Tasted of Love : ‘Rain Drop’

– Title : Tasted Of Love : ‘Rain Drop’
– Author : ApReeLKwon (@ApReeLKwon)
  Cast : Kai, Choi Rora(OC’s)
– Genre : Romance
– Rating : PG-13
– Type : Oneshoot
– Diclaimer : Cerita dan Plot murni milik saya. Claimed by Me.

Warning …!!!! Typo dimana – mana mohon dimaafkan u,u

Prolog | KyuNa Story |

____________________

Rora menyeret langkahnya dengan paksa. Persenti meter jarak yang dia ambil terasa berat untuk dilalui. Ingin rasanya ia membalikan badan dan memikirkan kembali keputusan yang ia ambil, tapi tetesan air hujan memaksanya untuk berlari memasuki rumahnya yang tinggal beberapa langkah. Rora membuka pintu belum sempat ia melangkah kan kaki memasuki rumahnya suara derungan mobil mengalihkan perhatiannya. Satu gerakan Rora membalikan badannya saat dia menemui mobil berwarna putih tulang itu sudah berlalu dair hadapannya, Rora hanya bisa menghembuskan nafas berat.

“Mianhe..” Rora melanjutkan langkahnya memasuki rumah dan menutup pintu rapat dengan tangannya yang dingin.

“Siapa yang mengantarmu??” satu suara berhasil membuat Rora terlonjak kaget, menandakan dia sedang melamun.

“Oppa,, ” erang Rora saat tersadar dan mendapatkan orang yang dia panggil oppa tepat ada dibelakangnya. “Hobi sekali kau mengagetkanku…”

“Kaget?? Ahh… kau melamun. Siapa tadi???”

“Teman,,,” Rora baru saja akan melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menuju kamarnya yang terletak di lantai dua saat Oppanya , Lee Donghae menghadang langkah Rora.

“ Rora-ya kau tahu,, KyuHyun jadi mengambil kuliahnya di luar negeri ”

“KyuHyun Oppa?? Jinja?? Lalu bagaimana hubungan dia dengan Yena??”

“Mereka? Entahlah, tidak ada kata terima tidak juga tolak,”

“Mereka terlalu munfaik” desis Rora sambil melangkah meninggalkan Oppanya yang sekarang mulai mengikuti langkahnya.

“Itu namanya bentuk kedewasaan. Mereka tidak mau orang lain yang menyatukan cinta mereka, maka dari itu mereka ingin memutar semuanya kembali dari awal.” Jelas Donghae panjang lebar. Rora hanya mendengarkan dengan fikiran yang mulai menjelajah isi otaknya. Selanjutnya dia menghantikan langkahnya yang menbuat donghae kaget.

“Oppa, apa kedewasaan bisa diukur dengan umur??” tanya Rora.

wae??

“aku memintamu menjawab bukan balik bertanya” Rora memutar bola matanya.

“Umur memang tidak menjamin, tapi setidaknya itu bisa menjadi acuan” jawab donghae . “Sekarang pertanyaanku, kenapa kau bertanya seperti itu?”

Anio hanya merasa Yena mulai dewasa, padahal kami seumuran ” jawab Rora santai, dia melangkah menuju kamarnya dan tidak lupa mengucapkan selamat malam pada Oppa kesayangannya.

Rora menutup pintu kamarnya, melemparkan tasnya sembarang kemudian dia terduduk didepan meja belajarnya memandang jendela yang mulai terlukis tetesan air hujan.

Umur, kedewasaan apa itu hal yang tabu untuk disandingkan bersama? Kenapa tidak seperti ilmu matematika saja, yang sudah pasti jika pertanyaannya A maka jawabannya B. Misteri kedewasaan dan umur sedikit menjungkir balikan prinsip yang selama ini aku pegang, selama ini aku memang tidak pernah mempermasalahkan umur. Tapi menghadapi posisi seperti ini membuat otaku membeku.

