[A to Z FlashFic Challenge] B for “Bulan dan Polaris”

A to Z Flash Fiction Challenge

Day 2 ‘B

Bulan dan Polaris

Contain : 500 word

.

.

Sekalipun kau melebur, aku tetap mengingatmu sebagai bintang paling terang

.

.

Tata surya masih berjalan secara semestinya sampai hari ini. Dengan bulan, yang masih berputar pada lintasannya. Matahari yang senantiasa memancarkan sinar abadinya. Bintang – bintang yang siap menampung cahaya dan memancarkan kembali untuk para penghuni diluar tata surya. Seperti itu pola kehidupan mereka.

Seperti halnya sang Bulan, yang saat ini sedang beranjak mengitari bumi sebagai rutinitasnya tanpa lelah. Karena memang kalau dia lelah, akan habislah riwayat bumi ini.

“Hei polaris, apa kabar,” sapa bulan saat dari jarak beberapa tahun cahaya dia bisa melihat kilatan sinar bintang polar. Ingin rasanya Bulan mempercepat putaran sehingga dia bisa berbincang dengan benda bersinar tertang itu dari jarak dekat. Tapi apa boleh buat, lintasannya hanya memberi dia waktu sedikit demi sedikit.

“Baik,” jawab polaris singkat tapi terdengar sopan dan membuat bulan kembali tersenyum.

“Dimana kau berada disanalah tempat akan begitu terang,” ucap Bulan lagi saat dia perlahan mulai mendekat.

“Semua sudah tahu kalau aku masuk kategori bintang paling bersinar,” jawab polaris sambil tertawa kecil. Tawa kecil yang berarti besar untuk bulan. Saat suara tawa itu kembali menggema dilangit tata surya, hal itu akan mampu membuat bulan memancarkan cahayanya 1000 kali lebh terang. Dia bahagia.

“Tapi bintang paling terang adalah mereka yang akan cepat padam dan ditendang dari peredaran ini,” lanjut Polaris lagi.

Jarak mereka sudah terbilang dekat. Bulan bisa merasakan kilatan cahaya polar begitu menyilaukan. Bulan tahu itu, pertanda Polar sedang merasa sedih. Dan itu tidak boleh terjadi fikir Bulan.

“Semua benda langit ini pada masanya akan keluar dari peredaran. Hanya waktu saja yang membedakan kita,” jawab bulan. Semakin dekat, bulan semakin jelas memandang kilauan indah dari polar.

“Dan aku termasuk digolongan yang akan cepat tertendang, ahaha” ini mungkin sebuah lelucon untuk mereka para golongan bintang ursa minor. Lelucon untuk bertaruh siapa yang akan cepat meledak dan meluncur dari tata surya menjadi abu meteor. Tapi tidak untuk bulan. Dia benci dengan kenyataan bahwa Polaris merupakan kelompok bintang yang akan cepat mati. Cepat atau lambat. Ini bukan untuk pertama kalinya bulan mengalami perpisahan dengan bintang. Sebelumnya dia pernah mengalami hal ini dengan Spica bintang dengan sinar kemerahan, kemudian Aludra yang sangat cepat menghilang dari tatasurya. Dan kali ini, untuk polaris bulan merasa terlalu berat untuk melepasnya. Sangat berat.

Bagaimana jadinya, saat dia selesai mengitari bumi tidak ada lagi polaris yang menyambutnya dengan sinar putih kebiruan. Bagaimana.

Bang! Swing!

Bulan dan Polaris mengalihkan perhatiannya. Sebuah kilatan menyilaukan pandangan yang disusul hujan meteor seperti butiran debu. Satu ledakan bintang yang habis masanya telah terjadi.

“Antares telah pergi,” ucap Polaris dengan suara sendu.

Bulan yang melihat ini hanya bisa meredupkan sedikit sinarnya untuk menunjukan perasaan turut sedihnya. Mungkin seperti itu. Tapi faktanya, bulan takut hal ini cepat atau lambat akan terjadi padanya.

“Meski kau meredup dan menghilang dari tata surya ini, kau tetaplah Polaris yang akan terkenang dengan sinar terangnya. Kau tetaplah bintang paling terang yang pernah tata surya ini miliki,” ucap Bulan khidmat.

Polaris tersenyum. Cahayanya mulai berkilat merah.Bulan melanjutkan perjalanannya mulai membelakangi Polaris. Dan kemudian Bang! Swing!.

Andai Bulan bisa berhenti untuk sekedar melihat kejadian itu barang sebentar. Andai bisa. Sayangnya lintasan ini tetap memaksa bulan untuk untuk melanjutkan lajunya.

Apa yang Bulan takutkan terjadi. Polaris meledak. Masanya untuk bersinar telah habis. Dan bulan harus menerima kenyataan dia kembali kehilangan bintannya.

“Haruskah aku mencari bintang lain untuk menerangi jalanku, selamat jalan polaris,” ucap bulan sambil terus melaju ditemani hujan meteor dari ledakan si bintang paling bersinar.

.

.

tes

27 thoughts on “[A to Z FlashFic Challenge] B for “Bulan dan Polaris”

  1. yaaah bulan dtinggslun lg dc…😦
    apreel bljr byk soal tata surya ya ? kq tau byk nma bintang ???
    kmu keren preel, dr apapun bsa jd ff …
    q lnjt k C yaaa…tetep smngat…

  2. “Meski kau meredup dan menghilang dari tata surya ini, kau tetaplah Polaris yang akan terkenang dengan sinar terangnya. Kau tetaplah bintang paling terang yang pernah tata surya ini miliki,”

    entahlah kak..kata kata itu benar benar membuatku sedikit bahagia saat si bulan mengucapkannya pada si polaris.

    dan

    “Haruskah aku mencari bintang lain untuk menerangi jalanku, selamat jalan polaris,”

    kata kata ini membuatku sedih seketika.

    awesome!

  3. Semua yang hidup pasti bakal mati… semua punya jalan masing2… kayak bulan dan polaris ini… mereka punya rotasinya sendiri…
    Sedih pas polaris hancur tapi bulan ga bsa liat karena dia hatus ttp berotasi…
    Keren banget dech…apapun bisa d jadiin fanfic sama authornya… btw aku tifany 92line… enaknya manggil apa ya? Hehe…authornim aja kali ya…

  4. Bulan kau kehilangan temanmu lagi T.T sedih bacanya apalagi pas kata” terakhir
    Keren banget si kak , kau membuatku berimajinasi bulan + polaris punya mata dll bisa ngomong ih lucu kalo dibayangin berasa keak kartun gitu😄

  5. keren! mereka ibaratkan manusia ya…
    btw kak, polar itu bintang ya, pas baca diawal aku gak terlalu ngeh, dan om gugel juga gak terlalu ngebantu dgn nunjukin gambar mobil-entah-apa-namanya -_-

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s