DELAIVE – Episode 4 : “Light Fate”

Delaive New

Title : DELAIVE – Episode 4 : “Light Fate”

Auhtor : ApReeLkwon (@ApReeLKwon)

Cast : BaekHyun Luhan (EXO), IU, Kang Sora. ( for other cast will appear in every ep)

Genre : Fantasy, Magic, Adventure

Rating : PG-13

Type : Chaptered

Previous Episode : [1]|[2]| [3]

Delaive is back dengn chap 4 nya… ^^ . Maaf yaa buat telat updatenya. Jujur sempet ilang inspirasi makanya jadi lama update. Moga Chap ini ga absurb ya ^^
Leave coment okay…

“Iam a Light.. Light…
Want a light.. Light…
For to shine.. shine.. ”

Tempat yang tidak mengenal waktu, tidak mengenal umur, abadi dalam kedamaian. Lembah Fairies. Salah satu koloni bagian dari 5 elemen kehidupan. Sekelompok manusia dengan sayap berpendar. Mereka merupakan koloni cinta akan kedamaian, itulah alasan kenapa Blue Petals berada dalam tangan mereka, sebelum benda pusaka tersebut raib.

Disaat elemen lain berlomba mengumpulan tameng kekuatan, berlomba memperbanyak jumlah populasi meski dengan cara licik, fairies lebih memilih mengasingkan dari peradaban. Mereka menjauh dari koloni lain dan membentuk tempat sendiri. Tidak pernah ada dendam, nafsu atau amarah dari kelompok ini. Tapi ada satu peraturan yang merupakan hukum mati bagi mereka yang melanggar.

Hiduplah hanya dalam pendaran Cahaya, kegelapan hukum mati bagi kalian yang melanggar.

“Kau masih percaya dengan ramalan itu?,”

“entahlah, tapi aku hanya penasaran..”

“Kau melanggar takdirmu jika ramalan itu benar,”

Fairies dengan sayap berwarna kuning itu berhenti menghentikan kepakannya. Dia memandang teman disampingnya, fairies dengan sayap biru muda.

“Juniel…. kalimatmu seakan mengutuku untuk menjadi penghuni lembah kegelapan,” ucap fairies sayap kuning sambil melanjutkan perjalannannya. Semburat kuning cerah menjadi jejak indah dibelakangnya saat sayap kuning itu mulai dikepakan empunyanya.

“IU-ya… itu sudah hukum alam kelompok kita,” fairies bersayap biru muda yang bernama Juniel itu melirik temannya si fairies sayap kuning. IU. “Kelompok kita selalu dipandang sebelah mata, dianggap sebagai penghianat, dituduh pencuri. Apa kau rela menyerahkan dirimu pada bagian dari mereka,” lanjut Juniel.

“Tidak. Aku tidak suka kelompok diluar kita, aku tidak suka saat bertemu warga Lumi atau warlock terlebih lagi shifter, aku hanya penasaran dengan ramalan aneh itu. Lagi pula, apa kau tidak merasa aneh Juniel…?,” tanya IU yang untuk kedua kalinya dia menghentikan sayapnya bekerja.

“aneh? Ya aku aneh, karena kau terus memintaku untuk menemanimu ke ‘Delaive’ school untuk memastikan ramalan aneh itu,” jawab Juniel.

Stupid… bukan itu maksudku…”

“Lalu apa??.”

“Hal yang tabu untuk kelompok kita membicarakan kelompok lain, fairies biasa seperti kita saja tidak berani membicarakan itu. Sedangkan ramalan itu…” IU memberikan jeda pada penuturannya, dilirik juniel disampingya yang tengah mengerutkan kening.

“pihak dewan memiliki rencana untuk mengurungmu di lembah kegelapan,” jawab Juniel sambil tertawa dna mengepakan sayap birunya meninggalkan IU yang masih kaget dengan jawaban temannya.

what…??? kejam sekali kau..!!!”

