[Review] Novel ‘FLEUR’ by. Fenny Wong

IMG01613-20131102-0933

Paperback, 324 pages
Published April 2012 by Diva Press
original title : Fleur
Author : Fenny Wong
ISBN13 : 9786021913277
edition language : Indonesian
“…Walau hingga kehidupan yang keberapa pun kalian saling mencintai, hingga kehidupan yang keberapa pun juga aku akan mengalahkanmu, merebutnya darimu!”

 

Ohooo…. pameran buku di braga minggu lalu mempertemukanku dengan Novel keren ini. Fleur by Mba Fenny Wong. Sebuah novel romance dengan nuansa classic dan fantasi yang jempolan. Jujur, pas beli novel ini sedkit ragu. Soalnya udah lama juga ga baca novel yang fokus dengan dunia percintaan. Akhir – akhir ini novel detektf lebih mendominasi bookmark. Terus kenapa bisa ampe beli ni buku? Pertama karena liat jilidnya. Asli deh aku suka banget sama cover novel ini. Dengan warna dominasi coklat yang bikin nyaman dimata liatnya, terus dengan dekorasi sebuah buku tua ditengahnya, nah si buku tua ini sebenernya yang jadi daya tarik. Buku tua ini tuh semacam ngasih tau kalo novel ini bakal berhubungan dengan sebuah buku lapuk. Suka pokoknya sama covernya. Meski ada satu titik penjatuh dari ilustrasi covernya, apa? Dibagian cover belakang sudut atas, disitu ada gambar cewek gitu.Aku sendiri kurang suka sama novel kalo covernya udah pake ilustrasi dengan manusia bentuk nyata. Untungnya Fleur ini Cuma kecil aja foto cewenya. Apa lagi yang bikin tertarik? Mau beli buku pasti baca sinopsisnya dulu dong, tapi pas mau baca sinop nih novel, belakangnya ga ada sinopsisnya. Yang ada malah komentar dari mereka yang udah pernah baca. Tapi ada satu kutipan dicover depan novel yang bikin tertarik :

“…Walau hingga kehidupan yang keberapa pun kalian saling mencintai, hingga kehidupan yang keberapa pun juga aku akan mengalahkanmu, merebutnya darimu!”

Nah itulah alasan sampai akhirnya Fleur bisa berakhir dikamar Pink-ku bergabung di rak buku kuning bersama teman barunya. Hehhehehe

Sekarang mari kita kupas Novel ini…

Dengan mengambil latar kehidupan eropa kuno yaitu era virginia disebuah kota bernama Freshland, yang kental dengan hal hal klasik. Satu yang aku inget banget dari novel ini, yaitu payung bangsawan (Parasol) sama teh asam, hehehe. Novel ini bercerita tentang kisah cinta antara Florence Ackerley, George Ackerley dan Alford Cromwell. Sebuah kisah cinta dimana didalamnya terdapat sebuah kutukan dari masa lalu, yaitu dari kisah cinta antara Belidis si peri bunga, Fermio dewa bumi dan Helras dewa matahari. Dulu Belidis dan Fermio saling jatuh cinta. Karena satu alasan Fermio meminta bantuan pada Helras yang notabene sabahatnya untuk menolong belidis. Dari permintaan ini berujung pada Helras yang jatuh cinta pada Belidis. Cinta segtiga gitu, Belidis dan Fermio saling mencintai tapi Helras juga menginginkan Belidis. Disana dijelaskan bahwa sosok Helras adalah dewa kuat yang memiliki kekuasaan tinggi diantara dewa lain, apalagi dengan Fermio yang hanya seorang dewa bumi. Disini terjadi konflik dimana Fermio dan Helras bertarung untuk memperebutkan Belidis yang berujung dengan…. ceritain ga yaa???

Nah ada moment dimana Fermio meminta berjanji pada belidis untuk terus mencintainya yang di ‘iya’ kan oleh belidis. Bisa dibilang cinta antar Fermio dan Belidis ini kuat banget, ampe Helras mengucap satu sumpah yang berujung menjadi kutukan pada keturunan atau reinkarnasi mereka, kutukannya itu yang ada di cover depan Novel ini. Dimana Helras bilang, meski sampai kehidupan selanjutnya kalian saling mencintai, kalian tetap tidak akan bersama karena Helras akan terus merebut Belidis dari sisi Fermio.

