DELAIVE – Episode 3 : ‘Flame, Ray and Droplet’

Delaive New

Title : DELAIVE – Episode 3 : “Flame, Ray and Droplet”

Auhtor : ApReeLkwon (@ApReeLKwon)

Cast : BaekHyun Luhan (EXO), IU, Kang Sora. ( for other cast will appear in every ep)

Genre : Fantasy, Magic, Adventure

Rating : PG-13

Type : Chaptered

Previous Episode : [1]|[2]

Jam tangan yang masih setia melingkar dipergelangan tangan lelaki berkulit putih itu menunjukan waktu beranjak larut. Malam yang sebagian orang dihabiskan dalam kesunyian untuk beristirahat tidak pernah lelaki bernama Chanyeol ini dapatkan. Menjelang tengah malam dimana kepala keluarga rumah itu kembali kerumah, keributan tidak pernah terelakan.

Sudah lebih dari setengah tahun keadaan rumah chanyeol berubah menjadi seperti neraka. Tidak ada lagi ketenangan di rumah, suasan ramah dan canda tawa yang menghiasi pagi, siang atau malam hari saat berkumpul.

plaak-

-praangg-

“Kau mau tebak itu pipi sebelah kanan atau kiri.” Satu suara membuat chanyeol mengalihkan matanya dari komik yang sedari tadi dia hanya pelototi.

“menurut noona,?” chanyeol kembali bertanya.

Dia melempar komik itu sembarang dan mulai menutup pintu kamarnya tanpa ampun. Satu hal yang chanyeol benci. Chanyeol sangat benci  suara – suara itu.

Chanyeol menghampiri perempuan yang dia panggil Noona. Perempuan dengan rambut pendek, yang sedang setia dengan laptop dan sebatang rokok ditangaannya. Chaerin.

“Kau tidak berniat turun, membela ibumu. Kau anak lelaki Chanyeol-ah.

Apakah itu pujian apa sindiran, chanyeol tidak peduli. Tergambar jelas dibibir pucat kakak perempuannya itu senyum meremehkan.

“Kau perempuan, tidak merasa kasihan kah pada perempuan yang melahirkanmu membesarkanmu dan sangat menyayangimu itu.” Chanyeol meraih rokok ditangan kakaknya, sejurus kemudian rokok itu harus meratapi nasibnya meringkuk dalam asbak dingin. “Dia sedang kesakitan sekarang.” Bisik Chanyeol ditelinga chaerin.

Melihat kakaknya ketakutan, chanyeol mengambil langkah mundur menjatuhkan tubuh kurusnya dikasur miliknya. “Jangan pernah remehkan aku noona. Aku bukan anak kecil. Ingat itu..!!.” ucap chanyeol dengan memberi penekanan pada kalimat terakhir.

Baru saja chanyeol berencana memejamkan matanya. Kembali terdengar keributan dari lantai bawah. Suara benda hancur terdengar bergantian, rentetan makian dan teriakan terasa menggesek gendang telinga chanyeol secara perlahan.

Chanyeol bangun dari tempat tidurnya, dilihat kakaknya masih asik dengan laptop dan kembali sebatang rokok bertengger dijarinya. Tanpa mempedulikan apa yang kakaknya lakukan, chanyeol mengambil jaket merah marun yang menggantung di balik pintu. Dan memakai beanihat putih.

“Mau kemana kau?.” Tanya chaerin saat mendapati chanyeol sedang  berbenah dengan jaket dan sepatunya.

“Kau mau jawabannya yang mana.” Jawab chanyeol masih dengan aksinya memasang kaus kaki secara paksa.

“Kau tidak berencana pergi dari sini sendirian kan?.” Chaerin membalikan posisi duduknya menghadap chanyeol.

“Aku tidak pernah sudi membawamu Noona.” Jawab chanyeol sambil tesenyum.

“Malam ini mungkin aku tidak dirumah, matikan listrik saat kau sudah selesai dengan laptopku. Aku tidak mau hanya karena tagihan listrik, rumah ini hancur lebur.”

Chanyeol, melangkahkan kakinya keluar dari kamar meninggalkan Chaerin yang kembali sibuk dengan dunianya. Chanyeol menuruni tangga dan melihat kedua orang tuanya di ruang keluarga yang masih belum selesai dengan pertikaiannya.

