Danbo-Learning-Photography-Carton-With-The-Film-People-Danbo-

Tentang Alur hidup cerita ini

dream_2-wallpaper-1280x800

Tiap orang punya pribadi yang berbeda itu jelas. Tiap kita ga bisa maksain apa yang kita pengenin sama orang lain biar sejalan ma kita. Kalo udah kaya gitu gimana? Sementara yang namanya toleransi juga ada batasannya dong?

Jadi gini ceritanya.

Dari SD bahkan TK sampai saat ini pasti aku nemu beberapa temen yang emang klop sama kita. Asli, aku masih inget sama deretan temen – temen yang klop ini. Meski untuk beberapa alasan kita udah ga saling komunikasi lagi. Ketika kita berteman dan ngerasa udah klop apa itu bisa dikategorikan Sahabat? Jawabannya ENGGA. Kenapa?

Aku ini tipikal orang yang selalu menaruh harapan indah disuatu awal cerita. Jadi sekalinya nemu cacat ditengah cerita udah kaya ngehancurin seluruh isi cerita itu. Padahal, sebuah film aja meski cacat tengahnya belum menjamin endingnya kaya apa kan?. Kaca mata positifnya gitu sih. Tapi ini mungkin bisa disebut sisi buruk dari sifat aku. Dengan berbesar hati aku mengakui semua itu. Disaat menjalin satu hubungan pertemanan terus nemu cacat kesanannya jadi males. Pepatah bilang, ‘Nobodys Perfect’ aku setuju, ga ada sosok yang emang bener – bener sempurna. Tapi terlepas dari itu untuk menghindari sifat ga sempurnaku yang entarnya malah naykitin orang – orang tertentu mending aku sesegera mungkin nulis kata The End untuk cerita itu.

Tiap orang punya buku masing – masing kan buat menulis kehidupannya?. Aku pun memegang buku yang sama. Dimana aku berharap buku itu akan menjadi scenario terbaik sesuai harapan. Jadi bila ada satu hal yang melenceng lebih baik itu di take out aja dari pada ganggu alur cerita yang udah terbentuk.

Beberapa orang mungkin bakal bilang ‘Sahabat selalu ada disaat ita butuh, sahabat adalah mereka yang mengerti kita.’ Jujur sampai saat ini aku ga berani buat deklarasi kalimat itu. Engga tau kenapa akhir – akhir ini aku jadi ragu sama yang namanya Persahabatan. Kembali ke pepatah tadi, masih ada selain sahabat yang menurutku lebih layak menempati posisi itu. Siapa mereka? Buat aku orang yang bener – bener ngerti aku, orang yang tahu aku secara keseluruhan, orang yang bakal ada sedia siaga 24 jam, mereka Cuma Keluarga tercinta. Keluarga dalam lingkup Ayah, Ibu dan dua adiku. Stop. Cuma sampai mereka aja yang aku anggap sebagai individu yang berarti buatku.

Kalian mungkin bertanya, kita mahluk sosial loh harus ada bergaulnya.

Penjabaranku diatas sama sekali ga mematahkan teori manusia sebagai mahluk sosial ko. Sampai sejauh ini aku masih bisa memposisikan hidup dalam sosial. Ok, aku udah komit untuk take out kata Sahabat dari kamus. Karena ada satu penggalan baris yang selalu aku garis bawahi “Lebih baik mencari teman sebanyak – banyaknya, dengan memukul rata mereka semua.” Prinsip yang akhir – akhir ini dipegang. Jadi mending ya udah temenan aja, tapi ya ga lebih dari temen. Jika muncul pertanyaan, Sombong ih, So’ iyeh banget. Itu kembali pada mereka gimana cara memandang hidup. Kacamataku sendiri nganggepnya dengan hidup terlalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan hanya akan menggangu alur yang terjadi.

Kenapa bisa ampe kefikiran kaya gini? Aku Cuma memposisikan sebagai orang lain dengan temannya adalah sosoku sekarang. Kembali ke statement awal, sebuah janji manis diawal. Ahahah,,, klise banget. Mungkin kalian bakal berfikiran sepi tahu ga punya sahabat, ga ada teman berbagi. Buat kalian yang nganggep aku kaya gitu Cuma bisa bilang ‘Fikiran kalian sempit’. Aku masih punya temen (Friends not bestfriend) karena sekali lagi aku tekankan, dengan pemikiran ini bukan berarti aku menarik diri dari peradaban kan?. Kemudian aku masih memiliki keluarga yang masih amat sangat mencintaku, jelas cinta merea lebih nyata dibanding siapapun, dan yang paling jelas aku masih memiliki sang maha pencipta yang telah mengatur semua alur hidup setiap hambanya. Aku sangat mempercayai Allah itu maha pengasih dan penyanyang, Allah ga akan meninggalkan hambanya dalam kesepian yang mencekam. Maka dari itu tiap manusia terlahir dari manusia lain yang nantinya akan menjadi satu kesatuan jiwa. Kemudian, manusia itu juga terlahir dengan pasangan mereka masing – masing. Nah itu yang menjadi penekanan pada prinsipku.

Allah melahirkan ku kebumi melalui hasil cinta kedua orang tuaku. Jelas mereka berdua menjadi orang yang akan mengerti aku segalanya. Kemudian saudara – saudaraku, ada darah yang sama mengalir dalam darah kami. Otomatis aku menjadikan mereka kedalam list orang terpercaya. Diluar mereka, aku belum begitu yakin untuk melangkah lebih jauh. Selanjutnya ada satu orang yang akan menjadi kandidat setelah keluargaku. Yaitu calon suami kelak dan anak – anaku. Allah menciptakan manusia berpasang – pasangan, dan aku meyakini smeua itu. Dengan scenario yang masih dalam impian aku berharap pasangan dimasa depan mendatang akan menjadi dia yang mengerti seperti keluargaku.

Last but not least, kembali aku jabarkan inti penting dari tulisan ini.

“Lebih baik mencari teman sebanyak banyaknya, tapi memukul rata mereka semua sama.”

Semoga kalian menemukan alur seperti apa yang akan kalian jalani. Karena itu dia, tiap manusia punya buku berbeda kan.. ^^

 asa Danbo-Learning-Photography-Carton-With-The-Film-People-Danbo-

Goodbye~

Pyeong~~~~

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s