Melody Of Love : “Enchanted…”

Enchanted

Melody Of Love : “Enchanted…”

Cast : Kai, Yoona

Type : One Shoot

Genre : Romance

‘inspired from Taylor Swift Song Enchanted ‘

 

“This night is sparkling don’t you let it go

I’m wonderstruck blushing all the way home

I’ll spend forever wondering if you knew

I was enchanted to meet you”

( Enchanted – Taylor swift)

*

Pemandangan langit pertengahan bulan agustus malam itu memberikan sedikit percikan rasa hangat bagi setiap pasang mata yang melihatnya. Waktu menunjukan pukul 10 lewat 15 menit, memungkinkan untuk hamparan bintang menjadi semakin mudah untuk ditangkap mata dilangit kelamnya.

Malam mungkin beranjak larut. Tapi hingar bingar kota Seoul seakan menandakan kota itu tidak pernah tertidur, tetap terjaga untuk menemani beberapa manusia yang masih menikmati malamnya. Termasuk tujuh pasang mata yang masih menikmati suasana kota seoul, tepatnya disebuah coffee shop. Tujuh orang yang duduk melingkar dipojok coffee shop bernama XOXO itu, terlihat asik bercengkrama menandakan mereka adalah kelompok sahabat atau rekan kerja.

Empat perempuan dan tiga lelaki. Salah satu lelaki yang menggunakan tshirt polo putih dengan jaket coklat mengambil botol hijau yang terletak diatas meja bundar tersebut. Dengan satu gerakan, botol itu berputar. Tujuh pasang mata penghuni meja bundar itu seakan ditarik untuk memperhatikan putaran sibotol hijau. Melambat, melambat, sampai akhirnya ujung botol berhenti mengarah pada salah satu dari mereka. Perempuan dengan rambut coklat tergerai, dress putih tulang selutut menghiasi tubuhnya yang dipadukan dengan cardigan merah bata. Perempuan itu terlihat kaget, yang disambut sorakan dari ke-enam lainnya.

Truth or Dare…” suara seorang lelaki yang berada disebrang perempuan dress putih –BaekHyun, sambil mengambil botol didepannya, dan melempar senyum pada yang lain.

Si Perempuan dress putih terlihat menimbang apa yang harus dia pilih. Ya.. mereka sedang bermain Truht Or Dare game. Mungkin akan lebih mudah bila si perempuan dress putih yang bernama Yoona itu memilih truth. Setidaknya ke-enam temannya tidak akan memintanya melakukan hal – hal aneh, seperti yang terjadi pada Kris, salah satu Pria diantara mereka, yang duduk dua kursi sebelah kiri Yoona. Kris memilih Dare yang berujung dengan dia harus meminta nomor telfon cashier cantik di coffe shop itu. Behubung Kris dibekali dengan tampang diatas normal, dengan mudah dia mendapatkannya. Dan Yoona tidak bisa membayangkan hal apa yang akan menimpa padanya bila memilih Dare.

Truth or Dare…” tanya BaekHyun lagi yang disambut tatapan teman – temannya.

Baru Yoona akan membuka mulutnya dan merapalkan ‘Truth’ saat tatapannya jatuh pada senyum perempuan didepannya, perempuan berambut ikal yang duduk disamping BaekHyun. Ini bukan senyum biasa, fikir Yoona. Kontak Yoona kembali mengunci mulutnya yang disambut tawa perempuan rambut ikal bernama TaeYeon itu.

Truth… Truth.. Truth..” ucap TaeYeon sambil menahan tawa.

Ada alasan mengapa TaeYeon, sangat menginginkan Yoona memilih Truth dan Yoona tahu akan hal itu. Yoona menatap sengit TaeYeon, yang dibalas tawa renyah oleh sirambut ikal. Yoona mengalihkan pandangannya pada lelaki bermata bundar disebelah kirinya saat mendapati silelaki memberinya senyuman.

TaeYeon pasti akan menanyakan tentang rahasiaku yang menyimpan perasaan pada KyungSoo. Hey tapi itu dulu….’ ucap Yoona dalam hati.

