tamparan dengan mulus mendarat di pipinya. Dari suaranya sudah bisa ditebak, itu akan memberikan efek yang sangat menyakitkan, terlihat dengan Jieun yang sekarang terduduk diatas tanah merah dengan memegangi pipi kirinya.

Belum sempat Jieun bertanya atas pasal apa orang yang tidak dia kenal ini menamparnya, salah satu dari mereka mendekati Jieun.

“apa yang kau rasakan?” tanya seorang murid perempuan dengan seragam coklat tua, berbeda dengan seragam yang Jieun gunakan. “SAKIT BUKAN? HAH?” tanya perempuan itu lagi.

Jieun yang merasa tidak terima dengan semua ini bangkit dan menatap perempuan didepannya dengan mata nyalang. “OH! Lihat, dia bahkan berani menatapku dengan pandangan seperti itu, beraninya kau…!” dan sekali lagi perempuan dengan name tag Jung SooJung ini berhasil merobohkan pertahanan Jieun.

“itu juga yang kurasakan,” lanjut Soojung tanpa memberi sedikitpun Jieun kesempatan untuk mengeluarkan kalimat dari mulutnya. Meskipun pada kenyataanya Jieun tidak bisa berkata karena ada rasa takut dalam dirinya saat enam pasang mata menghunusnya tanpa ampun. Dan Jieun tidak kenal mereka.

Siang itu Jieun berencana pulang ketika segerombolan perempuan menghadang jalannya dan tanpa basa – basi langsung mendamprat pipi Jieun. Ini konyol. Jieun harus mendapatkan sakit dan malu dalam waktu bersamaan. Bagaimana tidak, dirinya sontak menjadi tontonan semua murid. Lihatlah, lapangan yang biasanya paling mereka jauhi disaat siang menyapa penuh oleh mereka yang hendak melangkah pulang.

“Ayo kita akhiri,” Jieun tidak mendengar kalimat Soojung sebelumnya karena fikirannya melambung jauh saat pandangan setiap murid tertuju padanya, ketika Soojung mundur beberapa langkah baru Jieun kembali mendapat kesadarannya bahwa sekarang dia tengah dihakimi oleh orang asing.

Seorang murid dengan rambut ikal diikat mendekati Soojung memberikan satu kresek hitam padanya. Dan..

Jieun baru sadar sepenuhnya saat bau busuk membasahi kepala dan sebagian seragamnya, dengan mereka –gerombolan murid perempuan, yang tertawa puas.

“YA…!!!!!!”

Melupakan rasa takutnya karena diserang oleh orang asing tapi mendapati dirinya dihina seperti ini membangkitkan pertahanan diri Jieun. Setelah sadar tiga buah telur busuk meluncur dengan sempurna diubun – ubunnya, Jieun bangkit dan menatap tanpa takut perempuan didepannya.

Dengan seksama Jieun menatap mereka satu persatu, tidak lupa dia membaca tiap name tag mereka. Jung SooJung, Choi Jinri, Bang Minah, Kim Ayoung, Seo Jina, Kwon Hana, Jieun dengan yakin akan mengingat nama mereka, PASTI.

“Apa? Kau akan membalas semua ini pada kami?” tanya SooJung lagi. Dari gelagatnya, terlihat sekali sepertinya Soojung lah yang memiliki perkara pada Jieun.

“Kenapa tidak? Kalian menyerangku tanpa alasan bahkan aku tidak MENGENAL kalian, dan aku tidak ada masalah dengan kalian,” jawab Jieun yakin.

hah….kau yakin tidak memiliki salah denganku?” tanya Soojung.

Baru Jieun akan membuka mulutnya, Soojung menunjukan foto dari handphonenya. “Kau kenal dia? Ah… tentu kau mengenalnya, dia kekasihmu bukan?” tanya SooJung. “Kau mengencani lelaki ini disaat dia masih KEKASIHKU… kau mengerti? KAU TELAH MEREBUT MILIK ORANG LAIN…”

BUK!

Jieun tidak sadar dengan apa yang telah dia lakukan. Yang pasti Soojung telah terjungkal dengan ujung bibirnya mengalir darah segar. Mendapati Soojung menangis Jieun baru tersadar. Membuatnya menyadari beribu tatapan aneh dari mereka yang melihat kejadian ini. Mereka memandang Jieun seakan dia adalah sesosok perempuan berandal tidak tahu diri.