“Oh ayolah IU…. sudah kubilang berkali – kali untuk tidak terus memikirkan ramalan itu.” jawab Juniel.

“Aku tidak akan memikirkan hal ini kalau saja hanya orang biasa yang bicara tentang hal itu padaku, tapi ini..”

“Kepala dewan juga bisa bercanda, membuat remaja seperti kita penasaran mereka menyukai itu. Terlebih lagi karena itu kamu…”

“Ya… aku harap semua itu hanya lelucon.”

Mereka berdua kembali mengepakan sayapnya. Butir kuning dan biru berpadu menjadi partikel cantik yang menghiasi lorong yang rimbun dedaunan. Percikan cahaya itu menerpa setiap dedaunan yang mereka lalui, memberikan semacam rangsangan untuk kuncup bunga merekahkan mahkotanya.

suatu saat kegelapan akan mencapai pada batasnya, kau akan menjadi kunci itu IU-ya.. bersama seseorang yang bisa menerangi langkahmu. Tapi dia bukan seorang fairies, kehidupanmu antara menikmati kegelapan atau lebur bersama sinar yang membawa kedamaian.

“Byun BaekHyun…” ucap lelaki yang tadi berdiri diujung gedung, setelah mendekat beberapa langkah ketempat dimana Chanyeol masih terduduk dengan kondisi pandangannya yang belum normal.

“Chanyeol… Park Chanyeol..” Chanyeol menyambut uluran tangan Baekhyun untuk berdiri.

Flame…” ucap BaekHyun saat chanyeol menerima uluran tangannya dan melihat logo yang terpatri di tangan kiri Chanyeol.

“Apa?.” Tanya chanyeol yang masih belum menyadari keadaan.

“Cakramu,” jawab Baekhyun sambil memberikan isyarat pada logo burung phoenix.

Chanyeol mengikuti ekor mata BaekHyun dan dia mendapati logo ditangannya berpendar biru. Terkesiap, baru tersadar dari kondisi tidak wajar.

“Aku tidak pernah menyangka akan bertemu kelompok disini, aku Ray.

Flame,,, Ray.. apalah itu aku tidak mengerti. Dan satu lagi, sinar apa yang kau keluarkan tadi. Dan ini,” chanyeol menunjukan tangannya yang masih berpendar biru. “Apa semua ini.”

BaekHyun yang sudah mengambil langkah untuk meninggalkan tempat itu, menghentikan langkahnya. Dimasukannya kedua tangan kedalam saku jeans gelapnya. Baekhyun mengambil langkah mendekati chanyeol, ditatapnya orang yang bersangkutan mencoba mencari kejujuran dibalik mata bulat itu.

BaekHyun sangat teliti. Bukan tanpa alasan dia selalu mengamati setiap orang yang baru dia temui. Hanya saja, mengingat siapa dia sebenarnya mengharuskan BaekHyun berhati – hati. Terlebih lagi, bulan purnama telah lewat. Dan ini bahaya.

Baekhyun tersenyum. Dia mengambil langkah mundur dari tempat chanyeol.

“Kau tidak mengerti tentang semua ini?. Tentang istilah yang tadi aku ucapkan, tentang logo ditanganmu..?” tanya BaekHyun.

“bagaimana aku bisa tahu, kau gila..” desis Chanyeol, dia terlihat sedikit tidak nyaman.

“ehm.. kau melihatku tadi mengeluarkan cahaya bukan? Apa kau pernah melakukan hal serupa denganku, mungkin bukan cahaya tapi…”

Baekhyun menggantungkan kalimatnya saat dia melihat Chanyeol menautkan dua halisnya tanda dia sedang berfikir.

“Ya…” jawab chanyeol ragu.

Memori chanyeol mundur beberapa jam yang lalu. Saat dia menemukan ibunya bersimbah darah diruang keluarga, dengan kakaknya yang terduduk bisu tanpa melakukan apapun. Hanya diam, membiarkan liquid merah anyir itu terus menggenangi tubuh sang ibu.