Rora masih bergelut dengan fikiranya yang sebenarnya sengaja ia buat runyam. Suara rintik hujan menambah suasan menjadi semakin melankolis. Guratan air hujan yang menetes dijendela kamar Rora mulai membentuk sungai kecil yang berujung pada genangan bekas hujan yang membesar. Rora tertegun melihat hal itu.

Hal kecil akan menjadi hal bear jika aku hanya mengikuti aliran masalah ini tanpa ada penyelesaian.

Rora bangkit dari duduknya, tanpa mengganti pakaiannya ia langung membenamkan tubuhnya dalam hangat ranjang miliknya.

____________

Setumpuk buku yang dipeluknya mampu membuat jalan Rora terseok – seok. Bukan karena berat, tapi tumpukan buku ini sedikit mengganggu jarak pandangnya. Mr.Park sudah mempercayainya menjadi asisten mata kuliah yang dia pegang, Rora mulai menyadari bahwa jabatanya bukanlah seorang asisten tapi lebih ke pesuruh dosen. Menyadari fikirannya sangat berlebihan Rora hanya bisa berdecak kesal, ya setidaknya dia bisa mengantongi nila A untuk mata kuliah ini dengan sedikit kesabaran.

“Biar ku bantu,,” terdengar satu suara yang berasal dari samping saat Rora menoleh. Kai.

Anio gwenchana aku sudah terbiasa dengan hal ini,” jawab Rora senormal mungkin. Tidak dipungkiri kejadian semalam di mobil Kai, membuat dia merasa sedikit berbeda saat harus berhadapan dengan anak ini.

“Baiklah,” jawab Kai santai sambil melengos meninggalkan Rora yang sebenarnya berharap Kai membantunya.

Brukkk
tanpa komando dari tangannya, buku- buku itu terjun bebas kelantai menciptakan suara yang mampu mebuat semua orang menoleh kearahnya. Rora hanya bisa terkejut dia buru – buru berjongkok dari merapihkan bukunya.

Bodoh…. Kenapa aku tiba-tiba hilang kendali, bodoh bodoh…. Batin Rora.

“Apa orang dewasa sering merasa sungkan untuk meminta pertolongan?” tanpa Rora sadari, Kai sudah berjongkok didepannya mengambil buku – buku tebal itu.

“Tadi hanphone ku berbunyi, aku mau mengankatnya tapi malah seperti ini,” jawab Rora dusta.

Kai bangkit dan menyerahkan buku itu pada Rora, “Mau Noona yang mengantarkan, apa perlu aku bantu??,” tanyanya.

“Ehm,, karena kau sudah terlanjur membawa buku itu, jadi sekalian saja bantu aku sampai tuntas ,” jawab Rora.

Kai menyunggingkan senyum manisnya dia mendekap buku – buku itu dan mulai mensejajarkan langkahnya dengan Rora. “Arraseo Noonim” jawabnya dengan suara lembut. Rora menoleh dan melihat Kai yang sedang tersenyum manis, saat itu lah perasaan aneh menjalar hati Rora.

__________

Dewasa – Umur, dua hal ini memang saling berkaitan satu sama lain. Tapi aku tidak menerima bila kedua hal ini disatukan. Siapa bilang umur lebih mudah tapi tidak bisa dewasa.

Hati kecil Kai terus menggerutu. Diliriknya Kakak kandungnya Kris yang sedang berbaring disofa ruang tengah dengan baju basah dan badan bau alcohol. Seperti biasa, Kris pasti menghabiskan waktunya dengan berpesta alcohol dengan temananya. Sekali lagi Kai merasa umur tua bukan jaminan seseorang dewasa.

Hyeong… ” Kai mengguncang tubuh Kris yang tidak bergeming. Deru nafas berat Kris terdengar menyakitkan bagi Kai. Dengan susah payah Kai membopong Kakaknya masuk kekamar, bau alcohol yang tajam membuat Kai mengerutkan keningnya. Dia memang tidak terbiasa dengan hal seperti ini.

