GLEE FlashFic : BOYFRIEND

boyfriend

 

Just another story between Me and My BOYFRIEND

THE GLEEKS

.

.

BOYFRIEND…

 

Ini menginjak tahun ke empat aku mengenalnya. Sosok lelaki yang dulu, ya dia hanya seorang korban buly. Saat kau menjejakan kaki di sekolah almamater ku dulu dan bertanya tentang lelaki ini, mereka akan sangat mengenalnya. Ah! Bukan hanya lelaki ini tapi mereka juga pasti akan mengenalku. Aku berani bertaruh. Cobalah.

Banyak yang mengatakan perasaan perempuan itu serapuh kapas, aku belum pernah sekalipun memikirkan kalimat ini dulu. Ya, saat Fin masih berada dalam dekapanku, seluruh hati ini hanya miliknya. Tapi sekarang? Aku bahkan bingung pada siapa memberikan hati ini. Dan kalian bisa sebut aku wnaita jahat. Setelah sekian lama bersamanya, aku merasakan bahwa dia lelaki spesial setelah Fin sudah tidak ada disisiku lagi.

Oh…. ayolah, aku bahkan tidak mengerti dengan perasaan ini.

Perasaan setiap dia tersenyum manis kearahku. Perasaan ketika kedua bola mata jernihnya hanya menatap padaku. Ketika setiap malam dia membelai anak rambutku mengucapkan selamat malam, dan ketika beribu kalimat ‘I Love you Rachel Berry’ terucap dari bibirnya. Dulu semua itu aku anggap sebagai perasaan antar sahabat. Tapi mengapa sekarang, aku merasa jantungku berdegup ribuan kali lebih cepat saat setiap perlakuan itu dia lakukan.

Dari seorang Kurt Hummel.

Yang mereka kenal sebagai sahabatku. Rachel Berry.

.

.

.

“Kalian berdua sama kerasnya. Tidak bisakah salah satu dari kalian mengalah untuk menyelesaikan semua ini?”

Kurt baru tiba di apartement lusuh miliknya bersama dua gadis egois yang notabene adalah sahabatnya, saat mendapati ruangan itu sudah tidak layak lagi disebut tempat tinggal. Yups, Kurt mendapati barang berserakan dimana – mana, figura foto kelulusan mereka yang hancur, lembar foto yang sudah tidak berbentuk dan seorang Rachel terduduk dengan mata menerawangnya.

“Kali inipun kau tau dimana letak permasalahan ini berasal? Masih berusaha membujuku untuk mengalah?” tanya Rachel dengan mata nyalang, yang sepertinya masih dibalut rasa kesal atas kejadian beberapa jam yang lalu.

Kurt hendak membuka mulutnya tapi teringat dengan satu janji yang telah ia tautkan. Satu nafas terhembus. Dia beranjak menuju Rachel yang masih terduduk menahan amarah. Meraih jemari gadis yang sudah lama ia kenal itu, dengan kehangatan dia mencoba menenangkan fikiran sahabatnya ini.

“Kalian berdua sahabatku, kau tahu, aku orang paling sedih setiap melihat pertengkaran kalian berdua. Jadi…”

“Oh Kurt, aku juga tidak ingin semua in terjadi tapi-”

Belum selesai Rachel dengan kalimatnya, satu jari lentik Kurt menutup bibirnya rapat. Membuat Rachel kembali terkunci dalam diam. Merasakan setiap aliran hangat ditangannya yang berada dalam genggaman Kurt. Menyelami kedua bola mata cemerlang Kurt yang saat itu memberikan satu perasaan nyaman.

Rachel memejamkan matanya.

Ada yang salah. Kenapa ia selalu merasa Kurt terlalu menawan akhir – akhir ini.

“Baiklah, aku akan berbicara dengan Santana besok dan membereskan semua ini,” ucap Rachel saat dia sudah mendapatkan ketengannnya.

Good Girl,” jawab Kurt sambil membelai poni Rachel pelan.

Ini salah. Batin Rachel.

.

.

.