Keributan masih tergambar jelas diruangan itu. Wajah garang ayahnya, membuat perempuan dengan rambut berantakan dan tangis yang tidak henti itu terduduk dilantai yang penuh dengan pecahan kaca. Chanyeol berdecak kesal melihatnya. Badannya terasa panas melihat pemadangan menjijikan ini.

Dengan langkah berat chanyeol menghampiri ibunya yang masih terduduk dan menangis tidak  memperdulikan sang ayah yang sedari tadi meneriaki chanyeol untuk tidak ikut campur.

“Ibu tidak harus selalu seperti ini.” Ucap chanyeol sambil memegang tangan sang ibu.

“Dia bukan apa – apa jika ibu berani sedikit saja menggunakan keberanian.” Chanyeol bangkit dari duduknya menatap marah lelaki yang berdiri dengan keringat dan nafas menderu.

“Dan ayah, apa ini tidak memalukan. Melampiaskan kekesalanmu pada wanita. Memalukan.”

Chanyeol menundukan kepalanya saat sepatu putihnya menyenggol pecahan vas buanga dilantai. Diambil pecahan berwarna putih itu, diliriknya secara bergiliran ayah dan ibunya. Sejurus kemudian, chanyeol menghampiri sang ibu yang masih terduduk.

“Akhiri semua ini eomma…” ucap chanyeol dengan senyum seraya memberikan pecahan vas itu pada ibunya.

“chanyeol­-a…” bisik sang ibu.

“Sejak kapan kau menyadari ada gambar aneh ditanganmu itu.” Tanya sora memecah keheningan.

Lelaki rambut merah maroon itu memandang tangannya dan melihat gambar tetesan air itu mengeluarkan cahaya berwana biru.

“Aku tidak tau kapan pastinya, tapi.. saat secara tiba – tiba aku membanjiri sendiri kamarku dengan air yang keluar dari tangan ini.” Jawabnya terkekeh sambil menunjukan telapak tangannya yang putih.

“Mengejutkan bukan, apa kau tidak merasa ketakutan?.”

“Sangat, tapi aku berfikir.. ‘wahh aku special’. Ah kita sama sekali belum berkenalan.” Ucap lelaki itu yang otomatis menghentikan langkah mereka.

“ahh,,, benar. Sora- Kang Sora. Si pengendali Cahaya..” jawab Sora sambil tertawa menunjukan logo ditangannya.

“Suho.. jadi apakah aku si pengendali air.”

Sora dan Suho larut dalam percakapan ringan selama perjalanan menuju rumah Sora untuk menemui sang kakak. Yesung.

10 menit berlalu dan langkah Sora terhenti saat mereka berhenti didepan rumah kecil dengan berbagai macam jenis bunga dipekarangannya.

“Selamat datang dirumahku, kakaku mungkin akan terkejut, kedatangan tamu sepcial. Mari..” sora mengambil langkah awal menuntun Suho masuk kerumahnya.

Belum kedua orang itu memasuki rumah, seorang lelaki muncul dari balik pintu menatap Sora dengan mata tajamnya seakan meminta penjelasan atas orang yang dia bawa. Suho yang melihat sosok lelaki itu merasakan sedikit ada rasa takut pada dirinya. Berbeda dengan saat dia bertemu Sora, dia merasakan sekujur tubuhnya terasa panas begitu pula dengan logo ditangannya yang kemudian berpendar mengeluarkan cahaya. Tapi tidak dengan lelaki satu ini. Suho merasakan sekujur tubuhnya mengigil dingin, dia bahkan mempererat pegangan tangaanya. Dan pendaran dilogo itu padam seketika.

“Jadi apakah kakakmu, sama seperti kau? Sora?” tanya Suho dengan suara pelan.

Sora melirik Suho yang berada disampingya ketika dia merasakan suara Suho yang berbeda. Sora mendapati wajah suho menenggang dengan kedua mata Suho yang lurus menatap Yesung. Sora mengalihkan pada kakaknya, yang juga sedang bertemu mata dengan Suho.

“Bukan,, dia bukan bagian dari kita.” Jawab Sora mengalihkan perhatian Suho.

Sora mengambil langkah mendekati yesung, yang masih terus menatap Suho. Dengan Lembut Sora menyentuh tangan yesung. Dan berbisik.