Yoona tidak ingin ada rasa canggung diantara persahabatan mereka dengan terkuaknya rahasia bahwa dulu, dia pernah menaruh perasaan pada salah satu sahabatnya, KyungSoo lelaki pemilik mata bundar. Dan hanya TaeYeon yang tahu akan hal ini.

Yoona menarik nafas dan memejamkan matanya pelan. “Dare….!!!” ucap Yoona tegas disambut dengan sorakan dan tepuk tangan teman – temannya, hal ini tentu mengundang perhatian pengunjung lain.

“AHAHAHA….. DAEBAK.,Imh Yoona cepat – cepat aku sangat excited,” perempuan yang duduk tepat disamping Yoona, terdengar begitu semangat sambil terus bertepuk tangan -Jessica.

“Ya..!! Imh Yoona, daebak – daebak..!!” timpal perempuan berponi dengan senyum manis yang duduk disamping KyungSoo –Tiffany.

“Kau yakin, Yoona..??” tanya TaeYeon sambil tertawa puas, yang kemudian dihentikan oleh tepukan BaekHyun. BaekHyun selalu merasa bahwa suara tawa kekasihnya ini sangat mengerikan. Ya… TaeYeon dan BaekHyun adalah sepasang kekasih. Termasuk yang lainnya, Jessica – Kris, KyungSoo – Tiffany, mereka adalah Couple.

“Aku sangat YAKIN…!!” jawab Yoona dengan memberi penekanan pada kata terkahir, yang sambut dengan acungan jempol dari dua lelaki disampingnya –Kriss dan KyungSoo.

Ke-enam temannya terlihat sedang berdiskusi untuk menentukan tantangan apa yang akan mereka berikan pada Yoona. Yoona hanya memutar bola matanya saat melihat semangat teman – temannya, bahkan Jessica masih terus bertepuk tangan dan berteriak excited saat salah satu dari mereka mencetuskan Ide. Yoona meneguk habis lemon float didepannya, khawatir? Tentu. Yoona kenal betul seperti apa karakter enam temannya ini, mereka tidak akan memberikan sebuah tantangan mudah padanya. Garis bawahi itu, ‘Bukan Tantangan Mudah.’

“Imh Yoona…” terdengar BaekHyun bersuara. “Kami sepakat menjatuhi hukuman pada Saudara…” ucapnya dengan gaya khas seorang jaksa ya… BaekHyun adalah seorang Mood Maker diantara mereka, dengan Kris sebagai Mood Breaker  terdengar seimbang bukan.

“Ya…!! cepat katakan…!!!” TaeYeon, menonjok tangan Baekhyun tanda sebal dengan sikap lelakinya ini.

“Baiklah, baiklah….” BaekHyun mengusap pelan lengannya.

“Yoona… kau harus mengajak kenalan seorang Pria yang masuk ke caffe ini. Kau hampiri dia, lalu kau tanya namanya, setelah itu ucapkan ‘I LOVE YOU’…. ” BaekHyun menyelesaikan ucapannya dengan mengedipkan mata pada Yoona. Dan sisanya terlihat tertawa.

Yoona membulatkan matanya menatap keenam temannya tidak percaya. Sesuai pemikiran Yoona, ‘Bukan Tantangan Mudah.’

“Kalian gila… kalian fikir kata Cinta hanya permainan.” Ucap Yoona.

“Ayolah…. setelah kau ucapkan I Love You, kau bisa menunjukan kami pada lelaki itu, dia akan tahu ini hanya permainan…” suara Tiffany.

“Tidak.. tidak… aku tidak mau dengan bagian menyatakan cinta…’ jawab Yoona sambil melipat tangan dan mencibir teman – temannya.

“Atau kau ganti memilih Truth…” ucap TaeYeon.

“YA…!!! KIM TAEYEON….” teriak Yoona.

“Ada apa antara kau dan TaeYeon..??” tanya Kris, yang sedari tadi hanya diam, tersenyum dan tertawa. Lelaki minim ekspresi. Entah apa yang membuat Jessica jatuh cinta pada pahatan Es ini tanya Yoona dalam hati.

“Aku dan Yoona…??” ucap TaeYeon sambil mengarahkan telunjuknya pada Yoona. “Sesuatu yang akan membuatmu Hyperactive seperti Park Chanyeol, Kris..” lanjut TaeYeon yang disambung tawa lainnya, termasuk Yoona.