Dan kutukan itu jatuh pada Florence, George, Alford.

Florence merupakan anak tunggal dari keluarga bangsawan Ackerley. Ibu Florence meninggal saat melahirkan Florence, sedangkan ayahnya meninggal setelah ditinggal oleh istrinya. Jadilah Florence hidup seorang diri yang hanya ditemani oleh Sebastian pelayan setia keluarga Ackerley dan beberapa pembantu dirumah megah mereka. Eits… Salah. Florence ga hidup sendirian.Selain ditemani Sebastian dan Pelayan, dirumah itu Florence tinggal bersama Kakak laki – lakinya, George Ackerley. Kenapa diawal aku sebut Florence sebagai anak tunggal? Karena sebenarnya George hanyalah anak angkat keluara Ackerley. Lima tahun sebelum kelahiran Florence, mereka mengangangkat anak laki – laki untuk memancing keberuntungan memiliki keturunan. Karena menghabiskan hidup bersama, akhrinya muncul benih – benih cinta antara Geroge dan Florence. Kalau mereka adik kakak asli mungkin ga akan terjadi, tapi mengingat Flo tahu status George yang hanya kakak angkat, munculah benih – benih cinta terlarang.

Disini diceritain Florence itu sosok keturunan Bangsawan yang terkenal dengan kecantikannya. Tapi dia juga terkenal sebagai seorang yang sering menolak lamaran pria. Bahkan beredar kabar kalo Florence akan hidup sebagai Perawan tua. Banyak undangan pesta yang datang untuk Florence tapi sering juga dia tidak datang, banyak pria yang melamarnya tapi banyak juga Florence menolak. Kenapa?  karena sebenernya Florence udah punya pacar tapi ga tau mau ungkapin ke publik karena dia berpacaran dengan kakaknya sendiri.

Alford. Anak lelaki bungsu keluarga Cromwell, keluarga bangsawan dengan kekuasan paling tinggi di freshland. Memiliki watak kasar, keras kepala, pokoknya ga banget deh watak Alford ini pas di awal – awal. Karena satu insiden pencurian yang dialami kakak perempuannya Sophie, Alford bertemu dengan Florence. Tapi salahnya, kesan pertama yang ditunjukan Alford pada Florence membuat Florence ga suka. Makanya pas Alford bilang suka sama Florence, langsung ditolak saat itu juga. Alasan? Otomatis karena Florence udah punya George plus Florence nangkep Alford hanya sebagai lelaki sombong.

Ada kisah dibalik kenapa Alford suka Florence. Diawal pertemuan mereka, Alford bilang sama Florence kalo dia sering bermimpi bertemu Florence. Makanya Alford bilang dia udah berasa kenal melalui mimpi mimpi itu. Bau – bau kutukan Helras mulai tercium.

Karena merasa ditolak dan dipermalukan, sekali lagi Alford memberanikan diri mengungkapkan cintanya pada Florence. Dia dengan berani mendatangi kediaman Ackerley dipag hari dengan Parasol (payung eropa kuno) ditangannya, soalnya pas inseiden pencurian itu Parasol Florence rusak, makanya terbersit ide Alford buat gantiin parasolnya. Terjadi kembali adegan Alford menyatakan cinta sama Florence, disitu Alford maksa Florence buat nerima parasolnya, yang akan menjadi simbol diterimanya cinta Alford. Disini mba fenny ngegambarin secara jelas kebimbangan Florence. Bimbang antara harus nerima apa nolak. Kalo menurut nalar, kenapa Florence mesti bimbang? Dia kan udah punya George. Itu juga jadi pertanyaanku pas baca. Tapi asa penjelasan dimana si Florence merasa harus menerima cinta Alford. Dia udah mencoba membayangkan George tapi berahir tangan Florence nerima parasol dari Alford. Ahahaha, nampaknya kutukan Helras mulai menghinggapi Florence.

Sudah mencium pahitnya aroma kutukan? Hehehe, ditengah ketakutan Florence setelah sadar melakukan sesuatu yang salah, Sebastian pelayannya memberikan sebuah buku pada Florence. Buku tua dnegan sampul lapuk yang katanya merupakan pemberian Ibu Florence. Ibu Florence berpesan untuk memberikan buku itu saat Florence beranjak dewasa. Tapi sebastian lupa dan baru memberikannya hari itu. Mencium sesuatu? Hehehe. Sebastian bilang dia lupa karena buku itu Cuma sebuah buku kosong. Itu yang dibilang Sebastian.Sebuah buku kosong. Tapi pas dibuka Florence, buku itu penuh dengan tulisan, ga jauh beda sama buku cerita. Dan buku itu bercerita tentang kisah Belidis, Fermio, Helras.