“Oppa hentikan, Droplet didepanmu sekarang..”

“Maaf untuk kejadian diluar barusan. Aku hanya tidak terbiasa melihat sora membawa orang asing.” Ucap yesung seraya melempar senyum pada Suho yang saat ini sedang duduk didepannya.

“Tidak apa – apa.” Jawab Suho dengan sopan. “Aku mengerti bagaimana perasaan anda.”

“panggil aku Hyung. Sudah bisa dipastikan kau lebih muda dariku.” Timpal yesung dengan terkekeh.

“Oppa… Suho memiliki cakra Droplet ditangannya.” Ucap Sora mencoba masuk dalam percakapan dua lelaki itu.

“Ini… jadi bisa kalian jelaskan tentang logo ini..” Suho menatap dua kakak – beradik itu sambil menggulung lengan baju dan menunjukan gambar bentuk tetesan air yang sudah tidak berwarna itu.

“Sebelah mana yang ingin kau ketahui?.” Tanya yesung.

“Pertanyaanku Cuma satu, mahluk apa aku ini.”

Yesung menarik nafas mencoba mengisi gembung udaranya. Secara perlahan bangkit dari duduknya menuju sebuah rak buku. Diambilnya satu buku kusam berwarna Coklat lapuk dengan ketebalan yang tidak usah diragukan lagi.

Yesung mengambil tempat duduk, tepat disamping Suho. Diletakannya Buku itu dan membuka halaman pertama dimana tertulis ‘5 element kehidupan.

“Kau salah satu dari element kehidupan-”

Warlock, Shifter, Fairies, Luminos dan manusia, aku sudah tahu lima mahluk itu dari..” Suho memotong ucapan yesung, dia mengalihkan matanya pada Sora yang juga sedang memperhatikan buku tebal itu . “Aku sudah menguping semua ini dari Sora.”

“lalu apa yang ingin kau ketahui?.”

“Hanya memastikan…”

“Dengan logo, kau bisa menyebutnya cakra. Kau terbukti bagian dari kelompok element terkuat. Warlock. Dan Cakra tetesan airmu, yang kami sebut Droplet merupakan kekuatanmu.” Jawab Yesung.

“Pengendali air?.” Tanya Suho ragu.

“Bisa dibilang begitu.” Timpal Sora.

Yesung kembali memusatkan perhatiannya pada buku tebal didepannya. Dibukanya beberapa halaman berikutnya. Pada halaman itu tertulis ‘Droplet the Leader

“The Leader?” cekat Suho.

“Kau tidak sendirian Suho. Akan ada banyak lagi warlock lain saat ini diluar sana. Dan seperti yang tertulis dalam buku ini. Setiap warlock yang memiliki Droplet, mereka adalah ketua dari warlock lainnya.”

“Aku…. ketua? Jadi masih ada diluar sana yang senasib denganku, denganmu juga..” tanya Suho seraya menatap Sora.

“Perkumpulan kalian mungkin sedang dalam misi pencarian, aku yakin diluar sana juga ada yang sedang mencarimu. Tunggu lah dan pergi ketempat kau seharusnya.”

“kelompokku? Apa sora termasuk dari kelompok yang kau sebut tadi.?” Tanya Suho.

Pertanyaan ini cukup membuat suasan menjadi asing. Sora terlihat kaget dengan pertanyaan Suho. Beberapa saat kemudian, Sora bangkit dari duduknya sambil berdehem dia meninggalkan ruangan itu menyisakan Suho dan Yesung. Ya hanya berdua.

Yesung memandang ke arah perginya Sora. Setelah kemudian meutup buku tebal itu.

“Sora tidak termasuk. Dia hanyak akan disini dan tidak akan kemana – mana.” Jawab Yesung dengan ekspresi yang tidak bisa suho mengerti.

Suho menerbangkan fikirannya untuk menangkap apa yang dimaksud Yesung. Semua hal baru ini sama sekali asing baginya.

“Mungkin nanti aku akan mengerti apa maksudmu Hyung.” Jawab Suho.

“Ah,, ada satu yang ingin kutanyakan Hyung.” Tanya Suho lagi.

“katakan.” Jawab yesung.

“Aku pernah, mungkin bisa disebut sering menguping dongeng Sora dengan anak – anak didepan.” Suho mencoba menarik nafas.

