Crescent… [4-END]

Crescent

Previous Chapter : [1] | [2] | [3]

– The Way We Meet Again –

Pusat keramaian secara perlahan berlalu dari pandanganku, keadaan diluar mobil sudah tidak seramai seperti beberapa saat yang lalu. Aku mempererat sweater putih yang membalut tubuh ini saat kurasakan dingin mulai menempa setiap helai bulu ramuku.

Tidak ada patah kata yang kuucapkan, sejak mobil putih milik Daisy meninggalkan apartement kecilku sejak dua jam yang lalu. Mungkin ini gila, aku gila dan Daisy mendukung kegilaanku. Tidak kurang dari 5 jam aku akan meninggalkan negara ini dan hidup dalam keterpaksaan di luar sana. Tapi, kegilaan membuatku menanggalkan perjanjian dan mengikuti kenekatan ini.

“Aku akan sering mengunjungimu disana, mungkin akhir pekan aku akan menginap denganmu.” Daisy memecah keheningan. Aura diwajahnya sudah berubah, tidak ada lagi suara sedih dan pandangan muram. Dia tersenyum dan suaranya terlihat ceria. Dia kembali memusatkan perhatiannya pada kemudi.

“Ehm… harus sering mengunjungiku. Jangan sampai kau tidak menjengukku sama sekali.” Jawabku sambil terkekeh.

“What??… oh baiklah, aku tidak akan mengunjungimu dan membiarkanmu mati dalam kesepian bersama bayangan Mr.Cross …” ledeknya sambil melempar senyum menantang.

“Archer  tidak akan membiarkanku mati semudah itu…” jawabku.

Bulan sabit yang menggantung indah malam itu mengalihkan perhatianku, warna pucat tapi anggun itu selalu aku sukai.

“kau harus berterimakasih pada Clark, untung dia memiliki kenalan didaerah itu.” Daisy  kembali bersuara.

Of course dan aku harap usaha pedekatemu dengan Clark berhasil,, ”

“Kau ini…”

East Park… saat kau ambil jalan lurus keselatan dan menemukan kelokan kecil, terus berjalan sampai melewati padang rumput dandelion dan satu pohon kersen yang berdiri kokoh ditengannya,  lewati jalan itu kau akan menemui satu tempat miniatur surga. Tempat Arr menyatakan cinta padaku, dan tempat kami mengikat Janji. St.Delavia, bukan keluar dari negara ini, tapi aku memutuskan keluar dari Kota. Aku yakin tempat yang menyatukan ku pertama kali, dia juga yang akan mempertemukan kami kembali. Aku harap, meski ingatannya tentangku terhapus, kesukaannya terhadap bulan purnama dan bunga dandelion tidak akan terhapus.

“Semangat Jade,,,..!!!” Daisy  menepuk pundaku, dan memberikan senyum hangatnya.

“Semangat…!!”

“Daisy,, ada yang ingin aku tanyakan, selain faktor keturunan apakah ada faktor lain tentang penyakit Arr?” tanyaku penasaran.

“ehm… bisa, memori yang menyedihkan, hal yang sangat menekan perasaannya, dan ketakutan berlebihan. Itu bisa menyiutkan proses kerja otak. Kau ada masalah dengan Arr?.” Tanya Daisy  ini sambil sesekali melirik padaku yang mulai terpaku.

“Nothing…. ” jawabku.

“Kalau bukan denganmu, ibunya?.” Suara Daisy menggantung.

Aku tidak bisa menjawab. Aku sama sekali tidak tahu tentang hubungan Arr dan ibunya, yang aku tahu, Arr tidak terlalu menyukai ibunya. Aku kembali menautkan pandangan ini keluar. Menyaksikan bulan sabit yang menggantung diatas pohon kersen dipadang dandelion yang meniupkan buihnya. Aku tidak tahu.

______________________

 

International airport. Suasana ramai tidak pernah terlepaskan dari bandara ternama ini, hilir mudik manusia dari belahan dunia terlihat disana.

Seorang wanita dengan coat merah marun, kacamata hitam dan fedora warna senada dengan warna coatnya menghiasi tubuh itu dengan elegan. Siapapun bisa menebak bahwa wanita anggun ini bukan dari kelas biasa. Dua orang lelaki berjas hitam berdiri tidak jauh dari wanita elegan itu seakan menambah status jelas tentang wanita itu.

Untuk kesekian kalinya, wanita itu melirik jam tangan silver yang melingkar dipergelangan putihnya.

30 menit – batin wanita itu.

“Kalian sudah mengecek rumah gadis itu? Kalian yakin rumah itu sudah kosong.” Tanya wanita itu pada dua lelaki berjas dibelakangnya tanpa sedikitpun membalikan badannya.

“Iya Mrs. Cross, rumahnya sudah kosong. Tidak ada tanda kehidupan sedikitpun.”