“Oke,, Oke… cukup dengan menghampiri lelaki itu dan kau ajak berkenalan. Hapuskan bagian menyatakan cinta tapi jangan tunjuk kami saat kau selesai berkenalan, bagaimana??” ucap KyungSoo menghentikan tawa gila mereka.

Hampiri, tanyakan nama, lalu pergi. Terdengar aku seperti seorang yang aneh…’ fikir Yoona. Mereka memang menghapuskan bagian pernyataan cinta, tapi juga menghapuskan adegan menujukan mereka sedang dalam permainan. Ini hanya akan membuat lelaki itu berfikiran Yoona perempuan aneh.

“Baiklah… aku setuju..” ucap Yoona setelah menimbang. Ini setidaknya lebih baik, dari pada harus berurusan dengan Truth TaeYeon.

Ketujuh pasang mata itu kini terpaku pada pintu masuk  XOXO Coffee Shop. Mereka melupakan botol hijau yang kini berada dalam dekapan BaekHyun, tidak memperhatikan tangan KyungSoo dan Tiffany yang terus berpegangan juga melewatkan dimana Kris tersenyum begitu manis saat dentang bel terdengar, menadakan ada pengunjung baru.

Seorang lelaki berambut hitam, thsirt putih dengan varsity hitam, jeans biru tua dan sepasang sneakers putih. Lelaki yang tingginya bisa ditebak tidak terlalu jauh dengan tinggi Kris. Tujuh pasang mata itu menangkap ‘Tampan’ pada sosok itu.

“Wow…” ucap Jessica menyadarkan enam lainnya dari menghujani silelaki itu dengan tatapan mereka. “Kau beruntung Yoona, lelaki itu bisa dikatakan… Cool…” lanjut Jessica yang ditanggapi dengan anggukan lainnya kecuali Yoona.

Yoona mendapati lelaki itu menarik perhatiannya. Cara berjalannya dengan tangan bersembunyi dikantung varsity, caranya tersenyum saat memesan minuman dikasir, senyumnya begitu manis. Yoona bahkan mengibaratkan senyumnya seperi ice latte mint minuman kesukan Kris. Begitu manis yang menyisakan hangat diakhir. Dan ketika lelaki itu duduk tidak jauh dari meja kasir kemudian melepas varsitynya, menunjukan kulit tannya yang menurut Yoona terlihat manly. Tanpa sadar Yoona merasakan pipinya memanas dan terperangah terlalu lama.

“YA…!! Imh Yoona, jangan bilang kau terpikat pada pria itu…” ucap Jessica sambil menepuk tangan Yoona.

“a..a..apa kau bilang?? Huh… ada – ada saja,,” jawab Yoona.

“Apa kita jadikan saja, bagian menyatakn cinta itu,” ucap Tiffany. “Kita tidak tahu kan? Mungkin saja dia bisa menjadi couple mu Yoona..” lanjut Tiffany.

“Tidak… tidak… kesepatan sudah terbentuk, jangan diganggu gugat…” jawab Yoona.

“Cepat lakukan,, jangan sampai dia lebih dulu meninggalkan tempat ini… aku tidak menjamin lelaki selanjutnya bisa setampan dia…” BaekHyun bersuara yang disambut anggukan TaeYeon.

Yoona menatap keenam temannya yang dijawab dengan wajah seperti mengisyaratkan cepat-lakukan-hukumanmu. Yoona memutar bola matanya menyadari betapa semangatnya keenam temannya itu. Sungguh.

“Baiklah…” jawab Yoona.

Yoona beranjak dari duduknya. Mencoba merapihkan dress putihnya yang sedikit kusut, beralih membenarkan posisi cardigannya.

“Hampiri dia, bertanya namanya, kemudian…. kkk~ aku bisa berbisik padanya ini hanya ulah teman – temannya, yeaps… just game… ” kikik Yoona saat dia sudah sedikit jauh dari meja yang diduduki oleh ke-enam temannya yang begitu excited. Menyadari ide terselubungnya tidak begitu buruk, Yoona membalikan badan pada temannya dan memberikan kode ‘Ok’ dengan jarinya. Dengan berbisik, setidaknya dia bisa menghapuskan image perempuan aneh dari pemikiran lelaki itu dan tentu, teman – temannya tidak akan tahu.

