Crescent… [3]

Crescent

Previous Chapter : [1] | [2]

– The Way We Meet Again –

“Dokter bilang seperti itu?. ” Daisy masih lengkap dengan pakaian prakteknya menyempatkan waktunya untuk menemuiku di kantin rumah sakit.

“Dia belum bisa memastikan, tapi itu yang dia predisksikan. Dua gejala yang Arr tunjukan mengacu sangat kuat.” Aku masih belum bisa menerima dengan jelas memori yang berlalu hari ini. Semua seakan seperti Sad Movie yang sering aku tonton. Disaat secara tiba – tiba tokoh utama pria tergeletak tak berdaya dan disatu sisi si tokoh utama wanita menjadi sasaran kekesalan pihak berkuasa. Itulah yang ku alami.

“Kau tahu tentang keluarga Arr?.” Tanya Daisy.

“ibunya, kau bisa lihat dia baik – baik saja. Untuk ayahnya, Arr tidak pernah membicarakan tentang ayahnya, semenjak kedua orang tuanya bercerai.”

“Kau tau kenapa mereka bercerai?.”

“Aku tidak pernah mengorek terlalu dalam.” Jawabku. “Apa semua ini bisa disembuhkan..” tanyaku dengan pandangan yang terpaku pada hilir mudik manusia.

“Aku tidak bisa memastikan Jade.. ”

“Aku mengerti, ekspresimu dan dokter itu sama..” Kulirik jam tangan putih yang setia melekat di pergelangan tanganku. Tidak terasa, waktu dua jam berjalan begitu cepat, bahkan mungkin terlalu cepat.

“Ini sudah 2 jam, aku yakin kau harus segera kembali pada tugasmu. Aku juga akan melihat Arr.”

“Hem,,, ” Daisy menghabiskan ice latte nya sebelum beranjak dari duduknya. “Kabari aku tentang Arr.. jangan kau rahasiakan apapun dariku.” Ancamnya.

I know Doc..” jawabku sambil terkekeh. “Kapan aku pernah merahasiakan sesuatu darimu.”

Daisy menepuk bahuku pelan, sebelum dia benar – benar pergi melanjutkan kewajibannya. Jas putih yang menempel indah di badannya, tidak pernah kami bayangkan sebelumnya kalau status ‘dokter’ bisa benar – benar melekat dalam namanya. Apa semua ini sudah rencana?. Takdir dimana Daisy  menjadi seorang dokter untuk menguatkanku yang akan kehiangan Arr kelak?.

Aku berjalan menyusuri lorong putih ini. Penuturan tentang penyakit Arr terus bergema di otaku. Apa benar ada penyakit seperti itu?.

‘Kau yakin Primary Dementia?.’

‘Itu bisa diibaratkan Arr terkena Amnesia tanpa kecelakaan. Penyakit ini menyerang bagian jaringan saraf di otak. Primary Dementia hanya nama umum penyakit ini, saat pemerikasaan Arr keluar secara utuh kita bisa tahu apakah Arr masuk katergori Penurunan Fungsi otak(Alzheimer), yang…’

“yang?” tanyaku.

“Arr benar – benar kehilangan ingatannya.”

“Semuanya?”

“Kita lihat hasil pemeriksaan lebih lanjut, Alzheimer itu.. mematikan Jade. Dengan perlahan… semua akan berakhir.”

“Kejam..”

“Option terkahir.. Lobus Frontal. Ini seperti terjadi kejangan di saraf otak, mengakibatkan hilangnya memori penderita.”

“Jadi dia akan melupakanku?”

“Aku harap Arr hanya menderita Syok jaringan, dan aku harap itu bukan bagian dari memori kalian..”

Aku buta sama sekali dalam ilmu kesehatan, yang aku tangkap hanyalah Arr akan melupakan semua ini. Penyakit pertama atau kedua, faktanya aku akan tetap kehilangan dia.

“Jade….” satu suara menerpa gendang telingaku. Satu suara yang sangat dan akan selalu ku ingat.

Archer.

Dengan wajah pucat dan infus ditangan kirinya, berdiri beberapa langkah didepanku. Siapa yang membiarkannya berdiri disana? Dengn langkah teratih, dia mencoba memperdekat jarak antara kami dimana aku masih mematung dengan mata masih terpaut dengannya.

Melihat Arr sedikit mengeryitkan dahinya, dan berhenti sejenak membuatku tersadar. Kupercepat langkahku dan kuhampiri dia. Senyum itu, senyum yang seutuhnya miliku menyambutku saat tangannya menyambut tanganku.

thank you..” bisiknya.

“Kenapa kau disini??. Hey, lihat untuk berdiripun kau tak sanggup.” Ucapku sambil berusaha kembali membawanya kekamar.

Arr hanya tersenyum.

where’s ur mother?” tanyaku lagi.

“Aku suruh dia pulang.” Jawabnya.

Aku terdiam. Pulang.