“Dia bilang, logo ini..” suho mengangkat tangannya. “Akan memberikan reaksi saat bertemu dengan sama – sama pemilik kekuatan. Dan aku memang merasakan itu saat bertemu Sora. Badanku seperti terangsang panas, dan logo ini berpendar biru.”

“Tapi saat bertemu Hyung, aku merasakan dingin sekujur tubuhku dan pendar ditanganku mati.. Apa itu? Apa Hyung bukan bagian dari kami.” Suho menyelesaikan pertanyaan panjangnya.

Yesung sedikit beringsut dari duduknya. Dia kembali membuka buku itu. Dengan suara pelan yesung berbisik.

“Aku bukan bagian dari kalian.”

Chanyeol mempercepat larinya membelah gelap dan sunyinya malam. Tubuhnya masih panas, bukan hanya tubuh tapi hati dan otaknya juga panas. Takut, kata itu yang sekarang merekat erat dalam benak chanyeol.

Dia tidak pernah menyangka perbuatannya kemarin malam pada ibunya, malah mengantarkan ibunya pada lubang kematian. Chanyeol fikir ibunya akan menghabisi nyawa sang ayah. Pagi hari chanyeol kembali kerumah, kondisi rumah masih berantakan dia menemukan kakakya duduk diruang tamu disamping ibunya yang sudah tergeletak dengan darah membasahi tubuhnya dan satu benda berwarna putih menancap di perutnya. Dan Chanyeol tahu betul benda apa itu.

Shitt… apa sebenarnya semua ini’ batin chanyeol. Berkali – kali chanyeol membalikan kepalanya melirik diujung jalan sana rumah yang mulai terlahap api merah.

Melihat hal itu chanyeol mempercepat larinya dan tanpa terasa ada sesuatu yang hangat mengalir dikedua pipi putihnya.

Dengan nafas terengah, Chanyeol menghentikan larinya saat dia mendapati jalan buntu. Gedung tua gelap berada tepat didepannya. Chanyeol membalikan badannya dan dia sudah tidak bisa melihat kepulan warna merah itu.

sudah jauh..’ batin Chanyeol.

Baru berniat melonggarkan kantung udaranya untuk mengisi Oksigen, dia dikejutkan dengan kilatan cahaya warna biru dari atas atap gedung itu. Ralat, cahaya itu bukan sekedar berkilat, tapi sekarang langit diatas gedung atap itu berubah menajadi sangat terang.

Chanyeol mengerutkan keningnya saat menatap sumber cahaya itu.Dengan rasa penasaran yang membuncah didadanya, chanyeol berlari menuju atap gedung.

Menelusuri tiap celah gedung itu dalam ruangan pengap membuat langkahnya sedikit terhambat, tapi rasa penasaran membawanya pada ketidak putus asaan.

Ujung tangga chanyeol terengah, terlalu banyak hal aneh yang ia lewati beberap hari ini. Membuatnya berfikir apa ia gila. Chanyeol menegakan badannya saat dia menemukan satu pintu yang dari celah – celahnya bisa dia lihat warna biru terang itu.

Tanpa fikir panjang, chanyeol membuka pintu itu. Dan sesaat kemudian dia merasakan seperti ribuan volt cahaya menerpa pandangannya.

“AAAKkkkkkkk~~” teriak chanyeol saat dia berhasil membuka pintu itu.

Seketika cahaya itu menghilang. Chanyeol mengondisikan pandangannya saat dia berhasil berdiri dan mendapati seseorang diujung tepi gedung terutup cahaya bulan sehingga hanya siluet yang bisa chanyeol lihat.

“Siapa disana ..” teriak chanyeol lagi.

Hening.

“Aku bertanya siapa kau?.”

Masih tidak ada jawaban.

Saat dimenit berikutnya chanyeol melihat pendaran cahaya biru dari sana. Chanyeol merasakan tubuhnya memanas dan dia juga menyadari sesuatu di tangannya berpendaran.

“apa ini…” ucap chanyeol.

“Kau…” sosok disana bersuara saat melihat sesuatu ditangan chanyeol memiliki respon yang sama dengan yang dia miliki.

.: T.B.C :.Apreelkwon 2013

3 thoughts on “DELAIVE – Episode 3 : ‘Flame, Ray and Droplet’

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s