You’re Smart… Imh Yoona ehm,, Tricky too…

Lelaki itu. Dia tengah sibuk dengan handphone ditangannya dan ketika pelayan caffee mengantarkan pesanannya, secangkir coffee –sepertinya, dengan satu slice cake, lelaki itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

Yoona merasa langkahnya melambat, dia seakan terbius saat lelaki itu tersenyum, saat dia mengangkat mukanya menatap si pelayan dan dengan tulus mengukir senyum sambil mengucapkan terimakasih. Yoona membayangkan bila dia diposisi si pelayan, mungkin dia akan pingsan saat itu juga. Sungguh, dia begitu mengesankan di mata Yoona. Cara dia tersenyum, saat kedua ujung bibirnya terangkat memunculkan deretan giginya yang manis, dan ketika kedua matanya ikut tersenyum.

God… this one, such a beautifull creature…..” ucap Yoona saat melihat bagaiman perilaku lelaki itu.

Posisi mereka semakin dekat, saat Yoona merasakan tangannya dingin. Dia terus menggenggam tangannya, pertama karena tangannya begitu dingin, kedua karena dia ingin menyembunyikan tangannya yang bergetar.

Dan sampai.

Lelaki itu masih sibuk dengan benda kecil ditangannya, dia seperti sedang berfikir sampai tidak menyadari Yoona yang tengah berdiri didepannya. Hal ini menyulitkan kondisi Yoona. Sebenarnya Yoona mengharapkan lelaki itu menyadari kehadirannya kemudian bertanya, selesai. Tapi ini tidak. Yoona kembali berfikir, haruskah dia menyapa agar lelaki itu menyadari kehadirannya, atau duduk agar lelaki itu menyadarinya. Berfikir dan berfikir.

“Maaf,, Excume Me Miss….” ucap seorang pelayan. Oh.. bahkan Yoona lupa tempatnya berdiri menghalangi jalan. Dan baiknya, teguran itu bukan hanya menyadarkan Yoona, tapi juga lelaki itu.

“Oh… maaf,,,” jawab Yoona seraya mengambil langkah menjauh.

“Kau mencari tempat duduk kosong..??” tadaaaa~ lelaki itu menyadari posisi Yoona dan menyapanya terlebih dahulu. Satu balok yang sedari tadi menghimpit hati Yoona terlepas.

Yoona membalikan posisinya sehingga berhadapan dengan lelaki itu dan memberinya senyum. “Ah… bukan..” jawab Yoona sambil menggerakan tangannya memberi kode.

“Aku meminta sedikit bantuanmu.. bisakah?” tanya Yoona.

Lelaki itu menatap Yoona seakan matanya bertanya ‘Apakah kita pernah bertemu?’ , ‘Apa kita saling kenal?’ yang hanya Yoona balas dengan senyum memohon. Lelaki itu membalas senyum Yoona, yang sungguh… andai posisi Yoona saat ini dilangit, dia akan terhempas jatuh kebumi saat itu juga. Dia meletakan Handphone yang sedari tadi menyita perhatiannya, dan memberikan kode dengan tangannya menyuruh Yoona untuk duduk di kursi kosong didepan lelaki itu.

“Katakan…” ucap Lelaki itu saat Yoona telah mengambil posisi.

“Ehmm.. begini, aku akan mengatakan alasannya, tapi dengan syarat kau jangan melihat ke kursi meja bundar dipojok caffee dekat jendela.” Tutur Yoona pelan, sambil menunjukan posisi  yang dia maksud dengan jarinya.

Lelaki itu sedikit mengerutkan kedua alisnya.

“Intinya, saat aku menuturkan apa maksudku, bisakah kau tidak menempatkan pandanganmu kemanapun…” jelas Yoona.

Lelaki itu berfikir sebelum kemudian tersenyum dan membuat posisi duduknya menjadi nyaman “ Baiklah… ”

Kemudian dengan lancar Yoona menjelaskan tentang dia dan temannya yang sedang bermain truth or dare. Yoona juga menjelaskan mengapa dia tidak memilih Truth yang berujung dia mendapat tantangan dari temannya untuk menghampiri pengunjung lelaki dan mengajak berkenalan.