“Kau mematahkan janjimu Jade Sparyth,” bisik Mrs.Cross itu pelan. Perlahan dia tanggalkan kacata itu, sorot mata lelah, gelisah dan takut terpancar jelas dari matanya.

“Ayo kita pulang,” Mrs. Wu membalikan badannya berjalan keluar dari airport dengan dua lelaki itu mengekor dibelakangnya.

Kau mengira aku membencimu Jade?. Apa kau mengira aku ingin mengusirmu dari kehidupan Arr?. Tidak Jade,,

Aku berfikir semua ini, semua rencana ini akan memudahkan masa depannmu. Aku tahu apa yang akan terjadi padamu. Tapi kau…

Mrs. Cross, menghentikan langkahnya dengan batin yang masih berkecamuk. Dia menatap keluar sana dan melihat pesawat yang seharusnya Jade tumpangi sudah melesat diudara.

“andai kau mengerti maksudku..” Mrs. Cross berbisik, dia merasakan kedua matanya memanas kembali memasang kacamata hitam dan melanjutkan langkahnya.

_______________

Dad….. Daaaad….

Lelaki berumur 17 belas tahun itu terus berlari mengejar mobil hitam didepannya yang terus melaju. Seragam yang masih melekat dibadannya mulai basah oleh peluh. Ia sama sekali tidak peduli. Yang dia inginkan hanyalah mobil itu berhenti dan lelaki yang duduk di kursi belakang itu turun menghampirinya, menghapus air mata yang mulai membasahi wajahnya.

Daad……” larinya terhenti, nafas memburu menghentikan segalanya.

“Arr…. Archer..” satu suara terdengar dari belakang. Lelaki dengan seragam basah oleh peluh itu menoleh. Seorang perempuan dengan wajah sembab dan lelah berlari kearahnya.

“Semua ini tidak benar, ayo pulang..” perempuan itu berhasil meraih Archer, dengan nafas terengah perempuan itu menarik tangan Archer menjauh dari tempat itu.

Mom… kenapa kau hanya diam?.” Bukan mengikuti arah tarikan tangan sang ibu, Archer malah menghempaskan tangan itu dan bertanya.

.Diam

“Kenapa Mom tidak mempertahankan Dad, kenapa kau membiarkan dia meninggalkan kita, kenapa kau hanya diam saat melihat Dad dengan wanita lain,, KENAPAAA….!!!.” Archer meninggikan suaranya, dia menatap tajam pada wanita didepannya. “Kenapa…??” tanya Archer  lagi, dengan suara yang menyerupai bisikan.

“Kau sudah tau se-”

“Jangan selalu menggunakan penyakit itu sebagai tameng… apa cinta kalian bisa hilang hanya karena sebuah penyakit.” Belum sempat sang ibu menyelesaikan kalimatnya, Archer memotong seakan sudah hafal yang akan diucapkan ibunya.

Dengan langkah gontai, Archer meninggalkan Ibunya yang masih tediam. Memikirkan apa yang anaknya ucapkan.

“Tidak Arr,, cintaku untuk ayahmu tidak pernah kalah hanya karena satu penyakit.. Tapi  hati ayahmu sama sekali sudah tidak bisa mengingatku…”

________________

“Dimana Arr?.” Tanya Mrs. Cross pada seorang perempuan lanjut usia yang menghampirinya dengan secangkir teh.

“Dia pergi dengan kameranya, mungkin ke St.Delavia”. Jawab wanita baya itu sambil mendudukan badanya didepan Mrs. Cross.

St.Delavia?.” Mrs. Cross menautkan kedua halisnya seakan tersadar akan satu hal. Selanjutnya, dia beranjak dari tempat duduknya sebelum wanita baya itu menghentikan langkahnya.

“Arr tidak seperti Jason, jangan karena Arr memiliki kesamaan dengan Jason, kau melakukan semua ini.” Mrs. Cross menghentikan langkahnya menatap wanita baya itu.

“Ibu, aku tidak hanya memikirkan Arr. Aku.. aku peduli dengan nasib gadis itu, aku tahu bagaimana perasaan gadis itu.” Jawab Mrs. Cross pada wanita baya yang tidak lain adalah ibunya.

“Duduklah…”

“Kisahmu dan Jason, dengan kisah Arr dan Jade berbeda. Mereka berdua bertemu karena cinta, apa kau tidak percaya dengan kekuatan cinta?. Maka dari itu aku sering menyuruhmu menghabiskan waktu dengan Arr, kau bahkan tidak mengenal anakmu lebih baik dariku.”

“Ibu, apa yang bisa kita andalkan dari cinta. Aku mencintainya, Aku sangat mencintai Jason, tapi apa.. saat penyakit itu menghingapinya. Tidak ada satu byte pun memorinya tersisa untuku. Bahkan untuk anaknya sendiri..” Mrs. Cross kembali menajatuhkan tubuhnya ke sofa.