Itu baru satu bulan Jieun bersekolah di Chungwoon tapi karena perkara dilapangan sekolah siang itu, dia harus menerima panggilan kepala sekolah lengkap dengan kedua orang tuanya. Seluruh murid menganggapnya sebagai tukang pukul dan perembut pacar orang. Disinilah dimana Jieun mendapati dirinya dalam kondisi krisis.

.

.

Jika ditanya hal apa yang membuat BaekHyun sangat bahagia saat ini, jawabannya ada tiga. Pertama dia baru saja pulang dari camping yang melelahkan, kedua dia disambut makanan lezat buatan ibunya dan yang terakhir mulai hari ini dan seterusnya dia tidak akan lagi tidur sendirian di kamar barunya.

Ya…. BaekHyun sedang sangat – sangat bahagia.

Hyeong, kau tahu? Pindah tempat baru tanpamu itu sangat menyedihkan. Aku harus menghabiskan waktu disekolah baru dan pulang kerumah tanpa ada teman berbagi, kenapa kau lama sekali,” oceh BaekHyun saat dia dan sesosok pria berambut coklat tua tengah merebahkan tubuh mereka diruangan tengah.

“Aku tidak mau mengganggu nilai kuliahku hanya karena harus menemanimu bocah..” jawab lelaki itu.

Luhan. Seseorang yang menyambut BaekHyun saat dia pulang dari camping yang melelahkan. Sepupu yang sudah BaekHyun anggap sebagai kakak kandung. Semenjak kedua orang tua Luhan meninggal karena kecelakaan, dia tinggal bersama keluarga BaekHyun. Seharusnya Luhan ikut pindah dengan keluarga ini tiga bulan yang lalu, tapi karena sedang disibukan dengan ujian Luhan menundanya dan baru pindah hari ini.

“Bagaimana sekolah barumu?” tanya Luhan sambil memindahkan channel televisi meski sebenarnya tidak mereka lihatnya.

“Dia sudah memiliki tiga teman karib,” jawab Ibu BaekHyun saat dia bergabung dengan dua lelaki muda ini.

“Tidak diragukan lagi, dia memang mudah untuk beradaptasi,”

hohoho, tentu. Itu bukan satu kesulitan untuku,” jawab BaekHyun. Tapi menit selanjutnya dia teringat kembali dengan insiden Jieun. Dia memang tidak menceritakan hal ini pada ibunya, karena memang ini tidak layak untuk diceritakan. Ibunya hanya tahu tentang KyungSoo, Chanyeol dan Jongdae yang BaekHyun sebut sebagai teman karibnya.

tidak ada kesulitan? Aku bahkan sekarang tengah terjebak dalam masa sulit,’ keluh BaekHyun dalam hati.

“Apa yang kau fikirkan?” tanya Luhan menatap mata BaekHyun saat melihat BaekHyun hanya terdiam.

“Sepertinya dia sedang jatuh cinta, akhir – akhir ini moodnya naik turun,” jawab Ibu BaekHyun sambil manahan tawa.

“APA??? Apa itu? berhenti membuat hyeong berimajinasi Ibu,” protes BaekHyun.

“AHAHAHA,, apa yang salah dengan jatuh cinta? Ceritakan padaku siapa dia dan apa yang menghambatmu mendapatkannya?”

BaekHyun memutar bola matanya. Cukuplah dia mendapat gurauan dari temannya disekolah dan sekarang haruskah Luhan juga ikut menggodanya?.

“Hentikan Hyeong…. tidak ada cerita seperti itu, Ibu hanya berimajinasi,”

“Perasaan seorang Ibu tidak pernah salah kau tahu itu,”

Dan malam itu baik Ibunya ataupun Luhan menghujani BaekHyun dengan pertanyaan dan gurauan tentang dia sedang Jatuh cinta. Tapi terlepas dari itu BaekHyun tersenyum bahagia untuk malam itu.

.

.

Mulailah harimu dengan senyuman.

BaekHyun rasa pepatah ini harus dia terapkan untuk menghalau semua rasa sesaknya. Kembali kesekolah menandakan kembalinya status BaekHyun sebagai kekasih palsu Lee Jieun. Tapi karena efek kedatangan Luhan, sepertinya perkara itu bukan lagi menjadi masalah untuk Baekhyun. Mungkin hanya untuk hari ini, entahlah untuk hari – hari selanjutnya.

