Crescent… [2]

Crescent

Previous Chapter : [1] |

 – The Way We Meet Again –

“ahh namamu…. yuu..Imh…”

“Bisakah kau tidak selalu menyuruhku untuk berfikir atau mengingat?”

Perkataanya masih lekat menggema diseluruh kapasitas otaku. Arr, aku merindukanmu. Caramu menyapaku, caramu menatapku, sentuhanmu. Oh,, ingatkah sudah berapa lama dari terkahir kali kita berpelukan. Tidak kurang dari 12 jam, ibumu akan mengirimku keluar negri untuk mejauhimu. Bisakah ini masuk akal? Seorang ibu memisahkan sepasang suami istri?. Dalam dunia fantasiku selalu ingin kujawab, tidak mungkin. Tapi ini realita Jade, kisah cintaku dan Archer yang selamanya tidak akan pernah ibunya torehkan dalam buku keluarga Cross. Apa yang bisa kulakukan? Dan apa yang bisa kita lakukan Arr. Janji yang kita ucapkan dua tahun lalu, dan janji kita akan berusaha meluluhkan hati ibumu masihkah itu semua ada harapan?. Membayangkan pun aku tak sanggup, masih ingatkah kau pada janji itu? Disaat otakmu pun sudah tidak mengingatku sama sekali.

“Dimana kau akan menaruh barang itu?.” Satu suara menariku kembali ke dimensi nyata. Daisy Casnoff, kulihat Daisy berdiri didepan pintu kamarku dengan koper berwarna coklat dalam dekapannya. “Mau kau masukan ke koper terakhir ini?.” Tanyanya.

“Tidak usah, aku bisa memasukannya ditasku.” Jawabku.

“Sudah kuduga..”

Aku tersenyum melihatnya berlalu sibuk mempersiapkan barang – barangku. Bisa kulihat matanya sembab, dan sedari tadi dia tidak banyak bicara. Satu lagi orang yang menyanyangimu Jade.

Kukemasi semua foto yang tadi siang aku ambil dari rumah mertuaku, lebih tepatnya mantan mertua. Dan haruskah aku memanggil Arr mantan suamiku?. Satu persatu foto kenangan itu membawaku kedalam pelukan indahnya masa lalu, manis, hangat , semua itu darimu Arr. Tangan dan fikiranku berhenti berkerja saat ujung jari ini menyentuh kotak merah beludru dengan pita putih yang berisi, cincin. Bukan, ini bukan cincin pernikahan. Cincin pernikahan, lambang cintaku dengannya tak pernah kulepas sekalipun. Sedangkan cincin ini. Kututup kotak itu dan kembali membereskan benda – benda berhargaku.

“Daisykau tidak berniat mengepak semua barangku kan?.” Ucapku saat aku sudah bersama Daisyi yang masih sibuk dengan koper ke tiganya. Aku mencoba memasang senyum saat dia menatapku, tapi saat itu juga senyumku hilang. Percuma bersandiwara didepannya, Daisy tahu segalanya.

“Jade, aku masih tak habis fikir kenapa kau menandatangani perjanjian konyol itu. Kenapa kau tidak bertanya padaku dulu,” dia menghentikan aktifitasnya. Duduk bersila didepanku, dengan kedua tangannya menggenggam erat tanganku.

“Maaf, karena aku mengambil keputusan tanpa cerita padamu aku hanya, mungkin ini akhir untuku.”

“Mana kepercayaan yang pegang teguh Jade.”

“Satu bulan, aku mencoba melakukan semua saranmu. Tapi apa, tidak ada kemajuan sama sekali. Tidak ada harapan Daisy.”

“Apa kau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk seorang penderita amnesia Jade?? Satu bulan tidak akan cukup bagi mereka memperbaiki semua itu, itu hanya untuk kasus amnesia, aku sudah bercerita tentang kasus Archer padamu.”

“Coba kau lihat dari sisi kehidupanku, kesampingkan tentang ilmu kedokteranmu. Apa aku bisa bertahan lebih dari satu bulan, untuk… secara perlahan menjadi orang asing baginya.Ketika, kau terbangun dari tidur dan melihat orang disampingmu menantapmu dengan padangan asing?. Bagaimana rasanya, kau harus melihat dia berkali – kali hilang kesadaran secara mendadak. Apa kau bisa membayangkannya?.”

“Disanalah kau seharusnya berada Jade, Archer membutuhkanmu..” Daisy memeluk dan mengelus rambutku lembut. Seketika, tangis tertahanku menghambur menghancurkan benteng pertahanan yang selama ini aku bangun.

“Aku ingin, selalu disampingnya. Karena aku yakin, meski ingatannya akan mengabur, hatinya masih miliku. Tapi,, tidak ada lagi yang memberiku dukungan dirumah itu

“Kuatkan dirimu Jade…”

Memori mimpi buruk kembali terkenang dalam memoriku. Kenangan dimana aku berharap semua itu hanya mimpi buruk. Tapi sayangnya, aku tidak pernah bisa terbangun dari mimpi buruk itu selamanya. Harusnya aku bisa membangun mimpi itu, tapi yang kulakukan hanya menyerah dan memutuskan dilahap kejamnnya mimpi itu.