“Kau dan Jason menemukan cinta setelah waktu menyapa kalian,sedangkan Arr dan Jade membuat waktu yang menyerahkan cinta untuk mereka. Ini berbeda, kau tahu apa yang terjadi pada Arr?” Nenek Archer bertanya. Mrs. Cross hanya menjawab dengan tatapan tanpa arti.

“Arr bahkan masih ingat kalau dia menyukai fotography, bulan sabit, dan bunga dandelion. Dia juga sering bertanya padaku kenapa Jade sering muncul di setiap fotonya. Akhirnya aku menyuruhnya menapaki setiap memori tersisanya untuk mendapatkan jawaban atas penasarannya.”

“Ibu…. kenapa?.”

“Kau tau, sejak Arr divonis menderita penyakit yang sama dengan Ayahnya, kau sering mengultimatum dia untuk tidak ini tidak itu… dan kau tahu,, hal yang kau lakukan hanya mempercepat proses penyakit itu menjalar.”

Nenek Archer meletakan foto polaroid yang sedari tadi dia pegang. Foto Arr tersenyum dengan seorang perempuan dibelakangnya dengan pemandangan padang dandelion.

“Kau lihat mereka, apa kau tidak merasakan ketulusan dari matanya?. Aku bahkan malu saat tau kau menyuruh Jade untuk menandatangani surat cerai.”

“Aku hanya ingin mengingatkan jangan kau imbaskan apa yang kau alami pada anakmu, dan satu lagi.. Jade berbeda denganmu. Aku sangat kenal dengannya dari cerita Arr, meski aku belum bertemu dengannya.”

Nenek Archer meninggalkan Mrs. Cross yang masih tidak bisa menalarkan apa yang sang ibu tuturkan. Perlahan diraihnya foto itu. Foto Archer yang memancarkan wajah bahagia.

Mom  merindukanmu Arr..”

Bisik Mrs. Cross sejalan dengan butiran kristal yang mengalir di pipinya.

___________________

Jade selalu tepat dengan perkiraan hatinya. Sudah seminggu ini Jade menjadi gadis pengunggu padang dandelion, dari pagi sampai menjelang sore dia menghabiskan waktu dibalik pagar pembatas.

Bukan tanpa alasan, sudah seminggu ini Jade sering melihat Archer menghabiskan waktu disana. Perasaanya benar, Hatinya benar dan cintanya masih benar. Benar semuanya benar. Archer  dan dia memang ditakdirkan untuk bersama.

Jade, mengintip dari balik pagar mencoba mencari jejak Archer. Sampai saat ini, dia belum sanggup dengan tiba – tiba menghampiri Archer. Dia tidak ingin melihat ekspresi itu dari wajah Archer, ekspresi seakan Jade hanyalah mahluk asing bagi Archer.

Jade mempertajam pandangannya mencoba mencari sosok jangkung dengan kamera yang menggantung dilehernya, namun dia tidak menemukannya. Baru beberapa menit yang lalu Jade masih yakin Archer berada disana.

Rasa penasaran meruntuhkan segalanya. Jade merapihkan blouse birunya dan melangkahkan kakinya kedalam padang itu. Baru lima langkah Jade memasuki padang berwarna putih itu saat satu tangan menghentikan langkahnya.

Jade membalikan badannya seketika ia rasakan sesak menjalar saat satu tangan putih tengang memegang tangannya. Archer.

“Aku sering melihatmu berada disini, apa kau tinggal daerah sini..” tanya Archer yang sudah melepakan genggaman tanganya.

“ya.. ya..” jawab Jade.

“Ini mungkin terdengar aneh, tapi apa kau mau mengambil foto denganku.” Pinta Archer sambil tersenyum.

Jade  terkejut. Ia tidak bisa menjawab, hanya ekspresi kaget dan matanya yang membualt atas pertanyaan Archer.

Tanpa menunggu jawaban dari Jade, Archer mengeluarkan tripod yang sedari tadi setia dalam gendongannya. Measangkan pada kameranya dan disimpan beberapa langkah dari tempat Jade berdiri.

Archer selesai dengan setting-an kameranya, dia menghampiri Jade berdiri disamping perempuan itu terssenyum.

“Mungkin ini aneh, kita pertama bertemu tapi aku meminta mu foto bersama..” suara Archer.

Jade hanya diam. Dia bingung harus  bagaimana.

“Jade...

Terdengar suara nafas tercekat Jade, saat Archer berhasil menyuarakan namanya. Jade merasaan panas menjalar pipinya dan ia masih tidak bisa menjawab atau menatap Archer.