Luhan kembali ditambah dia mendapatkan nilai memuaskan untuk ujian seni musik sudah cukup membuat hari BaekHyun sangat menyenangkan. Happy Virus masih menghinggapi BaekHyun. Jadi untuk hari ini, kalian tidak akan melihat badmood boy –mungkin.

“ayoo kita makan, aku traktir kalian semua,” ucap BaekHyun riang saat bel istirahat berbunyi.

Ketiga karibnya –Chanyeol, Jongdae, Kyungsoo, terlihat berbinar mendengar BaekHyun akan membelikan mereka makan siang. Dengan segera mereka merapihkan meja untuk bersiap menyantap makan siang GRATIS.

“BaekHyun..” seperti biasa, itu suara Jieun. Dia terlihat dengan wadah bekalnya menghampiri meja BaekHyun. Ah kali ini sepertinya Jieun membawa dua bekal.

“Apa kita minta saja uangnya, sepertinya Jieun akan mengajaknya makan bersama,” bisik Chanyeol pada KyungSoo saat melihat Jieun menghampiri BaekHyun.

KyungSoo menggeleng pelan. “Untuk pertama kalinya aku membenci sosok Lee Jieun, sungguh,” jawab KyungSoo, kemudian dia berdiri dan mengajak Chanyeol juga JongDae untuk pergi makan siang.

“Lain kali saja free lunchnya, siang ini sepertinya Jieun ingin makan bersamamu,” ucap KyungSoo sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.

BaekHyun tersenyum getir saat melihat tiga temannya melangkah lesu. Baru menit sebelumnya mereka terlihat begitu bahagia akan mendapatkan makan siang gratis, tapi mereka harus gigit jari dan makan dengan uang sendiri. Baekhyun berbisik pada hatinya untuk menepati janji mentraktir tiga temannya ini. Harus.

“Ya… kenapa?” tanya BaekHyun ramah tidak seperti biasanya, dia bahkan membubuhkan satu senyuman manis diujung kalimatnya.

Jieun terlihat mengerjap kaget mendapati ekspresi BaekHyun, membuatnya bingung dengan maksud dan tujuannya. “ahh ini, aku membawa bekal lebih. Sebenarnya aku sengaja membuatkan ini untukmu sebagai suap untuk mengajakmu bicara,” ungkap Jieun.

BaekHyun menaikan sebelah alisnya. “Kau mau menculiku dengan bekal ini?” tanyanya sambil tertawa kecil.

“Bisa dibilang seperti itu, ayo…” ucap Jieun sambil menggerakan kepalanya memberi gesture pada BaekHyun untuk melangkah.

“Mau makan dimana?”

“Disuatu tempat, disini terlalu ramai…”

BaekHyun mengambil dua bekal dalam dekapan Jieun kemudian membiarkan perempuan itu duluan melangkah dengan BaekHyun mengekor dibelakang. Menaiki dua tangga yang membawa mereka ke atap gedung sekolah.

BaekHyun mengernyitkan dahinya. ‘makan siang diatap gedung sekolah? Apa tidak salah?’ tidak habis fikir bagaimana caranya mereka bisa nyaman makan siang dibawah terik sinar matahari yang langsung mengenai tubuh mereka.

Jieun masih terus melangkah, dengan BaekHyun yang juga terus mengekor mengenyampingkan fikirannya. Saat mereka berjalan lurus kemudian belok ke tepian gedung, disana BaekHyun disambut dengan sebuah taman kecil lengkap dengan pohon cemara yang sedang belajar tumbuh. Banyak tanaman disana dan terdapat tempat makan yang diberi tempat berteduh seperti mini gazebo.

“Wow… aku baru tahu sekolah memiliki tempat seperti ini,” ungkap BaekHyun saat mereka sudah melepas sepatu dan berteduh dibawahnya.

“ahahah, ini tempat paling nyaman disekolah, terlebih dimalam hari,” ungkap Jieun.

“Malam hari? Untuk apa kau menghabiskan malam disini?”

Jieun membuka bekal mereka kemudian memberikan satu wadah berwarna biru pada BaekHyun. “Belajar,” jawab Jieun.

“Terimakasih,” jawab BaekHyun saat menerima tempat bekal dari Jieun.

“Mereka kebanyakan akan menghabiskan jam ekstra diruang private aku lebih suka menghabiskan waktu ekstra disini. Saat malam kau bisa melihat langit penuh bintang dan itu membuka luas pemikiranmu,” lanjut Jieun.

“Kau yang membuat semua ini?” tanya BaekHyun saat dia membuka tempat bekalnya melupakan penuturan panjang Jieun tentang pemandangan malam ditempat ini.