Kulirik jam yang melingkar dipergelangan tanganku. 09.00 p.m . Tidak terisisa banyak waktu untuku.

__________________

“Apa pasien sering mengeluh sakit kepala bagian belakang? Sering menyendiri atau kadang saat berbicara, alur pembicaraana berbelit – belit dan kurang dimengerti?.” Ruang putih dengan bau menyengat ini terasa sangat mencekam bagiku. Ini ruangan dokter tapi aku berasa sedang menghadiri pengadilan kasus pembunuhan. Tatapan doter yang meminta jawaban, serta tatapn tajam ibunya yang seolah aku adalah tersangka.

“Jawab, kau yang bertanggung atas Archer 1 tahun terakhir ini.” Suara dinginnya membuatku tercekat.

“ya.. ya..” ucapku dengan tangan dingin dan perasaan tidak menentu. “Dia sering mengeluh sakit kepala bagian bawah, tapi dia sering menyangkal itu hanya sakit biasa karena beberapa saat kemudian kondisinya kembali membaik.”

“Untuk option selanjutnya?.” Dokter kembali bertanya, sambil mengecek map medical record yang didepannya tertera nama Archer Cross.

“Menyendiri, seingatku tidak pernah. Tapi tentang cara berbicaranya..” aku memberi jeda, kupererat peganganku dengan tangan yang semakin dingin. “Kadang, dia terlihat sulit untuk mengucapkan suatu kalimat dan itu terjadi beberapa hari sebelum dia jatuh pingsan.” Ucapku dengan suara makin melemah.

“Kenapa kau tidak pernah berbicara padaku tentang ini..” aku takut. Keadaannya, dan tudingan ibunya akanku, membuatku takut. Aku bisa merasakan pandangan menghujamnya, tanpa harus menatap wajahnya.

“Maaf,, aku sama sekali tidak tahu semuanya akan menjadi seperti ini.”

plakkk-

­Satu tamparan mendarat yang membuat wajahku memanas seketika. Terdengar sentakan kaget dari dokter didepanku. Bisakah semua ini terjadi jangan ditempat umum?. Aku hanya bisa menundukan wajahku, dan bulir air mata mulai menitik satu – persatu.

“ahhh,,, dari awal. Kau, ahh.” khawatir dan marah bisa terasa dengan jelas dari suaranya.

“ehm.. aku belum bisa memastikan kasus pastinya. Tapi dari medical record ini kemungkinan putra anda menderita Primary Dementia.” suara dokter memecah suasan tegang diruangan itu.

“Bisa aku bertanya tentang, catatan kesehatan keluarga anak anda,” dokter kembali bertanya.

“Kau, keluar..” satu kata dingin yang tidak pernah bisa aku bantah. Dengan hati hancur, aku beranjak dari kursi besi itu dan keluar ruangan.

Air mata terus mengalir tanpa henti, bahkan aku sudah tidak bisa mengontrol suara tangisku. Arr, apa yang terjadi padamu. Kenapa aku sebodoh ini, kenapa aku selalu menganggap hal – hal kecil buat pertanda apapun. Kaki dengan lemah terus melangkah. Primary Dementia apa itu, apkah itu serius. Kuambil hanphone dari saku coatku, dengan cepat kuketik pesan singkat pada orang yang aku yakin tahu apa arti dari penyakit itu.

Langkahku terhenti saat pintu dengan nomor 309 berada didepan wajahku. Kulihat seseorang terbaring didalam. Dia masih tertidur, genap 1 hari dia tertidur tanpa sekalipun membuka matanya hanya untuk memastikan apakah istrinya ada disampingya. Arr.. Kurasakan saku coatku bergetar, aku ambil hanphone dan melihat ada satu pesan masuk Daisy.

kenapa kau bertanya tentang itu? Siapa yang sakit?

“Archer. ” balasku cepat

–          Message sent –

One thought on “Crescent… [2]

  1. Hadeuh…
    Tissue mana Tisssuuuuueeee!!!
    Huwaaaaaa… *nangisdipeyukanD.O
    *eh?

    Adeuh… Ini kisahnya makin bikin mewek aja daaah!!
    Jade bener2 kesiksa di sini… Kasian… (⌣́_⌣̀)
    Udah ci Arr-nya lupa sama dy padahal Arr suami Jade sndiri, eeeeh… Plus-plus ci nenek lampir aka emaknya Arr nyebeliinnya minta d gaplok ampe warga seKomplek!!!
    *sigh!

    Sumpah y teh…
    Itu emaknya Arr bner2 bikin kesel lahir ϑαπ batin…
    Apa2an coba nampar Jade dpan dokter??? (9 `Д´)9
    Harusnya dy salahin anaknya tuh yang nganggep remeh rasa sakitnya!!! Bukan sama ci Jade-nya tauk!
    Heu, emak2 PA!!
    *esmosjiwadanraga
    LOL

    Eh???
    Primary Dementia???
    Penyakit smacam apakah itu????
    Hm…
    Makin penasaraaaaaan…
    Mari d capcus lanjuuuuuut…. *wush!
    *terbangmenujuchapter.3

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s