“Berapa umurmu Hyeong kau yang harusnya menjadi pengganti aboji untuku, tapi malah aku yang harus mengurusmu” Kai kembali mengingat masa dimana kedua orang tuanya masih bersama mereka. Memori kembali saat dia harus kehilangan kedua orang tuanya, dan hal yang ditakutkan Kai saat mengingat ia juga takut kehilangan kakaknya. Tanpa terasa air mata mengalir tanpa diperintah dari kedua mata Kai. Dia menengadah mencoba menahan air mata ini, namun satu tangan menahan gerakannya.

“Orang dewasa tidak dibatasi untuk menangis,” suara Kris yang bergetar membuat Kai menghamburkan kesedihannya. Kris mengusap lembut kepala adiknya. “kau membuktikannya Kai, kau sekarang menjadi lelaki dewasa, Hyeong bangga padamu.”

Langit seakan ikut merasakan kesedihan dua kakak – beradik ini menumpahkan air matanya, Rintik hujan mulai turun membasahai bumi, udara dingin mampu membuat nyaman siapapun malam itu, tapi semua itu terasa menusuk bagi Kai.

______

Rora masih terus memandangi sosok itu yang sedang bersenda gurau dengan temannya. Rora awalnya sempat mengkhawatirkan sosok itu, tapi dia salah. Akhir – akhir ini Rora mulai terbiasa dengan kehadiran Kai yang terus mengusik harinya, meski kadang Rora tidak menunjukan apa yang dia rasakan, tapi sesuungguhnya ia terkesan dengan kegigihan anak itu.

Namun semua itu menghilang sejak tiga hari yang lalu. Kai sama sekali tidak pernah menampakan wajah didepannya, meskipun berpapasan Kai seolah tidak melihat Rora. Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan. Setelah baru saja dia tahu jawabannya, Kakak Kai, yang merupakan keluarga dia satu – satunya terbaring dirumah sakit.

Rora akui Kai memang luar biasa, dia telah salah menilai hanya karena melihat umur Kai. Mengingat semua ini hanya membuat Rora merasa malu pada dirinya sendiri, bila dia di posisi Kai apa dia sanggup? Melihat sekarang saja, Donghae Oppa merupakan tumpuan besar baginya.

_________

Ini hari ke empat Kai bolak – balik rumah sakit. Bau yang menyengat kadang membuatnya harus sedikit menahan nafas. Kebiasaan jelek Hyungnya membuat dia harus dirawat dirumah sakit. Bayang – baying kehilangan sering menghinggapi fikiran Kai saat dia melihat kondisi Hyungnya. Ini sungguh tragis disaat umurnya baru menginjak 18 tahun, dia harus merasakan sakitnya kehidupan. Cambukan keras dalam buku hidupnya membuat dia semakin tegar dan tegar, namun tetap saja ada kalanya rasa sakit itu meninjunya dalam satu hentakan.

Kai masih tetap melangkahkan kakinya dijalanan Seoul yang mulai turun rintikan hujan. Diliriknya jam yang melikar, menunjukan pukul 4 sore. Kai masih berkecamuk dengan fikirannya. Dia tidak mempedulikan hujan yang mulai membuat tubuhnya basah.

“Menjadi dewasa bukan berarti harus menyembunyikan air matanya dibalik air hujan, lagi pula bermain air hujan itu perilaku anak kecil” sebuah suara mengagetkan Kai, dia juga menyadari ada sebuah paying yang menahan air hujan untuknya. Kai membalikan badannya dan mendapati seniornya sedang berdiri dibelakangnya dengan memegang paying berwarna biru.

“Aku tidak menangis Noona” jawab Kai sambil terseyum. Dia mengambil alih paying itu dan mensejajarkan langkah dengan seniornya Choi Rora.

Gwenchana ..”

“Noona , kau mengikutiku?? Kenapa kau tahu aku disini??”