“tidak,” jawab Jieun. “Aku dan Oppa ku yang membuat ini,”

“Kau punya kakak laki – laki?” tanya BaekHyun.

“Hemh,, dia sekarang seorang mahasiswa semester 3,”

“Aku juga, Hyeongku juga seorang mahasiswa… tapi entahlah dia semester berapa,”

Jieun hanya tersenyum mendegar jawaban BaekHyun. Selanjutnya tidak ada lagi suara perbincangan antara mereka. Keduanya terlalu sibuk dengan makanan yang tengah mereka proses untuk menjadi sumber energi.

“Jadi apa yang kau ingin bicarakan dengan menyuapku seperti ini?” tanya BaekHyun saat dia melihat Jieun sudah selesai dengan makan siangnya.

ehm…” Jieun terlihat ragu untuk mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan.

ehm?” tanya BaekHyun lagi.

“Bisakah kau melupakan apa yang aku ceritakan saat dikemah?”

“Pasal?”

“Masa laluku,” ucap Jieun. “Sebenarnya aku enggan untuk kembali menceritakan masalah itu saat orang lain bertanya. Makanya, setelah aku menceritakan itu padamu bayangan itu kembali merusak mood ku, bisakah kau menganggapku seperti sebelumnya, seperti sebelum kau tahu masa laluku,”

Ya, Jieun memang selalu enggan saat ditanya mengenai cerita itu. Dia takut orang berbalik simpati padanya dan memperlakukan dia seakan dia mantan orang gangguan mental. Intinya Jieun tidak ingin dikasihani. Terlebih saat Jieun mendapati prilaku BaekHyun hari ini padanya. Jieun merasa Baekhyun baik padanya karena simpati.

Meski sebenarnya bukan karena itu seorang Byun BaekHyun bahagia hari ini.

“Bisakah kau tidak bersimpati padaku, jangan seperti mereka,”

BaeHyun menaikan alisnya. Berfikir sejenak. “Maksudmu bersimpati?”

“Begini, aku tahu tentang masa lalu mu itu. Dan itu kau yang menceritakan bukan aku yang meminta, tentang bersimpati,” BaekHyun memberi jeda pada kalimatnya. “Tenanglah, aku bukan seorang penjilat yang akan berubah baik hanya karena merasa kasihan. Aku masih akan seperti biasanya,”

Jieun menatap BaekHyun. “yakin?”

“Yakin untuk apa?” tanya balik BaekHyun sambil menaikan bahunya.

“Untuk tidak bersikap kasihan padaku,”

“Tentu, kenapa kau harus seperti itu,”

Jieun tersenyum mendengar jawaban BaekHyun. Dia bahagia setidaknya BaekHyun tidak akan seperti yang lain, menganggap Jieun seseorang yang harus dilindungi dan dikasihani.

Semua yang dikatakan Oppa memang tepat,’ bisik Jieun.

Jieun meraih tempat minumnya dan membiarkan segar menyapa tenggorokannya. Kemudian dia mengambil tempat makan mereka dan merapihkannya. “Sebentar lagi masuk, ayo kita kembali,” ucap Jieun saat dia sudah selesai dan siap meninggalkan tempat makan penculikan BaekHyun.

“Jieun…” sapa BaekHyun yang baru selesai dengan tali sepatunya.

Jieun berbalik. “Apa?”

ehm… bagaiaman jika nanti kita pulang bersama?” ucap BaekHyun yang kini sudah berdiri disamping Jieun.

“Apa ini?” tanya Jieun. “Simpati?”

“Bukan… sudah kukatakan aku tidak akan bersimpati padamu, aku hanya mengajakmu kal-”

Ok call,” jawab Jieun memutus kalimat yang belum selesai.

.

.

Bel pulang berdentang beberapa kali. BaekHyun masih berkutat dengan merapihkan perlengkapan sekolahnya saat dia mendapati Jieun berlari tergesa keluar kelas.

“Kenapa dia? Apa dia tidak ingin ketauan murid kelas? Pintar juga,” ucap BaekHyun.

“Apa?” tanya JongDae.

“Apa?” tanya BaekHyun balik bingung dengan pertanyaan teman sebangkunya.

“kalimat tadi,”

“Yang pasti bukan untukmu, berhenti ingin tahu urusan orang,” jawab BaekHyun sambil pergi meninggalkan Jongdae.