Rachel mengharapkan satu penyelesaian yang baik saat kalimatnya tempo hari dia laksanakan hari ini ‘aku akan berbicara dengan Santana besok dan membereskan semua ini’. Yang Rachel bayangkan adalah akan terjadi sebuah suasana yang kembali nyaman antara dia dan Santana sahabatnya tapi, yang dia terima hanya satu kenyataan pahit.

Tentang Santana beberapa hari yang lalu yang tanpa mengatakan alasan apapun akan pergi dari New York kembali kepangkuan kelaurganya. Rachel dan Kurt tidak bisa menyalahkan keputusan Santana ini, tapi yang salah seolah Santana ingin menoreh kenangan buruk menjelang kepergiannya. Dengan terus membuat masalah pada Rachel entah itu dengan tiba – tiba mencuri cast di Musikalnya atau malah menyebar rumor tidak jelas dikampusnya. Kurt tahu semua ini. Dan inilah alasan kenapa Rachel tidak bisa mengalah seperti yang disarankan Kurt.

Dan hari ini.

Terungkap sudah. Semua hanya sebuah rekayasa seorang Santana untuk membuat Rachel membencinya dan membuat perpisahan mereka menjadi nyaman –setidaknya untuk Rachel.

Dan disini sekarang Rachel. Dengan wajah sembar karena terlalu banyak air mata yang dia keluarkan. Menunggu sahabatnya.

“Rachel Berry,” Kurt tiba dan Rachel segera menumpahkan semua perasaannya.

Tidak banyak yang Kurt lakukan kali ini. Dia hanya membiarkan Rachel menangis dalam pelukannya menepuk pelan punggungnya dan mendengarkan semua kalimat yang mengalir dari bibir Rachel.

Rachel sering melakukan ini dari dulu. Baik saat dia ada masalah dengan Santana seperti sekarang, saat bertengkar dengan Finn atau saat masalah menempa di GLEE, Kurt adalah tempat bersandar Rachel.

Tapi..

Kenapa sekarang Rachel merasa canggung untuk melakukannya. Saat Kurt mendekapnya erat, Rachel terlalu takut Kurt merasakan jantunya berdegup sangat kencang. Maka menit berikutnya Rachel menarik diri dari pelukan lelaki ini.

“Kau sudah mendapatkan kebenarannya?” tanya Kurt.

Satu anggukan dari Rachel.

Kembali mengingat pada masa lalu, sebenarnya sudah banyak hal seperti terjadi antara Rachel dan Kurt. Berbagi pelukan, berbagi senyuman, berbagi air mata, bahkan pernah mereka berbagi satu kecupan manis. Semua itu seharusnya sudah biasa.

Tapi sekarang tidak.

Karena dimata seorang Rachel, Kurt sekarang adalah seorang Pria.

“Kurt, kau tahu aku-”

“Kurt!”

Rachel baru akan memberanikan dirinya untuk mengungkapkan keganjilan ini, saat seorang Blaine muncul didepan pintu masuk dan mengalihkan perhatian Kurt.

Rachel mencengkeram tangannya erat.

Untuk pertama kali dalam hidupnya dia mengutuk seorang Blaine. Yang notabene adalah kekasih lelaki didepannya. Kurt.

Ya, Kurt sudah menjadi milik seorang Blaine. Rachel hampir melupakan satu hal itu.

“Kenapa?” tanya Kurt lagi, saat Blaine sudah duduk disampingnya.

ah.. tidak, aku hanya ingin kita membujuk Santana untuk kembali ke rumah kita,” jawab Rachel yang dijawab satu anggukan dari Kurt.

“Kalian sudah baikan?” tanya Blaine sekarang.

“Tentu..” jawab Rachel dan Kurt bersamaan.

Rachel mungkin sedang merasakan hal yang salah pada dirinya. Tapi terlepas dari itu sosok seorang Kurt Hummel akan selalu ada disampingnya. Seorang Sahabat, sahabat lelaki yang sering mereka sebut ‘BoyFRIEND

END.

2 thoughts on “GLEE FlashFic : BOYFRIEND

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s