Ini  sungguh diluar skenario. Yoona awalnya hanya berencana menanyakan namanya kemudian selesai. Tapi dia menjelaskan semua kejadiannya. Ini sungguh menjadi perbincangan kecil yang mengasikan. Dan Yoona berbisik dalam hatinya, dia mendapatkan lelaki ini menarik.

“Kim Jongin…” jawab Lelaki itu setelah Yoona selesai menjelaskan semua kejadiannya. JongIn dengan senyum mengulurkan tangannya dan menunggu Yoona menyambut.

“Imh Yoona…” jawab Yoona sambil menyambut tangan JongIn. Mereka berdua kemudian tertawa.

“Kim JongIn I Love You…” ucap Yoona tanpa ragu.

Finish…” jawab JongIn sambil tertawa.

Ya… KyungSoo memang menghapuskan bagian menyatakan cinta, dan itu semua karena Yoona merasa keberatan. Tapi entah mengapa Yoona malah mengembalikan tantangan awal, dan mengatakan semuanya pada JongIn.

My though will echo your name, until i see you again….’ bisik Yoona dalam hati.

.

.

.

“Satu calzone dan lemonade…” Yoona tersenyum kepada cashier setelah menentukan menu makan siangnya. Ya.. andai saja seorang Byun BaekHyun tidak mengajak Park Chanyeol untuk bergabung makan siang di kantin kantor, mungkin saat ini Yoona sedang menghabiskan makan siang bersama staff lainnya.

Park ChanYeol, seorang staff divisi lain yang selalu menempel di divisi Yoona. Alasannya adalah Byun BaekHyun. Awalnya Yoona juga mengira BaekHyun dan Chanyeol ada sesuatu karena kedekatan mereka, tapi semua itu hanya bayangan buruk Yoona saja, mengingat ada sosok Taeyeon disamping BaekHyun sekarang.

Dan seorang Park Chanyeol, dia terlalu berisik. Setiap saat ChanYeol memang selalu berisik, tapi untuk hari ini Yoona sudah cukup pusing dengan clientnya yang cerewet jadi tidak usah ditambah dengan si Hyperactive Park Chanyeol.

Enjoy your meal, Miss…” seorang pelayang menghampiri meja Yoona dengan menu pesanannya.

Tempat makan ini memang sedikit memakan waktu bila ditempuh dengan berjalan kaki dari kantornya. Tapi, dengan suasana tenang dan sejuk seperti ini, Yoona rela meninggalkan kantornya dan berjalan 10 menit menu tempat ini.

Suasana jam makan siang biasanya sesak dipenuhi pegawai kantor yang berburu istirahat dan mengisi ulang energi mereka. Ya.. suasana seperti itu biasanya mudah ditemui ditempat makan daerah perkantoran atau di kantin kantor sekalipun. Tapi tempat ini berbeda. Sedikit orang yang akan merelakan waktu makan siangnya berlalu ditempat ini. Alasannya, pertama karena tempat ini bukan berada dilinkungan perkantoran dan kedua, makanan disini memang termasuk mahal. Bukan berarti Yoona menghamburkan uanganya, hanya saja untuk siang ini dia ingin memanjakan dirinya.

Satu, dua, tiga dan empat, hanya empat meja yang terisi termasuk dirinya. Yoona menikmati makan siangnya dengan pelan sambil terus memandangi pengunjung dan lalu lalang manusia diluar sana. Seoul semakin hari terasa semakin padat bagi Yoona. Lambat laun, kota ini akan menjadi kota yang sesak, membayangkan itu Yoona hanya bisa mengangkat bahunya.

“Saat itu terjadi, aku mungkin akan pindah ke Busan saja…” celoteh Yoona.

“Imh Yoona…??”