“Kau sering mengikutiku, tidak ada salahnya sekarang giliranku,,” Kai tertegun. Dia menghentikan langkahnya dan menyungginkan senyuman.

Jinajro??” tanya Kai.

Wae?? Ada yang salah kenapa kau sangat excited?”

anio hanya saja beberapa hari ini aku menjauhi Noona, aku fikir kau akan merasa tenang karena tidak aku ganggu lagi tapi…” kai member jeda dalam kalimatnya saat menyadari hujan turun semakin deras sehingga paying yang mereka gunakan sudah tidak cukup dijadikan tameng.

Kai menggandeng Rora mempercepat langkahnya berteduh disebuah minimarket. Dia baru akan melakukan tindakan lelaki sebenarnya, namun dia menyadari jaket yg ia kenakan basah. Terpaksa dia tidak jadi melakukannya. Mereka memberli ramen cup untuk menghangatkan badan, saat Rora meminta kai melanjutkan kalimatnya yang tadi.

“Kau belum meyelesaikan ucapanmu tadi,” ucap Rora sambil meniup uap ramen yang mengepul.

“Yang mana?,” tanya Kai.

Rora menatap Kai dengan mata sebal “Lupakan…,” jawabnya sambil melahap ramennya.

Kai hanya bisa tertawa .“ Aku hanya menyimpulkan dari pengalaman dan beberapa sumber. Aku sengaja menghindarimu Noona , itu Trick ,” jawab Kai sambil menjetikan jarinya. Rora membulatkan matanya sambil menatap Kai.

“Bila seseorang hilang dari pandanganmu, dank au mencarinya karena merindukannya berarti kau menyayanginya.” Tutur Kai mantap. Rora tersedak mendengar ucapan Kai. Sedangkan Kai hanya bisa tersenyum, setidaknya ia tahu perasaan wanita disampingnya ini.

“Jadi jawab pertanyaanku malam itu Noona, aku rasa kau sudah menemukan jawabanya,” Kai memangku kepalanya menatap Rora dalam. Rora hanya bisa diam dengan perasaan yang tidak bisa dia dekripsikan.

“Ehm,,, ” Rora mengerjap – ngerjapkan matanya menghilangkan rasa aneh ini. Melihat hal itu Kai yakin dengan apa yang akan Rora katakan. Dia bangkit dari duduknya meninggalkan cup ramen yang tinggal kuahnya dan menarik tangan Rora.

“Hujan ini menjadi saksi Noona menjadi miliku,, gomawo” jawab Kai, dia menyeret Rora ke deranya Hujan mengabaikan Rora yang berontak.

Yakh… apa – apaan kau,,,” Rora terus memuku bahu Kai, tapi tidak bisa dipungkiri ia merasa senang.

Noona  tidak selamanya, bermain air hujan hanya tindakan anak kecil, orang dewasa juga harus melakukan hal- hal seperti ini agar tetap bahagia…”

Arra-” belum sempat Rora menyelesaikan kalimatnya, Kai membungkan mulutnya dengan kecupan dingin.

“Itu bentuk kedewasaanku Noona” jawabnya, yang direspon dengan ribuan tinjuan dari Rora.

26 thoughts on “Tasted of Love : ‘Rain Drop’

  1. aduh aduh.. Mellow mbakkk.. Heuheu, maenannya ujan ya sekarang,, :p

    triknya si bang kai itu kuno, tapi efisien(?) nan manjur ye,, ampe rora nyampingin gengsi buat nyamperin cowok duluan..
    Serius deh, buat aku, ngelakuin apa yang rora lakuin itu gak mudah.. Butuh keberanian tersendiri,,

    mampus.. gue melting liatin yang lagi dikecup..😄
    Ciyeee Kai berani ya ngecup rora.. *colek*

    heuheu, ada typo onnie ya.. Ada yg salah huruf sama ada beberapa kata yg gak lengkap hurufnya..
    Terus buat kata hati mending pake tanda kutip satu (‘) ^^