“Apa yang terjadi..” tanya chanyeol dengan suara bergetar.

“harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan semalam..” Chaerin mendelik tajam kearah chanyeol masih berdiri kaku.

“Aku… aku-”

“Kau yang memberikan pecahan vas itu, dan memberikan pada ibumu dan berbisik untuk mengakhiri semuanya.. kau menyuruh ibumu bunuh diri? Park Chanyeol.”

Belum selesai chanyeol dengan kalimatnya, satu suara berat dari arah ruangan belakang mencuri perhatiannya. Lelaki dewasa, dengan kemeja yang sudah tidak benar penampakannya, wajah merah lusuh menatapnya dengan pandangan membunuh. Ayahnya.

Chanyeol merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Takut, marah, rasa bersalah dan sedih mencekik kerongkongannya.

“Tidak pernah..” jawab Chanyeol pelan.

“Aku tidak pernah menyuruh ibu untuk bunuh diri, aku berharap ibu menusukmu saat itu. Tapi begini juga lebih baik,,” lanjut chanyeol dengan suara bergetarnya.

Selanjutnya, chanyeol tidak bisa menangkap apa yang mata dan dirinya lihat. Saat semua benda hancur dengan tempaan tangan kasar ayahnya, saat dia melihat kakanya menangis histeris, saat satu dampratan menyentuh pipinya dan ketika panas menjalar sekujur tubuhnya.

Ini tidak masuk akal, saat sekujur tubuh memanas saat amarah menyelubungi setiap rongga nafas chanyeol seketika letupan api keluar dari kedua tangannya. Tidak pernah tahu sebelumnya tapi refleks chanyeol mengarahkn tangannya ke ayahnya. Selanjutnya, tubuh tua itu terbalut merahnya api amarah.

Chanyeol terpaku, dia tidak mengerti apa yang dia lakukan. Dia tidak paham apa yang terjadi. Dan dia tidak bisa terima semua ini.

“park Chanyeol…” suara takut kakaknya menyapa gendang telinganya. “kau.. membunuh ayah dan ibumu, dan mahluk apa dirimu..” Chaerin bangkit dari duduknya. Sambil menghapus air mata dia melangah menjauhi chanyeol dengan tatapan menyalahkan.

Chanyeol tidak suka itu dan tidak pernah suka itu.

“Tinggal aku dan kau Noona,, mau ikut dengan mereka?.”

Chanyeol tidak mendegar apa jawaban kakakanya, yang dia ingat selanjutnya. Dia tengah berlari dari rumahnya yang sudah terbakar yang berujunng ditempat ini.

“Api…” jawab Chanyeol melanjutkan kalimatnya setelah tersadar dari lamunannya.

“Sesuai dengan logomu,” jawab baekhyun yang sudah duduk bersila dilantai atap berdebu itu.

“Jadi apa semua ini?.” Tanya chanyeol untuk kedua kalinya saat dia sudah mengkondisikan perasaannya.

“Ikut aku,” jawb baekhyun seraya beranjak dari duduknya.

Chanyeol mengikuti langkah baekhyun. Mereka menuruni tangga menuju atap itu, mash dengan membelah suasana pengap. Mereka mengambil langkah ke kiri saat anak tangga habis. Baekhyun menghentikan langkahnya didepan pintu tua berwarn putih. Dibukanya pintu itu saat terng dan suasan berbeda dari ruangan itu menyambut mata chanyeol.

“masuklah…” ujar baekhyun.

BaekHyun melangah terlebih dahulu, dia membiarkan chanyeol menikmati matanya menelanjangi ruangan ini. Melangkah menuju rak buku didekat jendela, Baekhyun mengambil satu buku kusam tebal besar dengan sampul berwarna coklat tuanya.

“Kau bisa memulai tentang dirimu dair buku ini,” ucap baekhyun sambil menghampiri Chanyeol.