“Sepertinya Jieun dan BaekHyun semakin manis saja, apa mereka berencana pulang bersama hari ini?” tanya Chanyeol yang berbalik kebangku JongDae ketika dia menatap kepergian BaekHyun.

“aku setuju,” jawab JongDae. “Tadi siang mereka makan bersama, sekarang juga pulang bersama…”

“Tapi bukankah kau bilang BaekHyun sudah tahu tenang kisah Jieun?” tanya KyungSoo yang sudah bergabung dengan dua temannya.

“Ya.. dia sudah tahu,” jawab Chanyeol.

“Apakah sekarang BaekHyun menjadi manis karena kasihan pada Jieun?” tanya KyungSoo lagi.

Plak. Tangan JongDae dengan mulus mendarat dikepala KyungSoo. “Jangan asal bicara, aku yakin BaekHyun tidak seperti lelaki lain,” Yang dijawab anggukan setuju dari Chanyeol.

BaekHyun memacu langkahnya meninggalkan sekolah menuju halte bus. BaekHyun yakin disana Jieun sudah menunggu. Dengan Jieun yang berusaha tidak tertangkap oleh teman – temannya yang jahil, BaekHyun juga berusaha untuk menyeimbangakan trik Jieun. Jangan sampai ada yang tahu dan mereka jadi bahan gurauan lagi. jangan.

Langkah BaekHyun berhenti saat dia mendapati ponselnya bergetar. Dengan langkah pelan BaekHyun melanjutkan perjalannnya dengan membagi fokusnya pada layar handphone.

Lee Jieun

Maaf, sepertinya aku pulang duluan BaekHyun. Ada hal penting yang mendesak.

Heol~ kenapa aku merasakan harga diriku jatuh,” ucapnya sambil melanjutkan langkahnya. Halte bus sudah dekat tapi BaekHyun berhenti dan menatajamkan pandangannya. Saat dia mendapati Jieun tengah berbicara dengan seorang lelaki, kemudian dia pergi menaiki sepeda motor. Bersama seorang lelaki.

“Siapa dia?” tanya BaekHyun pensaran sambil terus mengikuti sepeda motor berwarna merah itu hilang dimakan tikungan.

.

.

Bersambung…

.

Attention Plisss ^^

Makasih buat kalian semua yang udah nemenin cerita Baek-Jieun /hug/. Sama kaya Mood ByunBaek di Chap ini, Mood aku juga lagi GOOD banget, jadi mau baig2 dikit kebahagian.

Untu rasa terimakasih buat dukungan fanfic ini, rencananya aku di ahir chapter bakal ada kejutan semacam giveaway buat kalian, jaddii See U at End Of Chapter… ^^

tumblr_n4vjlwDBNN1r29ufjo2_r1_500

3vPYwAT8

42 thoughts on “Another Love Story : 4 – ‘No.. No Sympathy’

  1. aku slalu tunggu ff yg satu ini,bikin penasaran.🙂
    manis bgt ceritanya,dan bahasanya ringan.
    ditunggu chapter selanjutnya ya🙂

  2. aaa……. eonni…. slalu sukses bwat aq pnasaran ><.. buruan dlanjut eon!!!
    jaga kshatan.. keep writing and hwaiting kaka!!!😄
    #slalusupportkaka

  3. ahaha, dari part sebelumnya gak nemu-nemu kolom komentarnya #sayamerasabodoh -_-

    Dan sekarang udah ketemu, jadi saya ingin komentar hihi #senengbingit😀

    FFnya bener2 beda banget sama FF kebanyakan, excited banget saya bacanya.
    Pokoknya author, kau yang terbaik😉

  4. aku suka ini ff, karena ada jieunnya …
    astagah thor, ini bener-bener manis banget tapi juga greget liat baekhyun sama jieun.

    lanjut terus thor …

  5. hihi aku menikmati sekali chapter ini. dan entah kenapa ku punya firasat oppa jieun adalah Luhan?
    dan dialog si beagle bersama soo soo aku suka banget. ga tau kenapa. duh jadi pengen nulis smartass project. wkwk

      • ah aku kira luhan. kan seru ketemu sama orang itu2 terus. dan terjebak di situasi ngga enak antara satu sama lain. wkwk
        semacam inheritance punya ku kan konfliknya berputar. *lah malah cerita

        iya. kkk lagian cast nya juga sama. kecuali jongdae. eh btw kan di smartaass project kan ada jieun juga. wkwk

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s