“Jade,,, aku tau semuanya.” Ucap Archer, saat aku berhasil mengembalikannya ke tempat tidur.

“tau apa,?” tanyaku, masih berbenah dengan alat infusnya.

“Penyakitku..” jawabnya.

Aku menghentikan gerak tanganku secara otomatis. Sesaat aku merasakan ruangan menjadi sangat senyap, deru nafas sakitku dan tatapan mata takut Arr. Aku menjatuhkan badan ini disampingnya berbaring, ada ketakutan yang aku selami dimata tajam Arr. Apa dia merasakan ketakutan yang sama.

“Bantu aku Jade,, bantu aku jangan sampai melupakan semua ini.”

Tangan hangatnya menyapa tangan dinginku. Semenit kemudian aku merasakan seluruh tubuhku bergetar. Bukan Cuma tubuhku, bisa kurasakan tangan Arr mendingin. Aku mendongak memberanikan diri menatapa wajahnya, sejurus kemudian pertahananku hancur dan bulir kristal mengalir di pipiku.

“bagaimana…?.” bisiku.

“Tolong,, bantu aku.” Jade memajukan sedikit posisi duduknya, kemudian dia menenggelamkanku dalam pelukannya. “Kau bisa Jade,, kau orang yang memegang kunci hatiku. Bantu aku..”

“penyakit ini bukan apa – apa, kita bisa..” bisik Arr sekali lagi.

Aku tidak memiliki kekuatan lagi, hanya anggukan yang aku lakukan sebagai jawaban.

______________

Arr masih sama, perlakuannya padaku masih sama, sifatnya padaku masih sama, tatapanya, sentuhannya, percayakah jika aku sebut Arr sedang sakit?. Seminggu berlalu sejak insiden dirumah sakit itu, semua berlalu dengan cepat tanpa apapun, ya.. mungkin aku bisa sebutkan hal terjadi seminggu terakhir ini bukan apa – apa. Hasil pemerikasaan sudah keluar, ada sedikit celah lega dalam dadaku. Aku beruntung bukan alzheimer si penyabut nyawa yang mendera Arr, sesuai 2 option yang diberikan Daisy, Lobus Frontal itulah teman baru Arr. Sehelai demi sehelai, memori kris dalam satu fragmen akan menghilang, aku tidak tahu memori sebelah manakah yang akan menghilang, apakah kita?.

Sakitnya Arr secara mendadak berujung campur tangan ibunya akan hal ini, dengn terpaksa aku harus menerima kenyataan sekarang aku tinggal dirumah bersama Ibunya.

tenanglah, masih ada aku” kalimat itu selalu Arr ucapkan saat aku merasa resah.

2 Minggu berjalan, aku mulai diterpa rasa takut. Aku takut. Hal – hal kecil mulai menghantui setiap pergeseran waktuku. Arr… aku rasa teman barunya mulai berulah. Dan sedikit demi sedikit aku mulai merasa kehilangan. Cara Arr menatapku, memperlakukanku, menyentuhku aku merasa ada yang hilang.

Semua itu berujung pada minggu ketiga. Apa pendapatmu tentang suami istri yang tidur di kamar dan ranjang yang sama. Itu biasa bukan?

Dari sinilah tombak ujung kehilangannku saat suatu pagi Arr terbangun dair tidurnya. Dia menatapku yang masih setengah sadar, membuatku bangun seutuhnya dan bertanya.

“Kenapa?.” Tanyaku.

Cara iris matanya bergulir mebuat ketakutanku semakin menjadi, tibakah waktunya. Sudah waktunyakah aku melakukan seperti yang Arr minta untuk terus menolongnya. Semua terjawab saat Arr beringsut dari tempat tidurnya.

“Apa yang kau lakukan dikamarku?.”

 

One thought on “Crescent… [3]

  1. Gaaaaaaaaah!!!
    Arr you’re soooo… Aarrrgh!!!
    *cekekArr*
    *esmositingkatatas
    Argh! Parah! Parah! Parah!
    Kenapa sieh ci Arr harus brsikap seperti itu sama Jade?!
    Dia yang bilang gak mau ngelupain kisah mreka, tapi siapa yang sekarang yang nyakitin perasaan Jade, huh???!
    Ugh!!!
    Arr bikin gemes dah!
    Turunan emaknya sieh y… »» Maksudnya bikin kesel orang gitu…
    Rasanya pengen nabok pake wajan kesayangannya D.O nieh! Trus lempar pake panci-nya emak Lay juga… *eh?

    Oke…
    Kayaknya nta mulai ngaco gegara gregetan ma nieh ff…
    Sekarang capcus dlu d part slanjutnya…

    Tunggu y teh…
    Kalo ampe ini sad ending, nta beneran butuh tissue!!!
    Huwaaaaaaa…
    (˘̩̩̩^ƪ) (˘̩̩̩^˘̩̩ƪ) ƪ‎(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s