Dia menunjukan buku itu padanya, dibuka halaman pertamanya yang tertulis ‘5 elemen kehidupan

Eunhyuk masih terpaku disebuah cafe dengan secangkir kop panas didepannya. Sudah hari kelima dia melakukan rutinitas yang sama. Mengunjungi tempat ini sampai matahari dipuncak kepala, beranjak ke toko roti dan diam menghabiskan beberap roti sampai sore menyapa, alasannya cuma satu yaitu lelaki keturunan china bernama Xi Luhan.

Pengendali waktu, teleport, anti gravitasi, Healing, itu yang teman seperjuangannya temukan. Mereka sudah menemukan bagian dari warlock baru, sedangkan dia. Sudah lima hari ini dia mengamati Luhan, tapi masih tidak yakin dengan keputusan untuk membawa anak itu ke Delaive.

Pasalnya, bukan kekuatan mengendalikan angin, es ataupun air tapi lelaki bernama luhan itu hanya memiliki kemampuan memindahkan barang. Itu hal biasa, bahkan manusiapun bila berlatih bisa melakukan itu.

Lalu apa yang membuat Eunhyuk masih mengikutinya?. Andai saja cakra telephaty tidak melekat pada pergelangan anak itu, mungkin Eunhyuk sudah meninggalkannya. Luhan memiliki cakra telepati dipergelangan tangan kirinya, eunhyuk bisa merasakan kebenaran itu. Dalam jarak beberapa langkah, cakra eunhyuk memberikan respone terhadap cakra luhan. Tapi luhan, dia sama sekali tidak ada tanda sedikitpun pada cakranya.

Puncak kebingungan Eunhyuk, apakah dia bagian dari warlock atau…

“Permisi, kenapa kau selalu mengikutiku..”

Satu suara mengejutkan Eunhyuk. Dia menghentikan langkahnya dan tanpa disadari ternyta jaraknya dengan luhan sangat tidak bisa disebut mengikuti.

“Aku sudah melihat anda dari beberapa hari yang lalu, terus mengikutiku cafe, toko roti, bahkan aku pulang. Apa niatanmu.”

Satu lagi yang membuat Eunhyuk ragu. Orang normal dia mungkin akan mengintrogasi dengan cara menyermkan saat seseorang tertangkap membuntutinya. Tetapi luhan hanya bertanya seakan Eunhyuk adalah teman ‘baru’.

“Ehm… aku hanya-”

eoh..? kau memiliki logo itu..”

Belum sempat eunhyuk menyelesaikan kalimatnya, Luhan memotong saat melihat logo time controler berpendar ditangannya.

Eunhyuk terpaku, dia memandang cakranya yang mengeluarkan pendar biru.

“Luhan-Ssi kau sudah mengetahui tentang semua ini?” tanya eunhyuk memulai.

“Aku sedikit tahu tentang diriku, dan aku tahu suatu saat akan ada orang yang menjemputku. Apa kau yang menjadi utusan untuku.?” Tanya Luhan.

Eunhyuk terdiam. Seharusnya dia menjawab ‘Iya’, membawa luhan ke Delaive mendapatkan Lime Pearl dan kemabli menikmati ketenangan ligkunga Delaive.

Tapi dia tidak bisa.

Ada sesuatu yang mengganjal mulutnya untuk mengucapkan kalimat itu.

“mungkin..” jawab eunhyuk. “Sepertinya aku harus mengetahuimu lebih dulu..”

“baiklah..” jawab luhan.

“Eunhyuk…”

“kau sudah tahu namaku, Xi Luhan.”

Luhan menyambut uluran tangna Luhan. Seperti hal lumrah warlock lainnnya, saat mereka berinteraksi pendar itu akan muncul dan hangat menjalari setiap derat darah mereka.

Tapi luhan. Hanya cakra Eunhyuk yang berpendar tidak dengan miliknya. Dan tidak ada hangat menjalar, tapi dingin yang perlahan merambat tangan Eunhyuk.

Siapa dia’ batin Eunhyuk.

 T.B.C
Apreelkwon '2013

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s