Be Ready Florence,,, kutukan telah dimulai.

Jadi buku itu hanya bisa dibaca sama mereka yang merupakan keturunan belidis, fermio dan Helras. Dan bagi mereka yang bisa baca buku itu akan mendapatkan kutukan dengan menjalani kehidupan sama persis seperti yang tertulis Helras katakan dahulu kala. Faktanya, kehidupan Florence mengalir seperti cerita dalam buku tua itu.

Alford yang sering bermimpi tetang Florence, Alford seorang anak kesayangan bangsawan tertinggi, dengan sifat tidak mau kalah dan keras, jelas dia titisan Helras. Dengan Florence sebagai Belidis, pastinya.Lalu siapa Fermio? Geoger Ackerley. Geroger ternyata juga sering bermimpi indah dengan Florence, dimana dalam mimpi mereka berada dibukit bunga dengan George memanggil Florence dengan nama Belidis. Lagi, George bisa membaca buku peninggalan ibu Florence.

Sudah jelas alur dongeng cinta belidis, sudah jelas pula siapa – siapa titisannya, selanjutnya cerita bergulir tentang perjuangan Florence untuk mencoba mencegah hal yang dimasa lalu kembali terjadi.

Aku disini ga akan cerita lebih panjang lagi buat ringkasan ceritanya, takut malah kebablasan jadi Spoiler.

Selanjutnya mari kita berbicara tentang PENOKOHAN di novel ini.

FLORENCE ACKERLEY…

Kalo boleh dibilang aku ga suka sama karakter Florence disini. Dalam imajinasiku, dia tergambar sebagai soso cewek Plin – Plan. Rata – rata setiap keputusan yang Florence ambil bikin aku narik nafas panjang ‘kenapa kaya gitu?’. Terus Florence ga konsisten gitu sama pilihannya. Seharusnya saat dia memilih A, sampai akhirnya jangan malah jadi A1-A10. Tapi kalo Florence ga dibikin plin-plan mungkin novelnya ga bakal keren gini. Heheh karena secara ga langsung, sikap plin – plannya yang bikin suasana makin keruh.

GEORGE ACKERLEY

Typikal cowo yang gampang dibayangkan. Tampan, gampang bergaul, banyak disukai cewe. Simplenya dia tuh tipikal playboy gitu. Diawal kisah cinta George – Florence, aku suka sama sifat manly Geroge. Waktu mereka masih pacaran Geroge tuh bisa dibilang cowok banget gitu, manly ahh…. Typikal cowo impian. Tapi…… yang bikin keselnya, makin sini George makin melankolis. Ketika dia mendadak jadi pemain wanita, terus jadi cowo yang suka berlebihan. Entah kenapa mendadak jadi ilfil sama sosok George. Bisa jadi efek patah hati. Tapi ga mesti berubah jadi Lebay kan si Geroge ini. Lengkap sudah kalian, Florence yang Plin Plan, dan George yang berlebihan. Fiuhh~

 

And Next ALFORD CROMWELL

He’s my FAVORIT One.. hahahha. Dari tiga karakter ini, aku ngerasa Alford yang paling manusiawi. Dia seimbang sifatnya antara the bad one sama the good one nya. Dia cinta mati sama Florence. Tapi dia ga tau cara yang tepat. Makanya kesannya dia cowo kasar. Tapi sebenernya ini yang bikin karakter Alford hidup. Bingung juga mau deskripsiin Alford, pokoknya He make me Fallin’ slowly. Yeah… ^^ hampir aja kecewa sama sifat Alford di ending cerita. Untungnya Penulis ngasih opsi lain yang malah nambah kuat karakter Alford. Intinya sih mau makasih banget buat Mba Fenny yang bikin karakter Alford keren banget.

And The LAST…. novel ini rekomen banget buat kalian yang suka cerita Romance tapi ga roman picisan banget. Fleur ini Romance tapi kentel banget nuansa Fantasi plus Klasiknya.

Aku kasih 4 bintang dari 5 bintang…

Selamat membaca buat kalian….

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s