Yoona masih tengah memandang lalu lalang diluar sana sambil terus menikmati makan siang saat satu suara menarik perhatiannya. Dan saat itu Yoona merasa harus berterimakasih pada BaekHyun ataupun Park Chanyeol, ya… Yoona bergumam dalam hatinya dia akan memeluk BaekHyun erat saat kembali ke kantor nanti. Seorang lelaki berdiri didepan Yoona, lelaki menggunakan Kaus putih dan jaket denim, ransel hitam melekat mesra di punggunnya dengan satu talinya menjuntai, lelaki dengan rambut hitam dan kulit tan  dan senyumnya yang Yoona ibaratkan seperti ice latte mint.

“Kim JongIn…???” akhirnya Yoona bisa bersuara.

“Ahahaa… kita bertemu lagi,,” ucapnya sambil tertawa. “Keberatan bila aku duduk disini??” tanyanya.

“Ah… tidak – tidak, kau boleh duduk disana…”

Jongin mengambil duduk dikursi depan Yoona, “ Dimana teman – temanmu yang lain..” tanyanya sambil mengedarkan pandangan.

“hehe… aku sendirian… Mereka makan siang di kantor,” Jawab Yoona.

Seorang pelayan mengantarkan menu JongIn. Seperti yang Yoona lihat dimalam itu, JongIn tersenyum begitu manis kemudian menggumamkan terimakasih. Beruntung pelayan kali ini seorang Pria, ya.. dia mungkin akan baik – baik saja dengan senyum JongIn tadi.

“Kau sedang pusing dengan pekerjaanmu? Aku juga lebih suka menyendiri saat kepala ini begitu penat…” sambung JongIn sambil memberikan ekspresi kepala pusing yang membuat Yoona tertawa.

“Bisa dibilang seperti itu, client yang aku temui sejak pagi bermulut cerewet melebihi ibuku..” JongIn menyunggingkan tawa kecil ditengah aktifitasnya melahap nasi dengan kuah kari.

“Kau bekerja sekitar sini??” tanya JongIn lagi, yang kali ini sambil menegak orange jus miliknya.

Yoona menggelengkan kepalnya pelan, “ bukan.. kantorku lumayan jauh dari sini..”

Jongin terlihat mengerutkan kedua alisnya saat mendegar jawaban Yoona, “Dan kau menempuh perjalanan jauh dari kantor hanya untuk makan siang..??”

“Bukan sekedar makan siang, tapi juga memanjakan Mood ku…” jawab Yoona terkekeh.

“Ahaha… i got it Miss…

Hening.

Yoona kembali menikmati pemandangan diluar sana dengan sesekali melirik JongIn didepannya yang sibuk dengan makan siangnya yang juga kadang diselingi mengecek handphonenya berulang kali.

“Jadi.. kantormu sekitar sini Jongin??” tanya Yoona.

“Mungkin Studio lebih cocok untuku..” jawab JongIn. “Aku bukan seorang pekerja kantor, aku seorang photographer…

“Ahh…..”

“ ada pasangan pengantin yang melakukan foto prewedd sekitar sini…” lanjutnya.

Percakapan bergulir begitu saja. JongIn memang lebih mendominasi, dia menceritakan tentang peerjaannya sebagai seorang photograph, tentang dia yang sudah hampir keliling Asia untuk melakukan pemotretan ataupun tentang hal – hal kecil yang melintas dipenglihatan mereka. Satu lagi yang Yoona tangkap, JongIn sosok yang mudah bergaul, ini membuat suasana awkward menghilang dengan semua hal yang JongIn bicarakan.

Yoona merasa nyaman. Meski Yoona hanya menimpali dengan senyum, tawa ataupun jawaban – jawaban kecil, tapi JongIn tidak berhenti untuk menciptakan suasana menjadi semakin hangat.

“Itulah.. mengapa aku mencintai pekerjaanku…”

“Kau begitu mudah bergaul JongIn, kita baru dua kali bertemu tapi aku bisa merasa seperti enam temanku saat bersamamu…”

“Kau merasakannya bukan, banyak orang yang berkata seperti itu. Ibuku bilang, ada maget dalam diriku yang membuat orang dengan mudah merasa nyaman denganku…” JongIn melepas senyum yang disambut tawa cibir dari Yoona.