“Aku menemuka banyak fotomu dialbum ku, aku menceritakan ini pada neneku. Dia menyuruhku mencari tahu siapa dirimu. Aku tahu otak ini memiliki kapasitas minim, oleh karena itu sudah seminggu ini aku terus kesini.”

“Jadi apa kau juga menyukai padang ini, pohon kersen disana dan bulan sabit dimalam hari.” Tanya Archer melanjutkan sambil membalikan badannya menghadap Jade.

Jade hanya mengangguk sebagai jawaban Archer. Satu kata saja terucap dari bibirnya, air mata bisa tumpah.

“Jadi apa kau mau membantuku, menemukan rahisa tentangmu dan diriku,” tanya Archer lagi.

Jade mengangguk lagi untuk kesekian kalinya.

“Baiklah Jade aku mempercayakan padamu.” Jawab Archer sambil tersenyum.

Archer kembali membalikan badannya kekamera memperdekat jaraknya dengan Jade serta mengukir senyum diwajah tampannya.

Tiit,, tiiit,, tiiit,, cerkrek.

Suara kamera yang telah berhasil mengabadikan foto titik nol cerita Jade dan Archer.

Tidak ada kata berakhir, semuanya baru akan dimulai dan bertahan selamanya’ batin Jade. Perlahan dia mengangkat wajahnya melihat Archer yang berjalan menuju kameranya.

“Kita mulai lagi semuanya dari awal Arr..” bisik Jade.

Angin berhembus menggoyangkan mahkota rapuh dandelion, beribu buih terbang diudara menciptakan sekumpulan awal kecil jarak pendek. Dua pasang mata memperhatikan kejadian itu, mereka tersenyum. Tersenyum pada buih dandelion dan senyum untuk orang dihadapan mereka.

 

 

3 thoughts on “Crescent… [4-END]

  1. Kyaaaaaaaaaaaaa…
    Omo! Omo! Omooo…
    Kyaaaaaaa… *tereak2kayakorangstres*

    Teteeeeeeeh…
    Nta gak nyangka deh endingnya bakalan kayak begini…
    Aslinya deh, part ini antara bikin nyesek, senyum2 sndiri plus berlinangan air mata krna terharuuuuuuuu…
    Asli nieh mata udah berkaca2 daaaaah…
    *ambiltissue
    *peyukD.Olagi
    *eh?
    XDD

    Well…
    Ternyata penyakitnya Arr emang nurun dari bapaknya yah…
    Tapi, walaupun alasan d balik Ibunya bersikap seperti ituuu.. Tetep aja… Nta masih sebel ama nieh nenek lampir satu!
    Alasannya sieh emang bagus…
    Tapi lebih bagus lagi kalo seandainya dy gak bersikap kayak gitu!
    Apaan tuh pake nyuruh2 Jade tandatanganin surat cerai, di kata Jade gak pnya hati apa?!
    Heu! *tabokMrs.Cross
    LOL

    Daaaaaaan…
    Terharu dgn perjuangannya Arr yang ttep ingin inget lagi moment2 dy breng Jade…
    Kyaaaaa… Rasanya itu, kayak emang Arr ϑαπ Jade itu udah harus d takdirin bersamaaaaaa…
    Co cweeeeeet… (>̯͡⌣<̯͡)
    #meltingsendiri
    *eh?
    Daaan… Nta mau mnta maaf dah ama ci Arr krna udah d sangka nyebelin… Kekekekekeke
    *bowtoArcher
    LOL
    XDD

    Okeeee…
    And finally… Nieh fanfic berakhir dengan kata 'Happy Ending'
    ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ
    ƪƪ'▿') ('▿'ʃʃ ƪƪ'▿') ('▿'ʃʃ
    Suka… Suka… Sukaaaaaaa…. ◦^⌣^◦
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

    Overall… Fanfic-mu ini memang selalu DAEBAK, teh… ^^b
    Walau tetep… Typo msih ada yang brterbangan seperti biasa…
    Tapi ttep oke punyaaaalah…
    \(ˆ⌣ˆ‎\​​​​) (/ˆ⌣ˆ‎​​​​)/
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ.

    Akhir kataaaa…
    Wassalam. ^^

    • kkkk~
      Harusnya jangan benci juga sama Mrs. Cross hehehe,
      dia kan Baekkk Nta,,
      Makasihhh yaa udah baca,,😄

      Ada tips ga Nta biar lepas dari TYPO,,
      hahaha
      susah banget tuh typo ilang…

  2. Walaupun baik, tetep ajaaaaa…
    Caranya itu lowh teeeh… Bikin greget jiwa dan raga…
    Brasa pengen bwa orang sekampung buat protes! *eh?

    Yah teteh…
    Nanyain tips yang bgituan ama Nta…
    Salah nieh…
    Scara Nta jg sma2 miss universe of TYPO gitu lowh…
    *Bangga
    LOL
    =Dkώk=˚°kώk==Dώkψkkώk˚°

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s