    Jadi, apa kedewasaan bisa diukur dengan umur?😄

    • kepedean suer,, tapi aku ngerasa ini Story terbaik yg pernah aku bikin. Entah aku doang ato ahjumm a juga ngerasa, tokoh Rora aku berasa total ngejelasinnya, plus aku berasa tokoh Kai aku cintaaaaa >.<

      aku udah makin jela yaa jabarin alurnya,, ia gak ahjumma??
      buat EYD butuh proses yaa ika belajar ituu ^^
      makasii ahjummmaaaa😄

  2. sumpahhh…. itu sesuatu bangett. aku smpai mau nangis baca nya —->gak boong. aku mengharap itu jdi kenyataan..
    ohh Rain Drop.. bring me to meet Kai. cow yg lbh muda tp dewasa, romantis,
    no more than word.. perpaduan karakter Rora,Kai, sama bahasa yg digunakan tu increadible..
    SARANGHAE IKAAAAAA,,, eh slah mksd nya KAIIIII ^^

  3. Oooh…
    Jadi semua cerita dri ff Drable itu jdi ada sequel smua yah tteh??
    Bagus deeeh… ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

    Ok, Kalo kritikannya…
    Seperti biasa teteh… Ada kta2 Ўɐ♌ğ kurang lengkap ϑαπ rancu,,, Biasa, Typo memang susah di hindarkan!!
    Nta jga suka gitu… (“-____-) LOL XDD

    Baiklah… Berlanjut ke cerita ffnya…
    H[e̲̅]H[e̲̅][e̲̅]H[e̲̅]H[e̲̅]H[e̲̅]

    Ya ampuuuuuunnn…
    Ini kalo bayangin scene hujannya ala film2 india gitu y teh…
    Ўɐ♌ğ pemaennya sharukh khan §ą♍å Kajol… *meuniapal
    ƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑ

    Paling sneng scene Ўɐ♌ğ pas buku jatoh…
    Kyaaaaa… Kai nyindirnya NGENA bgt tuuh… ​​‎​:D=))º°˚˚°º≈нåнåн庰˚˚°º≈º=)):D
    Di tmbah Roranya jadi gugup gimanaaaa gitu yah…

    Tapi sumpah yah ini…
    Teteeeeeeh, Kainya dewasa bgt gilaaaaak….
    *gelindingan,peyukKai*
    LOL
    XDD

    Berakhir dengan happy ending… Favoritlah kalo gitu teh… ƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑ

    • Hooh,,,
      Nta,, jadi ada lanjutannya dari tiap drabble nya,,
      hahaha😄

      hehmm,, /catet/ typo itu susah bgt dihindari, lbih tepatnya sih karena ga dibaca ulang sebelum publish,,
      coba perbaikan deh kedepannya,,

      aduhh Nta,, napa bawa bang Sharukan coba😄 ama kajolnya lagii,😄

      oohh,, scene itu juga teteh suka bgt😄 hahaha,,,
      kebaayang senyum nyindir Kai nya,,
      kkk~

      /liatin Nta gelindingan/
      hati hati ya Nta…😄

  4. ​​:Oo˚°º☺ωнн…
    Iyah, Gak apa2 biar seruuuu…
    Hë•⌣•hë•⌣•hë•⌣•hë

    Iyah teh…
    Intinya Typo memang sudah menjadi virus mewabah bgi stiap penulis… LOL
    Hahahahahahaha

    Yah, Abis jadi keingetan tuh film india sieh…
    H[e̲̅]H[e̲̅][e̲̅]H[e̲̅]H[e̲̅]H[e̲̅]

    Bener bgt teteh!!!
    (>̯͡⌣<̯͡)
    Kai pastinya keliataaaaan… Ehmmm… Kyaaaa!!
    *tutupmuka*
    *gilasendiri*

Speak Now.... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s