Ya.. JongIn semacam memiliki magnet dalam dirinya. Magnet dalam dua bola mata hitamnya yang membuat Yoona terasa menatap indahnya langit malam. Magnet dalam senyumnya, yang membuat Yoona seakan disuguhi beberapa kilogram gula. Magnet yang tersembunyi dalam tubuh seorang Kim JongIn, magnet yang menarik hati Yoona untuk selalu melekat pada sepasang senyum indah itu.

Please don’t be in love with someone else, Please don’t have somebody waiting on you…

.

.

.

Pertemuan pertama bisa dibilang hal random, pertemuan kedua bisa saja kebetulan, pertemuan ketiga dan selanjutnya menandakan takdir. Bumi menginginkan mereka bersama, ada baiknya perempuan itu mengungkapkan perasaannya…

Yoona selalu teringat dengan apa yang Tiffany katakan saat mereka tengah menonton film diapartemen Taeyeon. Kalimat yang selama tiga hari terkahir ini selalu terngiang ditelinga Yoona.

Bukan tanpa alasan, Yoona dihantui ucapan Tiffany. Tiffany meungungkapkan pemikiran tentang film yang mereka tonton. Tentang seorang lelaki dan perempuan yang secara tidak sengaja selalu betemu. Tiffany berpendapat, bila sudah lebih dari tiga kali kita selalu bertemu dengan orang itu, itu menandakan ada tali takdir antara mereka.

Dan Yoona..? Berawal dari insiden truth or dare game yang mempertemukan Yoona dengan sosok seorang Kim JongIn. Berlanjut dengan pertemuan makan siang sekitar tiga minggu yang lalu, membuat Yoona dan JongIn tahu tentang status masing – masing. Kemudian, tepat lima hari setelah makan siang bersama, Yoona kembali bertemu JongIn diacara pernikahan teman kuliahnya. Tiga kali. Sudah tiga kali JongIn dan Yoona bertemu. Dan baru dua hari yang lalu, Yoona kembali bertemu JongIn didalam Bus.

Merujuk pada opini Tiffany, apa ini sebuah ikatan takdir?. Lagi menurut Tiffany, haruskah dia mengatakan apa yang dia rasakan pada JongIn..?

Yoona tidak ingin hidupnya berakhir bodoh seperti pemeran utama difilm itu, memendam perasaan yang berkahir dengan perpisahan. Bodoh…

Yoona bertekad, bila dia bertemu lagi dengan seorang Kim JongIn, dia akan mengatakan yang sebenarnya dengan apa yang dia rasakan. Sounds stupid?? NO… it’s smart.

Dan semua terjadi kembali. Saat malam itu Yoona dalam perjalanan menuju rumah BaekHyun untuk berkumpul bersama enam temannya sekedar melepas penat –ya mereka bertujuh rutin melakukan hal ini, mata Yoona menangkap sosok familiar didepannya. Lelaki dengan varsity merah marun, sneakers putih dan ransel dipunggunnya. Meski sebuah topi malam itu menutupi rambut hitamnya, tapi Yoona yakin sosok didepannya itu adalah Kim JongIn yang tengah tersenyum sambil mengucapkan terimakasih pada pedagang tteoboki.

“Kim JongIn….!!!,”  Teriak Yoona.

Benar. Sosok itu berbalik, menatap Yoona sebelum tersenyum dan menghampirinya. JongIn berlari kecil dengan cup tteoboki ditangannya mendekati tempat Yoona masih berdiri.

“ Lima kali, sudah lima kali kita bertemua secara tidak sengaja.. tidakah ini lucu…??,” ungkap JongIn saat dia sudah mencapai Yoona. JongIn menawarkan tteoboki pada Yoona yang dijawab dengan gelengan kecil.

“ Kau menghitungnya?? ” jawab Yoona sambil pura – pura mengingat.

“Pertama karena game itu, kedua makan siang, ketiga pernikahan temanmu, keempat di bus saat hujan hari itu dan sekarang…” tutur JongIn saat mereka sudah kembali berjalan kecil, menyusuri jalanan Seoul yang dihiasi lampu kota.

“Tepat… ” balas Yoona.

“Tapi, apa yang kau lakukan malam – malam sendirian?” tanya JongIn. Ya… Yoona lupa dengan niatnya untuk segera menuju rumah BaekHyun, dan dia yakin sekarang BaekHyun tengah menunggunya.

Baru Yoona akan mengatakan dia tengah dalam perjalanan menuju rumah BaekHyun, dia teringat dengan niatannnya untuk mengatakan apa yang dia rasakan bila bertemua lagi dengan JongIn.

“Awalnya hanya beniat mencari minuman kaleng, tapi langit malam ini memikatku untuk sekedar berjalan sebentar.. kau?”

“Ah… aku? Seperti biasa..” jawab JongIn sambi menggerakan ranselnya.

“Pemotretan?”

“Bukan… hahaha… aku hanya sedang berjalan berdua dengan kameraku, ya, mungkin hunting gambar dimalam hari.” Jawabnya.

“Kau sama sekali tidak bisa lepas dari kameramu ya JongIn?? ”

“Siapa bilang..? aku masih manusia normal, kamera ini hanya sumber uang bagiku, hahaha…”

“Baguslah… aku fikir kau sudah cukup bahagia hanya dengan kameramu..”

“Hah…!! itu terdengar menyedihkan.”

Yoona ingat dengan tekadnya untuk mengatakan apa yang dia rasakan, tapi dia bingung harus memulia dari mana. Pembicaraan mereka menglair begitu saja tanpa topik. Akan terdengar begitu mencolok bila tiba – tiba Yoona memotong dan mencurahkan perasaannya.

Ya.. itu terdengar seperti.. play easy..

“JongIn apa kau pernah mendengar tentang pepatah 3 kali bertemu??” tanya Yoona memancing.

“Apa kita berfikiran sama,,,” jawab JongIn sambil menghentikan langkahnya. “Pertemuan pertama dan kedua adalah kebetulan pertemuan selanjutnya adalah takdir, berarti bumi menginginkan mereka bersama,” lanjut JongIn.

“Ehm…”

“Dan ini pertemuan ke-lima kita..”

“JongIn, kau ingat, kau pernah mengatakan ada magnet dalam dirimu..”

“Apa kau merasakan efek magnetku, kau tertarik padaku?” jawab JongIn.

Satu lagi nilai positif JongIn dimata Yoona, JongIn bisa membuat semua hal terasa mudah untuk dia lakukan.

“Hahahah… kau benar. Kau tahu JongIn, aku merasa seperti dengan enam temanku saat bersama denganmu… ini terdengar aneh ditambah pertemuan kita yang bisa dibilang kebetulan…”

“Sederhananya kau merasa nyaman saat bersamaku bukan??”

“Bisa dibilang seperti itu…”

“Bisa aku jawab…??” tiba – tiba JongIn menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Yoona.

“Jawab apa???”

“Pertanyaanmu,,” lanjut JongIn.

“Pertanyaan??? Yang mana? ”

“Pertanyaanmu dimalam pertama kita bertemu.”

Yoona kembali menerbangkan ingatannya pada pertemuan pertama mereka. Pertanyaan? Disebelah mana Yoona menaruh pertanyaan?.

I Love You Too…” ucap JongIn kemudian, yang seakan menghentikan syaraf kerja Yoona. “Mungkin maksudmu malam itu hanya menjalani tantangan dari temanmu, tapi hari ini aku menganggap ucapanmu saat itu serius, dan malam ini juga aku menerima pernyataanmu saat itu. I love You Imh Yoona…

Yoona masih terdiam, terbius dengan apa yang terjadi, dengan apa yang dia dengar dan dengan apa yang dikatakn JongIn.

Masih terpaku dengan semua kejadian ini, Yoona sama sekali tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Saat satu sentuhan hangat membangunkannya dari terjun bebasnya kealam khayalan. Satu sentuhan hangat yang ternyata tangan kokoh JongIn yang menggenggam tangannya.

Let’s go… tonight is sparkling much beautiful…

Yoona membalas genggaman tangan JongIn dan membalas senyum JongIn. Yoona memang belum mengatakan apapun, tapi dalam hatinya dia terus berteriak.

‘i was enchanted to meet you…’

.

.

.

END.

5 thoughts on “Melody Of Love : “Enchanted…”

  1. Pingback: MELODY OF LOVE : “ You Are To Me ” | EXO Fanfiction World

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s